Indonesia
NovelToon NovelToon
Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ovelia.shin

Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.

Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

— AKU INGIN KITA PUNYA RUMAH SENDIRI

Malam itu Arga baru saja selesai mandi ketika melihat Nadira duduk diam di tepi tempat tidur.

“Nadira?”

Nadira menoleh.

“Sudah pulang?”

Arga mengangguk lalu duduk di sampingnya.

“Kamu kenapa?”

Nadira terdiam cukup lama.

“Aku mau bicara.” ucap Nadira dengan serius.

Arga langsung serius juga.

“Bicaralah.”

Nadira menarik napas.

“Aku ingin kita pindah.” ucap Nadira dengan tegas.

Arga mengerutkan kening.

“Pindah?” tanya Arga.

“Iya.”

“Ke mana?”

“Nggak tahu. Yang penting kita punya rumah sendiri.”

Arga menatap wajah istrinya.

“Karena Ibu dan Rani?” tebak Arga.

Nadira mengangguk pelan.

“Aku sudah berusaha bertahan.”

Ia menunduk dan memasang wajah sedih.

“Aku juga sudah mencoba menghormati mereka. Tapi setiap kali aku mulai merasa keadaan membaik, selalu ada sesuatu yang membuatku kembali merasa tidak diterima.” ungkap Nadira saat mengungkapkan keluh kesahnya.

Arga pun diam sesaat.

“Aku tidak ingin kamu bertengkar dengan mereka setiap hari karena aku.”

“Kamu bukan penyebabnya.”

“Aku tahu.” jawab Nadira singkat.

Nadira tersenyum sedih.

“Tapi aku juga tidak ingin hidup seperti ini terus.”

Arga menggenggam tangannya.

“Aku mengerti.”

Nadira menatapnya penuh harap.

“Jadi kita pindah?” tanya Nadira memastikannya.

Arga menggeleng.

“Tidak.”

Nadira terdiam.

“Kenapa?”

“Karena aku tidak mau kamu pergi dari rumah ini dalam keadaan merasa kalah.”

“Aku bukan ingin pergi karena kalah.”

“Aku tahu.”

Arga mengusap tangan Nadira.

“Tapi aku ingin menyelesaikan masalahnya, bukan membuat kamu yang harus mengalah.”

Nadira menghela napas.

“Lalu aku harus bagaimana?” tanya Nadira.

“Bertahan bersamaku.”

Nadira menatapnya.

“Arga…” panggil Nadira pelan.

“Aku tidak akan membiarkan Ibu atau Rani terus mengganggu rumah tangga kita.”

“Tapi kalau kita punya rumah sendiri, bukankah semuanya akan lebih mudah?”

Arga terdiam sebentar.

Kemudian berkata,

“Memang akan lebih mudah.”

Nadira menunggu.

“Tapi aku tetap tidak mau pindah sekarang.”

Nadira menunduk kecewa sambil menghela nafas pelan.

Arga segera menggenggam kedua tangannya.

“Dengar.”

“Aku menolak bukan karena aku memilih mereka.”

“Lalu?”

“Karena aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak akan membiarkan siapa pun mengusirmu dari tempat yang juga menjadi rumahmu.” ucapan Arga meyakinkan Nadira.

Nadira terdiam.

“Aku ingin kita punya rumah sendiri suatu hari nanti,” lanjut Arga.

“Bukan karena kamu tidak tahan tinggal di sini.”

“Tapi karena memang sudah waktunya kita membangun kehidupan kita sendiri.”

Mata Nadira mulai berkaca-kaca.

“Benarkah?”

Arga tersenyum.

“Benar.” jawab Arga sambil mengangguk.

“Jadi kapan?”

Arga tertawa kecil.

“Kamu sudah merencanakannya?”

Nadira ikut tersenyum seraya mengangguk.

“Aku cuma bertanya.”

“Kalau begitu, mulai besok kita cari.”

Nadira menatapnya.

“Serius?” tanya Nadira memastikannya lebih dulu.

“Serius.”

Arga menarik Nadira ke dalam pelukannya.

“Tapi sampai rumah itu siap, kamu tidak perlu menghadapi mereka sendirian.”

Nadira menyandarkan kepalanya di dada Arga.

“Terima kasih.”

Arga mencium rambutnya.

“Aku yang berterima kasih.”

“Untuk apa?”

“Karena kamu masih mau bertahan denganku.”

Nadira tersenyum.

“Aku bertahan karena kamu.”

Di luar kamar, tanpa mereka sadari, Bu Ratih berdiri di lorong.

Ia mendengar percakapan mereka berdua.

Wajahnya pun seketika berubah.

Mereka ingin pindah?

Bu Ratih mengepalkan tangannya dengan raut wajah yang tidak senang.

Ia tidak ingin kehilangan Arga.

Dan lebih dari itu ia tidak ingin Nadira semakin memiliki pengaruh dalam hidup putranya.

“Tidak,” bisiknya pelan.

“Mereka tidak boleh pergi.”

1
tanjiro azuma
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!