Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.

Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:

> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*

Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.

Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.

Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.

> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13

Aku Kenal Suara Piano Ini

Duri kecil tentang cinta pertama itu tidak langsung hilang, tetapi Laras terlalu sibuk untuk terus memikirkannya.

Beberapa hari setelah demamnya reda, ruang makan Bram berubah menjadi meja kerja. Partitur, pensil, laptop, dan dua gelas air memenuhi permukaannya. Laras menghabiskan pagi dengan rapat daring bersama Mbak Ranti, lalu berlatih menggunakan piano digital yang dikirim Kirana bersama koper pakaiannya.

Instrumen itu cukup untuk menghafal perubahan tempo. Tidak cukup untuk membuatnya lupa bahwa jari-jarinya terbiasa menyentuh tuts konser.

Menjelang sore, ia berhenti karena telinganya lelah mendengar suara digital yang terlalu bersih. Rumah tiga lantai itu sedang kosong. Bram masih menghadiri rapat di kantor pusat Grup Adiwangsa, sedangkan Laras sudah bosan berpindah antara kamar, dapur, dan ruang makan.

Ia turun untuk mengambil air, lalu memilih menaiki tangga biasa ketika kembali. Di lantai dua, cahaya jingga menembus sebuah jendela sempit yang menghadap ke koridor. Laras berjalan melewatinya, lantas berhenti.

Di balik kaca, permukaan hitam mengilap memantulkan matahari senja.

Sebuah grand piano.

Pintunya tidak terkunci. Begitu Laras mendorongnya, aroma kayu, kain wol, dan ruang yang lama tertutup menyambutnya. Dindingnya dilapisi panel akustik berwarna gelap. Rak rendah di sudut menyimpan metronom, buku partitur kosong, serta kotak pemeliharaan yang tertata terlalu rapi untuk sekadar pajangan.

Di tengah ruangan berdiri Steinway & Sons D-274 berwarna hitam eboni.

Laras mendekat perlahan.

D-274 bukan piano yang dibeli seseorang hanya agar rumahnya tampak mahal. Panjangnya hampir dua meter tujuh puluh empat sentimeter, tubuhnya dirancang untuk panggung konser besar, dan suaranya akan terasa berlebihan di sebuah rumah pribadi. Banyak orang kaya mampu membelinya. Jauh lebih sedikit yang mau menyediakan ruangan dengan kelembapan terjaga dan akustik khusus untuk merawatnya.

Dan Bram, yang membangun citra seolah hidupnya hanya terdiri dari pesta, perempuan, dan keputusan impulsif, menyimpan benda ini di lantai dua rumahnya.

"Kamu ini sebenarnya siapa?" gumam Laras, tidak yakin ia sedang bertanya kepada piano atau pemiliknya.

Ia membuka penutup tuts. Gading sintetis yang bersih tampak baru dipoles. Tidak ada debu di sela-selanya. Laras duduk, mengatur tinggi bangku, lalu menekan nada A dengan jari telunjuk.

Nada itu memenuhi ruangan, bening di awal dan hangat saat memanjang.

Tubuh Laras membeku.

Ia menekan nada yang sama sekali lagi, lalu akor minor, kemudian rangkaian nada turun di register tengah. Telinganya menangkap sesuatu yang tidak mungkin ditulis dalam katalog: warna gelap pada nada rendah, gema tipis seperti lapisan perak di register atas, dan satu ketidaksempurnaan kecil pada transisi nada E menuju F.

Setiap piano konser memiliki suara sendiri. Papan suaranya dibuat dari kayu spruce yang serat, kepadatan, usia, dan respons terhadap tekanan tidak pernah benar-benar identik. Bentuk mahkota papan suara, tegangan senar, palu, serta cara seorang teknisi melakukan voicing menciptakan pola resonansi yang khas. Dua D-274 dari tahun produksi yang sama pun dapat terasa seperti dua orang dengan suara berbeda.

Bagi kebanyakan telinga, perbedaannya mungkin hanya terang atau gelap.

Bagi Laras, piano adalah tubuh yang pernah diajaknya bernapas.

Ia menaruh kedua tangan di atas tuts dan memainkan bagian pembuka yang sederhana. Nada kedua bergetar di bawah telapak tangannya. Resonansinya datang sedikit lambat, lalu membulat di ujung, tepat seperti sebuah ingatan yang membuka pintu sendiri.

Laras menarik napas tajam.

Ia pernah memainkan piano ini.

Bukan model yang sama. Bukan piano lain dengan karakter serupa. Piano ini.

Jari-jarinya bergerak lagi, kali ini tanpa ragu. Sebuah melodi lama mengalir, mula-mula lirih, lalu membesar. Ruang itu seakan terangkat dari Pondok Indah dan dibawa ke panggung yang jauh, ke cahaya lampu yang panas, tirai beludru, dan deretan kursi yang tenggelam dalam gelap.

Ia mencoba mengingat tempatnya. Eropa? Amerika? Salah satu konser amal atau festival tempat instrumen kadang dipindahkan dari satu gedung ke gedung lain?

Ingatan visualnya kabur. Ingatan di telinganya tidak.

Ia pernah mengenali instrumen lain melalui satu nada bass yang terasa kasar atau register tinggi yang berkilau terlalu tajam. Namun kedekatan dengan piano ini lebih mengganggu. Tubuhnya bahkan tahu seberapa dalam pedal harus ditekan sebelum gema menjadi keruh, seolah telapak kakinya sedang mengikuti jejak lama yang tak mampu dijelaskan pikirannya.

Laras terus bermain.

Sore habis tanpa disadarinya. Dari lagu pendek ia berpindah ke etude, lalu membiarkan jemarinya memilih sendiri. Ketika tema Sungai Moldau karya Smetana mengalir, dua arus kecil bertemu di bawah tangannya, menjadi sungai lebar yang berkilau dan gelisah.

Sudah lebih dari satu jam ketika sebuah mobil masuk ke garasi.

Bram pulang dari rapat dengan jas tersampir di lengan. Ia baru keluar dari lift ketika alunan piano menahannya di ujung koridor.

Pintu ruang musik terbuka sedikit.

Ia tidak masuk.

Dari ambang, ia memandang Laras yang duduk membelakanginya. Rambut perempuan itu diikat seadanya. Lengan kemeja putihnya digulung sampai siku. Sinar senja terakhir jatuh di profil pipinya, sedangkan kedua tangannya membangun sungai yang pernah didengar Bram bertahun-tahun lalu.

Untuk sesaat, wajahnya kehilangan senyum malas yang biasa ia gunakan sebagai tameng.

Bram mengangkat tangan dan menekan kedua matanya dengan ibu jari serta telunjuk. Rahangnya mengeras. Ketika ia menurunkan tangan, hanya tatapan gelap yang tersisa.

Laras menyelesaikan frasa terakhir. Nada penutup bergetar panjang, kemudian melebur dengan kesunyian.

"Kalau kamu mau memungut biaya sewa, bilang saja." Laras tidak menoleh. "Berdiri diam-diam begitu bikin orang curiga."

"Aku cuma memastikan rumahku masih utuh." Suara Bram terdengar santai, tetapi terlalu rendah. "Ternyata ada penyusup yang mengambil alih satu lantai."

Laras akhirnya menoleh. "Kenapa kamu punya D-274?"

"Karena pianonya bagus."

"Kamu bisa main?"

"Bisa menekan tuts. Hasilnya belum tentu disebut musik."

Jawaban itu seharusnya mengundang tawa. Laras justru menatapnya lebih teliti. Bram berdiri di luar lingkar cahaya, dasinya longgar, wajahnya tenang, namun urat di punggung tangannya terlihat jelas karena ia menggenggam jas terlalu kuat.

"Piano ini pernah aku mainkan," kata Laras.

Bram tidak bergerak.

"Aku kenal suaranya."

Keheningan yang muncul sesudahnya terasa berbeda. Bukan keheningan nyaman setelah musik selesai, melainkan jeda saat seseorang baru saja mengetuk pintu yang seharusnya tidak pernah ditemukan.

Bram masuk satu langkah. "Kamu kenal, atau nanya aku?"

Nada dingin itu membuat Laras mengangkat alis. "Dua-duanya. Dari mana kamu mendapatkannya?"

"Beli dari kolektor."

"Kolektor mana?"

"Yang menjual piano."

"Jawabanmu sangat membantu."

"Sama-sama."

Laras menghadap instrumen itu lagi. Ia menekan nada E, lalu F. Peralihan warnanya tetap sama. "Aku tidak mungkin salah. Papan suara setiap piano punya struktur serat dan kepadatan berbeda. Setelah bertahun-tahun menerima tekanan senar dan perubahan suhu, pola resonansinya makin khas. Belum lagi palu dan voicing. Aku pernah menghabiskan berjam-jam bersama suara ini."

"Kamu juga menghabiskan berjam-jam dengan banyak piano."

"Yang ini mengingatku."

Tatapan Bram bergetar sangat tipis.

Laras melihatnya. "Atau kamu yang mengingat sesuatu?"

"Terlalu percaya diri."

"Terlalu defensif."

Bram tersenyum, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Aku beli dari kolektor, Ras. Itu jawaban yang kamu dapat."

Panggilan itu semestinya terdengar akrab. Kali ini justru terasa seperti garis yang ditarik di lantai.

Laras menutup penutup tuts dengan hati-hati. Ia tidak suka didesak, maka ia juga tahu kapan desakan hanya akan membuat orang lain mengunci pintu lebih rapat. Namun saat berdiri, pandangannya singgah pada jari tangan kanan Bram.

PER ASPERA.

AD ASTRA.

Hampir nama cinta pertama. Sebuah piano yang mengenali tangannya. Dan satu huruf V di ponsel Bram yang pernah ia kira hanya penanda kontak pribadi.

Tiga hal itu muncul bersamaan di kepalanya, belum membentuk jawaban, hanya bayangan samar yang terlalu ganjil untuk diabaikan.

Laras hendak melewatinya ketika lengan Bram melingkar dari belakang dan menarik pinggangnya.

"Sudah selesai menginterogasiku?"

"Untuk malam ini."

"Berarti malam ini masih panjang."

Bram membalik tubuhnya. Ia memberi Laras waktu untuk menolak, menunggu sampai perempuan itu sendiri mencengkeram kerah kemejanya. Baru kemudian bibir mereka bertemu.

Ciumannya hangat, bertolak belakang dengan suaranya beberapa saat lalu. Laras membalas dengan rasa kesal yang belum punya nama. Bram mundur sesaat ketika napasnya menipis, kening mereka masih bersentuhan.

Tangannya bergerak di pinggang Laras, lalu berhenti.

Tatapan nakal yang tadi hilang perlahan kembali. "Kamu nggak pakai?"

Laras langsung tahu apa yang ia maksud. "Pakaian sekali pakai yang kamu beli tidak nyaman."

"Aku sudah pesan yang baru."

"Belum datang."

"Yang datang kemarin belum dicuci." Bram menunduk, bibirnya nyaris menyentuh telinga Laras. "Jadi malam ini nggak usah pakai."

Laras mendorong dadanya, meski tidak benar-benar menjauh. "Aku merasa demam lagi."

Telapak tangan Bram segera menempel di dahinya. Gerakan refleks itu terlalu cepat untuk dibuat-buat. Sesudah memastikan suhunya normal, ia menyipitkan mata.

"Pembohong."

"Aku baru sembuh."

"Tadi main lebih dari sejam kuat. Begitu aku pegang, mendadak sakit. Hebat banget penyakitnya."

"Piano tidak menyebalkan."

"Piano juga nggak bisa menghangatkan kamu."

Laras hendak membalas, tetapi pandangannya kembali jatuh pada piano hitam di belakang Bram. Di permukaannya, bayangan mereka bertumpuk seperti dua rahasia yang kebetulan berada dalam bingkai sama.

Bram mempererat pelukannya, seolah hendak mengalihkan semua pertanyaan dengan kehangatan tubuhnya.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Laras tidak hanya bertanya perempuan mana yang bersembunyi di balik tato tersebut.

Ia mulai bertanya sudah berapa lama dirinya sendiri bersembunyi di dalam rahasia Bram.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!