Indonesia
NovelToon NovelToon
Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Selingkuh / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:746.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22 - Penyesalan yang Terlambat

Bambang baru sadar rumah terasa kosong ketika Ratna benar-benar tidak lagi memasak untuknya.

Pagi itu ia bangun dengan perut perih. Biasanya, di meja sudah ada nasi hangat, sayur, atau minimal teh tawar dan pisang rebus. Setelah Ratna pindah ke klinik, dua hari pertama ia masih bisa pura-pura tidak butuh. Ia membeli bubur di warung, makan mi instan, atau menerima kiriman Sari.

Tapi makanan dari Sari datang dalam kotak plastik.

Rapi, wangi, dan terasa asing.

Sari tidak tahu Bambang tidak suka bawang goreng terlalu banyak. Tidak tahu ia lebih suka sambal terasi mentah daripada sambal botol. Tidak tahu obat maag harus diminum sebelum kopi, bukan sesudah ia mengeluh.

Hal-hal kecil itu membuat Bambang kesal.

Lebih kesal lagi karena ia tidak bisa mengakui alasan sebenarnya.

Ia duduk di meja makan, menatap piring kosong.

Ponselnya bergetar.

Sari: Bang, sudah makan?

Bambang: Belum.

Sari: Aku bisa kirim nasi kuning. Tapi Bang, kita harus bicara soal status kita.

Bambang meletakkan ponsel.

Status.

Sejak Ratna menggugat cerai, Sari semakin sering memakai kata itu. Dulu ia manis, sabar, lembut. Sekarang pesan-pesannya selalu punya ujung yang sama.

Kapan kita nikah siri?

Kapan kamu ke KUA setelah cerai?

Kalau Ratna menuntut harta, bagaimana nasib rumahku?

Kamu jangan sampai balik lagi ke dia, Bang.

Bambang mengusap wajah.

Ia tidak ingin kembali pada Ratna dengan cara memohon. Gengsinya terlalu besar. Tetapi membayangkan Ratna benar-benar pergi juga membuat dadanya panas.

Apalagi setelah melihat Arman Wibisana.

Laki-laki itu tidak perlu bicara keras untuk membuat orang lain diam. Tidak perlu menunjuk-nunjuk untuk terlihat punya kuasa. Bahkan Raka, anak Bambang yang biasanya seperti api, bisa berbicara padanya tanpa meledak.

Bambang membenci itu.

Ia membenci cara Arman berdiri di depan klinik, seolah tempat itu bisa menjadi wilayahnya. Ia membenci cara Ratna tidak menunduk saat Arman datang. Ia membenci kenyataan bahwa orang sekaya itu melihat Ratna dengan mata yang tidak pernah Bambang gunakan.

Ponselnya bergetar lagi.

Sari menelepon.

Bambang mengangkat dengan malas. "Apa?"

"Bang, kamu marah?"

"Tidak."

"Suaramu begitu."

"Aku belum makan."

"Aku kirim makanan, ya. Tapi setelah itu kamu ke rumahku. Kita harus bicara."

"Bicara apa lagi?"

Sari terdiam sebentar. "Bang, jangan pura-pura tidak tahu. Ratna sudah menggugat. Sekarang kamu harus jelas. Aku tidak mau menunggu tanpa kepastian lagi."

Bambang menutup mata.

"Proses cerai belum selesai."

"Justru karena itu kita harus siap. Kalau nanti kamu resmi cerai, kita langsung urus nikah. Aku tidak mau orang kampung terus menganggapku perempuan simpanan."

"Jangan pakai kata itu."

"Lalu aku apa, Bang?"

Bambang tidak menjawab.

Di ujung telepon, suara Sari mulai bergetar. "Kamu dulu bilang setelah anak-anak besar, kamu akan bicara. Anak-anakmu sudah besar. Kamu bilang setelah Ratna tahu, semua akan jelas. Sekarang Ratna tahu. Tapi kamu masih tidak jelas."

"Situasinya rumit."

"Rumit karena kamu tidak berani."

Bambang membuka mata. "Sari."

"Apa? Aku salah? Kamu tidak berani memilihku di depan mereka. Kamu membiarkan aku pulang seperti orang bodoh."

"Kamu datang tanpa bilang dulu."

"Karena kalau aku bilang, kamu pasti melarang."

Bambang tidak bisa membantah.

Sari menarik napas. "Bang, aku juga punya harga diri."

Kalimat itu membuat Bambang teringat Ratna.

Harga diri.

Semua perempuan di hidupnya tiba-tiba bicara soal harga diri, seolah Bambang tidak pernah punya perasaan sendiri.

"Nanti kita bicara," katanya.

"Kapan?"

"Nanti."

"Kamu selalu bilang nanti."

Bambang memutus telepon.

Ia langsung menyesal, tetapi tidak menelepon balik.

Siang itu, ia keluar ke warung Bu Rini. Begitu masuk, percakapan berhenti. Orang-orang yang biasanya menyapa kini hanya mengangguk kaku. Bu Rini melayani dengan sopan tetapi dingin.

"Kopi, Pak?"

"Iya."

"Gula sedikit?"

Bambang tersentak.

Ratna yang selalu memesankan kopi dengan gula sedikit. Bu Rini tahu dari Ratna.

"Iya," jawabnya kasar.

Di pojok warung, dua bapak berbisik. Bambang menangkap potongan kalimat.

"...lengan Bu Dokter..."

"...sampai ke Puskesmas..."

"...kalau sudah ada orang kaya itu, Pak Bambang susah..."

Bambang membanting gelas sebelum kopinya diminum.

"Kalau mau bicara, bicara yang jelas!"

Warung sunyi.

Bu Rini menatapnya. "Pak Bambang, ini warung. Jangan marah-marah."

"Kalian semua termakan cerita Ratna."

Pak Ujang di pojok berkata, "Kami cuma lihat sendiri semalam."

Bambang menoleh. "Lihat apa?"

"Bapak narik lengan Bu Ratna."

"Itu urusan rumah tangga."

Bu Rini menyahut, tidak tahan lagi, "Kalau urusan rumah tangga, jangan dilakukan di depan klinik."

Beberapa orang menahan napas.

Bambang menatap Bu Rini dengan mata menyala.

"Kamu ikut campur?"

Bu Rini menelan ludah, tetapi tidak mundur. "Saya cuma kasihan Bu Ratna. Seumur hidup dia bantu orang kampung. Kalau sekarang dia sakit hati, masa kita semua pura-pura tidak lihat?"

Bambang tidak punya jawaban.

Ia keluar dari warung tanpa membayar. Bu Rini tidak mengejar.

Sore harinya, Bambang berdiri di depan klinik dari kejauhan. Ratna sedang memeriksa anak kecil. Ia melihatnya tersenyum pada pasien, mengusap kepala anak itu, menulis resep. Gerakannya sama seperti dulu.

Tetapi Bambang tahu ada sesuatu yang berubah.

Ratna tidak lagi melihat ke rumah utama.

Sama sekali.

Malamnya, Sari datang membawa rantang makanan.

Ia masuk tanpa senyum.

"Aku bawakan sop."

Bambang duduk di ruang tengah. "Taruh saja."

Sari meletakkan rantang, lalu berdiri di depannya.

"Bang, aku mau jawaban."

"Aku lelah."

"Aku juga."

"Jangan mulai."

"Aku harus mulai, karena kamu tidak pernah mulai."

Bambang menatapnya. Perempuan yang dulu menjadi tempat pelarian kini berdiri seperti penagih utang.

"Apa kamu mau nikah denganku atau tidak?"

Bambang diam terlalu lama.

Wajah Sari berubah.

"Jadi selama ini apa?"

"Aku tidak bilang tidak."

"Tapi kamu juga tidak bilang iya."

Bambang berdiri. "Sari, aku sedang digugat cerai. Anak-anakku marah. Sekampung menggosip. Ratna dekat dengan laki-laki kaya. Kepalaku penuh."

Sari menatapnya tajam. "Oh. Jadi yang kamu pikirkan Ratna dekat dengan laki-laki kaya?"

Bambang tersentak.

"Bukan begitu."

"Kamu cemburu."

"Tidak."

"Kamu cemburu pada Ratna."

Bambang marah karena kalimat itu benar.

"Jangan bicara sembarangan."

Sari tertawa pahit. "Bang, kamu lucu. Waktu Ratna menjadi istrimu, kamu bilang tidak bahagia. Sekarang dia mau pergi, kamu tidak rela."

Bambang mengangkat tangan, tetapi tidak sampai menyentuh Sari.

Sari tidak mundur.

"Kalau kamu tidak mau kehilangan dia, katakan. Aku masih bisa pergi."

Namun suaranya pecah di akhir kalimat.

Bambang menurunkan tangannya.

Di depan Sari, ia tidak mampu berkata ingin Ratna kembali.

Di depan Ratna, ia tidak mampu meminta maaf.

Di depan anak-anak, ia tidak mampu mengakui salah.

Malam itu, Bambang baru menyadari hidupnya penuh perempuan yang menunggu keberaniannya.

Dan ia tidak punya cukup keberanian untuk siapa pun.

Keesokan paginya, Bambang membeli sarapan sendiri lagi.

Di warung, tidak ada yang mengusirnya, tetapi tidak ada pula yang benar-benar menyambut. Perbedaan kecil itu terasa lebih menyiksa daripada pertengkaran. Orang masih memanggilnya Pak Bambang, masih memberi kopi, masih menghitung uang kembali. Namun rasa hormat yang dulu otomatis kini seperti barang pecah yang disambung seadanya.

Pak Mahmud duduk di pojok, membaca koran.

Bambang mendekat. "Pak RT."

Pak Mahmud mengangkat wajah. "Ya?"

"Semalam itu... orang kampung terlalu membesar-besarkan."

Pak Mahmud melipat koran pelan. "Yang mana?"

"Soal saya dan Ratna."

"Yang saya lihat, Bu Ratna minta dilepaskan dan Bapak tidak langsung melepas."

Bambang menegang. "Saya suaminya."

"Justru karena suami, harusnya lebih tahu batas."

Kalimat itu membuat Bambang tidak bisa membalas. Ia mengambil kopi dan pergi sebelum sempat duduk.

Di jalan pulang, ia melewati klinik. Ratna sedang membuka pintu, memakai kerudung abu-abu, wajahnya tenang. Ia tidak melihat ke arah Bambang.

Bambang berhenti beberapa detik.

Ia ingin memanggil.

Namun yang muncul di kepalanya bukan permintaan maaf, melainkan pertanyaan pahit: apakah Arman sudah mengirim pesan pagi ini?

Rasa cemburu itu membuatnya malu.

Ia pulang tanpa bicara.

Di rumah, sop dari Sari masih ada di meja. Lemaknya membeku di permukaan.

Bambang memandangnya, lalu untuk pertama kali berpikir, mungkin yang selama ini ia sebut cinta kedua hanyalah tempat bersembunyi dari rumah yang ia sendiri buat tidak nyaman.

1
Anonim
awal cerita masih masuk nalar, tp mulai ketemu Arman dan Sari selalu tau gerak gerik Ratna, cerita mulai agak aneh…, setiap ada kejadian pd Ratna, Arman sll ada begitu jg dg Sari sll tau apa gerak gerik Ratna kaya pd punya CCTV sendiri…😂
Anonim
kok Sari bisa langsung tau sih ? katanya Sari tinggal nya di kampung sebelah, kok semua tentang Ratna si Sari langsung tau ya ? aneeh….
Anonim
diusia 60 thn adlh usia pensiun, dari kerja kantoran (kecuali dokter, pengacara) krn diusia itu fisik kita jg sdh tdk muda lg, tinggal menikmati hsl kerja dan menikmati hari tua dg bahagia, tp seperti dr Ratna kasus nya beda, masa tua bersama pasangan (suami) yg sehrs nya menikmati kebahagiaan, malah menjd masa tua yg menyakitkan, lbh ikhlas ditinggal mati pasangan drpd ditinggal krn perselingkuhan dan perceraian 😢
Tien Tien
merasakan rasaaanya .masuk banget ..kita ditinggal atw juta meninggalkan .semoga yg tersisa kebaikan. dan tidak ada penyesalan .
dwi sulastri
episode sebelumnya bu ratna pakai jilbab, ini kok disanggul ya
Wirly Pena
Semangat thor, karya yang bagus 👍

halo temen2, dukung dan baca " aku istrimu, bukan babu mu "

terimakasih 🙏
AlviAlva
coba kamu Mita ke bapakmu Mel
Amarilys
dari muda sampai tua masih plin plan seperti itu?? /Drowsy/
echa purin
👍👍👍
ceyee
bahasanya kayak terjemahan. apa ini novel terjemahan? berarti copas
Rochsdha Andriani
nah itu dia...
Sabrina Sheron
novel paling bagus yg pernah saya baca.
semua ada di kisah nyata bukan khayalan layaknya dunia novel biasa. semangat buat penulisnya💪
Rochsdha Andriani
kebaya ?
Surati
Bagus ceritanya
Mama lilik Lilik
ceritanya bagus dan seperti real banget,cuma kadang alamat rumah kadang pindah² semula diklinik lalu pindah ,ke rumah sewa tiba² di klinik dekat kampung cempaka, terakhir ke apartemen, tetap semangat KK dn terimakasih 🙏
Zakia Ulfa
ayolooohhh Bu dokter calon jodohmu dataaaaang
Zakia Ulfa
kereeeennn Lo ceritanya
Aji Priatun
suka banget alur ceritanya, keren Author, terima kasih
Kukun Sabarno
kenapa pemikiran nelati terlalu jauh tentang pak arman,seakan memanfaatkan kesempatan ya. apa aku salah??
Ema Susanti
sama seperti mantan suamiku. semoga Allah berikan jodoh yang baik dan tepat., 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!