Kaisar Iyan: Kebangkitan Raja Iblis Abadi
Kaisar Iyan hanyalah seorang pemuda pemalas yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan menghindari masalah.
Namun suatu hari, ia terbangun di dunia yang sama sekali berbeda.
Tanpa mengetahui bagaimana dirinya bisa sampai di sana, Iyan menemukan bahwa tubuhnya memiliki kemampuan yang tidak pernah dimiliki manusia biasa.
Ia dapat menciptakan clone dirinya sendiri.
Ia dapat memanggil pahlawan dan monster dari dunia lain.
Ia bahkan mampu membangkitkan mayat dan tulang menjadi pasukan undead yang tidak mengenal kematian.
Namun kemampuan paling mengerikan yang dimilikinya adalah sebuah kekuatan yang memungkinkan pasukannya bangkit kembali setiap kali terbunuh—selama mana miliknya masih tersisa.
Awalnya, Iyan hanya ingin hidup tenang.
Sayangnya, dunia baru ini tidak memberinya kesempatan.
Perang, kerajaan, bangsawan, monster, pahlawan, dan pengkhianatan perlahan menyeretnya ke dalam konflik yang jauh lebih besar.
Sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG KEMBAR ELF
Beberapa menit setelah aku melihat Josep berlari meninggalkan kediamanku, pintu ruanganku kembali terbuka.
Sebas dan Lou Yi baru saja tiba.
Aku kemudian memanggil mereka berdua untuk menemuiku di balkon.
Ketika mereka menghampiriku, aku memperlihatkan pemandangan benteng utama dari atas balkon.
Aku mulai berbicara kepada mereka.
“Aku ingin membangun kerajaanku sendiri di wilayah timur ini.”
Sebas dan Lou Yi hanya diam dan mendengarkan.
“Aku juga berencana memanggil lebih banyak Pahlawan dan pasukan yang akan setia kepadaku untuk selamanya.”
Aku terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
“Aku membutuhkan bantuan kalian semua untuk mewujudkan mimpiku.”
Aku menatap wilayah luas yang terbentang di hadapan kami.
“Mimpiku adalah menguasai seluruh wilayah ini dan menyatukan seluruh benua.”
Mendengar perkataanku, mata Sebas dan Lou Yi langsung membesar.
Keduanya terlihat sangat terkejut.
Namun, dari ekspresi mereka, aku merasa mereka salah memahami maksud perkataanku.
Mereka berdua sepertinya mengira bahwa aku ingin menguasai seluruh dunia dengan cara menaklukkan dan menyatukan semua benua yang ada.
Aku kemudian menoleh kepada mereka.
Namun, yang kulihat justru tingkah aneh mereka.
Sebas dan Lou Yi terlihat melamun sambil tersenyum sendiri.
Aku hanya menatap mereka dengan wajah datar.
Astaga... mereka kenapa lagi?
Aku hampir tertawa melihat ekspresi mereka.
Hahahahaha... astaga, lucu sekali orang tua ini.
Aku bahkan ingin tertawa terbahak-bahak melihat wajah Sebas.
Namun, ekspresiku tetap datar.
Tidak ada senyum sedikit pun di wajahku.
Sepertinya kemampuan yang kumiliki membuat ekspresiku secara alami terlihat sangat tenang dan berwibawa.
Bahkan ketika aku sedang memikirkan sesuatu yang lucu, wajahku tetap terlihat bijaksana, dingin, bahkan sedikit menakutkan.
Mataku yang berwarna hitam keemasan semakin membuat ekspresiku terlihat serius.
Aku kemudian berbicara dengan tegas.
“Mulai sekarang, aku berharap kalian berdua bekerja dengan sepenuh hati.”
Sebas dan Lou Yi akhirnya tersadar dari lamunan mereka.
Mereka segera berlutut dan memberikan hormat kepadaku.
“Baik, Tuan.”
Setelah itu, Sebas kembali menjalankan tugasnya seperti biasa.
Sementara Lou Yi mulai bekerja di ruanganku.
Ia mengambil alih pekerjaanku untuk membaca berbagai dokumen dan laporan penting.
Aku sendiri akhirnya kembali ke kamar.
Aku merebahkan tubuh di atas tempat tidur sambil membuka hologram sistem.
Aku mulai memikirkan Pahlawan yang cocok untuk mengawal pasukan Josep menuju benteng kedua.
Aku membutuhkan seseorang yang bisa membantu mereka selama perjalanan.
Pahlawan Baru
Di sisi lain, Josep telah selesai mengumpulkan pasukan.
Malam itu, para prajurit mulai mempersiapkan segala kebutuhan untuk keberangkatan mereka keesokan paginya.
Setelah semuanya selesai, Josep kembali ke ruangannya.
Sementara itu, aku masih memikirkan Pahlawan yang cocok untuk memimpin pasukan kecil dalam perjalanan.
Aku membutuhkan seseorang yang dapat memahami alam, mengetahui berbagai rute, dan mampu membantu Josep dalam menentukan strategi selama perjalanan.
Aku kemudian menutup mata.
Semoga sistem memberiku seseorang yang sesuai dengan kebutuhanku.
Aku harus menunggu selama 24 jam sebelum dapat melakukan summon kembali.
Waktu terus berlalu.
Hingga akhirnya...
Pukul 08.00 pagi.
Hari baru telah tiba.
Josep sudah bersiap bersama pasukannya di depan gerbang benteng utama.
Sementara itu, aku juga mulai melakukan ritual pemanggilan.
Aku membayangkan seorang ahli strategi dengan kemampuan luar biasa, seseorang yang mampu membantu memimpin perjalanan dan memahami kondisi alam.
Namun kali ini...
Ada sesuatu yang berbeda.
Asap hitam yang muncul jauh lebih tebal dari biasanya.
Kabut hitam memenuhi ruangan.
Aku mulai mengernyitkan kening.
Kenapa kali ini berbeda?
Dari dalam asap tersebut, perlahan muncul dua bayangan.
Aku terdiam.
Dua orang...?
Dua sosok dengan tubuh seperti remaja berusia sekitar 15 atau 16 tahun perlahan keluar dari asap.
Keduanya memiliki telinga panjang seperti Elf.
Rambut mereka berwarna hijau.
Yang satu laki-laki.
Dan yang satunya lagi perempuan.
Mereka terlihat seperti sepasang anak kembar.
Aku semakin terkejut.
Bukankah aku hanya memanggil satu Pahlawan?
Kedua Elf tersebut kemudian berlutut dan memberikan hormat kepadaku.
“Hormat kepada Penguasa Agung.”
“Nama saya Kael.”
“Dan ini adik perempuan saya, Kaela.”
Tiba-tiba hologram sistem muncul di hadapanku.
[Informasi Pahlawan]
[Pahlawan yang dipanggil memiliki satu jiwa yang terbagi menjadi dua tubuh.]
[Keduanya memiliki kesadaran dan kepribadian masing-masing, tetapi pada dasarnya mereka berasal dari satu jiwa yang sama.]
Aku mulai memahami penjelasan sistem.
Jadi sebenarnya mereka adalah satu Pahlawan yang memiliki dua tubuh.
Menarik...
Aku kemudian melihat status keduanya.
[STATUS]
Nama: Kael
Ras: Elf
Jenis Kelamin: Laki-laki
Usia: 116 Tahun
Rank: S
Keahlian: Pengendali Binatang
[STATUS]
Nama: Kaela
Ras: Elf
Jenis Kelamin: Perempuan
Usia: 115 Tahun
Rank: S
Keahlian: Pengendali Alam
Aku sedikit terkejut.
Rank S...
Keduanya memiliki kekuatan yang luar biasa.
Lebih aneh lagi, usia mereka ternyata sudah lebih dari seratus tahun.
Padahal, penampilan mereka tidak terlihat lebih dari 16 tahun.
Aku juga terkejut dengan kemampuan mereka.
Kael mampu mengendalikan binatang.
Sedangkan Kaela mampu mengendalikan alam.
Jadi mereka bukan hanya ahli strategi.
Mereka juga memiliki kemampuan yang sangat kuat.
Aku kemudian menyuruh mereka berdiri.
“Berdirilah.”
Keduanya berdiri dengan tenang.
Aku kemudian memberikan perintah.
“Aku memiliki tugas untuk kalian berdua.”
“Kalian akan mengawal Komandan Militer Josep yang akan berangkat menuju benteng kedua pagi ini.”
Kael dan Kaela saling bertukar pandang.
Kemudian mereka menjawab secara bersamaan.
“Baik, Tuan.”
Aku kemudian memanggil Sebas.
“Sebas.”
Sebas segera datang.
“Ya, Tuan?”
“Antarkan Kael dan Kaela kepada Josep. Mereka akan ikut dalam perjalanan menuju benteng kedua.”
“Baik, Tuan.”
Sebas kemudian membawa Kael dan Kaela menuju gerbang utama.
Keberangkatan Josep
Di depan gerbang benteng utama, Josep sudah bersiap bersama pasukannya.
Ia hanya menunggu orang yang akan dikirim oleh Tuan Mudanya.
Beberapa menit kemudian, Sebas, Kael, dan Kaela tiba.
Josep sedikit terkejut ketika melihat dua Elf muda datang bersama Sebas.
Ia bergumam dalam hati.
Tatapan pelayan tua itu benar-benar tajam.
Jangan-jangan dua bocah Elf itu adalah orang yang diutus oleh Tuan Muda?
Sebas kemudian menghampiri Josep.
“Komandan Josep.”
Josep memberikan hormat.
“Ya?”
“Tuan memerintahkan Anda untuk berangkat bersama Kael dan Kaela.”
Josep menatap kedua Elf tersebut.
Ia kemudian mengangguk.
“Baiklah. Kalau begitu, kita akan berangkat hari ini.”
Akhirnya mereka saling memperkenalkan diri.
Setelah semuanya siap, rombongan Josep mulai meninggalkan benteng.
Sebas hanya berdiri di depan gerbang sambil memperhatikan perjalanan mereka.
Setelah rombongan semakin jauh, Sebas berbalik dan kembali menjalankan tugasnya.
Di Dalam Kereta
Di sisi lain, Josep duduk bersama Kael dan Kaela di dalam kereta kuda.
Mereka bertiga masih belum terlalu mengenal satu sama lain.
Josep kemudian membuka percakapan.
“Menurut kalian berdua... seperti apa Tuan Muda Iyan?”
Kael menjawab dengan polos.
“Tuan kami sangat kuat.”
Ia tersenyum.
“Bahkan menurut saya, kekuatannya jauh lebih besar daripada apa pun yang pernah saya lihat.”
Kaela kemudian ikut berbicara.
“Tuan juga sangat baik hati.”
Josep mengangkat alis.
“Benarkah?”
Kaela mengangguk.
“Bahkan sebelum kami berangkat, Tuan menyuruh kami sarapan terlebih dahulu.”
Josep terdiam.
Seberapa kuat sebenarnya Tuan Muda...?
Ia kembali mengerutkan kening.
Perkataan Kael dan Kaela terus memenuhi pikirannya sepanjang perjalanan.
Perjalanan Menuju Benteng Kedua
Aku sendiri terus mengawasi perjalanan Josep dan rombongannya melalui hologram sistem.
Aku menghitung perkiraan waktu perjalanan.
Kalau mereka terus berjalan seperti ini, kemungkinan mereka akan sampai di benteng kedua dalam waktu sekitar dua belas jam.
Aku kemudian menghela napas.
Sepertinya untuk sementara tidak ada masalah.
Aku akhirnya memutuskan untuk beristirahat.
Tubuh utamaku sudah sangat lelah karena sepanjang malam belum tidur sama sekali.
Aku menutup mata dan membaringkan tubuhku di atas tempat tidur.
Sebelum benar-benar tertidur, aku bergumam dalam hati.
Semoga perjalanan Josep dan yang lainnya berjalan dengan lancar.
Setelah itu, aku akhirnya tertidur.
Sementara itu...
Perjalanan menuju benteng kedua terus berlanjut.