Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Jam dinding di ruang audisi sudah menunjukkan pukul lima sore.
Matahari mulai memancarkan cahaya jingga dari balik kaca jendela gedung Zeros Records.
Clara menguap lebar sambil meregangkan kedua tangannya ke atas.
"Ini sudah peserta keseratus, dan semuanya mengecewakan," keluh Clara dengan suara lemas.
"Mereka hanya tahu cara bergaya dengan gitar tapi tidak punya jiwa musik sama sekali."
Stevan duduk bersandar sambil memutar-mutar ponsel di tangannya.
"Peserta terakhir untuk hari ini, silakan masuk!" panggil Clara melalui pengeras suara.
Pintu ruang audisi didorong terbuka dengan sedikit kasar dari luar.
Krieeet...
Seorang wanita muda berpenampilan tomboi melangkah masuk dengan langkah gontai.
Wanita itu mengenakan jaket kulit hitam yang penuh coretan, celana jeans sobek, dan sepatu bot tebal.
Rambut sebahunya dicat merah menyala dan dibiarkan berantakan.
Ia membawa sebuah kotak gitar listrik berwarna hitam pekat di punggungnya.
"Halo, namaku Mika," ucap wanita itu dengan nada suara yang terdengar sangat malas dan sinis.
Clara tersenyum canggung melihat aura garang dari peserta terakhir ini.
"Silakan tunjukkan kemampuanmu bermain gitar, Mika," ucap Clara ramah.
Mika menurunkan kotak gitarnya dan membukanya perlahan.
Ia mengeluarkan sebuah gitar listrik model lawas yang sudah banyak tergores di bagian bodinya.
Namun, sebelum menancapkan kabel ke amplifier, Mika menatap lurus ke arah Stevan dan Clara.
"Aku akan jujur saja pada kalian agar tidak membuang waktu," ucap Mika dengan wajah datar.
"Aku baru saja ditendang dari band lamaku minggu lalu."
Clara mengerutkan keningnya karena terkejut mendengar kejujuran yang terlalu blak-blakan itu.
"Kenapa kau dikeluarkan dari bandmu?" tanya Clara penasaran.
Mika mengangkat lengan kirinya dan memutar pergelangannya dengan gerakan yang terlihat sedikit kaku.
"Otot ligamen di lengan kiriku robek saat aku kecelakaan motor bulan lalu."
"Dokter bilang aku sudah sembuh, tapi saraf jariku tidak akan pernah bisa memetik senar dengan cepat lagi."
Mika tersenyum sangat miris dan tertawa pahit menertawakan dirinya sendiri.
"Di industri ini, gitaris rock yang tidak bisa bermain solo cepat sama saja dengan sampah yang tidak berguna."
Stevan menatap lengan kiri wanita itu dengan pandangan yang sangat fokus.
Ia tidak mengusir Mika, melainkan mengetik sebuah pesan dan menunjukkannya.
"Mainkan apa yang kau bisa sekarang," bunyi tulisan di layar ponsel Stevan.
Mika sedikit terkejut karena biasanya label lain akan langsung mengusirnya setelah mendengar kata cedera.
Ia mengangguk pelan, menancapkan kabel gitarnya, dan mengatur suara distorsi di amplifier.
Jreng...
Petikan pertama mengalun sangat berat dan kotor, khas musik rock bawah tanah.
Mika menutup matanya dan mulai memainkan sebuah melodi lambat yang sangat emosional.
Nada yang keluar dari gitarnya terasa seperti jeritan rasa sakit dan keputusasaan yang tertahan.
Teknik tarikan senarnya terdengar sangat melengking, presisi, dan sempurna secara nada.
Namun, saat lagu memasuki bagian pertengahan, Mika mencoba menaikkan temponya.
Jari-jari tangan kirinya mulai bergerak liar di atas leher gitar untuk melakukan teknik nada beruntun.
Tiba-tiba, wajah Mika berkerut menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Akh!" rintih Mika pelan sambil menggigit bibir bawahnya.
Jari telunjuk dan jari tengahnya kram seketika, membuat nada yang ia tekan menjadi meleset jauh.
Tet... tet... ngiiing!
Suara sumbang yang sangat bising keluar dari amplifier, merusak seluruh keindahan lagu tersebut.
Mika langsung mencabut kabel gitarnya dengan kasar dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Sudah kubilang, aku ini produk cacat," ucap Mika dengan suara bergetar menahan tangis.
"Maaf sudah membuang waktu kalian yang berharga sore ini."
Mika berbalik badan bersiap untuk memasukkan kembali gitarnya ke dalam kotak.
[TING!]
[Pemindaian Fisik dan Potensi selesai.]
[Nama: Mika]
[Bakat Khusus: Penguasaan Emosi Nada Tingkat Ahli, Ketepatan Nada Lambat Sempurna.]
[Kondisi Khusus: Kerusakan minor pada jaringan saraf dan ligamen lengan kiri.]
[Rekomendasi Sistem: Analisis anatomi menunjukkan cedera ini dapat diatasi dengan modifikasi gaya bermain secara ekstrem.]
Stevan segera berdiri dari kursinya dengan cepat.
Ia berjalan menghampiri Mika dan menahan tangan wanita itu saat hendak menutup kotak gitarnya.
Mika menoleh dengan tatapan bingung bercampur marah.
"Apa lagi? Kau mau mengejekku secara langsung?" tanya Mika sinis dan ketus.
Stevan menggelengkan kepalanya pelan, lalu merogoh ponselnya dan mengetik dengan sangat cepat.
Ia menyodorkan layarnya tepat di depan wajah Mika.
"Tangan kirimu memang rusak untuk bermain dengan gaya konvensional."
"Tapi tidak ada aturan yang mengatakan kau harus menekan senar menggunakan jarimu secara langsung."
Mika membaca pesan itu dengan dahi berkerut tajam tidak mengerti.
"Apa maksudmu? Kalau tidak pakai jari, aku menekan senarnya pakai apa?!" tanya Mika sedikit kesal.
Stevan berbalik lalu berjalan ke tumpukan barang di sudut studio.
Ia mengambil sebuah pipa besi kecil bekas potongan penyangga mikrofon tua.
Pipa besi itu seukuran ibu jari dengan panjang sekitar sepuluh sentimeter dan permukaannya licin.
Stevan kembali ke hadapan Mika dan menyelipkan pipa besi itu ke jari manis tangan kiri Mika secara paksa.
"Gunakan ini," ketik Stevan di ponselnya menggunakan satu tangan.
"Teknik ini bernama gaya gesek tabung besi."
"Kau tidak perlu menekuk jari-jarimu yang sakit untuk menekan senar secara menyakitkan lagi."
"Kau hanya perlu menempelkan pipa besi ini di atas senar dan menggesernya perlahan."
"Biarkan seluruh luka dan amarahmu mengalir menjadi nada yang meliuk-liuk panjang."
Mata Mika terbelalak lebar melihat potongan besi di jarinya.
Teknik gesek tabung besi memang ada, tapi biasanya hanya digunakan untuk musik akustik pedesaan, sangat jarang dipakai penuh untuk musik rock modern.
"T-tapi bagaimana dengan melodi solo yang bertempo sangat cepat?" tanya Mika dengan suara yang tiba-tiba ragu.
"Siapa yang akan memainkannya jika aku hanya fokus pada gesekan melodi lambat untuk porsi pengiring?"
Stevan tersenyum sangat mengerikan dan mengintimidasi di balik masker medis hitamnya.
Ia menunjuk ke arah dirinya sendiri dengan ibu jari kanannya secara penuh kebanggaan.
Lalu ia mengetik pesan balasan yang membuat jantung Mika berdegup sangat kencang karena tidak percaya.
"Aku yang akan mengambil alih semua melodi cepat dan brutal di atas panggung menggunakan gitarku."
"Tugasmu hanyalah menyayat hati penonton dengan distorsi lambat yang tidak bisa kumainkan."
"Di Zeros Records, aku sama sekali tidak mencari kesempurnaan individu."
"Aku mencari monster-monster cacat yang jika digabungkan akan menciptakan harmoni seorang dewa."
Mika menatap mata tajam Stevan yang memancarkan ambisi luar biasa gila dan gelap.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah membasahi pipinya yang sedikit kotor.
Selama sebulan penuh, ia dihina, dicaci maki, dan dibuang oleh teman-teman bandnya sendiri karena cederanya.
Tapi pria bisu ini, hanya dalam waktu lima menit, telah memberinya sebuah nyawa dan harapan baru dalam bermusik.
"Kau... kau benar-benar pria yang gila, Tuan Zero," isak Mika sambil tertawa pelan.
Mika mengusap air matanya menggunakan ujung lengan jaket kulitnya dan menatap Stevan dengan pandangan penuh tekad.
"Aku terima tawaran gilamu ini."
"Aku akan membuktikan bahwa aku bisa menjadi gitaris pengiring paling mematikan yang pernah kalian miliki."
Clara yang sejak tadi menonton dari meja juri ikut tersenyum sangat lega dan bertepuk tangan pelan.
Kepingan terakhir dari formasi utama Zeros Records akhirnya telah ditemukan sore ini.
Leo sang jenius elektronik yang kesulitan bersosialisasi dan Mika sang gitaris emosional yang lengannya cedera.
Mereka berdua akan menjadi pondasi instrumen terkuat bersama Clara sang vokalis bersuara fenomenal.
Dan Stevan Alvaro berdiri di tengah-tengah mereka sebagai otak dan raja yang mengatur segalanya.
Empat orang buangan ini kini telah resmi berkumpul di bawah satu atap yang sama.
Stevan berjalan kembali ke mejanya dan mengetik sebuah pesan di grup obrolan internal mereka yang baru ia buat di ponsel.
Leo yang sedang duduk mengutak-atik kabel di sudut ruangan langsung membaca pesan itu dari ponsel usangnya.
Clara dan Mika juga ikut menatap layar ponsel mereka masing-masing.
"Mulai besok pagi, kita akan bekerja siang dan malam tanpa henti di gedung ini," bunyi pesan Stevan di grup tersebut.
"Kita akan memproduksi album perdana yang akan menghancurkan standar industri musik negara ini berkeping-keping."
Clara, Leo, dan Mika saling berpandangan satu sama lain dan menganggukkan kepala mereka dengan sangat mantap.
Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan akan kegagalan, yang ada hanyalah rasa lapar untuk membuktikan diri pada dunia yang kejam.
Kerajaan Zeros Records akhirnya siap untuk melancarkan serangan pertamanya secara terbuka sebagai sebuah tim utuh.
Industri musik korup di luar sana sama sekali belum siap menghadapi badai kreativitas yang akan segera datang menghantam mereka.