Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lucas?
Aku menyambut tamu-tamu yang datang satu per satu, menyunggingkan senyum sekadarnya meski hatiku berat sekali. Mataku tak lepas dari pelaminan sesekali, memastikan Ibu baik-baik saja di sana. Di sekitarku kemewahan terlihat di mana-mana. Lantai marmer berkilauan, hiasan bunga impor yang harum semerbak, deretan hidangan yang tak pernah kulihat sebelumnya di mana pun. Tamu-tamu yang datang pun bukan orang sembarangan, berbusana rapi berkilauan permata, berbisik-bisik saling menyapa dengan penuh hormat. Namun semua itu terasa hampa bagiku. Indah dipandang, tapi tak hangat dirasakan.
Tiba-tiba langkahku terhenti. Di pintu masuk, sosok itu berdiri tegak. Lucas.
Aku mengerjap tak percaya. Apa yang dilakukannya di sini? Di acara pernikahan Ibu? Tanpa berpikir panjang aku melangkah cepat menghampirinya, tak peduli siapa yang melihat.
"Ngapain kau di sini?" tanyaku langsung, suaraku sedikit naik menahan heran.
Lucas menatapku lekat, matanya membelalak tak kalah terkejut. "Aku yang harusnya bertanya begitu. Kamu di sini ngapain?"
"Ini acara pernikahan ibuku, tentu saja aku ada di sini," jawabku tegas.
Matanya makin membelalak. "Ibumu? Yang duduk di pelaminan bersama Samudra itu ibumu?"
"Iya benar. Kenapa?"
"Dan Bibi Wijaya... dia kerabatmu?"
"Dia yang mengatur semuanya ini, iya."lanjutnya
Lucas mundur selangkah, menatapku seakan baru pertama kali melihatku seutuhnya. Napasnya berubah tak beraturan, wajah tenangnya seketika runtuh. "Jadi kau putri keluarga Wijaya..." gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Selama ini tak pernah kau ceritakan."
"memang kenapa?" tanyaku, makin bingung dengan reaksinya.
Ia menggeleng pelan, menelan ludah susah payah. "Tidak... hanya saja... aku tak menyangka. Ternyata kau ada hubungannya dengan keluarga ini."
"Memangnya kenapa dengan keluargaku?" tanyaku mulai curiga.
Lucas tak menjawab. Ia hanya menatap ke arah pelaminan, lalu kembali menatapku dalam-dalam, seakan menyembunyikan sesuatu yang besar sekali. "Tidak apa-apa. Hanya... tak menyangka kita akan bertemu lagi di sini, dalam situasi seperti ini."
Lucas membalikkan badan begitu saja tanpa pamit, meninggalkanku yang masih berdiri mematung kebingungan. Ia berjalan tenang menuju salah satu meja di sudut ruangan, duduk sendirian, lalu mengambil sepotong kue di depannya. Tangannya bergerak pelan menyuap kue ke mulut, namun matanya tak sekalipun berkedip. Tatapannya terpaku lurus ke arah pelaminan, tajam dan serius seakan sedang mengawasi sesuatu yang sangat penting. Tak ada senyum, tak ada tawa. Hanya diamnya yang terasa berat, seakan menyimpan kekhawatiran besar.
Aku memperhatikannya dari kejauhan sambil terus menyambut tamu yang datang, namun pikiranku tak bisa lepas dari sosoknya itu. Mengapa dia datang? Mengapa tatapannya begitu tajam menatap Samudra? Dan apa yang sebenarnya ia ketahui tentang keluargaku? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku tanpa jawaban, membuatku makin gelisah menunggu saat perjanjian itu diucapkan.
Aku tak tahan karena penasaran, jadi aku berniat menghampirinya lagi.
"Ada apa sih sebenarnya?" tanyaku pelan.
Dia menatapku sebentar, lalu berkata pelan, "Kau mau tahu?"
Aku mengangguk mantap.
"Kalau begitu besok datang saja ke rumahku."
"Kenapa tidak sekarang saja?" tanyaku tak terima.
"Sudah, nurut saja dulu."
Melihat wajahnya yang serius, aku tak bisa memaksanya lebih jauh. "Baiklah," jawabku akhirnya pasrah.
Aku sedikit tak menyangka, di tengah acara besar ini justru aku dan Lucas menjadi dekat. Kami duduk berdampingan dan bercerita seperti ini. Aku menceritakan pekerjaanku, kesibukanku sehari-hari di rumah, menanam bunga hingga memasak, kelakuan nenek yang kadang menyusahkan, hingga keinginanku agar Ibu bahagia. Lucas hanya menyimak tenang, tak memotong sedikit pun. Matanya menatapku lekat, seakan setiap kata yang kuucapkan tersimpan rapi di ingatannya. Sesekali ia mengangguk pelan, tak lupa memberikan reaksi meski tak banyak bicara. Rasanya aneh sekali, duduk berdua di tengah keramaian, namun seakan dunia milik kami berdua saja.
"aku pulang dulu," pamit Lucas tiba-tiba sambil berdiri.
"Buru-buru?" tanyaku tak menyangka.
"Nenekku di rumah sendirian," jawabnya singkat sambil merapikan pakaiannya.
"Salam ya buat nenekmu," ucapku pelan.
Lucas mengangguk pelan, menatapku sebentar sebelum berbalik melangkah pergi meninggalkanku. Aku menatap punggungnya yang menjauh hingga hilang di balik keramaian tamu, lalu kembali menatap pelaminan. Hari ini banyak hal yang terjadi, banyak hal yang belum terjawab, dan satu janji untuk besok.
Entah mengapa, pertemuanku dengan Lucas kali ini terasa begitu nyaman saja. Tak ada rasa takut, tak ada gelisah, justru seakan kami sudah saling kenal lama sekali. Aku pun tak menyangka yang dulunya kami kerap bertengkar dan saling sinis, kini bisa sedekat ini. Waktu terasa berjalan cepat saat bersamanya, dan setiap kata yang terasa berat pun seakan jadi ringan saat ku ceritakan padanya. Siapa sangka di balik sikap dinginnya ternyata ia pendengar yang baik. Semoga besok tak hanya sekadar cerita, semoga ada jalan keluar yang ia bawa.