Indonesia
NovelToon NovelToon
The Lazy Emperor: Rise Of The Undying Demon King

The Lazy Emperor: Rise Of The Undying Demon King

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: BAGERAAA

Kaisar Iyan: Kebangkitan Raja Iblis Abadi

Kaisar Iyan hanyalah seorang pemuda pemalas yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan menghindari masalah.

Namun suatu hari, ia terbangun di dunia yang sama sekali berbeda.

Tanpa mengetahui bagaimana dirinya bisa sampai di sana, Iyan menemukan bahwa tubuhnya memiliki kemampuan yang tidak pernah dimiliki manusia biasa.

Ia dapat menciptakan clone dirinya sendiri.

Ia dapat memanggil pahlawan dan monster dari dunia lain.

Ia bahkan mampu membangkitkan mayat dan tulang menjadi pasukan undead yang tidak mengenal kematian.

Namun kemampuan paling mengerikan yang dimilikinya adalah sebuah kekuatan yang memungkinkan pasukannya bangkit kembali setiap kali terbunuh—selama mana miliknya masih tersisa.

Awalnya, Iyan hanya ingin hidup tenang.

Sayangnya, dunia baru ini tidak memberinya kesempatan.

Perang, kerajaan, bangsawan, monster, pahlawan, dan pengkhianatan perlahan menyeretnya ke dalam konflik yang jauh lebih besar.

Sampai akhir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SERANGAN DI TENGAH MALAM

Pertengahan malam telah tiba.

Sebagian besar penjaga mulai tertidur karena kelelahan. Hanya sepuluh prajurit summon yang tetap berdiri tegak menjaga gerbang depan.

Sementara itu, aku kembali ke tubuh utamaku yang berada di benteng utama.

Aku sedang duduk di dalam kamar sambil memikirkan sesuatu.

Bagaimana cara memperbaiki benteng kedua?

Aku ingin mengirim bantuan ke sana, tetapi aku masih belum mengetahui kondisi wilayah timur secara keseluruhan.

Aku kemudian memanggil Sebas, yang sedang berjaga di depan pintu kamarku.

“Sebas.”

Sebas segera masuk.

“Ya, Tuan?”

“Apa kau tahu apa yang ada di wilayah timur sana?”

Sebas terdiam sejenak.

“Sejujurnya, saya juga tidak mengetahui banyak tentang benua ini. Saya sendiri berasal dari dunia yang berbeda.”

Ia kemudian melanjutkan.

“Saya bahkan tidak mengetahui keadaan di luar benteng ini. Lagipula, tugas saya hanya menjaga Tuan.”

Aku mulai berpikir.

Kalau begitu, aku harus mengirim seseorang untuk mempelajari wilayah ini.

Aku menatap Sebas.

“Kalau begitu, aku ingin kau pergi ke perpustakaan.”

“Pelajari sebanyak mungkin informasi tentang benua ini. Cari tahu tentang kerajaan, wilayah, ras, monster, budaya, dan apa pun yang bisa membantu kita.”

Sebas mengangguk.

“Baik, Tuan.”

Ia kemudian hendak pergi, tetapi sebelum meninggalkan ruangan, Sebas kembali berbicara.

“Tuan, saya rasa saya juga membutuhkan beberapa pelayan untuk berada di bawah komando saya.”

Ia menundukkan kepala.

“Saya berharap Tuan bisa memberikan sekitar 20 atau 30 pelayan yang dapat saya perintah. Saya sendiri yang akan melatih mereka.”

Aku menyetujui permintaannya.

“Baiklah. Kau bisa memilih mereka nanti.”

Sebas mengangguk.

“Terima kasih, Tuan.”

Ia kemudian pergi menuju perpustakaan.

Di sana, Sebas mulai mempelajari berbagai buku yang tertumpuk dan memenuhi rak-rak perpustakaan.

Sementara itu, aku kembali duduk di kursi kerjaku.

Di atas meja terdapat berbagai dokumen penting.

Mulai dari jumlah penduduk, pemasukan pajak, pengeluaran kas, hingga jumlah pasukan yang ditugaskan oleh ayahku untuk menjaga wilayah timur jauh.

Aku mulai membaca satu per satu.

Namun, semakin lama aku membaca, semakin aneh keadaan yang kutemukan.

Dokumen-dokumen tersebut sangat tidak lengkap.

Bahkan beberapa informasi sama sekali tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya di benteng timur.

Aku terus memeriksa seluruh dokumen.

Akhirnya, aku menemukan sesuatu yang lebih mencurigakan.

Kas pajak ternyata sengaja digelapkan oleh beberapa bangsawan yang sebelumnya bertanggung jawab atas wilayah ini dan telah gugur dalam perang.

Aku menghela napas.

Pantas saja keadaan wilayah ini begitu buruk.

Aku kemudian mulai memikirkan rencana untuk memperbaiki tembok dan bangunan-bangunan di benteng kedua.

Ada satu hal lain yang menarik perhatianku.

Setiap benteng di wilayah timur ternyata hanya diberikan nomor.

Tidak ada satu pun yang memiliki nama.

Kalau begitu, ke depannya aku harus memberikan nama untuk setiap wilayah yang berada di bawah kekuasaanku.

Aku mulai tersenyum kecil.

Bahkan mungkin aku akan membuat kastil dan bendera sendiri untuk kerajaan kecilku.

Aku kemudian membuka sistem.

Masih ada ribuan Pahlawan yang belum terbuka di dalam sistem.

Aku bergumam dalam hati.

Sistem ini benar-benar seperti game.

Bedanya, kali ini semuanya nyata.

Aku hanya perlu meningkatkan level dan menyelesaikan misi untuk mendapatkan kemampuan baru.

Dan yang paling menarik...

Setiap 24 jam, aku bisa melakukan summon kembali.

Begitu pula dengan kemampuan Necromancer.

Aku kemudian melihat kondisi clone-ku yang berada di benteng kedua.

Ia tidak tidur.

Clone-ku masih berjaga sambil mempelajari cara menggunakan kemampuan Necromancer di dalam sebuah tenda.

Dua prajurit berjaga di depan tenda tersebut.

Aku terus mengawasinya melalui sistem.

Untuk saat ini, tidak ada masalah di benteng kedua.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Serangan Mendadak

Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara derap kaki kuda.

Beberapa pengintai melaju dengan cepat menuju gerbang depan.

Mereka terlihat sangat panik, seolah-olah sedang dikejar sesuatu.

Begitu mendekati gerbang, mereka langsung berteriak.

“SEMUA BERSIAP!”

“Pasukan Orc mulai menyerang!”

“Mereka menunggangi serigala purba!”

Para prajurit yang sebelumnya tertidur langsung terbangun.

Obor-obor mulai dinyalakan di sepanjang benteng.

Para prajurit berlari menuju dinding pertahanan.

Para Mage dan petualang juga segera bergerak menuju gerbang depan.

Sepuluh prajurit summon langsung mengambil posisi.

Mereka berdiri tegak di depan gerbang dengan senjata di tangan.

Serof juga segera bersiap.

Ia berdiri di atas dinding benteng dan memberikan perintah kepada para pemanah.

“Pemanah, bersiap!”

Para pengintai kemudian memberikan laporan.

“Jumlah mereka sekitar tiga sampai empat ratus Orc!”

Serof menatap para pengintai yang baru kembali.

Ia kemudian menghitung jumlah mereka.

Dari dua puluh pengintai yang sebelumnya dikirim...

Hanya enam orang yang kembali.

Serof mengepalkan tangannya.

“Sial... banyak yang mati.”

Aku yang melihat semuanya melalui hologram juga terkejut.

Serangan tiba-tiba di tengah malam...?

Aku segera mengambil alih tubuh clone-ku.

Aku bangkit dari tempat duduk dan mengambil pedang yang tergantung di pinggangku.

Sebelum aku keluar dari tenda, seorang prajurit berlari menghampiriku.

“Tuan! Gerbang depan sedang diserang!”

Aku mengangguk.

“Kerahkan pasukan untuk membantu pertahanan gerbang depan.”

“Sebagian tetap berjaga di gerbang belakang.”

Gerbang depan dan belakang sama-sama mengalami kerusakan akibat perang sebelumnya.

Karena itu, kami tidak punya banyak pilihan.

Kami harus menghadang para Orc dan mencegah mereka memasuki benteng.

Para prajurit, petualang, dan tentara bayaran mulai berlari menuju gerbang depan untuk membantu pasukan lainnya.

Sementara itu, aku diam-diam pergi ke belakang benteng, menuju tempat yang sepi.

Aku ingin mencoba kemampuan Necromancer.

Aku menutup mata.

“Bangkitlah.”

FWOOSH!

Asap hitam pekat mulai keluar dari tanah.

Tanah di hadapanku perlahan retak.

Kemudian—

KRAK!

Satu tangan kerangka muncul dari dalam tanah.

Disusul tubuhnya.

Satu per satu, sepuluh Skeleton keluar dari dalam tanah.

Masing-masing membawa senjata seperti kapak, pedang, dan tombak.

Aku menatap mereka dengan sedikit merinding.

Astaga... horor sekali.

Cara mereka muncul dari dalam tanah benar-benar berbeda dengan pasukan summon yang muncul dari asap hitam.

Kesepuluh Skeleton kemudian berbaris dengan rapi.

Mereka berlutut dan menundukkan kepala.

“Hormat kepada Yang Mulia, Raja Iblis!”

Aku langsung terdiam.

Sial...

Ternyata mereka sama saja.

Aku menghela napas.

“Bangun.”

Aku kemudian memberikan perintah.

“Ikuti aku.”

Kesepuluh Skeleton berdiri.

Aku kemudian melompati dinding dan keluar dari benteng.

Sepuluh Skeleton Rank C mengikutiku dari belakang.

Aku berlari menuju hutan.

Di sepanjang perjalanan, aku menemukan banyak tulang-belulang yang berserakan.

Aku kemudian menyimpannya ke dalam Ruang Dimensi.

Lumayan.

Daripada dibiarkan begitu saja.

Setelah itu, aku terus bergerak hingga mencapai sebuah bukit.

Dari atas bukit, aku bisa melihat pemandangan yang sangat jelas.

Barisan cahaya api terlihat memanjang menuju gerbang depan benteng.

Obor.

Jumlahnya sangat banyak.

Aku terkejut melihat kecepatan pasukan tersebut.

Mereka bergerak sangat cepat.

Debu beterbangan di sepanjang jalan.

Jumlah mereka jauh lebih banyak daripada yang diperkirakan.

Aku memperhatikan keadaan di bawah.

Serof dan para pasukannya sedang sibuk menyusun pertahanan.

Para prajurit yang membawa perisai berat berbaris di depan gerbang.

Mereka menggunakan tubuh mereka sebagai pengganti pintu gerbang yang telah rusak.

Aku kemudian melihat sepuluh prajurit summon yang kupanggil.

Mereka berdiri tepat di garis depan pasukan perisai.

Aku bergumam.

“Astaga... apa mereka mau cari mati?”

Namun Serof tampaknya tidak terlalu memperdulikan mereka.

Sebelumnya, ia sudah beberapa kali mencoba memanggil mereka untuk mundur atau mengambil posisi lain.

Namun, kesepuluh prajurit summon tersebut sama sekali tidak merespons perintahnya.

Mereka hanya berdiri di sana.

Menunggu.

Serof akhirnya menyerah dan tidak lagi memperdulikan keselamatan sepuluh orang yang merupakan teman Tuan Mudanya.

Ia kembali memberikan arahan kepada seluruh pasukan.

“Sial...”

Serof menatap pasukan Orc yang semakin mendekat.

“Kita kalah jumlah.”

Di kejauhan, suara raungan Orc dan derap kaki serigala purba semakin terdengar jelas.

Pertempuran kedua akhirnya dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!