Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak 2 Bos Dominan

Cinta Kontrak 2 Bos Dominan

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jifa Flora Dewi

Demi kompensasi bernilai fantastis, Azahra Aletta nekat melakukan sandiwara berbahaya: menandatangani dua kontrak pacar pura-pura secara bersamaan. Kontrak pertama datang dari Ethan Austin, pria dingin yang ia temui di ajang pencarian jodoh demi memenuhi syarat warisan keluarga. Namun, baru satu minggu berjalan, James Daniel—CEO otoriter sekaligus bos besar di tempat kerjanya—turut menuntut Azahra menjadi kekasih palsunya untuk menghindari perjodohan bisnis. Tergiur bayaran ganda, Azahra nekat bermain kucing-kucingan di balik layar.


Rencana sempurnanya hancur berantakan ketika rahasia tersebut akhirnya terbongkar di hadapan kedua pria itu. Alih-alih melayangkan gugatan atau memecatnya, rahasia yang terkuak justru membakar gengsi dan obsesi Ethan maupun James. Kedua bos dominan itu membuang aturan formal dan bersaing secara terbuka untuk memenangkan hati Azahra secara nyata. Kini, Azahra terjebak di antara dua pria berkuasa yang posesif dalam permainan cinta berbahaya yang ia ciptakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jifa Flora Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 : BUNGA KATUN DIANTARA CADAS

Deru mesin helikopter sewaan yang membawa James Daniel kembali ke ibu kota perlahan menyusup di antara gemuruh ombak pesisir, sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya di balik gumpalan awan abu-abu.

Dari atas dermaga kayu Desa Teluk Mutiara, Ethan Austin berdiri menatap langit kelabu tersebut. Rintik gerimis tipis membasahi wajahnya, namun matanya yang berwarna kelabu tak lagi memancarkan kebingungan. Di dalam dadanya, rasa bersalah yang teramat sangat yang membelenggunya selama tiga tahun kini telah bertransformasi menjadi sebuah tekad baru yang begitu murni.

James telah pergi. Pria itu kembali ke Jakarta dengan hati yang hampa, membawa rasa penyesalan yang akan terus memakannya perlahan. Ethan tahu ia telah melakukan kebohongan besar pada saingannya itu. Namun bagi Ethan, ini bukan lagi tentang persaingan bisnis atau ego pria dominan. Ini tentang memberi ruang bagi wanita yang amat dicintainya untuk bernapas, tanpa harus kembali diseret ke dalam pusaran konflik korporasi yang dulu hampir mencabut nyawanya.

"Pak Ethan..." Rendy, asisten pribadi kepercayaan Ethan, melangkah mendekat sambil memegang payung hitam. Wajah asisten muda itu tampak pucat pasi. "Mobil dan rombongan kita sudah bersiap untuk menuju bandara. Apakah Bapak yakin tidak ikut kembali ke Jakarta sore ini? Ada rapat pemegang saham tahunan Austin Group dua hari lagi—"

"Batalkan seluruh agendaku untuk satu bulan ke depan, Rendy," potong Ethan datar tanpa memalingkan pandangannya dari laut.

Rendy melotot tak percaya. "B-batalkan, Pak? Tapi Kakek Anda—"

"Katakan pada Kakek bahwa aku sedang mengeksekusi proyek ekspansi yayasan di wilayah selatan," ujar Ethan dingin, lalu merogoh saku jasnya. Ia melepas jam tangan Patek Philippe berharga miliaran rupiah dari pergelangan tangannya, bersama dengan ponsel khusus pekerjaan berenkripsi tinggi, lalu menyerahkan keduanya ke tangan Rendy yang gemetar.

"Pak Ethan... apa yang sebenarnya Bapak rencanakan?" tanya Rendy dengan suara bergetar.

Ethan memutar tubuhnya. Ia melepaskan jas mewahnya, menyampirkannya ke lengan Rendy, lalu menyisakan kemeja putihnya yang kini bagian lengannya ia gulung hingga ke siku.

"Aku akan tinggal di sini," jawab Ethan pelan. Namun di balik kelembutan suaranya, ada ketegasan mutlak yang tak menerima bantahan. "Sewa sebuah rumah panggung kayu di dekat area sekolah desa. Kirimkan dana pribadi secukupnya untuk kebutuhan harian, dan pastikan tidak ada satu orang pun di Jakarta—termasuk James Daniel—yang tahu aku berada di desa ini."

"Pak... ini gila! Anda seorang CEO Austin Group! Anda tidak bisa tinggal di desa nelayan terpencil seperti ini!" jerit Rendy panik.

Ethan menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman asing yang tak pernah Rendy lihat selama lima tahun bekerja dengannya.

"Aku sudah gila sejak tiga tahun lalu, Rendy," bisik Ethan, menatap ke arah pemukiman desa di mana sebuah bangunan sekolah kayu berdiri. "Dan tempat ini... adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa menemukan warasku kembali."

Keesokan paginya, matahari terbit membakar kabut tipis yang menyelimuti Desa Teluk Mutiara.

Azahra Aletta melangkah keluar dari rumah panggung sederhananya membawa sebuah keranjang anyaman bambu. Ia mengenakan gaun katun longgar berwarna kuning gading, tatanan rambutnya diikat asal ke belakang. Udara pagi yang segar dan aroma asin air laut menyapa inderanya. Keberangkatan rombongan Aletta Foundation kemarin sore telah mengembalikan kedamaian di desa ini, atau setidaknya... itulah yang ia kira.

Saat Azahra berjalan menyusuri jalan setapak menuju pasar kaget di tepi dermaga, matanya mendadak membelalak lebar. Langkah kakinya terhenti seketika di dekat pohon ketapang rindang.

Di tepi dermaga, di antara riuhnya para nelayan lokal yang sedang membongkar muatan ikan dari perahu, berdiri seorang pria berpostur tinggi tegap.

Pria itu tidak lagi mengenakan setelan jas buatan Italia atau sepatu kulit mengilap. Ia hanya mengenakan celana kain bahan sederhana berwarna gelap dan kemeja linen putih yang kancing teratasnya terbuka, memamerkan kaus dalam polos. Wajah tampannya yang tegas tampak sedikit kotor oleh cipratan air laut dan sisik ikan, sementara kedua tangannya yang biasa memegang pulpen emas kini tampak cekatan mengangkat keranjang kayu berisi muatan ikan segar bersama Pak Basri, seorang nelayan tua desa.

Itu adalah Ethan Austin.

Azahra membeku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang oleh rasa syok murni. Kenapa dia masih di sini?! Bukankah rombongan Jakarta sudah pulang kemarin sore?!

Seolah merasakan keberadaan Azahra, Ethan memutar kepalanya. Mata kelabunya terkunci rapat pada Azahra. Bukannya menampilkan wajah angkuh atau tatapan menuntut seperti masa lalunya, Ethan justru menyunggingkan sebuah senyuman hangat—senyuman yang begitu tulus hingga membuat garis-garis halus di sudut matanya terlihat jelas.

Ethan menyapu keringat di dahinya dengan lengan kemejanya, menyerahkan keranjang ikan terakhir ke tangan Pak Basri, lalu melangkah menghampiri Azahra dengan langkah santai.

"Selamat pagi, Alya," sapa Ethan lembut. Suaranya yang berat bergaung menenangkan di antara desir angin pagi.

Azahra dengan cepat menguasai rasa terkejutnya. Ia merapatkan keranjang bambunya ke dada, memajukan garis bibirnya dan memasang raut wajah dingin tanpa ekspresi.

"Kenapa Bapak masih ada di sini?" tanya Azahra dengan nada ketus dan formal. "Bukannya rombongan pejabat kota sudah kembali kemarin sore?"

Ethan terkekeh pelan—sebuah tawa kecil yang terdengar sangat lepas, tanpa ada kepalsuan sosialitas kota. "Rombongan yayasan memang sudah pulang. Tapi aku memutuskan untuk mengambil liburan panjang di desa ini. Aku baru saja menyewa rumah kayu di ujung jalan setapak itu... tepat tiga rumah dari rumahmu."

Darah Azahra serasa berhenti mengalir. "Apa?!"

"Aku merasa udara di sini sangat bagus untuk kesehatanku," lanjut Ethan tanpa dosa, meraih seikat bunga liar berwarna kuning yang tumbuh di tepi jalan, lalu menyodorkannya ke hadapan Azahra dengan gerakan sopan. "Bunga ini cantik... persis seperti warna gaunmu pagi ini."

Azahra menatap ikatan bunga liar itu, lalu menatap mata Ethan dengan pandangan tak percaya. Rasa geli, marah, dan bingung beraduk menjadi satu di dalam dadanya.

"Pak Ethan," ujar Azahra dengan nada menekan, menolak untuk menerima bunga tersebut. "Saya tidak tahu permainan gila apa lagi yang sedang Bapak rencanakan. Tapi jika Bapak pikir Bapak bisa menyewa desa ini dan bertindak seenaknya seperti yang biasa Bapak lakukan di Jakarta, Bapak salah besar. Tempat ini bukan tempat untuk orang kaya seperti Bapak."

"Aku tahu," sahut Ethan tenang, tidak menyurutkan Uluran tangannya sedikit pun. "Di sini aku bukan CEO Austin Group, Alya. Aku hanya seorang pria yang sedang belajar cara menjadi manusia biasa."

"Saya tidak peduli!" bentak Azahra pelan, membalikkan badannya dengan cepat dan berjalan setengah berlari meninggalkan Ethan. "Jangan mendekati saya lagi!"

Ethan tidak mengejarnya secara agresif. Ia hanya berdiri di bawah naungan pohon ketapang, menatap punggung wanita itu yang makin menjauh dengan senyuman yang tak kunjung memudar dari bibirnya. Ia menyelipkan bunga liar kuning itu ke dalam saku kemejanya.

"Aku tidak akan menyerah, Azahra," bisik Ethan pada angin pagi. "Bahkan jika aku harus melintasi ribuan penolakanmu... aku akan tetap berada di sini."

Hari-hari berikutnya di Desa Teluk Mutiara berubah menjadi sebuah panggung pertunjukan kegigihan yang tak masuk akal bagi seorang Ethan Austin.

Pria yang dulunya tak pernah mau menyentuh barang kotor dan selalu dikelilingi oleh belasan pengawal pribadi itu kini menjelma menjadi sosok paling rajin di desa.

Siang harinya, saat Azahra sedang mengajar anak-anak di dalam bangunan sekolah kayu yang pengap, ia bisa melihat dari balik jendela kaca bagaimana Ethan bekerja mandi keringat di halaman luar. Pria itu tidak menyewa tukang bangunan. Dengan tangannya sendiri yang mulai melepuh dan tergores kayu, Ethan mengangkut karung-karung semen, memperbaiki atap bocor di teras sekolah, dan memaku kembali bangku-bangku kayu yang patah.

KTAK! KTAK! KTAK!

Suara dentuman palu Ethan bergaung berirama sepanjang sore.

Beberapa kali Azahra memergoki Ethan meringis kesakitan saat ibu jarinya tak sengaja terhantam palu, atau saat tangannya terkena serpihan kayu tajam hingga mengeluarkan darah segar. Namun, setiap kali Azahra melongok dari balik tirai kelas dengan raut cemas, Ethan yang menyadari pandangannya akan langsung mengusap darah itu ke celananya, berdiri tegap, dan tersenyum lebar ke arah jendela seolah ia baru saja memenangkan proyek triliunan rupiah.

Bodoh... pria itu benar-benar sudah gila, batin Azahra berdesir, merasakan ada kehangatan tipis yang mulai menyengat dinding hatinya yang membeku.

Suatu sore, hujan deras turun tiba-tiba mengguyur desa. Angin kencang bertiup menepis dedaunan, membawa hawa dingin yang menusuk tulang.

Azahra baru saja selesai merapikan buku-buku pelajaran di dalam kelas ketika ia melihat Ethan masih berada di teras sekolah. Pria itu sedang berusaha mengikatkan lembaran terpal plastik besar ke tiang-tiang kayu teras agar air hujan tidak tampias dan merusak papan tulis kayu di dalam kelas.

Tubuh Ethan sudah basah kuyup dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kemeja linennya menempel ketat di tubuh atletisnya, dan tangannya yang gemetar akibat kedinginan terus memegang tali tambang dengan erat.

Azahra berdiri di ambang pintu kelas. Hatinya bertolak belakang hebat. Akal sehatnya menyuruhnya untuk cuek dan berjalan pulang melewatinya begitu saja. Namun, melihat pria yang dulu sangat berkuasa itu kini rela menggigil dalam kebasahan hanya demi melindungi sekolah tempatnya mengajar... pertahanan Azahra akhirnya runtuh tipis.

Azahra menghela napas panjang. Ia berjalan menuju sudut ruangan, mengambil sebuah handuk kain bersih dan cangkir seng berisi teh jahe hangat yang baru saja ia seduh dari termosnya.

Langkah kaki Azahra mendatangi teras. Ia menghentikan langkahnya di belakang tubuh tegap Ethan.

"Pak," panggil Azahra pelan.

Ethan memutar tubuhnya dengan cepat. Napasnya terengah-engah, wajahnya sedikit pucat akibat hawa dingin hujan malam. Namun melihat Azahra berdiri di hadapannya, matanya seketika berbinar terang.

"Alya..." gumam Ethan, suaranya sedikit bergetar oleh dingin. "Sedikit lagi terpalnya selesai. Kelasmu tidak akan kebasahan besok pagi—"

"Cukup, Pak Ethan," potong Azahra, melangkah maju dan melemparkan handuk kain itu ke kepala Ethan, lalu menyodorkan cangkir seng berisi teh jahe hangat ke tangan pria itu. "Minum ini dan keringkan badan Bapak."

Ethan terpaku menatap cangkir teh hangat di tangannya, lalu menatap Azahra yang kini mengalihkan pandangannya ke arah deru hujan di luar teras. Sebuah kehangatan yang luar biasa menjalar dari telapak tangannya menuju langsung ke dalam dadanya.

"Terima kasih..." bisik Ethan sangat tulus. Ia menyesap teh jahe itu perlahan, meresapi rasa hangat yang membakar tenggorokannya.

Mereka berdiri berdampingan di bawah naungan atap teras kayu yang sempit, mendengarkan hantaman air hujan yang riuh di atas seng. Keheningan di antara mereka terasa begitu intens, dipenuhi oleh memori masa lalu yang tak terucapkan dan kenyataan masa kini yang terhampar nyata.

"Kenapa Bapak melakukan semua ini?" suara Azahra akhirnya memecah keheningan, suaranya pelan, nyaris tenggelam oleh suara hujan. Ia tidak menatap Ethan. "Bapak seorang Austin. Bapak punya segalanya di Jakarta. Harta, wanita, kekuasaan... Kenapa Bapak rela mengotori tangan Bapak dan tidur di rumah kayu reot hanya untuk bertingkah seperti orang bodoh di desa ini?"

Ethan menurunkan cangkir sengnya. Ia memutar tubuhnya, menatap profil samping wajah Azahra yang diterangi oleh remang lampu minyak teras.

"Karena di Jakarta, aku tidak memiliki hal yang paling berharga di dunia ini, Alya," jawab Ethan pelan. Suaranya mengandung kedalaman emosi yang begitu jujur.

Azahra meremas jarinya erat-erat. "Dan apa itu?"

"Kamu," bisik Ethan tanpa ragu sedikit pun.

Jantung Azahra melonjak hebat. Dadanya bergemuruh bagaikan dihantam gelombang pasang. Ia memutar kepalanya, menatap mata kelabu Ethan yang kini menatapnya penuh dengan kelembutan dan dorongan penyerahan diri yang utuh.

"Dulu aku adalah seorang monster, Azahra... Alya," lanjut Ethan, suaranya parau oleh penyesalan yang tak pernah padam. "Aku pikir dunia ini berputar di bawah kendaliku. Aku pikir uang, klausul kontrak, dan kekuasaan keluarga Austin bisa membeli segalanya—termasuk kebebasanmu dan hatimu. Aku memperlakukanmu seperti barang taruhan, dan kesombonganku itu hampir saja membunuhmu."

Air mata tipis mendadak menggenang di sudut mata Ethan, namun pria itu tidak mencoba menyembunyikannya.

"Tiga tahun terakhir ini adalah neraka bagiku," bisik Ethan, melangkah satu senti lebih dekat, meski ia tetap menjaga jarak agar tak membuat Azahra merasa terancam. "Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat darahmu di bajuku. Aku melihat bagaimana ego dan keangkuhanku menghancurkan hidup seorang gadis polos yang hanya ingin menyelamatkan keluarganya."

Ethan menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Azahra—sebuah gestur ketundukan mutlak dari seorang raja yang telah melepaskan mahkotanya.

"Aku tidak minta kamu untuk memaafkanku hari ini, atau besok, atau bahkan sepuluh tahun lagi," sambung Ethan dengan suara bergetar. "Aku juga tidak minta kamu untuk kembali menjadi tunanganku atau ikut kembali ke Jakarta. Aku hanya ingin berada di sini... di dekatmu. Memastikan kamu aman, melihatmu tersenyum, dan membuktikan padamu bahwa pria yang berdiri di hadapanmu sekarang adalah pria yang benar-benar mencintaimu tanpa syarat."

BOM!

Pengakuan murni itu menghantam pertahanan batin Azahra seperti godam raksasa.

Dada Azahra terasa sesak oleh keharuan, amarah, dan rasa tak percaya yang bercampur aduk. Hatinya—hati yang telah ia bentengi rapat-rapat dengan dinding es selama tiga tahun—tergerak sedikit. Ada retakan halus yang mulai tercipta di dalam dinding pertahanannya saat melihat mata kelabu pria itu memancarkan kejujuran yang begitu telanjang.

Ia mengingat Ethan yang dulu: pria dingin bersetelan tuxedo yang menatapnya dengan pandangan menilai yang kejam di Hotel Grand Velvet. Dan ia membandingkannya dengan Ethan yang sekarang: pria basah kuyup dengan tangan berdarah terbalut terpal, yang rela berlutut di dalam lumpur hanya demi dimaafkan.

Namun, ketakutan akan masa lalu kembali membisikkan peringatan di dalam benaknya.

Azahra mengepalkan tangannya di dalam saku gaunnya, memaksakan dirinya untuk memalingkan wajah dan menarik napas panjang demi menetralkan suaranya yang mulai bergetar.

"Kata-kata Bapak sangat indah, Pak Ethan," kata Azahra, suaranya diusahakan terdengar sedingin mungkin meski matanya berkaca-kaca. "Tapi Bapak lupa satu hal. Saya adalah Alya. Saya bukan Azahra yang Bapak cari. Azahra yang Bapak kenal sudah mati di gang gelap itu tiga tahun lalu."

Azahra membalikkan badannya, menyambar payungnya, dan melangkah turun dari teras sekolah menembus derasnya hujan malam, meninggalkan Ethan yang berdiri mematung di bawah naungan atap kayu.

Ethan menatap bayangan wanita itu yang menyatu dengan kegelapan hujan. Ia tidak mengejarnya. Ia hanya tersenyum tipis, meresapi rasa hangat dari cangkir teh jahe yang ditinggalkan Azahra di tangannya.

Ia tahu wanita itu sedang berbohong. Ia tahu wanita itu merasa terguncang. Dan yang paling penting... Ethan tahu bahwa retakan pertama di dinding hati Azahra telah resmi tercipta malam ini.

"Kau boleh menolakku seribu kali, Azahra," gumam Ethan pelan, meminum sisa teh jahe hangat itu sampai habis. "Tapi aku akan tetap ada di sini untuk penolakanmu yang seribu satu... sampai kau sadar bahwa cintaku tak akan pernah pergi lagi."

1
Nisasaidatus
kaaa kenapa g lanjutt
Jifa Flora Dewi: terima kasih sudah menyukai cerita ini saya akan segera mengupdate bab selanjutnya terima kasih atas dukungannya 🥰
total 1 replies
Nisasaidatus
kaa Azahra ga beneran mati kan🥺
Nisasaidatus
kaaa kenapa Azahra meninggal 🥲
Nisasaidatus
lanjuttt kaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!