Indonesia
NovelToon NovelToon
Resep Terakhir Dari Ibu

Resep Terakhir Dari Ibu

Status: tamat
Genre:Anak Genius / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:31.1k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Wushhh.

Pintu ganda ruang makan utama terbuka lebar menyambut puluhan pelayan berseragam rapi.

Para pelayan itu berjalan beriringan membawa nampan nampan besar berisi hidangan dari Tim Merah dan Tim Biru.

Di dalam ruang tunggu galeri, kelima puluh peserta berdiri tegang menatap layar televisi monitor berukuran raksasa.

Layar itu menampilkan suasana ruang makan VIP yang sudah diisi oleh lima puluh orang kritikus makanan ternama.

Mereka adalah pemilik restoran, penulis buku kuliner, dan food vlogger dengan jutaan pengikut di media sosial.

"Aku tidak sanggup melihatnya, Aldo," ucap Rina sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"Buka matamu, Rina. Kita harus melihat sendiri bagaimana hasil kerja keras kita dinilai oleh mereka," jawab Aldo tenang.

Aldo berdiri dengan postur tegap dan mata yang tidak lepas dari layar monitor tersebut.

Di sudut ruangan yang lain, Danang mondar mandir dengan wajah pucat dan keringat dingin sebesar biji jagung.

Mantan kapten Tim Biru itu menggigit kuku jarinya karena takut hidangan garang asem itu akan menjadi bahan tertawaan.

"Kalau sampai kita kalah, aku akan menyalahkanmu sepenuhnya karena merubah menu seenaknya, Aldo," ancam Danang dengan suara gemetar.

Aldo melirik Danang dari sudut matanya dan tersenyum sangat tipis.

"Silakan saja, tapi kalau kita menang kau tidak punya hak sedikitpun untuk ikut merayakannya."

"Tutup mulutmu, anak sombong!" balas Danang kesal namun suaranya langsung tenggelam oleh keributan dari layar monitor.

Tring tring tring.

Suara dentingan gelas kaca yang dipukul ringan menggunakan sendok bergema dari arah layar.

Seorang pria paruh baya yang merupakan ketua asosiasi kritikus kuliner berdiri untuk memberikan sambutan singkat.

"Selamat siang semuanya, hari ini kita akan mencicipi dua hidangan dari calon koki masa depan," ucap pria itu.

"Mari kita mulai dengan hidangan dari Tim Merah terlebih dahulu."

Kamera langsung menyorot piring piring putih berisi Beef Wellington mini yang disajikan dengan sangat elegan.

Saus truffle berwarna gelap menggenang cantik di sebelah potongan daging berlapis pastry tersebut.

Di ruang tunggu, Kevin langsung membusungkan dadanya dan tersenyum penuh kemenangan.

"Lihat presentasi kelasku itu, makanan gembel kalian pasti langsung dibuang setelah mereka memakan hidanganku," ejek Kevin keras keras.

Beberapa anggota Tim Merah ikut bersorak setuju dan bertepuk tangan memuji kapten mereka.

Di layar monitor, para kritikus mulai memotong Beef Wellington itu dan memasukkannya ke dalam mulut.

Nyam nyam.

Kamera menyorot wajah seorang kritikus wanita yang sedang mengunyah daging tersebut.

"Pastry luarnya cukup renyah dan dagingnya matang dengan sangat baik," komentar wanita itu.

"Saus trufflenya juga memiliki aroma jamur yang kuat dan klasik," tambah kritikus pria di sebelahnya.

Namun pria paruh baya ketua asosiasi tadi tiba tiba meletakkan garpunya dengan wajah datar.

"Ini enak, sangat standar dan sesuai dengan buku resep klasik Eropa."

"Tapi tidak ada kejutan sama sekali, rasanya terlalu aman dan membosankan untuk sebuah kompetisi sebesar ini."

Mendengar komentar tajam itu, senyum di wajah Kevin seketika luntur dan rahangnya mengeras.

"Mereka itu tahu apa soal makanan klasik, lidah mereka pasti sudah rusak," gerutu Kevin tidak terima.

Aldo hanya diam menyimak karena dia tahu kritikus kelas atas selalu mencari sesuatu yang unik dan menggetarkan lidah.

"Sekarang mari kita singkirkan piring ini dan beralih ke hidangan Tim Biru," ucap ketua kritikus di layar.

Para pelayan dengan cekatan menukar piring kosong itu dengan mangkok keramik putih berisi Garang Asem Salmon.

Asap panas langsung mengepul ke udara membawa aroma rempah dan santan yang sangat pekat.

"Wow, wangi apa ini? Aromanya sangat agresif dan menampar hidung," ucap kritikus wanita tadi dengan mata melebar.

"Tampilannya sedikit berantakan, ikan salmonnya tidak berbentuk utuh," kritik pria di sebelahnya sambil mengaduk kuah.

Danang yang melihat itu langsung memegangi kepalanya dan berjongkok di lantai ruang tunggu.

"Matilah kita, mereka mulai mempermasalahkan bentuk salmon hancur itu," erang Danang panik.

"Lihat saja terus sampai mereka memakan kuahnya," ucap Aldo tanpa memedulikan kepanikan Danang.

Di layar, ketua kritikus mengambil sendok dan menyendok kuah kuning kehijauan beserta sepotong kecil salmon.

Slurp.

Dia menyeruput kuah itu dan langsung terdiam kaku selama beberapa detik.

Semua orang di ruang tunggu menahan nafas mereka menanti reaksi lanjutan dari pria berpengaruh tersebut.

"Astaga, rasa asam dari belimbing wuluh ini benar benar luar biasa," ucap ketua kritikus itu tiba tiba.

"Rasa asamnya langsung memotong habis rasa berlemak dari ikan salmon yang biasanya bikin mual."

Kritikus wanita di sebelahnya ikut menyuapkan perkedel kentang yang direndam kuah ke dalam mulutnya.

"Tekstur perkedelnya sangat lembut dan menyerap kuah santannya dengan sempurna."

"Ini adalah perpaduan rasa timur dan barat yang dieksekusi dengan sangat jenius."

"Saya tidak peduli bentuk salmonnya hancur, karena rasanya benar benar meledak seperti kembang api di dalam mulut saya."

Komentar pujian yang bertubi tubi dari para kritikus itu membuat seluruh anggota Tim Biru bersorak kegirangan.

Horeee.

Beberapa ibu ibu langsung berpelukan sambil melompat lompat kecil merayakan pujian tersebut.

Rina meneteskan air mata bahagia dan kembali memeluk lengan Aldo tanpa ragu.

"Aldo, kamu dengar itu? Mereka menyukainya! Mereka memuji menu darurat kita!" seru Rina girang.

"Iya Rina, aku dengar. Kerja keras kalian mengupas kentang dan memotong ikan tidak sia sia," balas Aldo tersenyum lega.

Danang yang tadi berjongkok ketakutan kini langsung berdiri tegap dan ikut bertepuk tangan.

"Tentu saja mereka menyukainya, itu semua karena aku yang memimpin dapur dengan tenang," ucap Danang tiba tiba.

Aldo dan Rina langsung menoleh ke arah Danang dengan tatapan jijik dan tidak percaya.

Pria itu benar benar tidak tahu malu karena berani mengklaim kesuksesan yang bukan miliknya.

"Jangan bercanda Mas Danang, kamu hampir membuat kita semua pulang tadi," sindir Rina tajam.

"Aku kan kaptennya, jadi semua hasil akhir adalah tanggung jawab dan ide rahasiaku," balas Danang mengelak.

Sebelum Aldo sempat membalas ucapan kotor Danang, suara dari televisi kembali mengalihkan perhatian mereka.

"Saatnya kita melakukan pemungutan suara," ucap ketua kritikus.

Setiap kritikus diberikan dua koin kayu, satu berwarna merah dan satu berwarna biru.

Mereka mulai berjalan maju dan memasukkan koin pilihan mereka ke dalam dua tabung kaca besar di depan ruangan.

Klinting klinting klinting.

Suara koin kayu yang berjatuhan ke dalam tabung terdengar sangat menegangkan.

Tabung merah dan biru mulai terisi secara perlahan lahan dengan jumlah yang hampir seimbang di awal.

Sepuluh koin merah, sepuluh koin biru.

Dua puluh koin merah, dua puluh lima koin biru.

Wajah Kevin semakin tegang saat melihat laju koin biru mulai meninggalkan tabung merah miliknya.

"Sialan, tidak mungkin hidangan kampung itu bisa mengalahkan Beef Wellington," desis Kevin sambil menggigit jarinya.

Setelah lima puluh orang selesai memberikan suaranya, seorang panitia mulai menghitung hasil akhirnya.

"Hasil akhir pemungutan suara tamu VIP hari ini telah ditetapkan," ucap panitia itu dari dalam layar.

"Tim Merah mendapatkan lima belas suara."

Anggota Tim Merah langsung tertunduk lesu dan beberapa mulai menghela napas panjang tanda menyerah.

"Dan Tim Biru mendapatkan tiga puluh lima suara."

"Pemenang tantangan beregu hari ini adalah Tim Biru!" teriak panitia mengumumkan hasil mutlak.

Sorak sorai anggota Tim Biru kembali meledak meruntuhkan suasana tegang di ruang tunggu tersebut.

1
lutfi lutfi
sukses lanjutkan
ceuceu
Tamat thor?
yah deh berpisah dgn cerita yg bagus penuh insfiratif
kiyoe: iyaa kak huhuhu
total 1 replies
ceuceu
Alhamdulillah aldo sukses😍
kayra lubna
Mantapp 👍
kayra lubna
Terimakasih banyak author....semangat selalu untuk berkarya💪
kiyoe: Terimakasih kak atas support nya 🙏
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
terus sehat, terus semangat dan terus berkarya Thor 😍💪
kiyoe: terimakasih kak Heni sehat selalu kak heni🙏
total 1 replies
Was pray
yeee kalau sonu beneran pulang kamu udah ko'it Aldo... hutang nyawa Doni sama kamu udah lunas
ceuceu
Alhamdulillah tumbang jg kesombongan hendrik
kiyoe: hehehe iya Alhamdulillah
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: Terimakasih kak Heni yang terus selalu mensupport karya saya 🙏
total 1 replies
ceuceu
Terimakasih cray up nya thor
ceuceu
Alhamdulillah kevin kalah telak
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
Was pray
hancur sempurna? berarti hancur lebur kah?
Was pray
waktu yg disediakan panitia empat jam tapi Aldo dalam roses pengasapan butuh waktu lima jam. berarti waktunya gak cukup dong .. 😱
Was pray
itulah hidup Aldo , harta warisan yg kau banggakan akan jadi senjata makan tuan karena dipamerkan ke orang lain yg jadi sainganmu yg berjiwa licik
ceuceu
Duh ikutan tegang.
pertarungan taruhan antara hidup dan mati restoran lestari
Adelina Lin
thor, jadikan Aldo pemenangnya, buat keluarga Wijaya dan koki bayarannya merasakan malu didepan umum
Heni Setiyaningsih: harus dong k👍
total 1 replies
Was pray
kecerdasan mu lumayan meningkat Aldo,otakmu tetap dingin disaat hatimu panas ,tidak mengadili dengan gegabah, mencari sebab dari sebuah baru menyimpulkan dan mengambil tindakan
Was pray
ego pribadi yg berbicara saat kerja adalah awal dari kehancuran
Adelina Lin
thor jangan sampai buku resepnya ibu Aldo dicuri bunglon, kasihan aldonya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!