Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Tak Butuh Duitmu, Mas!

Aku Tak Butuh Duitmu, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:16.5k
Nilai: 5
Nama Author: eli_wi

Tit... Tit... Tit...

"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.

Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.

Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cuek

"Kopi dan sarapanku mana, Aruna?" tanya Kafka sambil merentangkan kedua tangannya ke atas. Namun matanya masih sedikit terpejam.

"Di warung atau restorant depan jalan desa noh banyak," ucap Aruna dengan ketus.

Jawaban Aruna yang ketus itu membuat mata Kafka langsung terbuka lebar. Bahkan anak dan istrinya sudah terlihat rapi. Nasya memakai seragam sekolahnya sambil berdiri di belakang badan Aruna. Pasalnya tadi dia sudah duduk ingin sarapan, tapi tiba-tiba saja Kafka datang. Nasya segera bersembunyi di balik badan Aruna karena takut dengan tatapan Kafka. Setelah 3 hari pergi, tidak ada tatapan rindu dari bocah 6 tahun itu. Yang ada hanya rasa takut jika Ibunya dilukai oleh Kafka.

"Jangan kurang ajar kamu ya, Aruna. Buatkan suamimu ini kopi dan siapkan sarapan. Istri wajib melayani suaminya," seru Kafka dengan mata memelotot.

"Jangankan kopi, listrik saja belum beli. Sana sarapan pakai tanah tuh depan rumah. Sok ngomongin kewajiban istri. Apa kabar kewajiban suami?" ucap Aruna yang langsung menggendong Nasya. Tak lupa dengan sebelah tangannya mengambil nasi uduk yang tadi dibelinya.

"Aruna, itu sarapan buatku kan?" teriak Kafka saat melihat nasi uduk dibawa oleh Aruna.

"Mau nasi uduk?" tanya Aruna sebelum masuk ke dalam kamar dan Kafka menganggukkan kepalanya.

"Bayar woyyyy... Semua butuh duit. Dipikir ini gratis," ucapnya dengan tatapan sinis.

Brakk...

Aruna...

Jangan kurang ajar kamu sama suami,

Dugh... Dugh...

Pintu kamar Aruna digedor oleh Kafka karena terkunci dari dalam. Kafka tidak terima jika dirinya tak disiapkan makanan. Sepertinya Kafka lupa tentang apa yang terjadi semalam. Bahkan listrik saja masih belum menyala di rumahnya, tapi bisa-bisanya Kafka malah meminta makanan. Aruna tak peduli dengan Kafka yang mengumpatinya di luar kamar. Baginya, sekarang hidupnya hanya untuk dirinya sendiri dan Nasya.

"Ibu, Ayah marah ya?" tanya Nasya dengan ragu-ragu pada Aruna.

"Enggak. Tadi yang marah tuh setan. Tahu kan setan itu sukanya marah-marah. Nah... Itu dia," ucap Aruna dengan santainya.

"Berarti Ayah lagi dirasuki setan ya, Bu? Makanya marah begitu," tanya Nasya dengan tatapan polosnya.

"Iya. Sekarang kita sarapan, habis itu Ibu antar kamu ke sekolah." ucap Aruna mengalihkan perhatian Nasya.

Tang...

Dung...

Keduanya pun segera makan dengan Aruna menyuapi Nasya. Aruna tutup telinga dengan suara yang terjadi di dapur. Entah itu bunyi panci jatuh atau sendok yang sengaja dibunyikan. Biar lah Kafka berusaha mencari apa yang diinginkannya. Kopi? Beras? Semua harus beli terlebih dahulu. Di rumah ini, semua benar-benar kosong melompong. Bahkan untuk membeli sarapan nasi uduk ini saja, Aruna mengandalkan keberuntungan. Ada uang di bawah tumpukan baju yang entah darimana asalnya. Aruna tak peduli uang itu datang darimana, yang penting dia dan Nasya bisa makan dengan kenyang.

"Bu, Nasya sudah kenyang. Ayo berangkat sekolah," Nasi uduk sudah habis untuk sarapan mereka. Keduanya pun segera membereskannya dan keluar kamar.

"Biar aku antar Nasya ke sekolahnya," ucap Kafka tiba-tiba. Sontak saja ucapan itu membuat Aruna membalikkan badannya menatap sang suami.

"Sadar dengan apa yang kamu ucapkan, Mas?" tanya Aruna dengan tatapan tajamnya.

"Sadar, Sayang." Aruna rasanya ingin muntah mendengar panggilan itu dari Kafka. Entah apa yang tengah direncanakan oleh suaminya itu, Aruna harus waspada.

"Bu," panggil Nasya sambil menggelengkan kepalanya.

"Nggak papa, biar Ayahmu yang antar." ucap Aruna sambil tersenyum misterius. Meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.

"Silahkan kalau mau antar Nasya, Mas." ucapnya sambil tersenyum manis.

Kafka juga tersenyum kemudian mengelus lembut kepala Aruna yang tertutup hijab. Setelah Kafka keluar rumah, dia mengusap kepalanya seperti orang yang baru saja terkena kotoran. Tampaknya Kafka baru akan memanasi mobilnya terlebih dahulu. Sedangkan Nasya belum menyusul Kafka keluar. Dia masih takut pada Ayahnya sendiri karena melihat kejadian semalam.

"Nanti, Nasya nggak usah arahkan jalan menuju sekolahmu ya. Diam saja, biar Ayahmu sendiri yang mencarinya. Bilang saja kalau lupa jalan," ucap Aruna memberikan pesan.

"Kalau Ayah mar..."

"Kalau marah, teriak aja. Biar orang-orang tahu kalau Ayahmu itu tidak tahu apapun tentang anaknya." sela Aruna dengan yakin. Bukannya mengajari anaknya hal jelek, hanya saja ini untuk pelajaran bagi Kafka agar sadar diri. Laki-laki itu sama sekali tak mengetahui tentang anaknya.

"Baik, Bu." Nasya pun segera pergi setelah berpamitan pada Ibunya. Sedangkan Aruna, segera mengganti hijabnya dengan yang baru.

***

"Dimana sekolahmu, Nasya?" tanya Kafka setelah mobil berjalan keluar dari area kampung tempat tinggal mereka.

"TK Mentari, Yah." jawab Nasya dengan pelan.

Dimana itu?

Benar dugaan Aruna dan Nasya, Kafka sama sekali tidak tahu dimana sekolah anaknya sendiri. Padahal image Kafka selama ini adalah Ayah yang baik di depan warga sekitar. Apalagi kesuksesannya dalam karir, membuat Kafka terlihat sempurna. Padahal dalam rumah tangganya, ada lubang besar yang siap menjatuhkannya. Nasya memandang sekilas pada Kafka yang duduk di sebelahnya.

"Nggak tahu, Yah. Ibu yang selalu antar, Nasya tidak hafal jalannya." ucap Nasya dengan pelan.

Cittt...

"Apa? Kamu nggak tahu jalannya? Yang benar saja dong, Nasya. Kalau kaya gini, bikin repot Ayah." teriak Kafka yang langsung menginjak rem. Bunyi gesekan aspal dan ban mobil itu membuat Nasya terkejut. Beruntung jalanan itu sedikit lengang.

"Memang selama ini Ibu yang antar. Nasya cuma ikut aja," ucap Nasya dengan raut wajah ketakutan.

Kafka meraup wajahnya kasar. Dia mencari ponselnya yang ternyata tidak ada di mobil dan sakunya. Dia mencoba mengingat dimana meletakkan ponselnya. Semalam, dia tidur di ruang tamu sambil bermain ponsel. Setelah itu, pagi ini dia sama sekali tidak memegang ponsel. Ini artinya ada kemungkinan kalau ponselnya tertinggal di ruang tamu.

"Kita harus cepat pulang, Nasya." ucap Kafka tiba-tiba.

"Terus ini sekolah Nasya gimana, Yah? Sebentar lagi jam masuk lho." ucap Nasya dengan raut wajah bingung sekaligus takut.

"Bolos sekali ini saja juga nggak masalah. Ini ponsel Papa ketinggalan. Papa harus segera mengambilnya," ucap Kafka dengan terburu-buru.

"Tap..."

"Diam saja kamu itu. Ini demi hidup Papa," sela Kafka saat Nasya hendak protes.

Akhirnya Nasya hanya diam sambil menahan tangisnya. Dia dibentak oleh Ayahnya sendiri dan tidak ada yang melindunginya. Berulangkali mobil itu hendak dinyalakan, tapi tidak bisa. Entah apa yang terjadi pada mobil Kafka hingga tak bisa dinyalakan. Atau kah saat ini Kafka sedang panik karena ponselnya tertinggal sehingga dia tak bisa menyalakan mobilnya.

"Kenapa sih ini mobil?" gerutu Kafka sambil memukul setirnya.

"Tenang, Kafka. Kamu cuma panik aja. Aruna tidak akan menemukan atau memeriksa ponselmu," gumamnya sambil menghela nafasnya kasar.

Brumm...

Akhirnya...

1
sunaryati jarum
Lha Cerai saja baru proses kok sudah mau dijodohkan
Penulis Eli: Hanya bercanda itu, kak 🙈
total 1 replies
E F
lanjutt thor💪😍
aku
bu salma dan bu lala ini kyk e mudanya bar2 sekali ya 🤣🤣 ceplas ceplos jg 🤣🤣
sunaryati jarum: Kalau sudah ketemu teman sekolah,lupa umur.Termasuk emak dan teman - sekolah .
total 1 replies
aku
dua duanya aja. gongin sama anak. 😁
Suwastika
wah...bener² ad udang d balik bakwan BS pas bgt🥰🥰
Muft Smoker
waaaah duo bestie pda garcep niih ,, tp yg pling garcep yx bu Salma 🤭🤭🤣🤣
aku
mamer dorong mantunya kenceng bgt yakk 🤣🤣 keburu amat 🤣🤣 ketok palu ja blm itu mantu 🤣🤣
E F
lanjutt thor💪😄😍
Muft Smoker
bu Salma semangat banget mau jodohin menantu ny ,,
😁😁😁😁
sunaryati jarum
Nah gitu tegas, segera visum untuk bukti.Dsn bukti perselingkuhannya sekalian
sunaryati jarum
Langsung lapor yang berwenang itu sudah penganiayaan berat mengarah pembunuhan
Puspa Sella
benci cara pikiran Aruna ini
Muft Smoker
penjara kan saja si Kafka. bu ,,
Kafka mungkin ank kandung mu,,
tp jiwa ny bukan ,, dy cuma laki2 pengecut jelmaan Dari kodok sawah ,, 😒😒😒😒
uphet
aduuuhhh Bu Salma d sangka mabok abis makan kecubung🤣🤣🤣
E F
tq thor🙏😍
smangat sehat sll up byk2🤭😄💪
aku
kayak mana gk mlongo wong kalimatnya gitu 🤣🤣🤣 aduh nenek ini 🤣🤣
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,
makin seruu cerita ny
E F
😄😄
tq thor🙏😍
smangatttt up byk2🤭💪
E F
lanjuttt thor💪😍
smangattt hempasssss cpttttt😄💪
INDRA
Ini Aruna sepupu Callie apa bkn Thor
Penulis Eli: bukan, kak. Cerita keluarga Roberto sudah selesai sampai Callie saja 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!