Alya hanya ingin bertahan hidup bersama putrinya yang masih bayi dan adik perempuan yang tidak pernah meninggalkannya. Setelah diusir keluarga, ditinggalkan pria yang seharusnya bertanggung jawab, dan dipaksa menghadapi dunia sendirian, suara adalah satu-satunya jalan yang ia punya.
Satu malam, di sebuah acara mewah yang penuh rahasia, suaranya menarik perhatian Arkan Wiratama, seorang pria berkuasa yang dikenal dingin, berbahaya, dan tidak pernah kehilangan kendali. Arkan semula mengira Alya bisa dibeli seperti segala hal lain di dunianya. Namun satu tamparan dan satu kalimat membuatnya sadar: perempuan itu tidak punya harga.
Ketika nyawa kecil Kirana terancam, Arkan memilih masuk ke hidup Alya bukan sebagai penyelamat sesaat, melainkan sebagai pria yang berani menawarkan nama, perlindungan, dan sebuah keluarga. Namun menjadi perempuan di sisi seorang Don berarti masuk ke dunia yang dipenuhi kesetiaan, rahasia, musuh, dan bahaya yang tidak pernah benar-benar tidur.
Di antara luka lama, cinta yang tumbuh perlahan, dan ancaman dari orang-orang yang ingin merebut kembali apa yang sudah mereka buang, Alya harus memutuskan apakah hati yang pernah hancur masih berani percaya. Dan Arkan harus membuktikan bahwa cinta, bagi pria sepertinya, bukan kelemahan, melainkan sumpah yang akan ia jaga dengan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vah Peres, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 02 - Alya Maheswari
Namaku Alya Maheswari. Usiaku 19 tahun, lahir dan besar di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, tempat tradisi terasa lebih keras daripada batu rumah-rumah tua. Jika seseorang melihatku hari ini, mungkin yang tampak hanya perempuan muda yang lelah, dengan mata yang menyimpan lebih banyak kisah daripada yang seharusnya ditanggung usia semuda ini. Namun aku membawa tiga hal bersamaku: adik perempuan pemberani yang rela meninggalkan keamanan sebuah rumah, seorang putri berusia empat bulan bernama Kirana, dan suara yang sampai belum lama ini kukira hanya berguna untuk bernyanyi pelan saat tak ada yang mendengar.
Keluargaku selalu sangat miskin. Ayah bekerja di proyek bangunan, Ibu menjahit pakaian untuk tetangga, dan uang kami nyaris tidak cukup untuk membeli roti serta susu setiap hari. Meski begitu, aku belajar dengan tekun, bermimpi menyelesaikan sekolah dan, siapa tahu, mendapat pekerjaan yang bisa mengeluarkan kami dari hidup seperti itu. Namun semuanya berubah ketika aku tahu aku hamil.
Saat memberi tahu pacarku bahwa aku mengandung anaknya, kupikir mungkin, di tengah semua kesulitan, ia akan tetap berdiri di sisiku. Namun jawabannya datang dingin, terhitung, tanpa jejak kasih sayang.
Kami bertemu di kafe terpencil, tempat orang-orang yang mengenal kami biasanya tidak datang. Ia muncul dengan wajah seseorang yang sudah membereskan semuanya di kepala, duduk di depanku, dan pada awalnya bahkan tidak menatap mataku.
"Alya," ia memulai dengan suara rendah dan tegas, "aku perlu kamu memahami satu hal. Aku tidak bisa mengakui anak ini. Aku tidak punya kondisi untuk menghubungkan namaku, posisiku, dan hidupku dengan kalian."
Tangis naik ke tenggorokanku, tetapi kutahan dengan seluruh tenaga.
"Ini bukan cuma nama. Ini kehidupan yang sedang kita ciptakan. Kamu bahkan tidak mau tahu dia laki-laki atau perempuan? Tidak mau setidaknya menjadi bagian dari ini? Kamu ayahnya. Kamu punya kewajiban."
Ia menggeleng tidak sabar, lalu sedikit mendekat dan bicara lebih pelan.
"Dengar baik-baik. Aku akan melakukan yang kubisa, tapi ada aturan jelas. Aku akan mentransfer Rp20.000.000 sekarang. Tidak ada yang boleh tahu aku ayahnya. Bukan orang tuamu, bukan tetangga, bukan siapa pun."
"Dua puluh juta?" ulangku, merasakan simpul sesak di dada. "Kamu brengsek. Menjijikkan. Anakku tidak membutuhkanmu."
"Hanya itu yang bisa kutawarkan," jawabnya tanpa penyesalan. "Hidupku melibatkan banyak klien, bisnis, dan orang berpengaruh. Skandal apa pun, kabar apa pun yang mengaitkan namaku dengan kehamilan di luar nikah atau komitmen yang tidak direncanakan, bisa menghancurkan semua yang kubangun. Aku tidak bisa mengambil risiko itu. Magang di sekolahmu pun hanya bagian dari protokol."
Ia mendorong sebuah amplop tertutup ke atas meja tanpa menatap mataku.
"Kamu sudah menikah? Dasar bajingan," kataku marah. Ia berkecukupan, magang di sekolahku, dan aku mencintainya. Aku tidak percaya ia melakukan ini.
"Uang itu untuk membantumu menata diri, mencari tempat tinggal, dan mulai mengurus hidupmu sendiri. Tapi jangan cari aku lagi, jangan tanya tentangku, jangan biarkan siapa pun tahu dari mana uang itu berasal."
Aku meninggalkan kafe itu dengan amplop di tangan dan hati yang patah. Uang itu meringankan tekanan sesaat, tetapi pada waktu yang sama membuatku merasa seolah ia sedang membeli kebisuan tentang semua ini. Dengan beban itulah aku pulang.
Aku mengingat hari itu sejelas kemarin, meski berkali-kali mencoba menghapusnya dari ingatan. Aku sedang di dapur, memegang alat tes, ketika Ayah dan Ibu pulang kerja. Aku tidak sanggup menyembunyikannya, dan kata-kata yang kudengar sejak itu tertanam selamanya seperti bekas luka di jiwa.
"Kamu mempermalukan seluruh keluarga kita!" teriak Ayah, suaranya penuh amarah dan kekecewaan. "Kita tidak punya uang untuk memberi makan satu mulut lagi, apalagi menanggung kesalahanmu! Siapa yang bertanggung jawab? Dia mau mengakui?"
Aku menjawab dengan suara pecah oleh tangis.
"Dia bilang tidak bisa. Dia punya hidup, posisi, dan tidak mau punya ikatan apa pun denganku atau anak ini."
Ibu, yang selalu lebih keras daripada Ayah, menggeleng tanpa menatap mataku.
"Kalau begitu, tidak ada tempat untukmu di sini. Kalau kamu mau meneruskan kehamilan itu, berjuanglah sendiri. Kami tidak akan membantu."
Saat itulah adikku, Laras, yang waktu itu berusia 18 tahun, bangkit dari tempat duduknya dan berkata tegas, "Kalau kalian mengusir Kak Alya saat dia hamil, aku ikut. Aku tidak akan tinggal di sini sementara kakakku dilempar ke jalan."
Mereka mencoba membuat Laras berubah pikiran. Mereka mengancam, berteriak, tetapi Laras tidak mundur. Kami pergi dari rumah hanya membawa koper kecil berisi pakaian, tanpa uang, tanpa tujuan. Namun aku tidak menyerah pada sekolah. Dengan dukungan Laras, aku menyelesaikan pendidikan tak lama sebelum Kirana lahir. Meski tidak punya biaya untuk kuliah, aku harus menemukan cara untuk bertahan.
Di situlah aku menemukan bakatku. Saat bernyanyi, aku merasa sejenak bisa melupakan semua kesulitan. Suaraku keluar kuat, penuh perasaan, dan orang-orang berhenti untuk mendengar. Aku mulai bernyanyi di alun-alun dan pasar, menerima apa pun yang orang berikan. Sedikit, tetapi cukup untuk membeli yang paling penting.
Kami tinggal di sebuah kos harian murah, membayar per hari demi atap untuk tidur dan makanan. Kamarnya kecil, lembap, berisi dua ranjang single dan lemari tua, tetapi itu tempat kami. Pagi itu, sebelum aku keluar mencari pekerjaan, Laras membantuku menata rambut, sementara Kirana tidur terbungkus selimut.
"Kakak pasti bisa," kata Laras, merapikan kerah blusku. "Katanya ini seleksi untuk acara besar, bayarannya bagus. Suaramu indah. Tidak akan ada yang bisa cuek."
"Bagaimana kalau aku tidak lolos?" jawabku, suaraku bergetar oleh ketidakpastian. "Kalau kita tidak mendapat uang itu, besok kita tidak bisa membayar kamar."
"Kalau begitu kita coba di tempat lain," kata Laras sambil menggenggam tanganku. "Tapi kita tidak boleh berhenti mencoba. Ingat, demi Kirana. Pergilah dengan tenang. Aku yang menjaganya."
Aku tiba di alamat yang ditentukan, sebuah pintu masuk kecil di gedung yang tampak seperti rumah acara mewah. Ada beberapa perempuan lain menunggu, semuanya berpakaian lebih elegan dariku, dan jantungku berdetak keras. Saat giliranku tiba, aku masuk ke ruang luas dengan lampu lembut dan beberapa orang duduk di meja bagian belakang.
"Apa yang akan kamu nyanyikan?" tanya seorang pria berjas dengan ekspresi serius.
"Just Give Me a Reason, dari Pink dan Nate Ruess," jawabku sambil menarik napas dalam. "Lagu tentang hasrat, tantangan, dan perasaan yang tidak bisa disembunyikan."
Begitu mulai bernyanyi, kurasakan segala sesuatu di sekitarku lenyap. Suaraku keluar rendah, menyelimuti ruangan, penuh emosi dan provokasi tertahan, seolah setiap kata menyampaikan hal-hal yang tidak bisa kuucapkan lantang. Nada-nada naik dan turun dengan kuat, dan kutaruh di sana seluruh lukaku, perjuanganku, cintaku untuk putriku, juga kemarahan pada orang-orang yang berpaling dariku.
Ketika aku selesai, hening bertahan beberapa detik. Lalu pria itu mengangguk, terkejut.
"Kamu punya kehadiran dan suara yang unik," katanya, memperhatikanku lebih serius. "Jauh lebih dari yang kami harapkan. Kamu diterima."
Mataku dipenuhi air mata lega.
Kami pindah ke ruangan lain. Ia menjelaskan bahwa itu acara besar, dengan klien-klien penting. Meski begitu, aku menerima.
"Lalu bayarannya? Berapa?"
"Honornya tinggi, Rp15.000.000," jawabnya. "Menurutmu kamu sanggup? Kalau mereka suka, akan selalu ada kesempatan."
Aku keluar dari sana dengan hati ringan untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Aku berlari kembali ke kos, tempat Laras menungguku, lalu menceritakan kabar itu.
"Lihat?" kata Laras, memelukku erat. "Aku tahu semuanya akan berhasil."
Aku memandang Kirana, yang terbangun dengan senyum di bibirnya, lalu berbisik kepada diriku sendiri, "Mama akan mencari jalan. Apa pun yang terjadi, Mama akan melindungimu."
Namun aku tidak tahu bahwa acara yang tampak hanya seperti kesempatan untuk bertahan hidup itu akan membawaku ke dunia yang sama sekali berbeda, dunia penuh kemewahan, bahaya, dan seorang pria yang akan mengubah arah hidupku selamanya.