Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Dalam Novel Psikopat Tampan

Tersesat Dalam Novel Psikopat Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dark Romance / Psikopat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Estella menelan ludahnya rapat-rapt, mengabaikan tenggorokannya yang terasa sangat kering dan kaku. Setiap detik yang berlalu di bawah bayang-bayang pisau perak Lucian terasa bagaikan siksaan tanpa akhir.

Di tengah kesunyian ruangan bawah tanah yang pekat oleh aroma darah itu, sudut bibir Lucian perlahan terangkat. Sebuah seringai tipis yang teramat dingin dan mematikan terukir di wajah tampannya sebuah senyuman langka yang bukannya memberi kehangatan, melainkan membawa aura kematian yang makin pekat.

"Kau..." Lucian membuka suara, deep voice-nya bergetar pelan dengan intonasi yang begitu rendah dan mengancam. "...orang pertama yang berani menawar denganku."

Kalimat itu meluncur begitu tenang, namun sanggup membuat seluruh bulu kuduk di tubuh Estella berdiri tegak seketika. Sensasi merinding hebat menjalar cepat dari tengkuk hingga ke pergelangan kakinya yang terikat.

Lucian menarik pisaunya dari pipi Estella, lalu menegakkan tubuhnya. Pria itu menatap Estella dari atas ke bawah, persis seperti seorang penguasa yang sedang mempertimbangkan nasib seekor serangga kecil di bawah telapak kakinya.

"Aku akan memberimu waktu satu bulan untuk hidup," ujar Lucian datar tanpa sedikit pun emosi. "Hanya satu bulan untuk dirimu menikmati sisa hidupmu. Dan selama tiga puluh hari itu... kau harus patuh di bawah kakiku."

DEG!

Satu bulan! Angka itu menghantam kepala Estella bagaikan petir di siang bolong. Itu adalah durasi yang persis sama dengan takdir kematian Estella Aurora di dalam novel!

"Tapi tetap mati kan ujung-ujungnya?!" pekik Estella refleks, lupa akan posisinya yang masih terikat tak berdaya. Matanya membelalak lebar memandangi Lucian. "Sama aja bohong dong! Dikira promosi diskon umur apa pakai diutang sebulan segala?!"

SRET!

Sebelum kata terakhir selesai meluncur dari bibir Estella, gerakan Lucian melipat ganda cepatnya. Dari balik pinggang kemeja hitamnya, pria itu menarik sebilah pistol pistol semi-otomatis hitam pekat.

KLAK!

Tanpa ragu satu milimeter pun, Lucian menekan ujung laras pistol yang dingin itu tepat di bagian tengah dada Estella tepat meremukkan kain gaunnya dan menekan area jantung gadis itu!

Sensasi lingkaran besi tebal yang menekan dada dan detak jantungnya sendiri membuat napas Estella terhenti seketika. Sorot mata Lucian di balik laras pistol itu begitu gelap, siap menarik pelatuk kapan saja jika ada satu kata salah lagi yang keluar dari mulutnya.

"Iya! Iya! OKE, IYA!" seru Estella panik setengah mati, suaranya naik beberapa oktav karena ketakutan murni. "Sebulan! Sebulan oke banget! Izinkan aku nikmati hidup sebulan dulu! Janji aku bakal patuh, gak bakal nolak, bakal jadi babu penurut nomor satu di dunia!"

Estella memejamkan matanya erat-erat, dada naik turun menahan rasa panik saat laras pistol itu masih menekan jantungnya. "Tolong jauhkan moncong besi ini dari dada aku, Ganteng... nanti kalau meledak kagak jadi sebulan hidupnya, langsung mati sekarang!"

Lucian menatap raut wajah panik Estella selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Setelah memastikan ketakutan gadis itu benar-benar mengunci lidahnya, Lucian perlahan menurunkan senjata apinya dan menyimpannya kembali ke balik pinggang.

"Tiga puluh hari," bisik Lucian pelan, berbalik melangkah menuju pintu besi. "Permainanmu dimulai sekarang, Estella."

Ikatan tali tambang yang mengunci pergelangan tangan dan kaki Estella akhirnya dilepaskan. Setelah melewati malam penuh teror di ruangan bawah tanah, Lucian membawanya pergi dari sarang eksekusi tersebut. Namun, bukannya dipulangkan ke apartemen penthouse-nya, Estella langsung diboyong menuju kediaman pribadi milik sang miliarder muda.

Sesuai kesepakatan gila mereka: Estella harus patuh di bawah kaki Lucian dan menjadi pelayan alias 'babu' pribadinya selama tiga puluh hari ke depan.

Mobil sedan hitam yang dikendarai Edwin—asisten pribadi Lucian—berhenti di depan sebuah gerbang besi raksasa yang terbuka secara otomatis. Estella, yang duduk di kursi belakang dengan tubuh masih lemas dan leher agak memar, melongokkan kepalanya ke luar jendela.

Matanya membelalak lebar. Di hadapannya membentang sebuah mansion super mewah berarsitektur Gothic-modern yang berdiri megah di atas lahan berhektar-hektar. Dinding batu alamnya tampak kokoh dan elegan, dikelilingi taman air mancur serta pencahayaan lampu-lampu pualam yang sangat indah namun memancarkan aura dingin dan dominan.

"Anjir... ini mah bukan rumah lagi, tapi istana kerajaan!" gumam Estella takjub dalam hati, menelan ludahnya yang mengganjal. "Gila sih, status orang terkaya nomor satu beneran bukan kaleng-kaleng."

Lucian turun dari mobil lebih dulu. Estella dengan sigap melompat keluar dan berjalan mengekor di belakang punggung jangkung sang pria. Langkah kaki mereka menggempa saat melintasi pintu utama berpilar raksasa menuju aula tengah mansion.

Di dalam aula yang berlantaikan marmer mengkilap dan dihiasi lampu kristal gantung raksasa, puluhan pelayan berpakaian seragam hitam-putih serta pengawal berjas rapi sudah berbaris sejajar di sisi kiri dan kanan. Begitu Lucian melangkah masuk, secara serentak seluruh pelayan dan pengawal membungkukkan badan mereka sembilan puluh derajat, menyambut sang tuan muda dengan keheningan yang teramat patuh.

Namun, di ujung barisan, terjadi sebuah kesalahan kecil.

Seorang pelayan perempuan muda tampak bernapas terengah-engah, baru saja berlari kecil untuk menyusul barisan. Perempuan itu terlambat beberapa detik dari rombongan penyambutan utama. Tubuhnya gemetaran hebat saat menyadari tatapan mata Lucian yang perlahan bergeser dan tertuju lurus ke arahnya.

Suasana di aula megah itu seketika membeku. Seluruh pelayan lain makin menundukkan kepala mereka dalam-dalam, tak ada satu pun yang berani bernapas keras.

"T-Tuan Muda... mohon maafkan saya... saya tadi sedang menyiapkan—" suara pelayan itu bergetar ketakutan, wajahnya pucat pasi tanpa darah.

Dua pengawal berbadan tegap di belakang Lucian bergerak cepat tanpa perlu diberi perintah. Mereka menyeret pelayan muda yang menangis ketakutan itu ke hadapan Lucian, memaksanya berlutut di atas lantai marmer yang dingin.

Lucian berdiri tegak, menatap pelayan di bawah kakinya dengan sorot mata yang teramat datar, seolah-olah sedang melihat seekor serangga yang tak berguna. Pria itu menjentikkan jemarinya pelan.

Dari balik pintu dapur utama, seorang pengawal lain melangkah keluar sambil membawa sebuah wadah tembaga kecil berisi minyak goreng yang masih mendidih, uap panasnya mengepul jelas di udara. Wadah itu diserahkan kepada Lucian.

Estella yang berdiri satu meter di belakang Lucian membeku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang secara histeris saat menyadari apa yang akan terjadi.

Tanpa perubahan ekspresi sedikit pun di wajah sempurnanya, Lucian miringkan wadah tembaga tersebut.

SJJJJSSSSTTTT!

Minyak panas yang mendidih itu disiramkan secara langsung dan perlahan ke bagian samping wajah serta leher pelayan tersebut!

"AAAAAAAKKKKKHHHHHHHH!"

Jeritan melengking yang teramat menyayat hati memenuhi seluruh ruangan aula mansion! Pelayan itu berguling-guling di lantai marmer, merintih dan menangis histeris sambil memegangi kulit wajahnya yang seketika melepuh merah dan terkoyak oleh panasnya minyak mendidih.

"M-Mohon ampun Tuan Muda! Aaaakh! Panas... Ampun Tuan!" jerit pelayan itu memelas di antara tangisannya yang memilukan.

"AAAKHH!"

Estella terpekik histeris secara refleks! Namun dengan cepat, ia membekap mulutnya sendiri erat-erat menggunakan kedua telapak tangannya hingga matanya membelalak selebar-lebarnya karena shock berat. Peluh dingin mengucur deras membasahi dahi dan lehernya. Tubuh Estella gemetaran hebat sampai lututnya serasa meloloskan diri dari persendian.

Pemandangan kekejaman murni di depan matanya bukan lagi sekadar tulisan di dalam bab novel thriller ini nyata, mengerikan, dan terjadi tepat di depan hidungnya!

Lucian menyerahkan kembali wadah tembaga yang sudah kosong kepada pengawalnya. Ia menyapu pandangannya ke seluruh barisan pelayan yang makin tertunduk kaku, lalu memutar tubuhnya perlahan.

Iris mata sehitam jelaga milik Lucian menatap lurus ke arah Estella yang masih memegang mulutnya dengan wajah pucat bagaikan mayat.

"Seret dia keluar," perintah Lucian dingin kepada para pengawal tentang pelayan yang terluka itu.

Kemudian, dengan suara deep voice-nya yang rendah dan mematikan, Lucian berbisik tepat di samping wajah Estella yang membeku:

"Itu konsekuensi bagi siapa saja yang tidak patuh di rumah ini, Estella. Dan sekarang... giliranmu bekerja."

1
putmelyana
bodoh banget ceweknya orang MH ngejauh dari kematian malah ngedeketin udah tau dia psikopat malah deketin. orang mh kabur nikmati karena transmigrasi jadi kaya malah jadi babu
putmelyana
apasih karakter ceweknya sikapnya berlebihan banget gajelas.
Alissia
up thor🤭🤭
Alia Chans
Hadir Thor, saling support💪/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!