Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak Konflik dan Kerugian Besar
Keheningan yang merayap di koridor lantai atas gedung perkantoran itu terasa lebih mencekik daripada ruang interogasi mana pun. Bunyi konstan berupa klik dari perangkat pemindai portabel milik Doni seolah menjadi detak lonceng kematian bagi sisa-sisa harapan Valerie. Di atas meja kaca, flashdisk perak tiruan itu berkilat dingin di bawah siraman lampu pendar, menertawakan kepolosan seorang mahasiswi yang datang hanya berbekal ketulusan membawa kotak makan siang.
Timoty mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih, napasnya memburu cepat. "Valerie... bagaimana bisa benda ini ada di dalam tas kuliahmu? Proyek ini melibatkan seluruh nama baik keluarga kami! Kamu tahu berapa kerugian yang harus kami tanggung kalau penandatanganan minggu depan batal?!" suara Timoty menggelegar, bergetar antara amarah dan rasa tidak percaya yang teramat sangat.
Valerie menggelengkan kepalanya dengan gerakan patah-patah. Air matanya menetes satu per satu, memandangi berkas dokumen yang kini rusak. Dia menatap Timoty, lalu beralih menatap Dean yang berdiri membeku di depannya. Pria itu tampak begitu agung, namun matanya yang elang menatap Valerie dengan kekosongan emosional yang begitu pekat. Tidak ada amarah yang meledak-ledak dari Dean; yang ada hanyalah tatapan dingin seorang hakim yang baru saja selesai membaca berkas perkara hukum yang mutlak.
"Bukan aku, Timoty... Kak Dean, demi Tuhan, lihat aku..." bisik Valerie, suaranya parau, nyaris habis karena tenggorokannya yang tercekat rasa sakit. Dia melangkah maju satu langkah, mencoba meraih lengan kemeja Dean seperti yang biasa dia lakukan saat ingin meredakan kekakuan pria itu. "Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara mengoperasikan sistem log kantor kalian. Aku anak jurusan biologi, Dean! Aku tidak mengerti tentang kode skrip enkripsi atau apa pun itu! Seseorang sengaja memasukkannya ke dalam tasku saat aku ke toilet!"
Dean tidak menghindar saat jemari Valerie menyentuh lengannya, namun tubuhnya tetap kaku seperti patung es. Dia perlahan menurunkan pandangannya, menatap jemari Valerie yang gemetar di atas kain kemejanya, lalu kembali menatap wajah gadis itu dengan dingin.
"Lalu bagaimana kamu menjelaskan keberadaan benda ini di dalam tasmu, Valerie?" tanya Dean. Suaranya begitu rendah, tenang, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti hantaman palu godam yang menghancurkan sisa-sisa harga diri Valerie. "Sistem mendeteksi aktivitas peretasan tepat di menit yang sama saat kamu berada di area meja depan ini. Dan sekarang, alat pemindai IT mendeteksi kode yang sama di dalam perangkat yang keluar dari tasmu sendiri. Apakah kamu ingin saya mengabaikan semua bukti fisik dan logis ini hanya demi mendengar pembelaan perasaanmu?"
"Jadi kamu lebih percaya pada benda mati itu daripada aku?!" jerit Valerie, dadanya naik turun memompa rasa sesak yang luar biasa. Dia melepaskan genggamannya dari lengan Dean dengan perasaan hancur yang teramat dalam. "Dua tahun kita bersama, Dean! Satu tahun aku mengejarmu seperti orang gila, menahan semua harga diriku di depan keluargamu dan staf kantormu! Satu tahun kita pacaran, aku selalu mengalah pada semua aturan kakumu! Apakah selama itu kamu tidak pernah mengenal siapa aku?! Apakah di matamu aku ini serendah itu sampai tega menghancurkan pekerjaanmu?!"
Dean memejamkan matanya sejenak, menarik napas pendek melalui hidung—sebuah gestur yang biasa dia lakukan ketika logikanya sedang dipaksa bekerja di tengah tekanan emosional yang menguras energi. Di dalam benak rasional Dean, semua titik saling terhubung dengan sangat presisi. Dua minggu lalu, Valerie mengalami ledakan cemburu yang hebat hingga nekat melabrak Dania di kantor ini. Valerie merasa diabaikan, merasa dinomorduakan oleh kesibukan kantornya, dan merasa terluka setelah melihat foto makan malam bisnisnya. Bagi logika kaku Dean, tindakan sabotase ini adalah bentuk pelampiasan emosional yang impulsif dari seorang gadis kampus yang belum matang—sebuah tindakan nekat untuk menarik perhatiannya kembali dengan cara yang ekstrem.
"Saya mengenal kamu sebagai gadis yang selalu bertindak berdasarkan emosi murni, Valerie," ucap Dean kaku, membuka matanya dan menatap Valerie tanpa riak ragu sedikit pun. "Kamu selalu bertindak impulsif tanpa memikirkan konsekuensi panjang. Ketika kamu melabrak kantor ini dua minggu lalu, saya masih mencoba memaafkanmu karena menganggapmu belum dewasa. Tapi hari ini... tindakanmu sudah melewati batas hukum dan merugikan stabilitas perusahaan. Kehadiranmu di sini hari ini membawa tas kuliah dan makanan ini... ternyata hanyalah sebuah pengalihan yang sangat rapi."
Mendengar vonis yang dijatuhkan Dean, Valerie tertegun. Seluruh tubuhnya mendadak mati rasa. Kata-kata Dean menjadi konfirmasi akhir bahwa pria ini tidak pernah benar-benar mencintainya. Dean tidak pernah melihat ketulusannya; pria itu hanya melihatnya sebagai sebuah variabel emosional yang mengganggu, sebuah masalah yang tidak teratur di dalam dunianya yang serbapresisi.
Di sudut koridor, Dania menundukkan kepalanya dalam-dalam, menutupi wajahnya dengan selembar tisu seolah dia sedang menangis ketakutan karena situasi yang menegangkan itu. Namun, di balik lipatan tisu tersebut, sudut bibir Dania terangkat membentuk senyuman kemenangan yang luar biasa puas. Skrip manipulasi buatan 'X' telah bekerja dengan sangat sempurna, mengunci Valerie dalam jebakan yang tak terbantahkan oleh logika seorang CEO perfeksionis seperti Dean.
Doni, anak magang IT yang berdiri di dekat mesin pemindai, menatap Valerie dengan pandangan penuh simpati sekaligus kebingungan yang mendalam. Dia tahu ada yang aneh dengan situasi ini, mengingat peringatan dari Tiara semalam tentang kejanggalan pertanyaan Dania di pantry. Namun, sebagai seorang anak magang, dia tidak memiliki bukti digital yang cukup kuat untuk mendobrak hasil pemindaian log sistem yang terpampang nyata di depan mata bos besarnya saat ini.
"Pak Dean..." panggil Doni dengan suara ragu dan bergetar, mencoba memberikan sedikit celah. "Apakah... apakah sebaiknya kita menunggu tim forensik IT pusat untuk memeriksa alamat MAC perangkat ini secara lebih mendalam sebelum mengambil keputusan akhir?"
"Tidak perlu, Doni," potong Dean kaku tanpa menoleh. Otoritasnya mutlak dan tidak boleh dibantah oleh siapa pun di ruangan itu. "Bukti di depan kita sudah cukup untuk mengambil tindakan internal pertama. Timoty, bawa Dania kembali ke mejanya dan bersihkan sisa log yang tersisa. Saya akan menyelesaikan urusan ini di dalam."
Dean kemudian beralih menatap Valerie, memberikan isyarat kaku dengan tangannya menuju pintu ruang kerja CEO. "Masuk ke dalam, Valerie. Kita selesaikan ini sekarang juga secara privat."
Valerie menatap pintu jati tebal ruangan kerja Dean yang terbuka lebar. Pintu ruangan yang dulu sering dia datangi dengan senyum ceria dan harapan besar untuk bisa bersanding dengan pria itu. Namun hari ini, pintu itu terasa seperti gerbang menuju altar penghakiman di mana dia telah diputuskan bersalah sebelum sempat membela diri. Valerie menghapus sisa air mata di pipinya dengan kasar menggunakan punggung tangannya. Dia menegakkan bahunya, menolak untuk terlihat semakin mengenaskan di depan Dania yang sedang berpura-pura gemetar di sudut ruangan.
Dengan langkah yang lambat namun pasti, Valerie berjalan memasuki ruang kerja CEO yang dingin dan kedap suara, diikuti oleh Dean yang melangkah di belakangnya dan menutup pintu rapat-rapat, mengunci seluruh dunia luar dari konflik akhir yang akan segera meruntuhkan hubungan dua tahun mereka untuk selamanya.