Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.
Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
— BUKAN SALAH NADIRA
“Tidak!” sentak Rani tiba-tiba.
Suara Rani membuat semua orang di meja makan terdiam.
Arga menatap adiknya.
“Apa?”
Rani berdiri dari kursinya.
“Kakak tidak boleh pindah!” ujar Rani menentang keputusan sang kakak.
Arga menghela napas sambil menatap Rani.
“Rani, keputusan ini sudah dibuat.”
“Kenapa harus pindah,kak?”
“Karena aku dan Nadira ingin punya rumah sendiri.” jawab Arga dengan jelas.
Rani langsung menunjuk Nadira.
“Karena dia!” ujar Rani sambil menoleh kesal pada Nadira.
Sedangkan Nadira memilih diam dan menunduk.
“Sejak dia datang, Kakak berubah!” protes Rani.
Arga langsung berdiri.
“Jangan tunjuk istriku,Rani.” tegur Arga yang langsung tidak terima dengan sikap Rani yang tidak sopan.
Rani menurunkan tangannya, tetapi wajahnya masih penuh emosi sambil sesekali melirik kearah Nadira.
“Kalau bukan karena dia, Kakak tidak akan meninggalkan rumah ini!”
“Aku tidak meninggalkan siapa pun.” jawab Arga .
Arga menatap adiknya dengan tegas.
“Aku hanya pindah rumah bersama istriku.” jelas Arga lagi.
“Tapi Kakak akan jarang pulang!” keluh Rani kali ini.
“Aku tetap anak Ibu,tetap kakak mu dan tetap bagian dari keluarga ini.”
“Tidak akan sama!”
Rani mulai menangis.
"Hiks..Hua.." isak Rani yang seakan tidak terima dengan keputusan kakaknya.
“Dulu setiap hari Kakak ada di rumah.Sekarang semuanya berubah karena Nadira.”
Nadira mencoba berbicara.
“Rani, aku tidak pernah meminta Arga menjauh dari kalian.” sahut Nadira mencoba membela diri.
“Tapi kau sudah melakukannya.!” bentak Rani.
Rani membentak dengan nada yang cukup keras.
“Kau selalu membuat Kak Arga membelamu!” ujar Rani yang masih terus menyalahkan Nadira.
Arga langsung memotong.
“Karena memang sudah seharusnya aku membela istriku.” sahut Arga.
Rani pun sesaat terdiam.
Arga berjalan mendekatinya.
“Rani, dengarkan baik-baik.”
“Kamu boleh kecewa karena kakak pindah.”
“Tapi jangan pernah menyalahkan Nadira.”
Rani menangis. "Hiks.."lirih Rani.
“Kenapa selalu dia?”
“Karena kamu terus menjadikannya alasan.” jawab Arga.
Arga menggeleng.
“Padahal masalahnya bukan Nadira.”
“Masalahnya adalah aku sudah menikah.”
Rani menatap kakaknya.
“Aku cuma tidak mau kehilangan kakak.Hiks.”
Arga sedikit melunak.
“Kamu tidak kehilangan kakak,Rani.”
“Tapi rumah ini akan sepi,kak.”
“Aku akan tetap datang untuk mengunjungi kamu dan ibu.”
“Tidak,aku tidak yakin kakak akan sering pulang mengunjungi kami.”
“Kakak janji,Rani.”
Arga menarik napas.
“Karena kehidupan setiap orang berubah.”
Rani menunduk.
Bu Ratih yang sejak tadi diam akhirnya berkata,
“Arga, mungkin keputusanmu terlalu cepat.”
Arga menatap ibunya.
“Tidak, Bu.”
“Aku sudah memikirkannya.”
Ia menggenggam tangan Nadira.
“Dan aku tidak akan membatalkannya.”
Nadira menatap Arga.
“Arga…”
Arga tersenyum kepadanya.
“Ini keputusan kita.”
Rani kembali menangis.
“Berarti sekarang Kakak lebih memilih Nadira daripada kami.”
Arga menggeleng.
“Bukan memilih.”
Ia menatap adiknya.
“Menempatkan sesuatu sesuai tempatnya.”
Rani tidak menjawab.
Arga kemudian berkata dengan lebih lembut,
“Kamu tetap adikku.”
“Ibu tetap ibuku.”
“Tapi Nadira adalah istriku.”
“Dan aku punya tanggung jawab untuk membangun hidup bersamanya.”
Nadira menggenggam tangan Arga.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa bersalah atas keputusan itu.
Sementara Rani hanya bisa berdiri dalam diam.
Ia masih belum menerima kenyataan bahwa kakaknya benar-benar akan pergi.
Namun Arga sudah mengambil keputusan.
Rumah baru akan menjadi awal kehidupan mereka.
Dan kali ini, tidak seorang pun akan bisa memaksanya untuk berubah pikiran.