Indonesia
NovelToon NovelToon
Trauma Ranjang

Trauma Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Nama yang Tidak Asing

Matahari perlahan mulai tergelincir ke barat, menyisakan bias cahaya kemerahan di ufuk Jakarta. Di lingkungan kampus Universitas Pelita Bangsa, kesibukan akademik berangsur-angsur mereda seiring dengan berakhirnya jam perkuliahan sore itu. Di ruang dosen lantai dua, Evita Desniati duduk seorang diri di kursi kerjanya. Meja yang tadi siang sempat porak-poranda akibat amukan brutal Viola telah dirapikan kembali olehnya. Namun, sisa-sisa kekacauan itu masih menyisakan garis ketegangan yang nyata di wajah cantiknya.

Evita menarik napas panjang, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Hari ini adalah hari paling melelahkan, paling menguras emosi, sekaligus paling membuka matanya dalam sejarah hidupnya. Pengkhianatan Xander, teror murahan di ruang kuliah, hingga perlawanan tegas yang ia tunjukkan—semuanya berputar kencang di dalam kepalanya.

​Drrrrt... Drrrrt...

​Getaran ponsel di atas meja seketika membuyarkan lamunannya. Evita melirik layar ponsel yang menampilkan nama panggilan masuk: Ibu.

​Tanpa keraguan sedikit pun, Evita langsung menggeser ikon hijau untuk menerima panggilan tersebut. Ia mengira ibunya, Bu Yekti, menelepon untuk menanyakan kabar atau sekadar berbasa-basi seperti biasa. Namun, alih-alih suara lembut sang ibu yang menyapa, yang terdengar di ujung sambungan sana justru suara isak tangis histeris yang bercampur dengan deru suara sirine dan kepanikan massal.

"Evita... Ya Allah, Evita...!" suara Bu Yekti terdengar putus asa, parau, dan bergetar hebat di balik telepon, nyaris tak berbentuk karena sesenggukan.

​Jantung Evita langsung berdegup kencang seketika. Bulu kuduknya meremang. Ada firasat buruk yang luar biasa tajam menghujam dadanya, merenggut seluruh sisa ketenangannya dalam sekejap.

​"Ibu?! Ibu, ada apa? Kenapa menangis selarut ini? Ibu di mana? Suara apa itu di belakang?" tanya Evita bertubi-tubi, nada suaranya berubah panik, berdiri dari kursinya dengan napas tertahan.

"Rumah kita, Nak... Rumah kita..." rintih Bu Yekti di sela-sela isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi. "Rumah kita kebakaran, Evita! Dibakar orang! Semuanya habis... Bagian depan hangus dilalap api! Untung... untung Ibu sempat lari lewat pintu belakang... Tapi rumah kenangan kita hancur, Nak... Hancur!"

​Deg!

****

Dunia Evita seolah runtuh untuk kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari empat puluh delapan jam. Ponsel di genggamannya hampir terlepas dari tangan. Matanya membelalak lebar, menatap kosong ke dinding ruangannya.

​"Kebakaran...? Dibakar orang, Bu?!" suara Evita melengking tinggi, berubah menjadi jeritan tertahan yang sarat akan keterkejutan luar biasa. "Bapak di mana, Bu? Ibu tidak apa-apa, kan? Siapa yang melakukan ini?!"

​"Ibu tidak tahu, Evita... Tapi tadi... tadi ada wanita asing berpenampilan aneh, pakai kacamata hitam, dia nyiram bensin ke teras rumah kita terus manggil-manggil namamu sebelum dia lempar korek api...!" jawab Bu Yekti histeris, menceritakan kengerian yang baru saja merenggut tempat tinggal masa tua mereka.

Mendengar deskripsi singkat itu, kepingan-kepingan teka-teki langsung tersusun dengan sempurna di dalam kepala Evita. Tidak butuh waktu lama bagi Evita untuk menyadari siapa pelaku di balik tindakan biadab dan psikopat tersebut.

​Wanita asing berpenampilan mencolok, penuh amarah, dan memiliki motif kebencian yang mendalam padanya? Siapa lagi kalau bukan Viola Sanustika—wanita simpanan suaminya yang tidak punya hati nurani!

​Wajah Evita yang tadinya pucat pasi karena terkejut mendadak berubah gelap gulita. Rahangnya mengeras seketika hingga otot-otot di sekitar pipinya menonjol keluar. Seluruh darah di tubuhnya mendidih, mengalirkan gelombang amarah yang begitu pekat, jauh lebih panas daripada kobaran api yang melahap rumah orang tuanya saat itu.

​"Viola..." desis Evita dengan suara bergetar penuh kebencian yang amat sangat, nyaris berupa bisikan maut. "Kurang ajar... Beraninya kau menyentuh keluargaku..."

****

​"Evita? Kamu dengar Ibu, Nak? Kamu di mana sekarang...?" suara Bu Yekti memanggil-manggil dari ujung telepon.

​Evita mengerjap, mencoba menetralkan suaranya agar sang ibu tidak semakin panik, meskipun air mata kemarahan kini sudah menetes deras membasahi pipinya. "Ibu tenang ya... Jangan panik. Ibu dan Bapak cari tempat yang aman dulu di rumah tetangga. Aku akan segera ke sana sekarang juga. Biar aku yang urus semuanya."

​Setelah mematikan sambungan telepon, Evita menyambar tas tangan dan kunci mobilnya di atas meja. Langkah kakinya begitu cepat, menghantam lantai koridor kampus tanpa memperdulikan tatapan bingung beberapa orang yang lewat. Dendam yang membara di dadanya kini telah berubah menjadi sebuah tekad baja yang mematikan.

****

Jauh dari lokasi kampus dan puing-puing rumah orang tua Evita yang masih mengepulkan asap kelabu, sebuah suasana yang kontras seratus persen tengah terjadi di dalam sebuah kelab malam eksklusif di pusat kota Jakarta.

​Di salah satu sudut sofa beludru berwarna merah gelap yang dikelilingi keremangan lampu disko dan dentuman musik bass yang menghentak dada, Viola Sanustika duduk menyilangkan kaki dengan elegan. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah gelas kristal berisi champagne mahal yang berkilauan memantulkan cahaya lampu ruangan.

Wajah cantiknya tampak berseri-seri, dipenuhi oleh kepuasan yang luar biasa. Tidak ada sedikit pun penyesalan atau rasa bersalah di wajah wanita psikopat itu, meskipun beberapa jam lalu ia baru saja melakukan tindakan kriminal berat yang mengancam nyawa orang tua seseorang. Bagi Viola, aksi pembakaran rumah itu hanyalah sebuah lelucon kecil, sebuah tontonan menarik yang berhasil membalaskan sakit hatinya akibat tamparan Evita di kampus tadi siang.

"Hahaha... Hahaha...!" tawa Viola melengking puas, tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya.

​Ia meneguk sisa champagne di gelasnya hingga tandas, lalu meletakkannya kembali di atas meja bundar di hadapannya. Di sampingnya, beberapa botol minuman keras mahal tersusun rapi, menemani malam kemenangannya.

​"Hei, Viola! Kenapa malam ini senyum-senyum sendiri kayak orang kesurupan? Habis dapat durian runtuh dari CEO mana lagi kamu?" tegur seorang teman sosialitanya bernama Jessica, yang duduk di sampingnya sambil memainkan gawai.

Viola menoleh, menyunggingkan senyuman miring penuh rahasia. Ia merapikan rambut panjangnya ke belakang bahu, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Jessica agar suaranya terdengar di antara kebisingan musik kelab.

​"Oh, Sayang... Kamu tidak akan percaya apa yang baru saja aku lakukan sore tadi," bisik Viola dengan nada suara yang terdengar begitu bangga, seolah ia baru saja memenangi sebuah penghargaan bergengsi tingkat dunia.

****

​Jessica mengernyitkan dahi, menatap temannya dengan rasa penasaran. "Emangnya kamu ngapain lagi? Jangan bilang kamu bikin skandal baru sama si Xander?"

​"Bukan sama Xander," jawab Viola santai, jemari lentiknya bermain dengan ujung gelas kosong. "Aku baru saja memberi 'hadiah spesial' untuk dosen sok suci itu... Siapa lagi kalau bukan Evita Desniati."

​"Hadiah spesial? Maksudmu?"

Viola kembali terkekeh kecil, tawa ringan tanpa beban yang justru memancarkan sisi keji dari kepribadiannya. "Aku mendatangi rumah orang tuanya di perumahan kawasan pinggiran kota tadi siang. Aku tendang pot bunganya, aku siram seluruh terasnya dengan satu jerigen penuh bensin... dan boom! Kubakar rumah mereka sampai rata dengan tanah!" cerita Viola tanpa ada rasa takut sedikit pun, seolah ia sedang menceritakan alur cerita film aksi jagoan di bioskop.

1
Ma Em
Evita balas perbuatan Xander dan jalang nya buat mereka menyesal karena sdh berani bawa selingkuhan ke rumah tempat Evita tinggal .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!