Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.
Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Keesokan harinya, sinar matahari pagi yang cerah menembus celah gorden kamar tamu, membangunkan Alesia dari tidurnya.
Ia meregangkan otot-otot tubuhnya, merasa tidurnya semalam adalah yang paling nyenyak selama satu bulan terakhir meskipun diawali dengan drama yang mengerikan.
Setelah selesai mandi dan membersihkan diri dengan fasilitas mewah di kamar tamu, Alesia berdiri di depan cermin dengan raut wajah yang mendadak cemas. Ia melirik jam dinding digital yang sudah menunjukkan pukul 07.15 pagi.
"Ini sudah jam tujuh lewat... sempat tidak ya kalau aku pulang dulu ke apartemen untuk ganti baju kerja?" gumam Alesia bingung pada diri sendiri.
Kondisinya saat ini benar-benar membingungkan. Ia masih mengenakan kaus kebesaran dan celana training milik Dante. Tidak mungkin rasanya ia berangkat ke kantor pusat Aetheris Games dengan pakaian santai seperti ini, dan jauh lebih tidak mungkin lagi jika ia nekat memakai gaun pesta satin milik Min-ji dari semalam di pagi hari yang cerah.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang teratur memecah lamunan Alesia. Gadis itu berjalan perlahan, lalu membuka pintu kamar tamu sedikit. Di hadapannya, Rey sudah berdiri rapi dengan setelan jas kerjanya yang elegan, memegang sebuah tas kertas belanjaan dari sebuah merek butik ternama dunia.
"Eh, Pak Rey... selamat pagi. Ada apa ya, Pak?" tanya Alesia sopan.
Rey tersenyum sangat ramah, menyodorkan tas kertas mewah tersebut ke arah Alesia.
"Selamat pagi, Nona Fiore. Ini ada titipan khusus untuk Anda."
Alesia menerima tas kertas yang terasa cukup berat itu dengan kening berkerut bingung. "Ini... ini apa ya, Pak Rey?"
"Itu baju ganti untuk Anda kenakan ke kantor hari ini," jawab Rey cekatan.
"Pak Dante yang menyuruh saya menyiapkannya baju untuk anda."
"Oh... begitu. Terima kasih banyak ya, Pak Rey. Saya sangat terbantu," ucap Alesia tulus, merasa sangat lega karena masalah pakaiannya akhirnya terpecahkan.
"Sama-sama, Nona. Saya tunggu di lantai bawah untuk sarapan, ya," pamit Rey sebelum berbalik menuruni tangga.
Alesia kembali masuk ke dalam kamar, mengunci pintu, lalu buru-buru mengeluarkan isi dari tas kertas mewah tersebut.
Begitu kainnya terbentang, Alesia tidak bisa menahan rasa kagumnya. Baju ganti itu berupa satu set pakaian formal kerja (one-set) berwarna putih gading yang sangat elegan. Atasannya berupa rompi jas berpotongan modern tanpa lengan (sleeveless blazer) yang dipadukan dengan celana panjang bahan potongan lurus dengan aksen lipatan yang sangat tegas dan mewah. Bahan kainnya terasa sangat halus dan mahal saat bersentuhan dengan kulit.

Alesia segera memakai pakaian tersebut. Begitu ia berdiri di depan cermin besar untuk merapikan penampilannya, ia terpaku.
Setelan putih itu melekat dengan sangat sempurna di tubuhnya, memberikan kesan sebagai seorang wanita karier kelas atas yang cerdas, profesional, namun tetap memancarkan aura anggun dan menawan yang alami.
"Bagus banget..." ucap Alesia lirih, memandangi pantulan dirinya sendiri di cermin dengan binar mata tidak percaya.
Setelah merapikan rambutnya yang rapi dan memastikan penampilannya sempurna, Alesia melangkah turun menuju lantai dasar.
Di area meja makan marmer yang luas, Dante dan Rey sudah duduk rapi. Dante yang pagi ini mengenakan kemeja biru tua premium tampak sedang membaca tabletnya, lengkap dengan kacamata berbingkai hitam tipis yang kemarin sempat membuat Alesia terpesona.
Begitu mendengar suara langkah kaki Alesia, kedua pria itu mendongak secara bersamaan. Rey tersenyum bangga melihat hasil pilihannya, sementara Dante... gerakan tangannya yang sedang memegang cangkir kopi mendadak terhenti selama beberapa detik.
Mata abu-abu di balik lensa kacamata itu menatap lekat-lekat penampilan Alesia yang tampak sangat bersinar dan elegan dengan setelan putih tersebut. Dante berdeham pelan untuk menyembunyikan keterpakuannya, lalu meletakkan cangkir kopinya.
"Sarapan dulu, Al." ucap Dante dengan nada suara yang kembali formal dan datar, menunjuk kursi kosong di hadapannya.
Alesia membungkuk hormat sekilas.
"Baik, Pak. Terima kasih banyak," jawabnya sopan, lalu mendudukkan diri dan mulai menyantap menu sarapan roti panggang dan salad buah yang sudah disediakan dengan tenang, berusaha keras melupakan drama gendongan dini hari tadi.
Perjalanan menuju kantor pagi itu diisi oleh suasana canggung yang sangat pekat di dalam kabin mobil sedan milik Dante.
Rey fokus menyetir di depan, sementara Dante dan Alesia duduk di kursi belakang, dipisahkan oleh jarak yang cukup lebar. Alesia hanya memilih menatap keluar jendela sepanjang jalan, sementara Dante sibuk memeriksa email di ponselnya, meskipun sesekali ia melirik ke arah pergelangan kaki Alesia untuk memastikan gadis itu tidak kesakitan lagi.
Hingga akhirnya, mobil mewah itu melewati gerbang keamanan dan turun memasuki area parkir basemen bawah tanah khusus jajaran eksekutif Aetheris Games. Begitu mobil berhenti sempurna di slot parkir yang dekat dengan pintu lift pribadi, Rey mematikan mesin.
Alesia bersiap membuka sabuk pengamannya, namun saat ia melirik ke luar jendela kaca mobil yang gelap, ia melihat area basemen masih cukup ramai oleh beberapa staf dari divisi lain yang baru saja tiba dan sedang berjalan beriringan menuju lift.
Melihat pemandangan itu, gerakan tangan Alesia langsung terhenti. Ia membatalkan niatnya untuk membuka pintu dan memilih untuk tetap duduk diam di kursinya.
Dante yang sudah bersiap untuk turun menyadari karyawannya itu tidak kunjung bergerak. Ia menoleh dengan kening berkerut bingung.
"Nona Fiore, kita sudah sampai. Kenapa kamu tidak turun?"
Alesia menunjuk ke luar jendela dengan dagunya, wajahnya tampak sangat cemas.
"Itu, Pak... di luar masih ramai karyawan lain yang baru datang."
Dante menaikkan sebelah alisnya dari balik kacamatanya.
"Memangnya kenapa kalau di luar ramai?" tanya Dante dengan nada suara yang terdengar sangat tidak peduli.
Alesia memutar tubuhnya menghadap Dante, menatap bosnya dengan pandangan tidak percaya atas kepolosan atau ketidakpedulian pria itu.
"Ya nanti bisa jadi rumor besar di kantor, Pak! Kalau ada yang melihat saya turun dari mobil pribadi Bapak sepagi ini, mereka pasti bakal berpikir yang aneh-aneh tentang saya!"
Dante bersandar pada kursi kulitnya yang empuk, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Alesia dengan pandangan intens yang sarat akan ledekan tersembunyi.
"Memangnya kamu tidak mau dirumorkan dengan saya, Fiore?"
Deg.
Pertanyaan frontal itu sukses membuat Alesia mati kutu selama tiga detik. Wajahnya kembali merona merah karena malu bercampur kesal.
"B-bukan begitu maksud saya, Pak!" seru Alesia setengah berbisik dengan panik.
"Terus?" cecar Dante lagi, tampak sangat menikmati ekspresi panik di wajah gadis di hadapannya.
"Ya pokoknya... jangan sampai ada yang lihat deh, Pak! Reputasi saya sebagai karyawan biasa bisa hancur kalau dicap cari muka tingkat tinggi seperti gosip di kantin kemarin. Tolong... kita tunggu sampai parkiran ini agak sepi saja ya, Pak," mohon Alesia dengan tatapan mata bulatnya yang melas, menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Melihat kepanikan Alesia yang begitu tulus karena takut merusak profesionalitas kerjanya, Dante akhirnya mengalah.
Ia kembali mengambil ponselnya dengan helaan napas pendek yang menyembunyikan senyuman gelinya. "Ya sudah."
Dante dan Rey akhirnya benar-benar setia menunggu di dalam mobil selama hampir sepuluh menit, membiarkan Alesia memantau situasi luar dari balik kaca gelap.
Hingga akhirnya, gelombang karyawan yang datang mulai habis dan area basemen sekitar lift eksekutif terlihat benar-benar sepi dan lengang.
"Nah, sudah sepi, Pak!" seru Alesia bersemangat, matanya berbinar lega.
Ia dengan cepat membuka sabuk pengamannya, lalu menoleh ke arah Dante dan Rey bergantian. Sebelum turun, ia membungkukkan kepalanya dengan tulus di dalam kabin mobil.
"Terima kasih banyak atas tumpangannya, pakaian barunya, dan obatnya semalam, Pak Dante, Pak Rey. Saya benar-benar berterima kasih. Saya permisi turun duluan!"
"Sama-sama, Nona Alesia. Hati-hati kakinya," sahut Rey ramah sambil melambaikan tangannya dari kursi depan. Dante hanya mengangguk sekali sebagai jawaban dengan ekspresi datar andalannya.
Begitu pintu mobil dibuka, Alesia langsung melompat turun. Dengan langkah kaki yang dipaksakan berlari kecil agar tidak pincang, ia bergerak secepat kilat memutari pilar basemen menuju ke arah lift basemen karyawan, meninggalkan mobil mewah Dante dengan hati yang dipenuhi rasa lega karena misinya menyelinap masuk kantor pagi ini berhasil tanpa ketahuan.
Namun, dari balik kaca mobil yang gelap, sepasang mata abu-abu Dante terus melekat pada punggung kecil Alesia yang berlari menjauh hingga sosok gadis itu menghilang di balik pintu lift.
Dante perlahan melepas kacamatanya, lalu menyunggingkan sebuah senyuman lebar yang sangat menawan di wajah tampannya sebuah senyuman yang menjadi tanda bahwa sang bos ruthless kini sudah benar-benar terjebak dalam pesona sang admin pemasaran yang ceroboh namun luar biasa menggemaskan itu.