Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemandangan yang salandi artikan
Suatu sore, Baska memutuskan untuk mengunjungi Sport Padel lebih awal dari jadwal kelas privatnya yang biasa, berniat memberikan kejutan kecil kepada Zia dengan membawakan makanan ringan kesukaan gadis tersebut. Namun ketika dia tiba di area parkir dan berjalan menuju lobi, dia mendapati pemandangan yang membuat langkahnya terhenti seketika.
Di dekat meja resepsionis, Zia sedang berdiri berdekatan dengan seorang pria yang tidak dia kenali, keduanya tampak sedang berbicara dengan serius, dan yang lebih membuat hati Baska mencelos adalah gestur Ali yang tiba-tiba menyentuh lengan Zia dengan lembut, sebuah sentuhan yang sebenarnya dimaksudkan sebagai bentuk permintaan maaf yang lebih personal, namun dari sudut pandang Baska yang berdiri agak jauh, terlihat begitu intim dan mengganggu.
Baska yang tidak mendengar konteks percakapan tersebut, hanya menyaksikan bahasa tubuh yang menurutnya terlalu dekat untuk sekadar interaksi profesional biasa, merasakan gelombang kecemburuan yang begitu besar menghantam dirinya. Dia berdiri mematung selama beberapa detik, tidak yakin harus bereaksi bagaimana terhadap pemandangan yang baru saja dia saksikan tersebut.
Sebenarnya, momen tersebut terjadi karena Ali baru saja menceritakan kepada Zia mengenai kesulitan yang dia alami dalam pekerjaan barunya, sebuah cerita yang membuat Zia secara refleks menunjukkan simpati sebagai bentuk kebiasaan ramahnya terhadap siapa pun yang bercerita mengenai kesulitan hidup, sementara sentuhan Ali di lengannya tersebut hanya berlangsung sepersekian detik sebagai gestur terima kasih atas empati yang ditunjukkan Zia tersebut.
Namun tanpa mengetahui konteks tersebut, Baska yang merasa hatinya begitu perih menyaksikan pemandangan tersebut, memutuskan untuk pergi tanpa menyapa Zia terlebih dahulu, membawa makanan yang tadinya dia persiapkan sebagai kejutan tersebut kembali ke motornya dengan perasaan yang begitu kacau. Dia mengendarai motornya menjauh dari Sport Padel tanpa memberi tahu Zia bahwa dia sempat datang ke sana.
Malam itu, ketika Zia mengirim pesan seperti biasa menanyakan kabar Baska, pemuda tersebut membalas dengan jawaban singkat yang jauh berbeda dari keramahan yang biasa dia tunjukkan. "Baik-baik aja, Zia. Lagi capek doang."
Zia, yang merasakan ada yang berbeda dari nada balasan tersebut, mencoba menggali lebih lanjut mengenai kondisi kekasihnya itu. "Mas, kamu yakin baik-baik aja? Kedengerannya kayak ada yang dipikirin."
"Iya, aku baik-baik aja kok. Cuma capek kerjaan," jawab Baska mengelak, tidak ingin membicarakan kecemburuan yang dia rasakan tersebut melalui pesan singkat, meski dalam hatinya dia masih dipenuhi berbagai pertanyaan mengenai apa sebenarnya yang terjadi antara Zia dan Ali sore itu.
Keesokan harinya di kantor, Dika yang menyadari perubahan suasana hati sahabatnya tersebut, mencoba menanyakan penyebabnya. "Bas, lo kayaknya lagi bete banget. Ada masalah sama Zia?"
Baska menghela napas panjang sebelum akhirnya menceritakan apa yang dia saksikan kemarin sore tersebut. "Dik, kemarin gue liat Zia lagi deket banget sama cowok, sampe disentuh lengannya segala. Gue jadi mikir yang enggak-enggak."
"Itu cowoknya kayak apa, Bas? Jangan-jangan Ali yang lo ceritain waktu itu?" tanya Dika, mengingat kembali percakapan sebelumnya mengenai kabar kepulangan mantan kekasih Zia tersebut.
"Mungkin aja, Dik. Gue nggak sempet liat jelas mukanya, tapi kayaknya emang dia," jawab Baska dengan nada yang masih menunjukkan kegelisahan, semakin yakin bahwa kekhawatirannya selama ini mungkin memang berdasar.
"Bas, jangan buru-buru nge-judge sebelum tau ceritanya dari Zia langsung. Bisa aja itu cuma kesalahpahaman doang," saran Dika dengan bijaksana, mencoba mencegah sahabatnya tersebut mengambil kesimpulan yang terlalu cepat tanpa mendengar penjelasan yang sebenarnya.
Namun kata-kata Dika tersebut tidak sepenuhnya berhasil meredakan kecemburuan yang telah terlanjur tumbuh dalam diri Baska, sebuah kecemburuan yang, jika tidak segera dikomunikasikan dengan baik kepada Zia, berpotensi menjadi awal dari kesalahpahaman besar yang bisa mengancam keutuhan hubungan yang telah mereka bangun dengan penuh perjuangan selama berbulan-bulan terakhir tersebut.
"Terus lo mau ngapain, Bas? Diem aja gitu tanpa ngomong ke Zia?" tanya Dika lagi, khawatir dengan sikap Baska yang cenderung memendam perasaannya sendiri daripada langsung mengomunikasikannya kepada Zia.
"Gue masih bingung, Dik. Takutnya kalau gue tanya langsung, malah keliatan posesif atau nggak percaya sama dia," jawab Baska dengan nada ragu, terjebak dalam dilema antara keinginan untuk mendapatkan kejelasan dan ketakutan akan terlihat sebagai pacar yang terlalu mengekang.
"Justru itu masalahnya, Bas. Kalau lo terus-terusan mendem perasaan lo, ujung-ujungnya malah bisa jadi salah paham yang lebih besar. Mending lo ngomong baik-baik, tanya langsung apa yang sebenernya terjadi," saran Dika dengan penuh kesungguhan, mencoba mengingatkan sahabatnya tersebut akan pentingnya komunikasi terbuka dalam menghadapi situasi yang mulai terasa rumit tersebut.
Baska mengangguk pelan, mempertimbangkan saran tersebut meski dalam hatinya masih terdapat keraguan besar mengenai bagaimana cara terbaik untuk mengungkapkan kekhawatirannya tanpa merusak kepercayaan yang telah mereka bangun bersama, sebuah keraguan yang, tanpa dia sadari, justru akan membuatnya semakin menjauh dari Zia dalam beberapa hari mendatang.