Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Susu Stroberi dan Monopoli Sang Kapten
Amira meletakkan kotak susu stroberi itu di atas mejanya seperti sedang meletakkan bom waktu yang siap meledak.
Gadis itu menopang dagu, menatap kotak merah muda itu dengan tatapan kosong.
Rara dan Maya yang duduk di dekatnya memilih bungkam, tahu betul betapa rumitnya badai yang sedang mengobrak-abrik pikiran sahabat mereka.
Teng!
Bel masuk jam pelajaran ketiga berbunyi nyaring.
Namun, bukannya guru Sosiologi yang melangkah masuk melintasi ambang pintu kelas XI IPS 2, melainkan sosok tinggi tegap dengan aura yang membuat suhu ruangan anjlok seketika.
Seisi kelas mendadak senyap.
Alfian Pratama berdiri di ambang pintu, menatap lurus menembus deretan meja hingga pandangannya terkunci pada satu gadis di barisan tengah.
Tanpa mempedulikan puluhan pasang mata yang menatapnya ngeri, Alfian melangkah masuk.
Langkah kakinya mantap, panjang, dan memancarkan intimidasi mutlak.
Amira menelan ludah susah payah.
Jantungnya langsung berdisko ria saat melihat cowok itu berjalan lurus ke arah mejanya.
"K-kamu ngapain ke sini? Ini jam pelajaran loh," bisik Amira panik saat Alfian berhenti tepat di samping mejanya.
Alfian tidak menjawab.
Mata elang cowok itu menunduk, menatap tajam ke arah kotak susu stroberi di atas meja Amira.
Rahang Alfian mengeras seketika.
Urat-urat halus di lehernya terlihat menonjol, menahan luapan emosi yang nyaris tumpah.
Tanpa banyak bicara, tangan besar Alfian terulur mengambil kotak susu stroberi itu.
Sret.
"Eh! Mau dibawa ke mana?!" pekik Amira tertahan, refleks berdiri dari kursinya.
Alfian menatap Amira dengan kilatan mata yang begitu gelap dan posesif.
"Buang," jawab Alfian dengan suara bariton yang teramat rendah, nyaris seperti geraman.
"Jangan dibuang! Itu kan pemberian orang, mubazir tahu!" omel Amira berusaha merebut kembali kotak susu itu.
Namun Alfian mengangkat tangannya tinggi-tinggi, membuat Amira yang jauh lebih pendek tak bisa menggapainya.
"Kalau lo haus, gue bisa beliin lo pabriknya sekalian. Tapi lo nggak boleh minum apa pun dari dia," desis Alfian mutlak.
Seisi kelas menahan napas mendengar deklarasi gila dari sang kapten.
Amira menghentakkan kakinya kesal, rambut sebahunya ikut terayun mengikuti gerakannya.
"Kamu ini kenapa sih?! Cuma susu stroberi doang, Alfian! Nggak usah lebay deh!" rutuk Amira, menatap tajam mata cowok itu.
Namun, saat mata mereka bertemu, amarah Amira mendadak surut.
Di balik tatapan tajam dan keras kepala Alfian, Amira bisa melihat kilatan ketakutan yang berusaha cowok itu sembunyikan mati-matian.
Ketakutan bahwa kenangan belasan tahun lalu bisa merebut gadis ini dari sisinya.
Alfian membuang napas kasar.
Ia menurunkan tangannya, meletakkan kembali kotak susu itu ke atas meja dengan gerakan sedikit kasar.
"Gue emang lebay," bisik Alfian parau, menundukkan kepalanya hingga wajah mereka sejajar.
"Karena cowok yang ngasih ini ke lo... punya semua memori manis yang gue nggak punya."
Deg.
Kata-kata itu menghantam ulu hati Amira telak.
Seluruh teman sekelasnya seolah menguap menjadi udara, menyisakan mereka berdua di poros dunia yang berhenti berputar.
Alfian mengangkat tangannya perlahan.
Jari-jari panjang yang sedikit kasar karena sering memegang bola basket itu menyelipkan helaian rambut Amira ke belakang telinga.
Sentuhannya begitu lembut, sangat kontras dengan aura mengintimidasinya tadi.
"Gue nggak bisa jadi Sky yang manis," lanjut Alfian, matanya menatap bibir Amira sekilas sebelum kembali mengunci tatapan mata gadis itu.
"Tapi gue bisa pastiin... nggak ada cowok lain yang boleh bikin lo pusing selain gue."
Napas Amira tercekat sempurna.
Wajahnya memanas, dan ia yakin pipinya sudah berubah warna menjadi semerah seragam olahraga.
"Paham......Amira?" tuntut Alfian pelan, jempolnya mengusap lembut rahang gadis itu.
Amira hanya bisa mengangguk kaku, nyaris lupa caranya bernapas.
Melihat anggukan itu, sudut bibir Alfian terangkat membentuk senyuman tipis yang luar biasa menawan.
Sebuah senyum kemenangan yang membuat beberapa siswi di kelas itu menahan jeritan baper.
"Bagus," ucap Alfian.
Alfian menegakkan tubuhnya kembali, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Cowok itu berbalik dan berjalan keluar kelas dengan santai, seolah ia tidak baru saja menjatuhkan bom atom di kelas XI IPS 2.
Namun sebelum benar-benar melewati pintu, Alfian menoleh ke arah Amira.
"Pulang sekolah, tunggu di parkiran. Kita jalan."
Setelah mengucapkan titah mutlak itu, punggung tegap Alfian benar-benar menghilang di balik pintu.
Bruk!
Amira langsung merosot ke kursinya dengan tubuh lemas bak jeli.
Ia menelungkupkan wajahnya di atas meja, menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.
"Gila... gila banget," bisik Rara histeris sambil memegangi dadanya sendiri.
"Mir, gue kalau jadi lo udah pingsan kali ditatap kayak gitu sama Kak Alfian," tambah Maya tak kalah heboh.
Amira tidak membalas.
Tangannya perlahan naik menyentuh telinganya sendiri, merasakan sisa kehangatan dari sentuhan jari Alfian tadi.
...***...
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.
Amira berjalan menuju area parkir dengan jantung yang kembali berdetak tidak normal.
Di bawah pohon rindang dekat parkiran motor, Alfian sudah bersandar santai di atas motor sport hitam metaliknya.
Cowok itu sudah mengganti kemeja seragamnya dengan kaus hitam polos yang pas membalut tubuh atletisnya.
Melihat Amira datang, Alfian langsung menyodorkan helm bogo miliknya.
"Tumben nggak nyuruh Pak Tarjo jemput?" tanya Amira memecah keheningan sambil menerima helm itu.
"Kalau naik mobil, ada Pak Tarjo. Gue nggak bisa berduaan sama lo," jawab Alfian kelewat jujur dan datar.
Uhuk!
Amira nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar jawaban blak-blakan itu.
"M-mulutnya ya! Belajar gombal dari mana sih?!" omel Amira salah tingkah, buru-buru memakai helmnya.
Alfian terkekeh pelan.
Tawa yang selalu berhasil membuat pertahanan Amira runtuh.
"Naik," titah Alfian, menyalakan mesin motornya.
Begitu Amira duduk di boncengan, Alfian langsung menarik tangannya ke belakang.
Cowok itu meraih kedua tangan Amira dan melingkarkannya ke pinggangnya dengan paksa.
"Eh! Nggak usah tarik-tarik!" protes Amira dengan wajah merona.
"Gue mau ngebut. Jangan sampai lo terbang," kilah Alfian tanpa rasa bersalah.
Dan benar saja, sepanjang perjalanan, Alfian memacu motornya sedikit lebih kencang dari biasanya.
Memaksa Amira menyandarkan kepalanya di punggung tegap cowok itu sambil memeluknya erat.
Tiga puluh menit kemudian, motor Alfian berhenti di sebuah area dataran tinggi kota yang menawarkan pemandangan city light.
Tempat itu lumayan sepi, hanya ada beberapa pedagang kaki lima dan lampu taman yang temaram.
Amira turun dari motor, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin.
"Kita ngapain ke sini?" tanya Amira, menatap hamparan lampu kota di bawah sana yang mulai menyala karena senja telah turun.
Alfian berjalan mendekati pagar pembatas tebing, menumpukan kedua lengannya di atas pagar besi.
"Cari angin," jawab Alfian singkat.
Amira mendengus, ikut berdiri di sebelah cowok itu.
Angin sore yang sejuk menerpa wajah mereka, membawa keheningan yang nyaman.
"Lo... beneran udah nggak nungguin dia?" tanya Alfian tiba-tiba memecah keheningan.
Amira menoleh.
Ia bisa melihat rahang Alfian yang mengeras, tanda bahwa cowok itu masih dihantui rasa insecure yang besar.
Amira menghela napas panjang.
Ia memutar tubuhnya hingga menghadap Alfian, menyandarkan punggungnya ke pagar besi.
"Aku bohong kalau bilang aku nggak kangen sama Sky," jawab Amira jujur.
Mendengar itu, Alfian memalingkan wajahnya, raut kecewa tergambar jelas di matanya.
"Tapi," potong Amira cepat sebelum cowok itu mengambil kesimpulan sendiri.
"Rasa kangen itu cuma buat sahabat masa kecil. Nggak lebih."
Amira melangkah maju satu tindak, memberanikan diri menatap mata elang yang selalu mengintimidasinya itu.
"Waktu Fino nyentuh kepalaku di kantin... rasanya beda, Al," bisik Amira, tak sadar memanggil nama cowok itu dengan sebutan yang lebih singkat.
Alfian menunduk, menatap Amira dengan napas tertahan.
"Beda gimana?" desak Alfian parau.
"Beda," Amira tersenyum tipis.
"Karena jantungku cuma mau berdebar sekencang ini waktu sama kamu."
Amira mengangkat tangannya, lalu dengan sangat berani, ia meraih tangan besar Alfian dan meletakkannya tepat di atas dadanya sendiri.
Deg... Deg... Deg...
Detak jantung Amira yang berpacu gila-gilaan langsung terasa di telapak tangan Alfian.
Mata hitam legam cowok itu membelalak kaget.
Sengatan listrik seolah menjalar dari telapak tangannya langsung ke ulu hatinya, menghancurkan sisa-sisa tembok keraguan yang ia bangun.
"Lihat?" ucap Amira dengan wajah bersemu merah, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Alfian.
"Masa lalu mungkin punya Fino. Tapi hari ini, dan besok... punya kamu, Kapten."
Runtuh.
Detik itu juga, seluruh logika Alfian Pratama hancur tak bersisa.
Cowok itu menarik tangannya dari dada Amira, namun sedetik kemudian, tangannya beralih menangkup kedua pipi gadis itu.
Alfian menundukkan kepalanya, mengikis habis jarak di antara mereka.
Dahinya bersandar pada dahi Amira, persis seperti kejadian di lorong backstage waktu itu.
Namun kali ini, tidak ada keraguan, tidak ada paksaan.
"Lo bener-bener tahu cara bikin gue gila, Amira," bisik Alfian di depan bibir gadis itu, suaranya sarat akan rasa lega yang luar biasa.
Di bawah langit senja dan kerlap-kerlip lampu kota, sang kapten yang selalu sedingin es itu akhirnya menemukan tempatnya untuk pulang.