Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Viral Semalam

Keesokan paginya, nama Ratri memenuhi seluruh Jakarta.

Potongan video saat ia membongkar laporan forensik palsu ditonton jutaan kali. TikTok dipenuhi gerakan tangannya ketika menunjuk tabel suhu. Di X, dua tagar berada di urutan teratas sejak dini hari.

#NyaiRatri

#BosRatri

Infotainment memutar ulang momen seorang petugas kepolisian tanpa sengaja memanggilnya Nyai. Akun gosip yang malam sebelumnya menyebutnya pembawa sial kini mengganti judul seolah mereka selalu berada di pihaknya.

RATRI KUSUMA, JANDA TANGGUH YANG DIFITNAH TIGA TAHUN.

PAKAR FORENSIK MUDA DI BALIK FIRMA HUKUM BESAR.

SUAMI PULANG, MUSUH TUMBANG.

Di ruang makan kediaman Adiningrat, Anin membaca komentar dengan mata membesar.

"Mbak, orang-orang mulai mencari kasus lama yang pernah Mbak bantu."

"Biarkan mereka bosan," jawab Ratri.

"Ada yang membuat video tentang bagaimana Mbak bertahan tiga tahun sendirian. Sudah delapan ratus ribu penonton."

Ratri mengambil teh tanpa melihat layar. "Kemarin mereka berharap saya dipenjara. Hari ini mereka membuat saya pahlawan. Besok mereka bisa kembali melempar batu."

Baskara duduk di seberangnya. Ia telah menonton seluruh video sejak subuh, bukan karena ingin melihat musuh-musuhnya dipermalukan, melainkan karena setiap potongan memperlihatkan bagian hidup Ratri yang tidak ia saksikan.

Ada rekaman lama saat Ratri keluar dari pengadilan sendirian di tengah wartawan.

Ada foto ketika ia membangun Sinar Sentosa dari kantor kecil.

Ada komentar mantan klien yang mengaku Ratri bekerja sambil demam dan tidak pernah meminta belas kasihan.

Tiga tahun ia menjaganya dari jauh. Ternyata jarak membuatnya hanya mengetahui kapan Ratri hampir mati, bukan berapa kali perempuan itu harus hidup sendirian.

"Jangan melihat saya seperti itu," kata Ratri.

"Seperti apa?"

"Seperti anjing yang kehilangan rumah."

"Kalau kau mengizinkan, aku bisa menemukannya lagi."

Anin buru-buru menunduk pada ponselnya. Ratri mengabaikan jawaban itu, tetapi telinganya sedikit memerah.

Wira masuk membawa tablet tanpa merek. "Mbak Rara menunggu di ruang kerja."

Ratri langsung berdiri.

Baskara memperhatikan perubahan kecil tersebut. Tidak banyak orang yang bisa datang pagi-pagi tanpa janji. Perempuan bernama Rara jelas bukan tamu biasa.

Mbak Rara mengenakan blus biru sederhana dan membawa tiga ponsel. Di layar tablet, ia menunjukkan peta penyebaran video, akun yang pertama mengunggah, jaringan iklan, serta gelombang komentar berbayar yang mulai muncul.

"Arus organik sudah memihak kita," katanya. "Kalau mau, saya bisa dorong profil Bos, riwayat perkara, dan testimoni klien. Dua jam cukup untuk membuat semua portal memakai narasi yang sama."

"Tidak," jawab Ratri.

"Kesempatannya besar."

"Itu sebabnya berbahaya. Jangan ciptakan pemujaan baru. Tekan fitnah yang memuat ancaman atau data pribadi. Simpan unggahan palsu untuk gugatan. Biarkan pujian organik lewat tanpa kita beli."

Rara mengangguk. "Bagaimana dengan akun yang menyebut ahli itu ditangkap atas perintah Bos?"

"Koreksi. Dia hanya diminta klarifikasi. Jangan biarkan orang mengganti fitnah lama dengan fitnah baru demi membela saya."

"Siap, Bos."

Rara bekerja dari sudut ruang selama satu jam. Beberapa unggahan yang membocorkan alamat staf diturunkan melalui laporan platform. Dua portal menerima somasi karena mencantumkan tuduhan sebagai fakta. Satu jaringan akun palsu dipetakan hingga ke agensi yang menerima pembayaran dari perantara Wiryawan.

Tidak ada akun yang memuji Ratri secara seragam. Justru ketidaksempurnaan arus itu membuatnya terlihat alami.

Menjelang siang, pihak Wiryawan mencoba mendorong tagar tandingan. Rara tidak menyerangnya secara terbuka. Ia hanya mengirimkan koreksi fakta kepada redaksi, menyiapkan hak jawab, dan mengingatkan dua pengiklan besar bahwa konten fitnah dapat menimbulkan risiko merek.

Tagar tandingan tenggelam sebelum sore.

Di Sinar Sentosa, telepon resepsionis tidak berhenti berdering. Ada keluarga korban yang ingin meminta pendapat forensik, stasiun televisi yang menawarkan wawancara eksklusif, dan perusahaan yang mendadak ingin bekerja sama. Mbak Lia menolak semua permintaan yang hanya mengejar sensasi. Perkara klien tetap mendapat jadwal seperti biasa.

Di kediaman Adiningrat, Suryani memilih sarapan di kamarnya agar tidak bertemu wartawan yang menunggu di luar gerbang. Bimo tidak berani meninggalkan bagian rumahnya. Setiap kali namanya muncul dalam video rapat pemegang saham, komentar tentang pemalsuan dokumen ikut memenuhi layar.

Anin menerima pesan dari teman-teman lama yang dahulu menjauhi Ratri. Mereka bertanya apakah benar kakaknya seorang pakar besar dan meminta dikenalkan. Anin menghapus semua pesan itu.

"Dulu mereka ikut menyebut Mbak pembunuh," katanya kepada Wira. "Sekarang ingin foto bersama."

"Orang lebih cepat mengganti pendapat daripada mengakui kesalahan," jawab Wira.

Baskara berdiri di balkon utama dan melihat para reporter di balik gerbang. Satu perintah darinya dapat membersihkan jalan, membeli jaringan berita, bahkan membuat seluruh pertanyaan tentang Nyai Ratri hilang. Namun, Ratri tidak menginginkan dunia yang memujinya karena diperintah.

Ia mengirim satu pesan kepada Panji.

Jaga perimeter. Jangan sentuh pemberitaan kecuali ada ancaman fisik.

Untuk pertama kalinya sejak pulang, ia belajar bahwa melindungi Ratri juga berarti menghormati cara perempuan itu melindungi dirinya sendiri.

Sekar menatap layar ponselnya dari kediaman Wiryawan. Setiap serangan berhenti seolah menabrak dinding yang tidak terlihat. Akun pendukung mereka kehilangan iklan. Reporter yang dijanjikan artikel utama tiba-tiba meminta bukti tambahan.

Ia akhirnya memahami bahwa Ratri bukan hanya memiliki seorang Kombes dan kantor hukum.

Perempuan itu memiliki tangan di dalam arus informasi.

Namun, Sekar belum mau berhenti.

Sore hari, sebuah video baru muncul dari akun pribadinya. Ia duduk di depan foto Larasati dan berbicara dengan suara bergetar.

"Semua orang kini memuji Ratri karena kepandaiannya," katanya. "Tetapi kepandaian tidak menghapus asal-usul dan dosa keluarga. Kalau dia benar-benar berani mencari kebenaran, sebaiknya mulai dari ibunya sendiri."

Wira memutar video itu di ruang kerja.

Sekar melanjutkan, "Perempuan yang disebutnya ibu terhormat bukan berasal dari keluarga terdidik seperti cerita yang dibangun Ratri. Ada alasan mengapa hidupnya berakhir dalam aib. Dalam waktu dekat, kami akan menghadirkan orang yang mengetahui siapa dia sebenarnya."

Ratri tidak bergerak.

Baskara yang berdiri di belakangnya melihat warna menghilang dari wajah istrinya.

"Matikan videonya," kata Baskara.

"Tidak."

"Kau tidak perlu mendengar sisanya."

"Saya perlu tahu seberapa jauh mereka berani berbohong."

Ratri memperbesar wajah Sekar dan menyimpan salinan video. Tangannya stabil, tetapi Baskara melihat ibu jarinya menekan sisi ponsel terlalu kuat.

"Aku bisa menghentikan mereka," katanya.

"Saya juga bisa."

"Aku tahu."

Jawaban tanpa keraguan itu membuat Ratri menoleh. Baskara tidak menawarkan penyelamatan karena menganggapnya lemah. Ia hanya berdiri di sana, siap menjadi lapisan terakhir jika semua pertahanannya runtuh.

Serangan terhadap dirinya bisa Ratri hitung. Serangan terhadap orang mati selalu menemukan tempat yang belum sempat ia lindungi.

Di layar, Sekar menatap kamera.

"Nyai Ratri boleh menakuti seluruh Jakarta. Kita lihat apakah dia berani menghadapi kebenaran tentang ibunya sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!