Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Dokumen dan Tuduhan Sabotase
Hari penandatanganan kontrak investasi asing senilai miliaran rupiah tinggal menghitung hari. Di dalam ruang kerja CEO, atmosfer terasa begitu menekan hingga membuat beberapa kepala divisi keluar dengan wajah tegang. Dean menuntut presisi mutlak. Baginya, proyek infrastruktur ini adalah puncak pencapaian logis yang tidak boleh cacat sedikit pun. Namun, di tengah fokusnya yang tinggi, kekosongan di hatinya karena tidak adanya interaksi dengan Valerie selama hampir dua minggu mulai memicu ganjalan yang tidak bisa dia abaikan lagi.
Dania, yang membaca situasi tersebut dengan sangat taktis, tahu bahwa ini adalah momen terbaik untuk mengeksekusi rencana utamanya. Dia tidak boleh membiarkan Dean berinisiatif menghubungi Valerie terlebih dahulu untuk berbaikan.
Sore itu, saat jam istirahat kantor dimulai, Dania menggunakan nomor telepon kantor yang tidak diblokir oleh Valerie untuk melakukan panggilan. Saat tombol hijau digeser di seberang sana, Dania langsung memasang nada suara yang sangat panik dan memohon.
"Kak Valerie... ini Dania. Tolong saya, Kak..." bisik Dania, suaranya bergetar hebat seolah dia sedang menahan tangis ketakutan.
Valerie yang sedang duduk di kafetaria kampus bersama Tiara mengernyitkan keningnya, insting defensifnya langsung bangkit. "Dania? Mau apa lagi kamu meneleponku?"
"Kak... Pak Dean sedang sangat marah besar di kantor karena ada draf dokumen penawaran yang salah cetak. Beliau... beliau terus membentak saya sejak pagi. Saya tahu saya lancang, tapi saya mohon... apakah Kak Valerie bisa datang ke kantor sekarang untuk membawakan makan siang kesukaan Pak Dean? Saya yakin hanya kehadiran Kak Valerie yang bisa meredakan amarah beliau. Saya tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi, Kak. Saya sangat takut dipecat..." Dania memohon dengan sangat ringkih.
Valerie tertegun. Sifatnya yang ekspresif dan dasarnya yang tulus membuat rasa cemas kepada Dean mendadak mengalahkan rasa egonya. Dia melirik Tiara yang sedang sibuk membalas pesan dari Doni, anak magang IT. Valerie berpikir, jika dia datang sekarang membawa makanan, mungkin ini bisa menjadi jalan bagi dirinya dan Dean untuk menyelesaikan kesalahpahaman mereka tanpa keterlibatan emosi yang meledak-ledak.
"Baiklah. Aku ke sana sekarang," putus Valerie akhirnya, tanpa memberi tahu Tiara detail telepon dari Dania karena tidak ingin memicu perdebatan baru dengan sahabatnya.
Tiga puluh menit kemudian, Valerie melangkah keluar dari lift lantai atas gedung perkantoran Dean. Koridor tampak sangat sepi karena sebagian besar staf sedang turun untuk makan siang. Ketika Valerie mendekati meja sekretaris junior, dia melihat Dania sedang berdiri di dekat komputer utama meja depan dengan wajah yang pucat.
"Kak Valerie... Terima kasih banyak sudah mau datang," ucap Dania lembut, matanya tampak berkaca-kaca seolah dia sangat lega melihat kedatangan Valerie.
"Di mana Kak Dean?" tanya Valerie, meletakkan tas kertas berisi makanan di atas meja.
"Pak Dean sedang turun sebentar ke lantai dasar untuk mengantar perwakilan investor ke mobil mereka, Kak. Beliau minta saya menunggu di sini. Bagaimana kalau Kakak masuk saja dulu ke ruang kerjanya untuk menaruh makanan ini? Pintu ruangannya tidak dikunci," ujar Dania penuh perhatian.
Valerie mengangguk. "Tas kuliahku aku titip di kursi mejamu dulu ya, Ra... maksudku, Dania. Aku mau ke toilet sebentar sebelum masuk ke ruangan Kak Dean."
"Tentu saja, Kak Valerie. Biar saya yang jaga tasnya," jawab Dania dengan senyum manisnya yang paling patuh.
Begitu Valerie membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju toilet di ujung koridor, senyum ramah di wajah Dania lenyap seketika, digantikan oleh binar mata yang mengerikan. Dia bergerak dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa. Dania merogoh kantong roknya, mengeluarkan sebuah flashdisk tiruan berwarna perak yang sudah disiapkan oleh peretas bayaran 'X'.
Dengan tangan yang tidak bergetar sedikit pun, Dania membuka ritsleting tas kuliah Valerie yang ditinggalkan di atas kursi, lalu menyelipkan flashdisk tersebut jauh ke dalam saku kain bagian dalam tas, bercampur di antara tumpukan diktat kuliah.
Setelah itu, Dania kembali ke komputer mejanya. Dia membuka ruang obrolan rahasia dengan 'X' di ponsel keduanya dan mengetik satu kata: "Eksekusi."
Di server bayangan yang terhubung dengan jaringan Wi-Fi lokal kantor, skrip manipulasi yang ditanam oleh 'X' langsung berjalan secara otomatis. Sistem keamanan utama kantor mendeteksi adanya aktivitas transfer data ilegal berskala besar dari folder rahasia proyek infrastruktur menuju sebuah alamat IP eksternal yang disamarkan seolah-olah terhubung melalui perangkat personal yang berada di area lobi lantai atas. Detik itu juga, seluruh file draf final proyek senilai miliaran rupiah itu terhapus total dari server internal dan terenkripsi oleh sistem palsu.
Alarm peringatan keamanan digital di komputer meja depan berbunyi dengan nada klik yang konstan. Dania segera menutup ritsleting tas Valerie kembali dan duduk di kursinya dengan ekspresi panik yang dibuat-buat tepat saat Valerie keluar dari toilet.
"Ada apa, Dania? Suara apa itu?" tanya Valerie bingung, berjalan mendekat.
Sebelum Dania sempat menjawab, pintu lift berdenting terbuka. Dean melangkah keluar bersama Timoty dengan wajah yang sangat tegang karena ponsel kerja mereka baru saja menerima notifikasi darurat dari divisi keamanan IT pusat.
"Dania! Apa yang terjadi dengan sistem komputer depan?! Divisi IT bilang ada aktivitas peretasan dan penghapusan data proyek final sekarang juga!" bentak Timoty yang langsung berlari menuju meja adiknya dengan wajah panik luar biasa.
Dean berjalan di belakang Timoty dengan langkah besar, matanya yang tajam bak elang seketika membeku saat melihat sosok Valerie berdiri di samping meja Dania. "Valerie? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Dean, suaranya sedingin es di kutub utara.
"Aku... aku ke sini mau mengantarkan makan siang untukmu, Kak..." jawab Valerie, suaranya bergetar hebat karena terkejut dengan atmosfer ruangan yang mendadak berubah menjadi sangat mencekam.
"Pak Dean! Kak Timoty! Folder proyek infrastruktur final... filenya hilang seluruhnya! Sistem mendeteksi data terhapus melalui enkripsi Wi-Fi dari perangkat luar yang terhubung di lantai ini!" jerit Dania histeris, air matanya mulai luruh membasahi pipinya saat dia menunjuk ke arah layar monitor yang berkedip merah.
Dean langsung menggeser tubuh Dania dengan kaku, memeriksa log aktivitas sistem yang tertera di layar komputer dengan mata kepalanya sendiri. Sebagai seorang pria yang memuja logika dan angka, deretan kode yang muncul di layar adalah bukti mutlak yang tidak bisa dibantah: sistem mendeteksi aktivitas sabotase tepat pada menit yang sama saat Valerie berada di area meja tersebut.
"Siapa saja yang menyentuh atau berada di sekitar meja ini sejak jam istirahat dimulai, Dania?!" tanya Timoty dengan suara menggelegar, keringat dingin membasahi dahinya karena proyek keluarganya juga dipertaruhkan di sini.
Dania menundukkan kepalanya dalam-dalam, tubuhnya gemetar hebat seolah dia sangat takut untuk berbicara. Dia melirik Valerie dengan pandangan penuh ketakutan, sebuah akting luar biasa yang mengarahkan seluruh kecurigaan ke satu titik. "T-tadi... tidak ada siapa-siapa selain saya dan... dan Kak Valerie yang baru datang membawa tas kuliahnya..."
"Dania! Apa maksudmu?! Aku tidak menyentuh komputermu sama sekali!" seru Valerie, wajahnya pucat pasi, jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sesak. Dia menatap Dean dengan tatapan memohon. "Kak Dean! Demi Tuhan, aku baru datang lima menit lalu dan langsung ke toilet! Aku tidak tahu apa-apa tentang dokumen atau komputer ini!"
Dean tidak menjawab. Dia berdiri tegak, membalikkan tubuhnya menghadap Valerie dengan tatapan mata yang begitu dingin, begitu kaku, dan sarat akan penilaian rasional yang mematikan. Logika Dean sedang bekerja dengan kejam: Valerie adalah gadis yang ekspresif, impulsif, dan baru saja mengalami ledakan cemburu hebat dua minggu lalu hingga nekat melabrak kantornya. Logikanya menyimpulkan bahwa Valerie sangat mungkin melakukan tindakan nekat merusak data pekerjaannya sebagai bentuk balas dendam emosional karena merasa diabaikan.
"Timoty, panggil kepala keamanan kantor ke sini sekarang. Geledah seluruh area dan perangkat yang ada di ruangan ini," perintah Dean, suaranya sangat rendah namun bergetar menahan amarah yang luar biasa pekat.
"Dean! Kamu tidak bisa menuduhku begitu saja! Aku ini pacarmu!" tangis Valerie pecah, air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Rasa sakit hati karena dituduh sebagai penjahat oleh pria yang dicintainya membuat seluruh dunianya runtuh seketika.
Dua petugas keamanan kantor masuk bersama Doni, anak magang IT yang wajahnya tampak sangat pucat karena terkejut melihat situasi tersebut. Doni melirik tas kuliah Valerie yang tergeletak di kursi dengan perasaan waswas.
"Periksa tas itu," ucap Dean kaku, menunjuk ke arah tas kuliah Valerie.
"Jangan sentuh tas my—" Kalimat Valerie terputus saat petugas keamanan dengan sopan namun tegas mengambil tasnya, membuka ritsletingnya, dan menumpahkan seluruh isinya di atas meja kaca koridor.
Buku diktat, kotak pensil, dan beberapa lembar kertas laboratorium berhamburan. Dan di tengah-tengah tumpukan itu, sebuah flashdisk berwarna perak dengan logo enkripsi tiruan menggelinding jatuh tepat di depan ujung sepatu Dean.
Doni mengambil flashdisk tersebut dengan tangan bergetar, lalu memasukkannya ke dalam perangkat pemindai portabel yang dia bawa. Sesaat kemudian, layar perangkat Doni menampilkan hasil analisis sistem. Doni menatap Valerie dengan pandangan tidak percaya sekaligus cemas. "P-Pak Dean... di dalam flashdisk ini terdapat draf kode skrip enkripsi yang sama persis dengan yang baru saja menghapus berkas proyek di server kita..."
Mendengar konfirmasi dari anak magang IT tersebut, wajah Valerie mendadak mati rasa. Dia menatap benda perak di atas meja itu dengan tatapan kosong. Sabotase ini dirancang dengan begitu sempurna, tanpa cela, mengunci dirinya sebagai pelaku tunggal yang tidak memiliki alibi logis sedikit pun untuk membela diri. Siasat pengawasan Tiara dan Doni telah kalah telak oleh kecepatan eksekusi ular berbisa bernama Dania. Pintu kehancuran hubungan mereka kini telah terbuka lebar, dan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa kembali ke masa lalu.