Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:758.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Bu Asri masuk ke kamar Jena setelah suaminya pergi. Merapikan bantal dan guling, juga melipat selimut. Tak lupa ia membuka tirai dan jendela agar sinar matahari pagi masuk ke kamar Jena.

“Ma?”

"Hem."

"Mama marah, aku nyuruh papa nikah lagi?"

Setelah memastikan semua jendela terbuka, Asri mendekati Jena yang duduk di tepi ranjang

“Jelaskan pada Mama, kenapa kamu sampai punya pikiran segila itu?”

Jena terdiam sesaat, kemudian ia tersenyum tipis. “Karena Jena ingin Juwita merasakan apa yang dulu Mama rasakan.”

Bu Asri tidak menjawab, ia menatap mata Jena. Ada luka, kekecewaan, dan amarah yang menjadi satu disana.

“Dulu dia masuk ke rumah tangga Mama. Dia mengambil perhatian Papa, mengambil waktu Papa, bahkan membuat Mama harus menerima kenyataan kalau suami Mama punya perempuan lain.” Suara Jena mulai meninggi. “Sekarang biar dia merasakan sendiri bagaimana rasanya ketika perempuan lain datang dan mengambil sesuatu yang dia anggap miliknya.”

Jena menatap ibunya lekat-lekat. “Mama keberatan?”

Bu Asri menggeleng pelan.

“Mam cemburu?” tanya Jena lagi.

Kali ini Bu Asri kembali menggeleng. “Mama sudah lama mati rasa pada Papamu."

Jena terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan.

“Kalau begitu...” Jena menatap mamanya dengan penasaran. “Kenapa Mama masih bertahan sampai sekarang? Kenapa Mama nggak pernah minta cerai, Ma? Bertahun-tahun Papa berpoligami. Mama tahu semuanya. Mama tahu Papa punya Juwita, punya anak-anak lain, tapi Mama tetap bertahan.”

Bu Asri menyentuh kepala Jena, merapikan rambut panjangnya. “Karena kalau Mama meminta cerai...” Ia berhenti sejenak. “Artinya pelakor itu menang.”

Jena mengerutkan kening.

“Mama nggak mau memberikan kemenangan itu kepada Juwita.” Bu Asri tersenyum hambar.

Jangan dikira, perceraian itu tak pernah terbesit di kepalanya. Sudah, sudah pernah, dan bahkan sudah ia ungkapkan pada Andika saat terjadi pertengkaran hebat diantara mereka saat awal dulu terendusnya hubungan Andika dengan Juwita. Tapi, sebuah pesan singkat, membuat Asri akhirnya memilih bertahan. Pesan singkat yang dikirim Juwita setelah Andika menolak permintaan Asri untuk menceraikannya.

Sekarang kamu tahukan, siapa pemenangnya? Aku Asri. Aku pemenangnya. Mas Andika sangat mencintaiku, dia tak akan pernah mau menceraikanku.

“Mama akan tetap mempertahankan rumah tangga Mama dengan Papa. Bukan karena Mama masih mencintainya. Bukan karena Mama berharap Papa kembali seperti dulu.”

“Lalu karena apa?”

“Karena Mama ingin memastikan satu hal.” Bu Asri menoleh kepada Jena. "Juwita tidak akan pernah menang."

Jena terdiam.

“Mama ingin memastikan bahwa di catatan negara, hanya ada satu perempuan yang tercatat sebagai istri Andika.” Bu Asri menunjuk dirinya sendiri. “Mama.” Kemudian tatapannya beralih kepada Jena. “Dan hanya ada satu anak yang tercatat sebagai anak Andika, yaitu kamu." Ia menggenggam tangan Jena.

Jena menatap Mamanya lama sekali. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa selama ini Mamanya bukan sekadar bertahan karena tidak punya pilihan, tapi bertahan karena memilih menang meski jalannya tidak mudah.

“Mama mungkin sudah kehilangan suami,” lanjut Bu Asri lirih. “Tapi Mama tidak mau kamu kehilangan Papa, kehilangan hak-hak kamu sebagai anak, sebagai pewaris. Sudah banyak sekali cerita seorang ayah lupa pada anaknya setelah bercerai dan menikah lagi. Mama tak mau itu terjadi."

Jena menundukkan kepala. “Harusnya Mama tidak perlu melakukan ini semua demi Jena, Mah." Matanya berkaca-kaca, menatap Mamanya.

Bu Asri tersenyum tipis. “Tidak. Kamu tidak perlu merasa begitu. Ini bukan hanya karena kamu, tapi Mama juga tak mau kehilangan semua kemewahan, dan beralih menjadi milik Juwita sepenuhnya."

Jena menggenggam tangan ibunya. Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam. Di antara mereka, ada luka lama yang ternyata belum pernah benar-benar sembuh.

“Biarlah tubuh dan hati Papa menjadi miliknya. Mama sudah tidak peduli lagi. Tapi hak kamu sebagai anak, Mama tidak akan pernah rela kamu kehilangan. Mama tahu kamu kecewa sama Papa. Kamu boleh marah, boleh tidak setuju dengan banyak keputusan Papa. Tapi jangan terlalu menentangnya, Jen.” Bu Asri menarik napas.

“Suatu hari nanti, posisi pemimpin tertinggi perusahaan itu harus jatuh ke tangan kamu. Mama tidak rela kalau akhirnya anak-anak Juwita yang menguasai semuanya. Untungnya, Juwita tak punya anak laki-laki, yang secara agama, bisa saja mendapatkan hak waris lebih banyak daripada kamu. Dan yang mungkin, bisa menjadi anak paling disayang Papa kamu. Karena sejak dulu, Papa kamu ingin punya anak laki-laki."

“Mama masih memikirkan perusahaan?”

“Mama memikirkan masa depan kamu.”

Bu Asri tersenyum kecil. “Mama sekarang sudah menopause. Papa mau bersama perempuan mana pun, Mama sudah tidak peduli. Asalkan hak Mama tetap terpenuhi, jatah bulanan Mama tetap jalan. Dan hak kamu sebagai anak Papa tidak boleh berkurang sedikit pun.”

Jena terdiam.

“Kalau kamu benar-benar ingin Papa menikah dengan Aline, Mama juga tidak keberatan.”

Jena langsung menatapnya.

“Asal satu syarat.”

“Apa?”

“Pernikahan siri.”

Bu Asri menatap Jena dengan tatapan mantap.

“Selama Mama masih hidup, istri Andika yang tercatat secara sah hanya Mama. Mama tidak akan memberikan tempat itu kepada siapa pun.”

Jena terdiam cukup lama.

“Dan karena itu, sekarang Mama sedang belajar membahagiakan diri sendiri.”

“Maksud Mama?”

“Olahraga, kumpul dengan teman-teman, perawatan, ibadah. Melakukan hal-hal yang membuat Mama merasa hidup." Ia tersenyum. "Supaya Mama panjang umur.”

Jena mengernyitkan dahi, nyaris tidak percaya mendengar ibunya berbicara setenang itu.

Bu Asri terkekeh pelan. “Semoga saja Mama diberi umur panjang. Kalau bisa...” Ia menatap keluar jendela. “Juwita pergi lebih dulu. Mama ingin, sampai maut datang padanya, dia tidak pernah benar-benar memiliki Andika secara sah.” Kedua telapak tangannya mencengkeram sprei, sorot matanya penuh kemarahan.

Jena memandangi ibunya. Ia sadar bahwa di balik sikap Bu Asri yang terlihat pasrah selama bertahun-tahun, ternyata ada satu tekad yang tidak pernah padam.

1
aisyah
tapi aku nggak kasihan, gimana dong 🤭🤣
Oma Gavin
akhirnya juwita sudah memanen karma nya tinggal tunggu waktu mati saja sayang nya belum tobat habis ini pasti naura diajak ikut andhika bikin jena marah dan ngga mau lagi ketemu ayah nya
Putusri Martini
ceritanys menarik 👍👍
Sugiharti Rusli
apalagi dia sudah bercerai dari mama Asri, paling yang akan terganggu si Jena kan si Naura punya perasaan lain sama Budi
Sugiharti Rusli
meski bukan putri kandungnya, tapi Naura dirawat sejak lahir oleh Andika
Sugiharti Rusli
tapi sepertinya kalo si Juwita akhirnya berumur pendek sèpertinya Andika akan mengajak tinggal bersamanya lagi
Sugiharti Rusli
ternyata si Naura masih memiliki kakek-nenek dari pihak ibunya, jadi dia ga sendirian juga yah
Sugiharti Rusli
memang sih sebuŕuk apapun si Juwita bagi orang lain, di mata anak" nya mereka tetap sayang padanya,,,
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Kasihan juga Juwi...mungkin Naura ikut dgn Andika
Eli Rahma
HIV
Opi Sofiyanti
kupikir pancreas tuh cm buat cowok.. 🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
karma bagi pelakor 😡😡😡
ntar Naura ikut Andika jangan sampai Dia juga jadi pelakor dalam Rumah Tangga Jena😡😡😡
Agus Tina
Aku kok nggak kas8han sama Juwita, ayo Andika saidara2 Juwita yg sudah kau tolong masukan mereka ke perusahaan sama sekalintidak mau menolong Juwita, itu karma buat Juwita. Tp mauku buat mereka melakukan kesalahan thor habis itu airih Jena pecat mereka
🌷Vnyjkb🌷
over alkohol pas LC tu,
🌷Vnyjkb🌷
susuknya lompat🤭😜😜
Diana Fitri.N
semangat kak semangat up nya 🥰
Kar Genjreng
kebanyakan diet makan kurma kali ya jadinya sakitnya gitu,,,,, saudaranya pada ga mau dekat lagi karena Juwita sudah hidupnya tidak seperti dulu,,,,ketika hidupnya bergelimang. mirip semut ngerubungi seperti gula,,, begitu sudah tak berdaya dan kismin. pada menjauh takut ketularan miskin,,,,maka jangan terlalu
bangga karena bnyak saudara. atau teman kala senang kala susah menjauh 🤔😮
ryuka
kasian ga kasian diihh tapi mungkin ini karmu juwita
Asih Rahmadhani Bohara
kasian banget sbnrnya sama Jena.. padahal udh jelas2 Naura bukan anaknya. msh aja peduli sampai skrg.. udh d khianati juwita berkali2.. msih aja ada rasa iba.. udh cocok banget bu asri mnta cerai
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
yaa pasti karena selama ini juwita sombong dan tak perduli sama keluarga nya. makanya saat juwita sakit, mereka ganti tak perduli dengan keadaan juwita. sekarang baru tahu kan? gimana rasanya di abaikan juwita...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!