Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.
Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.
"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.
"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.
Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIPERMALUKAN
"Buat apa takut sama orang yang otaknya cuma seukuran biji kedelai, Nyonya? Kalau kita diam saja, mereka malah makin menjadi-jadi," jawab Aleta enteng, sengaja membiarkan suaranya terdengar cukup jelas oleh beberapa orang di sekitar meja.
Wanita bergaun biru tua itu sontak menutup mulutnya dengan kipas, menahan tawa geli mendengar kejujuran yang kelewat blak-blakan dari istri sang jendral.
"Anda ini ada-ada saja, tapi, ngomong-ngomong, gaun yang Anda pakai benar-benar indah, potongannya sangat elegan," puji wanita itu tulus, mengamati detail gaun hijau zamrud yang melekat di tubuh Aleta.
Aleta tersenyum kecil, merapikan gaunnya dengan anggun.
"Oh, ini? Suamiku yang membelikannya kemarin, katanya tidak boleh pakai baju jelek kalau mau datang ke tempat perkumpulan badut," jawab Aleta santai, sukses membuat wanita di sebelahnya terbatuk-batuk kecil menahan tawa.
Sementara itu, Serra yang melihat Aleta tampak begitu akrab dan asyik mengobrol dengan para bangsawan lain semakin merasa panas dan kehilangan akal sehatnya.
"Dia benar-benar meremehkan ku..." gerutu Serra penuh dendam, lalu melirik tajam ke arah pelayan pribadinya.
"Cepat, laksanakan rencana kita sekarang juga! Jangan sampai gagal!" perintah Serra dengan suara berbisik penuh penekanan.
Pelayan itu menelan ludah kasar, lalu mengangguk cepat dan buru-buru bergegas menuju ke arah meja untuk mengambil nampan berisi cangkir teh khusus yang sudah dicampur dengan sesuatu.
Aleta yang memiliki insting yang tajam seketika melirik sekilas ke arah pelayan yang berjalan mencurigakan dengan nampan teh.
Sudut bibir Aleta terangkat membentuk senyuman miring penuh arti.
"Wah, rupanya gadis bodoh itu mau pakai cara kotor ya?" batin Aleta mengejek, pura-pura tidak tahu dan kembali menyesap tehnya dengan tenang.
Tak lama kemudian, pelayan pribadi Serra berjalan mendekat ke arah meja Aleta dengan langkah yang sedikit kaku, membawa nampan berisi cangkir porselen berisi teh hangat.
"Permisi, Marchiones Volis, ini ada teh spesial yang dikirim langsung oleh Nona Serra sebagai tanda permohonan maaf atas kejadian tegang tadi," ucap pelayan itu dengan suara gemetar, meletakkan cangkir tersebut tepat di hadapan Aleta.
Aleta menghentikan kunyahannya, melirik sekilas ke arah cangkir teh yang mengeluarkan uap tipis dengan aroma herba yang agak ganjil.
Wanita itu menyunggingkan senyum miring yang begitu sarkas, membuat pelayan di depannya semakin salah tingkah.
"Wah, baik sekali ya tuan putri kesayangan kalian itu, tiba-tiba jadi dermawan memberikan ku teh khusus," sindir Aleta santai, menatap cangkir itu lekat-lekat.
"Bilang sama majikanmu, kalau mau meracuni orang, minimal pakai racun yang rasanya enak, jangan yang baunya mirip air comberan gini," bisik Aleta di telinga pelayan Serra itu.
Deg
Seketika wajah pelayan itu berubah pucat pasi, matanya melotot kaget mendengar tebakan Aleta yang begitu telak.
"T-tidak, Nyonya! Anda salah paham! Itu benar-benar teh pilihan..." cicit pelayan itu panik, nyaris menjatuhkan nampan di tangannya.
Aleta mendengus pelan, lalu mendorong piring kecilnya menjauh dengan malas.
"Sudah sana bawa pergi air comberan ini sebelum aku panggil prajurit untuk menyuruh majikanmu minum teh ini sampai habis," ancam Aleta dengan tatapan tajam yang langsung membuat sang pelayan lari terbirit-birit kembali ke arah Serra.
Serra yang melihat rencananya kembali gagal mengepalkan kedua tangannya hingga bergetar hebat.
"Sialan! Kenapa perempuan itu bisa tahu?!" maki Serra tertahan, giginya bergemeletuk menahan geram.
Teman nya di sebelah Serra ikut menatap ngeri ke arah Aleta.
"Nona Serra, sepertinya wanita itu tidak semudah yang kita bayangkan, dia jauh lebih licik dari perkiraan kita," bisik temannya cemas.
Serra mendengus kasar, wajah cantiknya dipenuhi amarah yang membara.
"Aku tidak peduli! Kalau cara halus tidak mempan, kita lihat saja bagaimana dia bisa lolos dari jebakan berikutnya!" gerutu Serra penuh kebencian, matanya terus mengawasi setiap gerak-gerik Aleta dari kejauhan.
Setelah sukses membuat Serra menahan malu, di hadapan para tamu, Aleta sama sekali tidak berniat berlama-lama di tempat yang dipenuhi hawa toxic tersebut.
Aleta melangkah pelan meninggalkan meja utama dengan dagu terangkat tinggi, membiarkan para bangsawan lain terpaku menyaksikan aura agung nya.
"Wah, nyonya baru keluarga Volis itu benar-benar di luar biasa," bisik salah seorang bangsawan muda kepada temannya dengan mata terbelalak kagum.
"Iya, berani sekali dia mempermalukan Lady Serra terang-terangan di kediaman nya sendiri, padahal biasanya tidak ada yang berani melawan keluarga Duke Daniel," sahut yang lainnya pelan, takut terdengar.
Serra yang mendengar bisikan-bisikan itu dari kejauhan semakin meradang, wajah cantiknya berkedut menahan amarah yang siap meledak kapan saja.
"Kalian semua diam! Mau jadi penonton bodoh terus, hah?!" bentak Serra pada para pelayannya yang berdiri ketakutan di belakangnya.
Mendengar teriakan tidak beretika itu, beberapa nyonya bangsawan senior langsung mengerutkan kening tidak suka, merasa risih dengan sikap kekanak-kanakan putri Duke Daniel tersebut.
Aleta yang masih mendengarnya sempat menoleh sejenak, lalu melirik Serra dari ekor matanya dengan senyuman meremehkan.
"Makanya, punya muka jangan cuma ditebelin pakai bedak murah, tapi otaknya juga diasah biar nggak gampang ngamuk kayak anak kecil," sindir Aleta cukup keras sebelum benar-benar memutar langkah keluar dari area paviliun.
Beberapa tamu di dekat pintu masuk terpaksa menutup mulut nya, mereka mati-matian menahan tawa, sementara Serra memandang punggung Aleta yang menjauh dengan tatapan penuh kebencian.
"Sialan... sialan! Awas saja kau, Aleta! Aku pastikan hidupmu tidak akan tenang setelah ini!" jerit Serra histeris di dalam hatinya, meremas kipas lipat di tangannya hingga patah berkeping-keping.
Tanpa mempedulikan amukan wanita gila di belakang sana, Aleta berjalan santai menuju kereta kuda yang sudah menunggunya di depan gerbang utama kediaman Duke Daniel.
Sesampainya di dalam kereta, Aleta merebahkan punggungnya dengan nyaman, menyilangkan kaki sambil tersenyum puas.
"Pertunjukkan yang sangat, menarik, hari ini mendapatkan hiburan gratis yang sangat menyenangkan," gumam Aleta pelan sambil tertawa kecil, menikmati perjalanan pulangnya menuju Kediaman Volis dengan hati riang.
Kereta kuda yang ditumpangi Aleta akhirnya memasuki halaman Kediaman Volis dengan mulus, berhenti tepat di depan teras utama.
Aleta turun dengan anggun, lalu melangkah masuk ke dalam rumah sambil melepaskan sarung tangan tipisnya.
"Nyonya sudah pulang? Bagaimana acaranya tadi?" sambut kepala pelayan wanita dengan ramah, membungkuk hormat saat Aleta melewati ruang tamu.
"Acaranya lumayan seru, banyak badut jalanan yang menghibur tadi," jawab Aleta santai, lalu berjalan langsung menuju ruang keluarga.
Belum sempat Aleta duduk, pintu ruang kerja Liam terbuka perlahan, menampilkan sosok sang jendral yang melangkah keluar.
Liam menghentikan langkahnya begitu melihat istri nya sudah kembali dari pesta teh yang dikhawatirkannya sejak tadi pagi.