Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.
Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.
Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.
Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.
Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.
Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 — Pagi yang Sama Sekali Tak Biasa
Ekaterina
Aku menutup pintu dengan segala perasaan berkecamuk di dalam.
Sebagian diriku memang sudah menduga dia akan bersikap begitu.
Sudah menduganya sejak Viktor melihatku di pesta baby shower itu.
Tapi tidak sekarang.
Tidak setelah semua yang dia katakan.
Setelah begitu banyak dia menyakitiku.
Air mataku jatuh berat bahkan sebelum aku sempat menahannya.
Perut bagian bawahku bergetar, dan seketika aku menaruh tangan di sana, panik.
Isak keras lolos dari tenggorokanku.
Lalu Lis memelukku.
Mungil.
Hangat.
Seolah ingin menyatukan kembali semua kepingan diriku.
"Jangan menangis, Kathy..."
Aku memejamkan mata sejenak dan balas memeluknya.
Lalu buru-buru kuseka wajahku.
"Sudah tidak apa-apa."
Dia menatapku curiga, jelas tahu aku sedang berbohong.
Tapi dia tetap berusaha menghiburku dengan caranya sendiri.
"Kamu mau makan es krim?"
Aku sedikit mengernyit.
"Es krim?"
Dia mengangguk serius.
"Kalau makan es krim, jadi senang."
Tawa kecil lolos dariku sebelum aku sadar.
Kepolosannya melukai dan menyembuhkan sekaligus.
Maka aku mengangguk.
"Ayo makan es krim."
Kami duduk bersama di sofa, masing-masing dengan mangkuk kecil di pangkuan.
Lis menyantap miliknya dengan pikiran ke mana-mana selama beberapa menit.
Tapi aku menyadari tatapannya.
Terlalu lama.
Terlalu penuh pikiran untuk seorang anak kecil.
Sampai akhirnya dia bertanya pelan:
"Dia ayah bayimu?"
Dadaku langsung sesak.
Aku menunduk menatap es krimku sebelum menjawab.
"Iya."
Lis kembali makan pelan-pelan.
Diam.
Tapi aku tahu dia sedang berpikir.
Karena dia sudah mengenal arti ditinggalkan sejak terlalu dini.
Dan itu...
itu makin meremukkan hatiku.
Lis menoleh lagi padaku.
Mata beningnya penuh harapan polos yang hanya bisa dimiliki seorang anak.
Lalu dia tersenyum.
"Tapi dia kembali, Kathy."
Dadaku kembali menyempit.
Dia melanjutkan seakan itu hal paling sederhana di dunia.
"Kamu tidak seharusnya menangis. Kamu seharusnya senang."
Aku menelan simpul di tenggorokanku sebelum menjawab.
"Aku memang senang."
Kebohongan itu keluar pelan.
Lemah.
Karena aku sendiri tak tahu persis apa yang kurasakan.
Marah.
Terluka.
Lega.
Takut.
Semua bercampur.
Kubelai rambutnya, berusaha tampak tenang.
"Kadang orang dewasa memang bertengkar, Lis."
Dia menatapku beberapa saat, lalu hanya mengangguk.
Seolah menerima begitu saja.
Tapi aku kenal Lisbela.
Dia mengerti lebih banyak daripada yang dia tunjukkan.
Dia kembali menyantap es krimnya dengan tenang sementara aku menatap televisi yang menyala tanpa benar-benar memperhatikan.
Dan jauh di dalam...
kalimatnya terus bergema di kepalaku.
"Tapi dia kembali."
Seolah sebagian diriku pun sempat mengharapkan itu.
Aku menghabiskan es krimku dan meletakkan mangkuk kosong di meja.
"Sudah malam. Ayo mandi lalu tidur."
Lis langsung bangkit dari sofa dan mengikutiku menyusuri lorong.
"Besok ada sekolah?"
Aku tersenyum tipis.
"Ada."
Dia memasang wajah masam berlebihan yang nyaris membuatku tertawa.
Lalu aku menambahkan:
"Dan besok aku mau ke dokter melihat bayinya."
Matanya langsung berbinar.
"Kapan aku boleh ikut lihat juga?"
Hatiku menghangat.
"Lain hari akan kuajak kamu."
"Janji?"
"Janji."
Dia tampak puas dengan jawaban itu dan berlari lebih dulu ke kamar mandi.
Aku membantu Lis mandi, mencuci rambutnya perlahan sementara dia mengoceh tanpa henti tentang sekolah.
Lalu aku memperhatikannya menggosok gigi dengan sungguh-sungguh, berusaha agar busa tak menetes ke bajunya.
Hal-hal kecil.
Sederhana.
Tapi membuat rumah ini terasa tak seberat biasanya.
Setelah selesai, kubaringkan dia di tempat tidur dan kuselimuti tubuh mungilnya.
Lis langsung meringkuk nyaman di bantalnya.
"Kamu akan sedih lagi, Kathy?"
Pertanyaan itu datang tak terduga.
Aku duduk di tepi ranjang dan membelai wajahnya.
"Tidak akan."
Dia masih menatapku curiga beberapa saat.
Lalu menggenggam tanganku di antara kedua tangan kecilnya.
"Kalau begitu, ya sudah."
Aku tersenyum lemah.
Kumatikan lampu kamar dan kuperhatikan dia memejamkan mata pelan-pelan.
Tapi selagi Lis tertidur nyenyak...
aku tahu malam ini aku tak akan bisa tidur semudah itu.
Aku ke kamar mandi dan berlama-lama di bawah guyuran air.
Air hangat mengalir di sekujur tubuhku, tapi tak juga membawa pergi beban di dadaku.
Tidak juga kekacauan itu.
Tidak juga rasa sakitnya.
Setelah selesai, aku mengenakan pakaian yang nyaman dan berjalan ke kamar dalam diam.
Seluruh rumah sudah gelap.
Sunyi.
Aku berbaring perlahan dan memeluk bantal erat-erat ke dada.
Seolah itu bisa mencegah hatiku terlalu sesak.
Kupejamkan mata.
Tapi seketika kata-kata Viktor kembali.
"Anak itu anakku."
"Aku akan jadi ayah yang hadir."
Tenggorokanku langsung tercekat.
Karena sebagian diriku ingin mendengar itu sejak awal.
Menginginkannya begitu kuat sampai terasa menyakitkan.
Tapi sekarang...
setelah semuanya...
aku tak tahu lagi harus percaya pada apa.
Viktor selalu seperti badai.
Ganas.
Berbahaya.
Tak terduga.
Dan aku takut membiarkannya masuk lagi ke dalam hidupku, lalu hancur untuk kedua kalinya.
Menit demi menit berlalu lambat sementara aku tetap diam tak bergerak di ranjang.
Berusaha menenangkan napas.
Berusaha berhenti memikirkannya.
Di luar, jalanan mulai sunyi.
Dan dengan susah payah...
akhirnya aku pun tertidur.
Aku terbangun keesokan paginya masih dengan tubuh lelah.
Seolah baru tidur beberapa jam saja.
Tapi aku tak punya waktu untuk berlama-lama di ranjang.
Maka kumulai rutinitasku.
Aku membangunkan Lis susah payah, karena dia menggulung tubuh rapat dalam selimut sambil mengeluh masih mengantuk.
"Lima menit lagi saja, Kathy..."
"Tidak boleh. Nanti terlambat."
Dia menggerutu pelan, tapi tetap bangun.
Kususuh dia mandi sementara aku menyiapkan sarapan cepat di dapur. Aroma roti hangat menyebar ke seluruh rumah kecil ini, membawa rasa normal yang terasa aneh.
Lis makan sambil duduk di meja sementara aku menyisir rambutnya dari belakang kursi.
"Kamu narik-narik!"
"Karena kamu tidak mau diam."
Dia tertawa dengan mulut penuh, dan aku menggeleng, menahan tawa juga.
Setelah siap, kami berangkat bersama ke sekolah.
Jalannya sederhana.
Sunyi.
Tapi ringan.
Saat kutinggalkan Lis di gerbang, dia berlari masuk setelah memelukku cepat.
"Dah, Kathy!"
"Dah, sayang."
Aku menatapnya masuk beberapa saat sebelum mulai berjalan pulang.
Di tengah jalan, kulihat seekor anak kucing kecil di dekat trotoar.
Kurus.
Abu-abu.
Dia menatapku curiga.
Aku berjongkok pelan dan mengelus kepala kecilnya. Kucing itu langsung menggesekkan diri ke tanganku, kehausan perhatian.
Dadaku terasa sesak.
"Kamu juga sendirian, ya?"
Dia mengeong pelan seakan menjawab.
Aku tersenyum lemah sebelum bangkit lagi.
Dan melanjutkan langkahku.
Di rumah, aku mandi berlama-lama dan berdandan untuk pemeriksaan.
Kupilih gaun sederhana dan kuikat rambutku yang masih basah dalam kepang longgar.
Sementara aku mengoleskan sedikit pelembap ke perut, pikiranku mau tak mau kembali pada Viktor.
Pada malam kemarin.
Pada caranya menatapku di ambang pintu.
Aku memejamkan mata sesaat dan mengusir itu dari kepalaku.
Aku tak ingin memikirkannya sekarang.
Tak lama kemudian, terdengar bunyi klakson lembut dari luar.
Alina sudah datang.
Kuambil tasku dan cepat-cepat keluar rumah.
Dia tersenyum begitu melihatku masuk ke mobil.
"Selamat pagi, sayang."
Sayang.
Masih terasa asing mendengar seseorang memanggilku begitu.
"Selamat pagi."
Dia mengamatiku diam-diam sementara mobil mulai berjalan.
"Kamu tampak lelah."
Aku berusaha tersenyum.
"Cuma kurang tidur."
Dia tak mendesak.
Tapi aku merasa dia menangkap lebih banyak daripada yang dia tunjukkan.
Perjalanan ke klinik sebagian besar berlangsung dalam diam. Diam yang nyaman.
Alina memainkan ponselnya beberapa menit sebelum kembali bicara.
"Suamiku ingin mengenalmu, begitu juga Olga. Aku tahu kamu punya tanggung jawab dengan Lis hari ini, dan sekolah. Tapi bagaimana kalau kita atur jadwal makan siang di rumahku?" tanyanya ragu.
Aku langsung kehilangan kata-kata.
"Boleh saja diatur."
"Syukurlah kamu mau..." katanya sambil tersenyum.
Aku menunduk, berusaha menyembunyikan senyum kecil.
Ketika kami tiba di klinik, aku terkejut melihat Viktor di resepsionis. Seluruh tubuhku menegang.