Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Meskipun terlihat sedikit gugup, tapi fitur wajah Luna yang sangat mirip dengan Leon adalah bukti tak terbantahkan bagi semua orang di sana.
Tidak perlu tes DNA untuk membuktikan bahwa anak ini adalah darah daging keturunan Wegan yang asli.
Sorot mata tegasnya, bentuk rahangnya, semuanya adalah cetakan sempurna dari Leon Wegan.
"Wah... dia memang sangat mirip denganmu, Leon," puji paman tertua Leon maju menghampiri.
"Selamat atas kembalinya putri kandungmu, Nak," lanjut paman itu menepuk bahu Leon.
Ucapan selamat dari paman tertua itu langsung diikuti oleh tepuk tangan meriah dari seluruh tamu undangan yang hadir.
Prok prok prok.
Luna yang tadinya ketakutan kini mulai sedikit tersenyum melihat orang-orang bertepuk tangan untuknya.
"Mereka tidak jahat, Mama," bisik Luna menarik ujung gaun Nabila.
"Tentu saja sayang, mereka semua menyukaimu," jawab Nabila tersenyum membelai kepala putrinya.
Pesta dilanjutkan dengan acara makan malam dan ramah tamah yang sangat hangat.
Beberapa rekan bisnis bergantian maju untuk memberikan hadiah dan memuji kecantikan Luna di depan Leon.
Leon dan Nabila menerima semua pujian itu dengan senang hati, memastikan bahwa posisi putrinya sangat kuat di mata publik.
Namun di tengah kemeriahan pesta tersebut, sebuah keributan kecil tiba-tiba terjadi di arah pintu utama.
Brak!
Dua orang satpam terlihat sedang menahan tubuh seorang wanita yang memaksa masuk ke dalam ruang perjamuan.
"Lepaskan aku! Aku ini diundang ke pesta ini!" jerit wanita itu meronta-ronta dengan sangat kasar.
Semua tamu langsung menoleh ke arah pintu utama dan suasana pesta kembali menjadi hening.
Leon mengerutkan keningnya dan memberikan isyarat pada Asisten Budi untuk mengecek keributan tersebut.
Asisten Budi berjalan cepat menghampiri pintu utama dan berbicara dengan satpam yang berjaga.
Setelah mendengar laporan dari satpam, Asisten Budi kembali menghampiri Leon dengan wajah sedikit tegang.
"Tuan Besar, ada wanita yang memaksa masuk. Dia mengaku sebagai adik perempuan dari Nyonya Nabila," lapor Asisten Budi berbisik.
Mendengar laporan itu, wajah Nabila langsung berubah menjadi sangat pucat dan tegang.
"Siapa? Sinta maksudmu?" tanya Nabila dengan suara sedikit bergetar.
Leon menatap wajah istrinya yang tiba-tiba pucat, lalu beralih menatap wanita yang sedang meronta di pintu utama.
Wanita itu mengenakan gaun merah menyala yang terlalu ketat dan terlihat sangat norak di tengah pesta elegan ini.
Riasan wajahnya sangat menor dan rambutnya disanggul tinggi dengan sangat berlebihan.
"Iya benar! Aku ini Sinta, adik kandung dari Nabila Wegan! Berani kalian menahanku?!" teriak Sinta saat menyadari Leon menatapnya.
"Nabila Kakakku sayang! Suruh anjing-anjing penjagamu ini melepaskanku!" panggil Sinta melambaikan tangannya dengan heboh.
Leon menatap Nabila dengan pandangan penuh tanda tanya.
Nabila hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan menundukkan kepalanya karena merasa sangat malu.
Sinta adalah adik kandungnya yang sangat matre, pemalas, dan suka membuat masalah sejak mereka masih muda.
Sejak Nabila menikah dengan Leon, Nabila sengaja memutus kontak dengan keluarganya karena tahu kelakuan buruk adiknya itu.
Tapi entah dari mana Sinta tahu tentang pesta ini dan berani datang mengacau ke rumahnya.
"Biarkan dia masuk, Budi," perintah Leon akhirnya memberikan izin pada satpam.
Satpam itu langsung melepaskan cengkeramannya dari lengan Sinta.
Sinta merapikan gaun merah noraknya dan berjalan masuk ke tengah ruang perjamuan dengan langkah percaya diri yang menyebalkan.
Dia sama sekali tidak peduli pada tatapan aneh dan jijik dari para tamu undangan kelas atas yang ada di ruangan itu.
"Halo semuanya! Kenalkan, aku Sinta, adik ipar dari Tuan Leon Wegan yang sangat kaya raya ini," sapa Sinta dengan suara cemprengnya mengumumkan diri.
Sinta langsung berjalan lurus menghampiri Nabila dan berniat memeluk kakaknya itu.
Tapi Nabila langsung mundur satu langkah dan menatap adiknya dengan tatapan sangat dingin.
"Untuk apa kamu datang ke sini, Sinta? Aku tidak pernah mengundangmu," ucap Nabila dengan nada ketus.
"Aduh Kakak, jangan galak-galak begitu dong di depan tamu," balas Sinta tertawa manja yang dibuat-buat.
"Aku kan dengar berita kalau keponakan asliku sudah ketemu, makanya aku datang mau lihat," lanjutnya melirik ke arah Luna.
Mata Sinta yang penuh perhitungan langsung berbinar melihat tiara berlian dan gaun mahal yang dipakai oleh Luna.
"Wah, ini dia keponakan Tante Sinta yang cantik sekali," ucap Sinta berjongkok dan mengulurkan tangannya pada Luna.
"Pantas saja kamu dikira anak gembel, mukamu mirip sekali sama Leon tapi versi kurang gizinya," tambah Sinta asal jeplak tanpa saringan.
Ucapan sangat tidak sopan itu langsung membuat suhu di ruang perjamuan turun drastis menjadi sedingin es.
Semua tamu menahan nafas ketakutan mendengar wanita norak itu berani menghina fisik pewaris keluarga Wegan secara terang-terangan.
Wajah Leon seketika menjadi sangat gelap dan urat di pelipisnya menonjol menahan marah.
Nabila juga membelalakkan matanya tidak percaya dengan kelancangan mulut adiknya sendiri di depan umum.
Luna yang ketakutan mendengar suara cempreng dan kata "gembel" itu langsung bersembunyi di balik kaki ayahnya.
"Jaga mulut kotormu itu di depanku," geram Leon dengan suara yang sangat berat dan mengancam.
Tapi Sinta yang otaknya terbuat dari kerakusan itu sama sekali tidak peka pada bahaya yang mengancam nyawanya.
"Loh Kak Leon kok marah sih? Aku kan cuma bercanda," elak Sinta tertawa cengengesan merasa tidak bersalah.
"Ngomong-ngomong, pestanya mewah sekali ya. Boleh dong aku minta modal bisnis sedikit untuk butik baruku?" lanjut Sinta langsung meminta uang tanpa rasa malu.
"Lima ratus juta cukup kok Kak, untuk ukuran Wegan Group uang segitu kan cuma seperti uang receh buat beli permen," tambahnya mengedipkan sebelah matanya genit pada Leon.
Mendengar permintaan konyol dan tidak tahu malu dari adiknya itu, kesabaran Nabila akhirnya benar-benar habis total malam ini.
Nabila melangkah maju melewati suaminya dan berdiri tepat berhadapan dengan Sinta yang sedang menyengir lebar.
Plak!
Satu tamparan yang sangat keras dan nyaring kembali mendarat di pipi seseorang hari ini.
Dan kali ini, Nabila menampar wajah adik kandungnya sendiri di depan ratusan pasang mata tamu undangan kelas atas.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget