Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.
Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.
Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HABISNYA CINTA SUAMIKU
Mesin mobil SUV hitam milik Gema sudah menyala halus di pelataran rumah sejak sepuluh menit lalu. Pak Mamat, sopir pribadi keluarga yang sudah puluhan tahun setia mengabdi, berdiri tegap di samping pintu penumpang, membungkuk hormat saat bertiga melangkah keluar dari teras.
Suasana pagi yang cerah dan sejuk sama sekali tidak mampu mencairkan udara dingin yang menyelimuti langkah Gema dan Alana. Satu-satunya sumber hangat di antara mereka hanyalah Tania, yang berjalan riang di tengah-tengah sambil menggenggam jemari Alana di tangan kiri dan jemari Gema di tangan kanan.
"Silakan, Pak Gema, Nona Alana, Non Tania," sapa Pak Mamat ramah sambil membukakan pintu tengah.
"Terima kasih ya, Pak Mamat," balas Alana dengan senyum tipis, lalu membimbing Tania untuk masuk lebih dulu dan duduk di kursi tengah.
Gema menyusul duduk di sisi kanan Tania, sementara Alana duduk di sisi kiri anak itu. Posisinya membuat Tania menjadi benteng pembatas utama antara suami dan istri tersebut. Begitu pintu mobil tertutup rapat dan kendaraan mulai membelah jalanan kota yang cukup padat oleh arus lalu lintas pagi, hanya ada suara celotehan Tania dan alunan musik instrumental pelan dari radio mobil yang memecah keheningan.
Gema terus mengusap kepala Tania penuh kasih, sesekali merespons cerita polos anaknya tentang teman-teman barunya di kelas satu SD. Suara bariton Gema terdengar begitu hangat dan kebapakan setiap kali berbicara pada Tania. Namun, setiap kali pandangan Gema tidak sengaja berpapasan dengan Alana melalui pantulan kaca spion tengah atau lirikan mata, tatapan pria itu langsung berubah menjadi begitu asing, dingin, dan tertutup.
Alana memilih melemparkan pandangannya ke luar jendela mobil. Jarinya saling bertaut erat di atas pangkuan, menahan perih lambungnya yang masih bergejolak pelan akibat belum terisi makanan berat. Dia tidak berani membuka suara atau sekadar memulai percakapan kecil dengan Gema. Pengalaman selama enam tahun mengajarinya satu hal penting: suara atau keberadaannya yang terlalu mencolok hanya akan memicu iritasi di wajah suaminya.
Dua puluh menit kemudian, SUV hitam itu menepi dengan mulus tepat di depan gerbang Sekolah Dasar Swasta tempat Tania menuntut ilmu. Suasana di depan gerbang sudah sangat ramai oleh deretan mobil wali murid, anak-anak berseragam putih-merah, serta para guru yang menyambut di depan gerbang utama.
"Sudah sampai, Sayang," bisik Alana lembut, merapikan letak pita merah di rambut Tania.
"Yey! Asyik!" Tania melompat kecil dari kursinya.
Sesuai dengan kesepakatan dingin di meja makan tadi, Alana hanya melangkah keluar mobil dan berdiri di samping pintu penumpang dekat gerbang luar.
Sesuai ucapan Gema, batas wilayah Alana hanya sampai di sini.
Sementara itu, Gema turun dari mobil, menggandeng tangan kecil Tania dengan begitu protektif. Pria itu berjalan melewati gerbang sekolah menuju koridor ruang kelas satu untuk mengantarkan Tania langsung ke depan pintunya. Dari tempatnya berdiri di samping mobil, Alana memperhatikan punggung tegap suaminya yang berjalan beriringan dengan anak kecil itu.
Beberapa wali murid lain yang mengenali Gema tampak menyapa dan tersenyum ramah. Gema membalas sapaan itu dengan anggukan sopan dan senyum tipis sebuah pemandangan yang terlihat begitu ideal di mata orang luar.
Keluarga terpandang, Ayah yang penyayang dan bertanggung jawab. Tidak ada satu orang pun di halaman sekolah itu yang tahu bahwa wanita yang berdiri sendirian di luar gerbang adalah istri sah dari pria tersebut, yang bahkan tidak diizinkan mendampinginya berjalan hingga ke depan pintu kelas.
"Tidak apa-apa, Alana. Yang penting Tania bahagia," bisik Alana dalam hati, memaksakan seulas senyum saat Tania menoleh dari kejauhan dan melambaikan tangan ke arahnya sebelum masuk ke dalam kelas. Alana melambaikan tangan balasan penuh hangat.
Beberapa menit kemudian, Gema berjalan kembali ke arah gerbang. Langkah kakinya lebar dan tegap, ekspresi wajahnya seketika kembali datar dan dingin begitu meninggalkan area murid. Pria itu tidak lagi mengumbar senyum sopan yang tadi ditunjukkannya pada wali murid lain.
Gema membukakan pintu mobil untuk Alana tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Alana masuk lebih dulu, disusul oleh Gema yang duduk di sebelahnya. Kali ini, tidak ada Tania di antara mereka. Jarak duduk yang hanya terpaut puluhan sentimeter itu mendadak terasa bagaikan jurang tak berdasar yang begitu mengerikan.
Pak Mamat melirik dari kaca spion depan, merasakan perubahan atmosfer yang sangat drastis di dalam kabin mobil. Keheningan yang tercipta sungguh menusuk dan menyesakkan.
"Pak Mamat, antar Alana ke toko kuenya dulu," suara berat Gema memecah keheningan kaku di dalam mobil. Pria itu berbicara tanpa menoleh sedikit pun ke arah Alana, pandangannya lurus menatap jalanan di depan. "Setelah itu baru kita ke kantor."
Pak Mamat mengangguk patuh. "Baik, Pak Gema."
Alana agak terkejut mendengar keputusan itu. Dia mengira Gema akan membiarkannya naik taksi atau menyuruh Pak Mamat mengantarnya menggunakan mobil lain. Namun, duduk berdua di kursi belakang SUV ini bersama Gema tanpa keberadaan Tania adalah hal yang sangat jarang terjadi dalam kehidupan pernikahan mereka.
"Mas... tidak usah merepotkan," ujar Alana pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin mobil. Dia menoleh sedikit menatap samping wajah tegas suaminya. "Toko kueku agak berlawanan arah dengan kantor Mas Gema. Nanti Mas bisa terlambat. Biar aku turun di depan dan naik taksi saja."
Gema tidak langsung menjawab. Dia menarik napas pendek, lalu mengeluarkannya secara perlahan melalui hidung sebuah gestur yang menunjukkan bahwa dia terganggu oleh sanggahan Alana.
"Jangan membantah, Alana," potong Gema dingin. Suaranya datar, tanpa nada tinggi, namun penuh dengan penekanan yang tak bisa dibantah. "Ini masih terlalu pagi untuk cari taksi di area sekolah. Saya tidak punya waktu untuk melihat kamu terlambat buka toko atau pingsan di jalan hanya karena belum makan."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Gema. Mengingat ucapan Tania di meja makan tadi bahwa Alana belum makan banyak dan maagnya kambuh, Alana mematung sejenak. "Apakah Gema sebenarnya memperhatikan kondisinya? Apakah ada sedikit saja rasa khawatir di hati pria itu?.'
Namun, harapan tipis yang sempat terbit di dada Alana langsung dihempaskan kembali oleh kalimat Gema selanjutnya.
"Saya cuma tidak mau Pak Mamat atau Bi Sastro repot kalau kamu sakit saat saya sedang dinas di luar kota nanti siang," lanjut Gema tajam, memalingkan wajahnya menatap keluar jendela di sisi kanan. "Tania butuh kamu untuk mengurusnya selama saya pergi. Jadi pastikan kondisi kamu baik-baik saja."
Hati Alana kembali mencelos. Rona hangat yang sempat singgah di pipinya mendadak sirna, berganti kepucatan yang nyata. Tentu saja. Bagaimana mungkin dia begitu bodoh untuk berharap lebih? Kepedulian Gema tidak pernah ditujukan murni untuk Alana sebagai seorang wanita atau istri. Segala perhatian dan keputusan pria itu selalu berporos pada satu hal: kenyamanan dan kebutuhan Tania.
Alana mengepalkan jemarinya di atas pangkuan, merasakan kuku-kukunya menekan telapak tangannya sendiri untuk mengalihkan rasa perih di dadanya.
"Baik, Mas. Terima kasih," bisik Alana akhirnya, menerima takdirnya dengan ketenangan yang sudah dia latih selama bertahun-tahun.
Keheningan kembali melingkupi kabin mobil. Mobil SUV itu melaju menembus jalanan kota yang kian ramai. Gema mengeluarkan ponsel pintarnya, mulai sibuk menggeser layar dan membaca dokumen kerja atau membalas pesan-pesan penting terkait keberangkatannya ke luar kota nanti siang. Dia begitu tenggelam dalam dunianya sendiri, seolah Alana yang duduk di sampingnya adalah benda mati yang tidak bernapas.
Alana memandangi pantulan wajah suaminya di kaca jendela. Rahang yang tegas, alis tebal yang selalu bertaut serius, dan jemari panjang yang terampil memegang ponsel. Pria ini adalah suaminya di atas kertas, pria yang berbagi atap rumah dengannya, namun terasa begitu jauh hingga tak tersentuh.
Alana tahu, nanti siang Gema akan terbang ke luar kota selama beberapa hari.
Pria itu akan sibuk dengan urusan bisnisnya dan Alana akan kembali menanti di rumah besar yang sepi bersama Tania. Tidak akan ada pesan singkat bertanya "Kamu sedang apa?" atau "Sudah makan?" dari Gema selama pria itu pergi
Hubungan mereka hanyalah formalitas dingin yang diikat oleh selembar surat nikah dan cinta mereka yang sama besarnya pada seorang anak perempuan berusia enam tahun.
Lima belas menit kemudian, mobil berhenti tepat di pelataran toko kue milik Alana sebuah bangunan bernuansa pastel yang hangat dengan papan nama kayu bertuliskan manis. Beberapa karyawan Alana sudah terlihat bersiap-siap di dalam untuk membuka toko.
"Sudah sampai, Mbak Alana," ujar Pak Mamat ramah dari kursi depan.
Alana mengangguk pelan, lalu meraih tas genggamnya. Dia menoleh sekilas ke arah Gema yang masih fokus pada layar ponselnya.
"Aku turun dulu, Mas. Hati-hati di jalan dan... semoga perjalanan dinasmu lancar nanti siang," ucap Alana tulus, mencoba memberikan perhatian kecil selayaknya seorang istri.
Gema tidak menghentikan ketukan jarinya di layar ponsel. Pria itu hanya memberi respons singkat tanpa menatap Alana sedikit pun. "Hm. Ya."
Alana menghela napas halus, memutar kenop pintu mobil, lalu melangkah turun. Begitu kakinya menyentuh paving blok pelataran toko dan pintu mobil tertutup, SUV hitam itu langsung melaju pergi meninggalkan area toko tanpa penundaan.
Alana berdiri mematung di pinggir jalan, memandangi bayangan mobil suaminya yang kian menjauh dan akhirnya menghilang di belokan jalan raya. Dia memegang dadanya yang terasa hampa, lalu menarik napas panjang untuk mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya sebelum memutar badan dan melangkah masuk ke dalam tokonya tempat di mana dia bisa merajut kembali serpihan hatinya yang selalu hancur setiap kali berhadapan dengan Gema.
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....