Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 — Kematian yang Kedua
Hujan gerimis membasahi jalan batu Kota Perbatasan Utara ketika Lin Mu terhempas ke tanah untuk kelima kalinya.
Tawa mengelilinginya dari segala arah. Warga kota berdiri melingkar, sebagian menutup mulut menahan geli, sebagian lain bersorak terang-terangan. Di tengah lingkaran itu, Zhao Yan berdiri dengan pedang latihan kayu di tangan, wajahnya yang cantik dihiasi seringai puas.
"Berlutut dan mohon maaf, Lin Mu," katanya, suaranya menggema di alun-alun kecil itu. "Berani-beraninya sampah tak berguna sepertimu mengaku sebagai tunanganku di depan tamu dari Klan Zhao."
Lin Mu—tujuh belas tahun, meridian rusak sejak lahir, putra bungsu yang dibuang oleh klannya sendiri—mencoba bangkit. Tulang rusuknya berdenyut ngilu. Ia sudah tidak punya tenaga qi untuk melawan; bahkan orang biasa tanpa kultivasi pun bisa mengalahkannya hari ini.
"Aku..." Ia terbatuk darah. "Aku tidak pernah mengaku apa-apa. Perjodohan ini diatur orang tua kita sejak—"
"Diam." Zhao Yan melangkah maju, ujung pedang kayunya menekan dagu Lin Mu, memaksanya mendongak. "Klan Zhao tidak butuh menantu yang bahkan tidak bisa membuka satu meridian pun di usia tujuh belas tahun. Kau aib. Dan aib harus disingkirkan."
Pedang kayu itu terangkat tinggi.
Dalam sepersekian detik sebelum pukulan terakhir jatuh, sesuatu di dalam dada Lin Mu retak—bukan tulang, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam. Selama tujuh belas tahun ada bagian dari dirinya yang tertidur, terkunci rapat di balik meridian yang cacat sejak lahir. Dan kini, di ambang kematian, kunci itu akhirnya patah.
Ye Xuan.
Nama itu meledak di kepalanya seperti guntur musim semi. Tiga ratus tahun. Sembilan Langit. Sebilah pedang bernama Penakluk Fajar. Wajah seorang saudara seperguruan yang tersenyum sesaat sebelum menusukkan belati ke punggungnya, tepat di malam pendakian menuju keabadian.
Pukulan kayu itu jatuh.
Dan berhenti—tertahan di udara, sejengkal dari wajah Lin Mu, dicengkeram oleh tangannya sendiri tanpa ia sadari bagaimana caranya.
Alun-alun terdiam.
Zhao Yan menatap tangan itu, tak percaya. "Bagaimana mungkin—meridianmu bahkan belum terbuka!"
Lin Mu—atau lebih tepatnya, sesuatu yang kini bersemayam di dalam tubuh Lin Mu—bangkit perlahan. Rasa sakit di tulang rusuknya masih ada, tubuh ini masih lemah dan rusak, tapi ada ketenangan baru di matanya, ketenangan seorang yang pernah berdiri di puncak dunia dan melihatnya runtuh dalam satu malam pengkhianatan.
"Meridian," ia bergumam, seolah mencicipi kata itu untuk pertama kali dalam kehidupan baru ini, "hanyalah pintu. Dan aku pernah membuka sembilan ratus pintu sebelum siapa pun di kota ini lahir."
Ia melepaskan pedang kayu itu dari cengkeramannya, membiarkannya jatuh berdentang ke tanah basah.
"Kau—apa maksud omong kosongmu?" Zhao Yan mundur setengah langkah, meski ia sendiri tak mengerti kenapa kakinya bergerak sendiri.
Lin Mu tidak menjawab. Ia mengangkat tangan kanannya, memandangi telapak tangan yang kurus dan penuh luka lama itu seakan melihatnya untuk pertama kali—tubuh yang rapuh, tapi bukan tanpa harapan. Meridian yang dianggap "rusak" oleh seluruh klan selama tujuh belas tahun ternyata bukan rusak. Hanya tersegel. Disegel oleh takdir yang menunggu jiwa yang tepat untuk membukanya.
Dan jiwa itu kini telah tiba.
"Kalian boleh tertawa hari ini," katanya pelan, cukup pelan hingga hanya orang-orang terdekat yang mendengar, tapi cukup tajam hingga membuat bulu kuduk mereka berdiri. "Sebab besok, saat matahari terbit, tak seorang pun di kota ini akan mengingat namaku sebagai sampah."
Ia berbalik, melangkah pergi meninggalkan alun-alun yang membisu, meninggalkan Zhao Yan yang masih terpaku memandangi tangannya sendiri yang entah kenapa gemetar.
Di kejauhan, di puncak Menara Klan Lin yang setengah runtuh, seorang tetua tua bermata satu menghentikan langkahnya. Tetua Qing telah hidup lebih dari seratus tahun, telah melihat ribuan pemuda datang dan pergi. Tapi hawa yang baru saja berkelebat dari alun-alun kota—sekilas, nyaris tak kasat mata—membuat jantungnya yang sudah lama tenang kembali berdegup kencang.
Hawa itu ia kenali. Ia pernah merasakannya sekali, tiga ratus tahun lalu, dalam sebuah legenda yang dilarang diceritakan di dalam klan.
Tidak mungkin, pikirnya, tangannya mencengkeram tongkat kayu hingga buku-buku jarinya memutih. Dewa Pedang itu sudah lama musnah...
Malam itu, di dalam kamar sempit di sudut paling terpencil kediaman Klan Lin, Lin Mu duduk bersila untuk pertama kalinya seumur hidupnya—dan untuk pertama kalinya setelah tiga abad kematian jiwanya yang lain. Ia menutup mata, merasakan aliran qi tipis yang mulai menetes masuk melalui meridian yang baru saja terbuka sebagian.
Jalan menuju puncak yang dulu pernah ia taklukkan kini harus ditapaki ulang dari nol.
semngat thor/Determined/