Di Kerajaan Shanyue, tepat dipinggiran Kota Shiyue seorang gadis tinggal di sebuah desa terpencil bernama Desa Caiyun.
Dia Xia Qinglan, anak seorang Jenderal ternama di Kerajaan Shanyue yaitu Putri Jenderal Xia Agung, Xia Longyuan.
Xia Qinglan memiliki takdir pernikahan dengan Lima Pangeran yang memiliki sikap angkuh, manja, dingin, bahkan ada juga yang menjadi budak cinta. Namun, alih-alih Qinglan menolak mereka justru ia menaklukan kelima Pangeran itu dengan caranya sendiri.
Dibalik kisah Cinta mereka di liputi perjuangan yang penuh tantangan yaitu mereka berenam harus berhadapan dengan Pangeran Ketiga, Xi Zhouyun yang licik.
Xi Zhouyun adik dari tunangan Qinglan yaitu Xi Yunzhi sang Putra Mahkota. Qinglan tidak memihak siapapun ia hanya berdiri pada keputusannya sendiri. Bahkan, kelima Pangeran itu Feng Huang, Xiao Mingye, Gu Yichen, Ling Chen dan Xi Yunzhi di didik secara langsung oleh Qinglan untuk menjadi Pilar Kerajaan Shanyue.
Ikuti kisah petualangan mereka!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Pangeran, Seribu Kepala Pusing
Matahari perlahan bergeser ke barat, memancarkan rona kemerahan yang menghiasi langit Desa Caiyun. Namun, kediaman Xia Qinglan sama sekali tidak menyiratkan kedamaian senja. Sebaliknya, ruang tamu sederhana itu telah berubah wujud menjadi arena pertempuran psikologis tingkat tinggi yang siap meledak kapan saja.
Bagaimana bisa tenang? Di bawah satu atap yang sama kini telah berkumpul tiga orang pangeran pewaris tahta dari klan bangsawan berbeda—tiga pemilik tanda lahir bunga plum di pergelangan tangan kanan mereka, yang masing-masing membawa ego setinggi langit, sifat menyebalkan yang khas, dan kebencian mendalam satu sama lain.
Feng Huang, sang pangeran berambut merah dari klan agung, duduk bersidekap di kursi kayu sambil mendengus sinis. Di seberangnya, Xiao Mingye—mantan pangeran Klan Xiao yang hobi mencari gara-gara—memutar bola matanya malas, sementara Gu Yichen—pengawal kaku berambut hitam-hijau yang baru saja bergabung—duduk tegak bagai patung batu di sudut ruangan, memasang ekspresi seolah-olah ia sedang dikelilingi sekumpulan makhluk bodoh.
Semua kekacauan ini bermula dari hal sepele: perebutan kursi kayu terbaik di dekat jendela yang menghadap ke halaman luar.
“Mingye! Bisa-bisanya kau merebut kursi itu dariku? Jelas-jelas aku yang duduk di situ sejak siang tadi!” cerca Feng Huang dengan nada suara tinggi, menunjuk tajam ke arah Mingye yang dengan santainya menyilangkan kaki di atas kursi kayu incaran sang pangeran berambut merah.
Mingye mendengus remeh, memainkan ujung jubahnya tanpa beban. “Siapa cepat, dia yang dapat, Tuan Muda Arogan. Kursi ini tidak tertulis namamu. Kalau kau mau, ambil saja bangku kayu reyot di dekat dapur sana. Itu jauh lebih cocok dengan kepribadianmu yang suka memerintah!” balas Mingye telak, sengaja memancing emosi.
Urat di pelipis Feng Huang berkedut hebat. Ia bangkit berdiri, siap melayangkan ancaman fisik sebelum sebuah suara datar menyela dari sudut ruangan.
“Kalian berdua benar-benar kekanak-kanakan,” ucap Gu Yichen tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun. Matanya bahkan tidak menoleh ke arah mereka, melainkan tetap menatap lurus ke depan. “Hanya memperebutkan sebuah kursi kayu lapuk saja kalian berdebat seperti anak anjing kelaparan. Tidak heran jika istana tempat asal kalian hampir runtuh.”
Pernyataan frontal tanpa filter itu langsung membuat Feng Huang dan Mingye mengalihkan kemarahan mereka kepada target baru secara serempak.
“Diam kau, si kaku! Jangan mentang-mentang tanganmu baru saja diobati oleh Lanlan, kau jadi berani ikut campur urusanku!” seru Feng Huang berang, menuding wajah Gu Yichen.
“Benar! Kau itu baru datang kemarin sore sebagai pengawal buronan, tapi gaya bicaramu sudah seperti penguasa wilayah utara saja! Mau cari mati, hah?” timpal Mingye tak kalah sengit, ikut berdiri dan mengepalkan kedua tangannya.
Gu Yichen perlahan menoleh. Tatapan matanya yang dingin dan tajam menyapu kedua pangeran di hadapannya tanpa secercah rasa takut. “Aku hanya mengatakan kebenaran. Jika kalian mau berkelahi, silakan keluar halaman agar tidak merusak perabot rumah Nona Qinglan. Aku tidak punya waktu meladeni dua orang pangeran manja yang hobi merengek.”
Suasana ruangan mendadak memanas hingga titik didih. Feng Huang dengan rambut merahnya yang mencuat karena emosi sudah mengepalkan tinju berselimut tenaga dalam, sementara Mingye mulai mengerahkan sirkulasi energi di telapak tangannya. Gu Yichen sendiri perlahan meraba gagang pedang di sisi pinggangnya, siap meladeni pertarungan tiga arah kapan saja.
Tepat pada detik di mana ketegangan itu hampir merobek dinding rumah, suara langkah kaki yang tenang terdengar dari arah dapur.
Xia Qinglan melangkah masuk ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi mangkuk-mangkuk ramuan obat dan makanan hangat. Gerakannya sangat anggun, namun aura dingin yang terpancar dari tubuhnya berhasil membuat udara di dalam ruangan membeku seketika.
Ketiga pangeran itu—yang sedari tadi berdiri siap saling bunuh—secara bersamaan menegang kaku. Gerakan mereka terhenti seketika, bagaikan wayang yang kehilangan tali pengendali.
Qinglan berhenti tepat di tengah ruangan. Ia meletakkan nampan kayunya ke atas meja dengan bunyi ketukan yang pelan, namun terdengar bagai palu eksekusi di telinga mereka. Ia tidak langsung berbicara. Gadis itu hanya melipat kedua tangannya di dada, lalu menatap tajam bergantian ke arah Feng Huang, Mingye, dan Gu Yichen dengan sorot mata yang menyiratkan bahwa kesabarannya telah benar-benar habis.
“Wah... wah... luar biasa sekali,” suara Qinglan berbisik pelan, tetapi setiap kata yang keluar dari bibirnya mengandung tekanan mengerikan. “Belum genap dua hari rumahku kedatangan tamu ketiga, kalian sudah berencana merobohkan bangunan ini hanya karena memperebutkan kursi kayu?”
Feng Huang langsung menurunkan kepalan tangannya, menelan ludah susah payah. “Lanlan... bukan seperti itu... Si manja ini yang memulai—”
“Tutup mulutmu, Feng Huang!” potong Qinglan tajam, membuat sang pangeran berambut merah langsung terdiam rapat. Qinglan beralih menatap Mingye dan Gu Yichen. “Dan kalian berdua, sepertinya tenaga kalian berlebihan, ya? Kalau kalian sangat ingin menyalurkan energi, bagaimana kalau kuperintahkan kalian membersihkan seluruh kandang kuda di ujung desa dan membelah kayu bakar untuk sebulan ke depan?”
Ketiganya langsung menggelengkan kepala dengan kompak. Harga diri seorang pangeran bangsawan agung runtuh seketika di bawah ancaman mutlak sang gadis. Mereka tahu betul, jika Qinglan sudah memasang ekspresi seperti itu, membantah sama artinya dengan mencari tiket cepat menuju akhirat.
“Maafkan kami, Lanlan... Kami tidak akan mengulanginya lagi,” ucap mereka bertiga secara hampir bersamaan dengan nada patuh yang dibuat-buat, berusaha meredakan kemarahan wanita di hadapan mereka.
Qinglan mendengus dingin, memalingkan wajahnya sejenak untuk menahan pusing yang mendadak menyerang kepalanya. Hidup di tengah intrik istana Shanyue mungkin berbahaya, tetapi mengurus tiga pangeran aneh berkepala batu ini ternyata jauh lebih melelahkan daripada menghadapi pasukan perampok gunung.
“Duduk, makan makanan kalian dalam keheningan total, dan jangan bersuara sepatah kata pun sampai fajar menyingsing, atau kalian akan tidur di luar bersama serigala hutan!” perintah Qinglan mutlak.
Tanpa berani membantah sedetik pun, Feng Huang, Mingye, dan Gu Yichen langsung duduk rapi di tempat masing-masing. Mereka menyendok makanan mereka dengan gerakan kaku, saling melirik sinis lewat sudut mata di balik punggung Qinglan, namun tidak ada satupun yang berani membuka suara. Keabsurdan ketiga pangeran itu untuk sementara waktu berhasil diredam oleh satu tatapan maut dari sang gadis pewaris takdir bunga plum.