SINOPSIS
Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!
Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Kalkulasi Ciuman dan Batas Guling.
Di dalam kereta udara yang melaju menembus malam, waktu seakan berhenti.
Aura meronta kecil, mendorong bahu lebar Caden. Namun, ciuman sang pangeran antagonis itu sama sekali tidak memberinya ruang untuk bernapas, apalagi berhitung. Otak Aura yang biasanya diisi oleh angka-angka bursa saham, margin laba, dan grafik candlestick, mendadak blank.
"B-Bos... hhmmm... argo... argonya kemahalan!" gumam Aura di sela-sela ciuman itu, berusaha mencari celah oksigen.
Caden melepaskan pautannya perlahan, menempelkan dahinya pada dahi Aura. Napasnya memburu, namun senyum kemenangan yang sangat mematikan tercetak jelas di bibirnya. Ibu jarinya mengusap sudut bibir Aura dengan lembut.
"Argo kemahalan?" bisik Caden serak, menatap lekat-lekat mata kecokelatan yang kini tampak berkabut itu. "Kau sendiri yang bilang waktu adalah uang, Elara. Dan saat ini, aku sedang menginvestasikan seluruh waktuku di bibirmu. Berapa dividen yang harus kubayar?"
"I-itu bukan investasi! Itu monopoli teritorial sepihak!" protes Aura, wajahnya sudah semerah tomat rebus. Ia berusaha menggeser duduknya dari pangkuan Caden, tapi tangan kokoh pria itu menahan pinggangnya dengan erat. "Lagian, ini di luar jam kerja! Lembur ciuman nggak ada di pasal kontrak ketenagakerjaan!"
Caden tertawa pelan. Tawanya bergetar di dada bidangnya, menular pada tubuh Aura yang masih berada di pangkuannya.
"Kalau begitu, mari kita buat amandemen kontrak malam ini juga di penthouse," goda Caden, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sambil terus memeluk Aura. "Aku akan membelikanmu tambang berlian di Fraksi Utara jika kau setuju untuk diam dan menikmati perjalanan ini di pangkuanku."
"T-tambang berlian?" Telinga Aura langsung berdiri. Insting matrenya otomatis mengalahkan harga dirinya. "Satu tambang utuh? Atas nama gue?"
"Satu tambang utuh. Atas namamu."
Aura langsung merapikan posisi duduknya di pangkuan Caden, menyandarkan kepalanya di dada pria itu dengan sangat patuh dan manis.
"Oke, Bos! Deal! Perjalanan masih dua puluh menit lagi, kalau Bos mau nyium lagi, argo per detiknya diskon lima belas persen deh buat pelanggan VVIP!" seru Aura cepat.
Caden hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tak percaya. Gadis ini benar-benar tidak bisa diselamatkan. Caden mempererat pelukannya, membiarkan asisten bar-barnya itu bersandar nyaman di dadanya hingga kereta mendarat.
Keesokan paginya, cahaya matahari menembus jendela kaca raksasa di lantai 99.
Aura mengerjap-ngerjapkan matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan luar biasa yang melingkupi tubuhnya. Sesuatu yang sangat berat dan berotot menimpa perutnya, dan udara di sekitarnya berbau mint serta musk maskulin.
Aura menoleh ke samping. Matanya langsung membelalak sempurna.
Pangeran Caden tertidur lelap tepat di sebelahnya. Wajah tampannya yang biasanya tegang dan dingin, kini terlihat sangat tenang bak dewa Yunani yang sedang beristirahat. Rambut hitamnya sedikit berantakan, menutupi dahi.
Tapi bukan ketampanan Caden yang membuat Aura melotot. Melainkan posisi pria itu.
Garis Batas Guling Berbayar yang Aura susun semalam—sebuah guling raksasa di tengah kasur Emperor Size—telah terlempar entah ke mana. Sebagai gantinya, lengan besar Caden melingkar sempurna di pinggang Aura, dan salah satu kaki panjang pria itu menindih kaki Aura. Jarak wajah mereka hanya hitungan sentimeter.
"Woy! Pelanggaran!" teriak Aura refleks, memukul dada Caden dengan bantal.
Caden mengerang pelan, membuka mata peraknya dengan malas. Suaranya terdengar sangat serak dan dalam khas bangun tidur. "Berisik, Elara. Ini baru jam enam pagi. Bursa saham belum buka."
"Bursa saham emang belum buka, tapi bursa denda pelanggaran teritorial udah limit up!" Aura meronta, berusaha melepaskan diri dari pelukan gurita itu. "Bos! Ingat kesepakatan semalam?! Garis Batas Guling Berbayar! Seribu emas per sentimeter! Bos udah ngelewatin batas sampai ke wilayah inti gue!"
Caden tidak melepaskan pelukannya, malah menarik gadis itu lebih dekat hingga hidung mereka bersentuhan. Ia menyeringai malas.
"Begitukah? Kalau begitu, hitung kerugianmu, Asisten," tantang Caden dengan mata setengah terpejam.
Aura langsung mengambil ponsel hologramnya dari nakas, mengetik kalkulator dengan beringas.
"Satu lengan penuh melingkar di pinggang, panjang lengan Bos sekitar delapan puluh sentimeter. Dikali seribu emas! Delapan puluh ribu emas! Ditambah satu kaki panjang nimpa kaki gue, sekitar seratus sentimeter, cepek ribu emas! Total denda seratus delapan puluh ribu koin emas!" lapor Aura dengan mata berbinar-binar. "Mau bayar cash, debit, atau potong dividen tambang berlian gue?!"
Caden tertawa pelan. Ia bangkit duduk, menyandarkan punggungnya ke headboard ranjang, memperlihatkan dada bidangnya yang tidak tertutup atasan piyama.
"Bayar pakai Kartu Platinummu sendiri. Bukankah uangku adalah uangmu juga sekarang?" Caden mengacak rambut Aura yang berantakan. "Lagi pula, seratus delapan puluh ribu emas terlalu murah untuk memelukmu semalaman. Aku menaikkan tarifnya jadi setengah juta emas untuk malam ini."
"Wah... kalau begini caranya, gue bisa resign jadi asisten dan beralih profesi jadi guling profesional aja!" gumam Aura kegirangan, mencatat angka setengah juta di buku catatannya.
Ting Tong!
Bel pintu kamar berbunyi. Suara Lucas terdengar dari luar.
"Yang Mulia? Nona Elara? Sarapan sudah siap. Dan... ehem, ada laporan mendesak mengenai Pangeran Arthur."
Aura langsung melompat dari ranjang. "Hama Pirang lagi? Bos, mandi sana! Gue mau denger ada proyek apa lagi pagi ini!"
Di meja makan penthouse, hidangan sarapan setara hotel bintang tujuh tersaji. Roti croissant dengan selai truffle, telur dadar dengan kaviar, dan kopi luwak magis kualitas terbaik.
Aura mengunyah croissant-nya dengan beringas sambil menatap layar tablet Lucas. Caden duduk di hadapannya, menyesap kopi dengan elegan.
"Jadi, apa berita tentang Arthur pagi ini?" tanya Caden dingin.
Lucas membetulkan letak kacamatanya. "Yang Mulia Pangeran Arthur terlihat mendatangi Bank Pusat Kekaisaran subuh tadi, Yang Mulia. Kudengar, beliau mencoba mencairkan surat utang negara atas nama Fraksi Selatan untuk menebus artefak 'Air Mata Dewi Suci' yang kini berada di tangan Nona Elara."
"Mencairkan surat utang?" Aura tersedak, buru-buru menenggak air putih. "Buset! Dia mau utang bank buat nutupin utang lintah darat, terus buat beli barang dari kita?! Itu namanya skema gali lubang tutup lubang! Orang ini otaknya ditaruh di mana sih?!"
"Dia putus asa," sahut Caden tersenyum sinis. "Wabah di wilayah sekutunya tidak bisa menunggu. Jika dia tidak membawa pulang artefak itu hari ini, Fraksi Selatan akan mencabut dukungan politik padanya. Dia akan kehilangan hak waris takhta."
Aura menyeka mulutnya dengan serbet sutra. Mata cokelatnya memancarkan aura kapitalis yang sangat pekat.
"Lucas! Siapin ruangan VIP! Pastikan AC-nya dingin, kasih minuman yang mahal!" perintah Aura cepat.
"A-apa? Untuk apa, Nona Elara?" tanya Lucas bingung.
"Kita bakal kedatangan tamu penting yang mau nangis-nangis minjem duit sama beli barang!" Aura menyeringai sadis, menatap Caden. "Bos, gue berangkat ke kantor duluan! Gue mau nyusun kontrak penjualan dengan bunga majemuk paling kejam sepanjang sejarah kekaisaran!"
"Pastikan kau menguras habis hartanya sampai ke akar, Elara," pesan Caden, sangat mendukung kekejaman asistennya.
"Siap, Bos! Pokoknya hari ini, Pangeran Arthur bakal pulang pakai celana dalam doang!"