Indonesia
NovelToon NovelToon
Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.

​Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.

~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 31 BISIKAN

****

Kereta Grand Duchess Iris von Ravengard melaju perlahan menyusuri jalan berbatu yang membelah hutan utara. Roda-roda besi menimbulkan dentingan nyaring ketika melindas akar-akar pohon tua yang mencuat dari tanah. Matahari musim panas menyinari pepohonan tinggi dengan sinar emas, namun keindahan itu tak cukup untuk menenangkan suasana tegang di dalam kereta utama.

Iris duduk bersandar, mengenakan gaun santai berwarna krem pucat, dengan renda-renda tipis yang menjuntai dari lengannya. Gaun musim panas itu tampak elegan meski sederhana—khas wanita dari tanah utara. Rambut peraknya dikepang ke samping, jatuh ke bahu kirinya, bergerak pelan setiap kali kereta terguncang.

Ia mendesah. Napasnya pendek dan tersengal. Perutnya yang hampir memasuki bulan keenam semakin membesar, dan setiap guncangan kecil dari jalanan terjal terasa seperti batu menghantam punggungnya.

Lisa, yang duduk di sampingnya, mencemaskan kondisi itu sejak satu jam lalu.

"Yang Mulia, izinkan kami berhenti sebentar," pinta Lisa lembut. Ia melirik ke luar, ke arah pengawal berkuda. "Jalanan ini terlalu buruk. Saya... saya takut ini membebani bayi Anda."

Iris hanya memejamkan mata sejenak, lalu membuka suara lirih, "Punggungku seperti dipukul palu oleh jalanan ini. Mungkin... ada benarnya permintaanmu."

Lisa segera menepuk pelan dinding kereta dari dalam. Tanda bagi pengawal.

Tak lama, Kapten Arven muncul dari jendela kecil di sisi kanan.

"Berhenti di tikungan depan. Cek radius pengamanan. Tempatkan penjaga di titik tinggi." Suara Arven tegas. Ia tahu benar siapa yang sedang ia lindungi dan siapa suami wanita itu.

Kereta melambat hingga berhenti di sebuah ladang kecil terbuka. Langit biru terbentang luas, dan semak liar berbunga kuning dan ungu menyebar seperti karpet musim panas.

Iris keluar dari kereta dengan bantuan Lisa. Ia menarik napas panjang, mencoba meredakan sesak yang menekan dadanya.

“Aku ingin berjalan sebentar,” katanya, pelan tapi pasti.

Lisa terkejut. “Yang Mulia, Anda....”

“Aku perlu udara segar. Hanya sedikit saja.”

Lisa hendak memprotes, tapi Kapten Arven lebih dulu berbicara dari belakang.

“Saya akan mengatur perimeter. Empat pengawal, satu pelacak, semua dalam jarak pandang. Jika sesuatu terjadi pada beliau... kepala saya akan ditancapkan di gerbang Ravengard sebelum malam tiba.”

Iris menoleh, tersenyum sinis. “Akhirnya kau sadar juga.”

Mereka tertawa kecil, tapi suasana tetap dingin dan waspada.

Iris melangkah perlahan ke tengah padang, berjalan menyusuri jalur sempit di antara bunga-bunga liar. Rambut peraknya berkilau terkena sinar matahari. Tangannya sesekali mengelus perutnya, dan matanya menatap jauh ke cakrawala.

Tiba-tiba, semilir angin membawa suara yang asing. Sebuah bisikan rendah nyaris seperti gumaman doa.

“Putri utara... yang bukan milik salju sejati.”

Iris berhenti. Alisnya mengernyit. Di antara bunga liar, berdiri seorang wanita tua berjubah hitam dengan kain kelabu menutupi sebagian wajahnya. Matanya sharp, terlalu tajam untuk usia keriputnya.

“Siapa kau?” tanya Iris, waspada.

“Aku... hanyalah penjaga waktu yang terlupakan,” sahut si nenek. “Dan kau, anakku, adalah tanda yang lahir dari luka dunia yang tak selesai.”

Iris mempersempit jarak. Arven yang memantau dari kejauhan mulai bergerak, tapi Iris mengangkat tangan, memberi isyarat untuk menahan.

“Apa maksudmu? Bicara jelas. Jangan bermain teka-teki.”

“Kau berjalan di dunia ini dengan nama yang bukan milikmu,” ucap si nenek. “Tapi dengan jiwa yang telah menjadikannya hakmu.”

Iris terdiam. Jantungnya berdebar. Ada nada kebenaran dalam kata-kata itu—sesuatu yang terlalu dekat dengan rahasia terdalamnya.

“Bagaimana kau tahu...?”

“Aku melihatmu... sejak kau melintasi perbatasan dalam tubuh yang bukan milikmu. Tapi darahmu... darahmu lebih kuat dari nama yang kau pakai.”

Iris menegang. Kepalanya mulai terasa berat, tapi ia tetap berdiri.

“Apa kau datang untuk mengancamku?”

“Tidak, anakku. Aku datang membawa peringatan. Tentang pasukan yang berbaris tanpa wajah. Tentang bayangan yang menelan sejarah.”

“Pasukan bayangan...” bisik Iris.

Nenek itu menatap tajam. “Mereka bukan legenda. Mereka adalah dosa kekaisaran. Mereka kembali, dan kali ini... mereka tidak datang sendiri.”

Iris menahan napas.

“Permaisuri istana,” lanjut sang nenek, “telah membuka gerbang yang seharusnya tetap tertutup. Ia bersekongkol dengan bayangan, menukar kehancuran demi sebuah janji keabadian atas nama kekuasaan.”

Iris melangkah mendekat. “Kenapa aku? Apa hubungannya denganku dan anak ini?”

Nenek itu mendekat. Wajahnya kini terlihat jelas. Mata tuanya dipenuhi air mata.

“Karena hanya satu hal yang mampu menghancurkan bayangan. Cahaya... yang lahir dari jiwa yang murni. Dan anakmu, Grand Duchess, adalah cahaya yang mereka takuti.”

“Permaisuri kehilangan anaknya beberapa minggu lalu,” ujar Iris pelan, mengingat kabar yang baru ia terima. “Keguguran yang mencurigakan...”

“Kematian bayinya adalah awal dari pengorbanan. Ia ingin menukar jiwanya sendiri demi kekuatan. Tapi bayangan menuntut lebih... dan kini mereka mengincar darahmu.”

Angin berhenti. Seluruh ladang terasa membeku.

“Waspadalah di istana, anakku. Di sana, kebenaran menyamar sebagai keramahan, dan tikaman datang bersama anggur termanis.”

Iris membuka mulut untuk bertanya, namun saat ia berkedip wanita itu telah menghilang. Hanya bunga liar yang bergoyang seperti baru saja dilalui angin.

“Yang Mulia!” suara Lisa menggema. Ia berlari ke arah Iris, disusul Arven.

Lisa menepuk pelan bahu Iris. “Maafkan saya, tapi Anda tak merespons sejak tadi. Saya pikir... sesuatu terjadi.”

Iris mengnoduk perlahan, seolah baru sadar dari mimpi panjang.

“Aku hanya... berpikir,” ujarnya datar.

Arven melirik sekeliling. “Kami tak melihat siapa-siapa. Apakah seseorang mendekati Anda?”

Iris diam sejenak, lalu menggeleng. “Hanya bayangan. Tapi cukup memberi jawaban yang tak pernah kutanya.”

Lisa dan Arven saling pandang, bingung. Tapi tak ada waktu untuk menggali lebih jauh.

“Kita lanjutkan perjalanan,” perintah Iris. “Istana menunggu.”

Mereka kembali ke kereta, dan perjalanan dilanjutkan. Tapi Iris tak lagi memejamkan mata sepanjang sisa jalan. Di kepalanya, kata-kata sang nenek menggema berulang.

“Kau bukan Iris... tapi tetap Iris.”

“Bayangan menuntut lebih... dan mereka mengincar darahmu.”

“Waspadalah, di balik senyum istana ada kematian yang sedang menanti.”

Dan dalam rahimnya, anaknya bergerak pelan seperti memahami bahwa ibunya kini memikul lebih dari sekadar warisan tanah utara.

Ia membawa masa depan Valeria.

Dan semua yang jahat... tahu itu.

Gerbang utama Istana Kekaisaran Valeria terbuka perlahan saat iring-iringan dari utara tiba. Matahari sore memantulkan cahaya keemasan pada pilar-pilar marmer tinggi berhiaskan ukiran naga kembar bersayap—lambang kekaisaran yang agung tapi dingin.

Di tengah tangga istana, berdiri sosok anggun berbalut gaun hijau zamrud yang berkilau seperti daun basah musim panas. Permaisuri istana. Rambut emasnya disanggul rapi, diikat dengan benang emas. Senyum yang menggantung di wajahnya begitu sempurna, terlalu sempurna.

“Selamat datang kembali ke jantung Valeria, Grand Duchess Iris von Ravengard,” sapa Permaisuri dengan nada lembut seperti embun pagi.

Kereta berhenti, pintu terbuka, dan Iris melangkah turun dengan hati-hati. Gaun biru pucatnya bergoyang lembut ditiup angin. Ia menatap Permaisuri dengan senyum tipis yang sopan, namun matanya dingin. Terlalu banyak hal bermain di benaknya untuk bisa menikmati formalitas kosong ini.

“Yang Mulia Permaisuri,” sapa Iris, memberi salam hormat sesuai adat.

“Ah, sudah lama tak kulihat warna utara bersinar di halaman ini,” komentar Permaisuri sembari menatap rambut perak Iris yang dikepang ke samping.

“Kami tak pernah pergi terlalu jauh, hanya... mengamati dari balik benteng,” jawab Iris datar.

Permaisuri terkekeh kecil. “Kau masih pandai bermain kata.”

“Saya hanya mengatakan yang benar.”

Ada jeda hening. Lalu, dengan kelembutan penuh kontrol, Permaisuri mengulurkan tangan dan menggandeng lengan Iris.

“Marilah, izinkan aku sendiri yang mengantar ke tempat tinggalmu. Aku yakin... paviliun Timur masih seperti yang kalian tinggalkan.”

Lisa dan Kapten Arven saling bertukar pandang sebelum berjalan mengikuti dari belakang.

Sepanjang koridor istana yang tinggi dan lapang, langkah mereka bergema bersama. Dinding dihiasi lukisan penguasa masa lalu, langit-langit menjulang dihias emas dan mural mitologis. Tapi bagi Iris, semua itu terasa dingin. Kosong.

“Apakah perjalananmu melelahkan?” tanya Permaisuri tanpa menoleh.

“Terjal dan penuh lubang. Tapi bukankah itulah jalan menuju kekuasaan?”

Permaisuri tersenyum kecil. “Dan terkadang... menuju kehancuran juga.”

Iris menahan napas. “Perjalanan macam apa yang sedang Anda rancang, Yang Mulia?”

“Aku? Oh, hanya menyambut musim dengan baik. Musim panas ini... akan membawa banyak kejutan.”

Langkah mereka berhenti di depan sebuah pintu besar. Paviliun Timur—kediaman tamu kehormatan.

“Tempat yang... penuh kenangan,” bisik Permaisuri.

“Dan luka,” jawab Iris.

Pelayan membukakan pintu, dan ruangan dalam terlihat sunyi tapi terawat. Aroma lavender khas tanah utara masih tertinggal di udara.

Sebelum pergi, Permaisuri berbalik. Matanya memandang perut Iris yang sudah besar.

“Besok, semua nyonya dari bangsa-bangsa Valeria akan datang untuk jamuan siang. Taman utama telah kami siapkan. Aku harap kau... cukup sehat untuk hadir.”

“Tentu,” jawab Iris dengan dingin. “Saya tak akan melewatkan pertunjukan besar.”

Permaisuri mendekat, terlalu dekat. Jemarinya yang dingin menyentuh perut Iris dengan pelan.

“Anak ini... terasa sangat hidup,” katanya dengan senyum mengerikan.

Iris kaku. Wajahnya tetap tenang, tapi di balik kulitnya, segala sesuatu terasa mual.

“Semoga... ia kuat,” lanjut Permaisuri dengan suara selembut kabut. “Karena dunia ini... tidak baik bagi yang lemah.”

Setelah itu, Permaisuri pergi. Langkahnya perlahan tapi pasti, meninggalkan jejak ketidaknyamanan di udara.

Begitu pintu tertutup, Iris mencengkeram sisi meja terdekat.

Lisa langsung panik. “Yang Mulia?”

“Aku... butuh udara.” Suaranya tercekat.

Ia berjalan ke balkon, tapi belum sempat membuka jendela, tubuhnya menegang. Gelombang mual menyerangnya tanpa ampun. Ia menekuk tubuh, dan muntah di pot bunga di pojok ruangan. Makanan ringan, minuman manis... semuanya keluar dalam semburan getir.

Lisa bergegas menghampiri, membawa air dan kain basah.

“Tarik napas... pelan. Ya, seperti itu,” ucap Lisa, panik tapi tetap tangkas.

Iris duduk di kursi rotan, tubuhnya gemetar. Bukan karena sakit, tapi karena sesuatu yang lebih dalam.

“Apa ini... reaksi tubuh?” bisiknya. “Atau reaksi jiwa... yang disentuh racun?”

Lisa menggenggam tangannya erat. “Permaisuri... dia tampak terlalu ramah. Terlalu... palsu.”

Iris mengnoduk pelan. “Setiap senyuman di sini punya bayangan panjang. Dan tadi... aku bisa mencium baunya.”

Ia menatap jauh ke luar jendela. Matahari mulai tenggelam. Tapi di dalam dirinya, ada badai yang belum reda.

“Besok... kita akan menghadiri jamuan para nyonya,” ujarnya dengan suara rendah namun mantap.

Lisa menatapnya ragu. “Dan jika itu jebakan, Yang Mulia?”

Iris menoleh dengan pandangan membara.

“Maka biarkan mereka tahu... bahwa ibu dari anak ini tak akan pernah datang sebagai korban.”

****

Bersambung

1
Delta
lanjuuut thor👍👍👍
Delta
👍👍👍👍up yg byk thoor😄😍
Heresnanaa_: stay tune beb 😚🫶
total 1 replies
Delta
👍👍👍👍
Delta
maantaap thor👍
kiu kiu
suka bangdt ma cerita fantSi
Heresnanaa_: maaciw kak, happy reading yaa 🫶😍
total 1 replies
Dewi Anggraeni
Up lagi thor 👍 semangat
Dewi Anggraeni
lanjutttt dong thor 👍jangan lama" 🙏
Yue Li MZy
Cerita sebagus dan sekeren ini jarang didapatkan,tapi sekali didapatkan langsung haitus kadang gak dilanjutkan ditengah ².semoga KA uthor melanjutkan cerita nya sampai ending
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune terus yaaaa😚😚🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!