Aku Assasin Terkuat yang tak terkalahkan, bahkan setelah menjadi seorang kakek tua, tidak ada yang bisa membunuh ku.
"Hidup ku bosan. aku harap... aku bisa bertemu dengan musuh yang lebih kuat dari ku..."
Tenyata keinginan ku Terkabul!
Setelah aku mati oleh serangan jantung, Aku di hidup kan kembali di dunia Murim... di dunia yang banyak sekali Petarung yang sangat kuat.
ini perjalanan ku sebagai Assasin Terkuat di dunia modern, sekarang hidup di dunia murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bonggiw01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab3
Tanpa banyak penjelasan, semua anak digiring keluar melewati lorong batu yang lembap, hingga tiba di sebuah tempat terbuka yang diterangi cahaya pucat dari lubang besar di atas.
Mereka semua berada di depan sebuah tebing curam, licin, dan menjulang tinggi.
Permukaannya basah, bebatuannya tajam.
Seorang pengawas berdiri di depan tebing. “Yang harus kalian lakukan sekarang adalah, Panjat tebing ini! Di atas sana ada banyak sekali makanan. Siapa yang berhasil naik, boleh makan sepuasnya. Yang gagal…” ia berhenti sejenak, bibirnya menyeringai, “…tidak akan mendapat makanan hari ini.... Dan tentu saja, yang datang terlambat juga akan kehabisan makanan. Jadi kalian harus secepatnya memanjat tebing ini!"
“Sial! Aku harus naik lebih dulu! Aku ingin makan! Aku akan menghabiskan semua nya sebelum peserta lain naik!” teriak anak nomor 781.
WUUSSH!
Tanpa menunggu aba-aba, ia berlari menuju tebing dan mulai memanjat.
"Aku juga ingin naik lebih dulu!"
Puluhan anak lain segera menyusul.
Namun...
BUAK! BUAK! BUAK!
Dari celah-celah batu, batang besi panjang menyembul keluar, menghantam keras tubuh anak-anak yang memanjat.
BRAAAK! BRAAAK! BRAAAK!
Tubuh mereka terpelanting, menghantam tanah keras.
"AGGGRRRHHHH!!!" Teriakan kesakitan menggema.
Pengawas itu terkekeh. “Seperti yang kalian lihat, ini bukan sekadar memanjat. Tapi Kalian juga harus menghindari tongkat-tongkat pemukul ini agar bisa naik ke atas. Jadi… ayo mulai sekarang!”
WUUSSH!
Seribu anak serentak menyerbu tebing licin itu.
BUAK! BRUG! BRAK!
Jeritan, benturan, dan denting logam terus terdengar.
Sebagian terpeleset karena pijakan licin, sebagian lagi terhantam tongkat dan terlempar ke bawah.
Ryan berdiri memandangi tebing itu. 'Memanjat tebing ini sendiri tidak sulit, yang sulit adalah memilih pijakan yang tepat, lalu mengalirkan Energi Qi ke kaki dan tangan agar tidak tergelincir. Itu berarti, hal pertama yang harus kulakukan adalah melatih tubuh ini untuk bisa mengeluarkan Energi Qi'
Ia menjauh dari kerumunan, duduk bersila di tanah, matanya terpejam.
Perlahan, ia mulai menyalurkan energi Qi ke seluruh tubuh.
'Luar biasa! Tubuh bocah ini memiliki potensi yang sangat besar! Nomor 2000 bukan karena dia lemah, tapi karena dia anak bodoh yang tidak menyadari kekuatannya sendiri! aku merasa bisa memanfaatkan tubuh nya ini!'
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
Hanya dalam hitungan detik, ia sudah mampu mengendalikan energi Qi di tangan dan kakinya.
Ryan membuka mata. 'Baiklah… saatnya aku memanjat tebing itu'
WUSSSHH!
Tubuhnya melesat, memanfaatkan setiap pijakan seolah ia sudah menghafalnya.
BUK! BUK! BUK!
Tongkat-tongkat besi menghantam kosong, hanya menyentuh udara.
Ia melompat, memutar tubuh, lalu mendarat mulus di puncak dan berdiri santai seolah bukan apa-apa.
Bella yang sudah naik lebih awal menatap nya. 'Gerakan itu jelas bukan milik seorang amatir. Dia seorang yang sangat terlatih. Siapa sebenarnya anak ini?" pikirnya.
Tanpa peduli tatapan itu, Ryan berjalan santai menuju tumpukan makanan dan mulai makan perlahan.
Bella mengikutinya, mengambil roti keras dan menggigitnya tanpa bicara.
Sejam kemudian, barulah anak-anak lain mulai bermunculan di puncak.
Sebagian langsung menyerbu makanan, makan dengan rakus, seolah itu bisa menutup rasa sakit dan lapar yang mendera.
------------
Hari demi hari terlewati…
Pelatihan yang mereka jalani bukan lagi sekadar ujian fisik, ini adalah penyiksaan yang dibungkus kata latihan.
Mereka dipaksa menyelam selama berjam-jam di air keruh tanpa alat bantu, paru-paru seperti terbakar, kepala berdenyut, dan napas seakan direnggut paksa.
Hari berikutnya, mereka harus menggendong batu sebesar tubuh mereka naik ke puncak gunung berbatu, kaki tergores, bahu memar, otot-otot gemetar menahan beban.
Di hari lain, mereka dilempar ke lembah yang penuh ular berbisa, harus menyeberang tanpa terkena gigitan.
Lalu berjalan di sisi tebing licin yang setiap langkahnya bisa berakhir di jurang maut.
Setiap latihan berpotensi membunuh.
Setiap hari, bau darah, peluh, dan rasa takut menjadi bagian dari hidup mereka.
Setahun berlalu.
Dari seribu anak, hanya setengah yang bertahan.
Ada yang tubuhnya mengambang di sungai saat latihan menyelam.
Ada yang membeku di lereng gunung.
Ada yang tak pernah keluar dari lembah ular.
Namun para pengawas tak peduli.
“Yang lemah mati, yang kuat bertahan,” begitu kata mereka.
Tahun demi tahun, latihan semakin kejam.
Kini, setiap tugas punya batas waktu.
Siapa yang gagal akan langsung di singkirkan dengan cara tidak di berikan makan.
-------------
Lima tahun kemudian…
Dari 2000 anak, kini hanya tersisa 70 orang.
Ryan berdiri di tepi lapangan pelatihan.
Tubuhnya telah berubah total, otot-ototnya padat, postur tegap, setiap gerakan memancarkan kendali penuh atas kekuatan.
Dulu ia hanyalah bocah kurus bernomor 2000, tapi Kini, setiap anak yang tersisa mengenal namanya.
'Lima tahun ini cukup untuk membentuk tubuh anak ini mencapai puncaknya. Jika aku mau, aku bisa melenyapkan semua orang yang ada di sini sekarang juga.'
Namun tatapannya tenang.
'Sayangnya, setelah melewati semua ini bersama, aku mulai menganggap mereka teman. aku tidak ingin hidup seperti kehidupan ku sebelum nya yang membunuh hanya karena perintah'
Mereka memang bukan sahabat, tapi hubungan yang terjalin di neraka ini lebih kuat daripada sekadar pertemanan biasa, mereka adalah sesama pejuang yang bertahan untuk hidup.
----------------
Di ruangan pribadi komandan Risman. Arga berdiri tegak, membawa setumpuk berkas.
“Komandan, seluruh pelatihan telah selesai. Yang bertahan hidup selama lima tahun hanya 70 orang.”
Risman mengangkat alis. “Cukup banyak yang selamat. Mungkin yang terbanyak dalam seratus tahun terakhir.” Bibirnya menyunggingkan senyum puas. “Mereka akan menjadi generasi emas Kultus Iblis.”
Arga mengangguk. “Benar, Tuan. Ini jauh melampaui harapan awal kita.”
“Siapa saja yang paling menonjol di antara mereka?” tanya Risman.
Arga membuka berkas. “Nomor 1, Leo, tetap menjadi yang terkuat seperti prediksi Anda. Lalu ada Nomor 2, Bella. Nomor 5, Vincen. Nomor 10, Karl. Nomor 15, Barnett… dan Nomor 2000, Ryan.”
Risman berhenti mendengar angka itu. “Nomor 2000? Bocah sampah itu ternyata masih bertahan sampai sekarang?”
“Dia bukan hanya bertahan, Tuan,” jawab Arga. “Ryan selalu berada di puncak setiap latihan. Dalam beberapa ujian, bahkan melampaui Leo. Saya yakin, dia adalah seorang jenius.”
Risman menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Menarik… tapi kita tidak bisa mengandalkan penilaian saja. Kita butuh bukti di arena.”
Matanya menyala tajam. “Kita akan mengadakan pertarungan untuk menentukan pemimpin generasi. Satu lawan satu. Siapa yang paling kuat yang dapat menundukkan yang lain nya, dialah pemimpinnya.”
Arga tersenyum tipis. “Pemilihan pemimpin akan dimulai besok, Tuan.”
-------------
Esok pagi nya, di lapangan pelatihan di dalam Goa.
Sisa-sisa 70 anak yang bertahan dari neraka pelatihan Kultus Iblis berdiri membentuk barisan, wajah mereka keras, mata mereka tajam seperti binatang liar yang sudah terlalu sering melihat kematian.
Di tengah lapangan, sebuah batu besar berdiri sebagai podium alami.
Di atasnya, komandan Risman berdiri tegak dengan aura berwibawa. Tatapannya menyapu seluruh peserta.
“Selamat!” suaranya menggema keras. “Kalian telah bertahan dari pelatihan Kultus Iblis! Mulai hari ini kalian semua diakui sebagai prajurit resmi Kultus Iblis!”
Tak ada yang bersorak. Hanya anggukan kecil, tegas, dan penuh keyakinan.
Lima tahun penyiksaan telah mengikis segala bentuk kelemahan, meninggalkan mereka sebagai mesin hidup yang setia pada satu hal, ideologi Kultus Iblis.
Namun Risman tidak berhenti. “Jangan berpikir kalian bisa bersantai setelah lulus! Dunia di luar jauh lebih berbahaya dari semua pelatihan yang pernah kalian lewati!”
Beberapa anak menegakkan punggung, yang lain mengepalkan tinju.
“Tugas kita adalah menghancurkan Aliansi Beladiri! Mereka adalah musuh utama! Begitu kalian keluar dari sini, kalian akan menyusup ke markas mereka, menggali informasi, dan melaksanakan misi pembunuhan terhadap orang-orang yang berpotensi membahayakan kita!”
Suara Risman membawa hawa dingin yang merayap di kulit.
“Mulai sekarang, kalian adalah satu generasi. Rekan seperjuangan. Kalian akan bertarung bersama, berdarah bersama dan mungkin mati bersama.”
Para anak saling bertatapan. Beberapa menatap dengan rasa hormat, sebagian lain dengan kewaspadaan.
Risman melanjutkan, “Karena kalian adalah rekan, maka harus ada pemimpin di antara kalian. Pemimpin kalian akan memegang kekuasaan mutlak. Membantahnya berarti berkhianat. Dan kalian tahu hukuman bagi pengkhianat…”
Senyumnya tipis, namun penuh ancaman.
“Baiklah... Siapa yang ingin menjadi pemimpin, maju. Kita akan menentukan lewat pertarungan satu lawan satu.”