Indonesia
NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:294
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: Jangan Coba Ganggu Suamiku

Sepuluh hari setelah konvoi itu mengguncang Kertajaya, sebuah kabar lain mengguncang Bella.

"Pak Wira mengganti pemeran utama," kata Rina melalui telepon. "Surat resminya baru masuk."

Bella berdiri di depan cermin apartemen dengan riasan setengah selesai. "Tidak mungkin. Kontrakku sudah ditandatangani."

"Ada klausul perilaku dan jadwal. Tim produksi memakai insiden Graha Swarna serta ketidakhadiranmu pada dua sesi persiapan sebagai dasar. Mereka membayar kompensasi sesuai kontrak."

"Ini ulah Anindya."

"Bella..."

"Reno sudah bilang. Dia menyelidiki aku, menghasut Pak Wira, lalu mengambil Arya sebelum perceraian kami selesai."

Rina terdiam. "Kamu punya bukti?"

"Aku akan mendapatkannya."

Bella memutus panggilan. Selama beberapa hari, keraguan terhadap Reno tumbuh, tetapi kehilangan peran membuatnya membutuhkan seseorang untuk disalahkan. Anindya adalah sasaran yang lebih mudah daripada mengakui seluruh hidupnya sedang runtuh karena pilihannya sendiri.

Menjelang siang, ia menunggu di depan gedung PE. Rina datang terlambat dan langsung mencoba membujuknya pergi.

"Jangan buat adegan. Kalau ada sengketa kontrak, kita kirim surat."

"Aku hanya ingin Arya menjawab."

Ketika Arya keluar bersama dua kepala departemen, Bella berdiri menghalangi jalan.

"Berapa lama kamu mengenal Anindya sebelum kita bercerai?"

Arya meminta kedua kepala departemen masuk kembali. "Saya sudah menjawab semua yang perlu."

"Belum. Kamu menikah terlalu cepat. Dia mengambil peranku lewat Pak Wira. Kalian pasti sudah berhubungan sebelum surat cerai ditandatangani."

Beberapa pegawai di lobi mendekati kaca. Orang yang melintas di trotoar mulai memperhatikan.

"Jangan membuat tuduhan tanpa bukti," ujar Arya.

Bella meninggikan suara. "Kalau bukan dia, kenapa Pak Wira tiba-tiba membenciku? Kenapa semua pintu tertutup setelah kalian menikah?"

"Karena kamu melewatkan dua sesi persiapan dan Reno menghina tuan rumah di acaranya sendiri."

"Kamu membelanya!"

"Saya menyebut fakta."

Sebuah mobil berhenti di tepi jalan. Bu Wulan turun dengan langkah cepat setelah menerima lokasi dari Bella. Begitu melihat Arya, ia langsung menunjuk.

"Kamu! Setelah hidup dari anak saya, sekarang kamu menghancurkan kariernya?"

Rina mencoba menahan. "Bu, kita sebaiknya bicara lewat pengacara."

"Jangan ikut campur!" Bu Wulan menepis tangannya. "Laki-laki ini memperdaya Bella, lalu selingkuh dengan perempuan kaya."

Arya memandang kamera keamanan di atas pintu. "Bu Wulan, semua ucapan Ibu direkam. Jika terus menyebut perselingkuhan tanpa bukti, tim legal akan mengirim somasi."

"Masih berani mengancam saya? Dasar laki-laki liar yang makan dari perempuan!"

"Saya tidak mengancam. Saya memberi peringatan hukum."

Bu Wulan mengangkat tangan.

Plak!

Telapak tangannya mengenai pipi Arya. Kepala Arya bergerak sedikit ke samping. Bekas merah langsung muncul di kulit.

Orang-orang terdiam.

Arya tidak membalas. Ia hanya menatap Bu Wulan dan berkata kepada petugas keamanan, "Simpan rekamannya. Jangan sentuh siapa pun kecuali mereka mencoba masuk."

Pintu kaca di belakangnya terbuka.

Anindya berjalan keluar dengan sepatu hak menghantam lantai batu. Ia melihat pipi Arya, lalu tangan Bu Wulan yang masih terangkat.

"Ibu yang memukul suami saya?"

Bu Wulan menoleh. "Kamu perempuan yang merebut..."

Plak!

Anindya menamparnya sekali. Tidak lebih keras dari yang diterima Arya, tetapi cukup membuat Bu Wulan mundur karena terkejut.

"Itu balasan atas sentuhan yang tidak diminta," kata Anindya. "Setelah ini, kita bicara melalui bukti dan hukum."

Bella memeluk ibunya. "Kamu berani memukul Mama?"

"Ibumu lebih dulu menyerang orang di depan kamera. Saya tidak akan melanjutkan kekerasan, tetapi saya juga tidak akan berdiri diam saat suami saya dipukul."

"Suami yang kamu rebut!"

Anindya berdiri di samping Arya. "Dengarkan baik-baik. Arya dan saya adalah pasangan sah. Akta perkawinan kami tercatat setelah hubungan kalian berakhir dan proses perceraian dijalankan. Tidak ada perselingkuhan. Tidak ada perebutan."

"Kalian menikah karena saham," kata Bella.

"Alasan kami menikah bukan hakmu untuk dipelintir." Anindya menatap langsung ke kamera ponsel seorang pengunjung. "Saya mencintai suami saya. Siapa pun yang menyebarkan fitnah atau mencoba mengganggunya akan berhadapan dengan saya dan tim hukum PE."

Arya menoleh.

Untuk sesaat ia benar-benar kehilangan kata. Perempuan yang beberapa minggu lalu menyuruhnya tidur di sofa kini berdiri setengah langkah di depan, secara terbuka menjadikan dirinya sasaran pertama bila ada serangan.

Seorang pegawai berbisik di dekat pintu, "Mereka kira cuma PE. Kekayaan Adiwangsa yang terlihat mungkin baru puncak gunung es."

Ucapan itu menyebar di antara orang-orang. Wajah Bella dan Bu Wulan berubah. Konvoi di Kertajaya, saham PE, dan sikap Wisnu tiba-tiba terasa seperti bagian terkecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Rani keluar membawa tablet. "Bu Anindya, siaran langsung dari salah satu pengunjung sudah ditonton delapan ribu orang. Tim komunikasi meminta arahan."

Anindya tidak meninggalkan posisi di samping Arya. "Jangan serang Bella atau Bu Wulan. Keluarkan pernyataan pendek: tidak ada hubungan sebelum perceraian, dokumen tanggal tersedia untuk pemeriksaan legal, dan PE menolak perundungan terhadap pihak mana pun."

"Bagaimana dengan pemukulan?"

Arya menjawab, "Simpan bukti. Saya tidak membuat laporan pidana sekarang, tetapi kirim larangan masuk gedung dan peringatan tertulis. Kalau diulang, baru proses."

Bu Wulan mendengus. "Kalian mau menakut-nakuti kami dengan surat?"

"Surat memberi Ibu kesempatan berhenti sebelum akibatnya lebih besar," kata Anindya. "Jangan salah artikan kesempatan sebagai kelemahan."

Rani mengangguk dan kembali masuk. Para pegawai yang menonton melihat perbedaan jelas: Bella datang membawa tuduhan; Anindya menjawab dengan tanggal, dokumen, dan batas. Bahkan tamparan yang ia lepaskan tidak dijadikan alasan untuk memperpanjang keributan.

Seorang satpam menurunkan ponsel pengunjung yang terlalu dekat. "Mohon beri ruang. Tidak ada yang boleh menghalangi pintu."

Jalur masuk kembali terbuka. Operasi perusahaan tidak berhenti hanya karena drama di trotoar.

Bu Wulan masih hendak berteriak, tetapi Rina menggenggam lengannya. "Cukup, Bu. Ada rekaman. Kita pergi."

Petugas keamanan membuka jalur tanpa menyentuh mereka. Bella membantu ibunya masuk mobil. Sebelum menutup pintu, ia melihat Arya dan Anindya berdiri berdampingan di bawah logo PE.

Anindya mengangkat tangan ke pipi Arya, lalu berhenti sebelum menyentuh. "Sakit?"

Arya menunduk sedikit agar hanya ia yang mendengar. "Saya lebih terkejut mendengar pengakuan cinta."

"Itu untuk menghentikan fitnah."

"Tentu. Sangat profesional."

"Diam."

Namun Anindya tetap berdiri di sisinya sampai mobil Bella pergi.

Di kursi belakang, Bella menatap mereka melalui kaca. Bu Wulan masih mengomel, tetapi suaranya tidak lagi masuk ke telinga.

"Aku meninggalkan dia saat tidak punya apa-apa," bisiknya. "Sekarang dia punya semuanya."

Rina tidak menjawab.

Air mata Bella jatuh.

"Sebenarnya aku kalah di mana?"

Jawabannya berada di depan mata. Ia kalah bukan ketika Arya menjadi kaya, melainkan ketika ia memilih tidak hadir saat lelaki itu paling membutuhkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!