⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐
Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.
Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 2: Bagaikan barang belanjaan
Langkah kaki Shen Yue terasa sangat berat saat ia berjalan menyusuri lorong-lorong kayu yang menghubungkan kediaman dalam dengan Balai Utama.
Gaun sutra mewahnya yang berlapisan menjuntai hingga menyeret lantai, namun terasa bagaikan rantai besi yang mengikat tiap pergerakannya.
Di kiri dan kanannya, dua pelayan berjalan dengan jarak sangat dekat. Mereka siap memegangi atau menegurnya jika ia melangkah terlalu pelan atau menunjukkan gesture yang dinilai tidak pantas oleh Jiang Xiuwei.
Di ujung lorong, Balai Utama Kediaman Shen telah disulap menjadi tempat penjamuan yang megah. Lentera-lentera merah berukir emas tergantung rapi di sepanjang langit-langit, memancarkan cahaya hangat yang menerangi pilar-pilar kayu mahoni raksasa.
Bau harum dupa cendana membumbung tinggi, beradu dengan aroma hidangan-hidangan mewah yang tersaji di atas meja-meja rendah dari kayu jati.
Di meja utama sebelah kiri, duduk sang pemilik rumah, Jenderal Shen Longwei. Pria paruh baya itu mengenakan jubah kebesaran militer berwarna biru tua bersulam naga perak.
Wajahnya yang tegas dan dipenuhi bekas luka perang memancarkan aura wibawa seorang panglima perang tertinggi. Namun, ketika matanya melirik ke arah Jiang Xiuwei yang duduk tepat di sampingnya, binar dingin di matanya perlahan luluh.
"Apakah persiapan Yue-er sudah selesai?" tanya Jenderal Shen Longwei dengan suara berat berwibawa.
"Tentu saja, Suamiku," jawab Jiang Xiuwei dengan senyuman paling manis yang bisa ia ukir. Tangannya yang halus menepuk pelan lengan jubah Shen Longwei. "Aku sendiri yang memastikan bahwa putri sulungmu tampil dengan anggun dan sempurna malam ini. Bagaimanapun juga, kehadiran Yang Mulia Putra Mahkota adalah kehormatan luar biasa bagi keluarga kita."
Shen Longwei mengangguk puas. "Kau selalu bisa kuandalkan dalam mengurus rumah tangga, Xiuwei."
Ia sama sekali tidak menyadari betapa putrinya disiksa secara mental dan fisik di balik tembok kamar hanya demi penampakan "sempurna" yang dinikmatinya saat ini.
Tak lama kemudian, seorang pengawal istana berseru dengan suara melengking di ambang gerbang utama:
"Yang Mulia Putra Mahkota, Zhao Xiao, tiba di Kediaman Jenderal Shen!"
Seluruh penghuni balai utama, mulai dari para pengawal, pelayan, hingga Jenderal Shen Longwei dan Jiang Xiuwei sendiri, langsung berdiri dan membungkuk dalam-dalam. Shen Yue yang baru saja tiba di tepi ruangan pun ikut berlutut, dan menundukkan kepalanya hingga sejajar dengan lantai yang dingin.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah sepatu kulit berlaras tinggi terdengar mantap melangkah masuk. Ritme langkahnya tenang, tidak terburu-buru, namun membawa tekanan udara yang begitu berat hingga membuat para pelayan yang berlutut menahan napas.
Zhao Xiao masuk ke balai utama.
Pria itu mengenakan jubah hitam kelam bersulamkan benang emas yang membentuk motif naga berkepala lima, simbol kekuasaan absolut seorang calon penguasa kerajaan.
Wajahnya terpahat sempurna bagaikan patung batu pualam, dengan rahang tegas dan hidung mancung yang tajam.
Namun, keindahan parasnya itu tertutup oleh aura dingin yang begitu pekat. Matanya yang berwarna kelam seperti malam tanpa bintang menyapu seluruh ruangan tanpa minat sedikit pun.
Bagi Zhao Xiao, kunjungan ke Kediaman Jenderal Shen malam ini hanyalah sebuah tugas formalitas militer dan politik.
Kerajaan memerlukan kekuatan pasukan Shen Longwei di perbatasan utara, dan sang jenderal memerlukan dukungan politik istana untuk memperkuat posisinya.
Pernikahan antara dirinya dan putri jenderal ini tidak lebih dari sebuah stempel di atas gulungan perjanjian kekuasaan.
"Jenderal Shen, tidak perlu terlalu formal. Berdirilah," ujar Zhao Xiao. Suaranya rendah, dingin, dan tidak memiliki nada kehangatan sedikit pun.
"Terima kasih atas kebaikan Yang Mulia," Shen Longwei berdiri, dan diikuti oleh Jiang Xiuwei. "Mari silakan duduk. Kami telah menyiapkan hidangan terbaik dari wilayah selatan untuk menyambut Kedatangan Yang Mulia."
Zhao Xiao berjalan menuju meja kehormatan di posisi paling depan. Saat ia melangkah melewati Shen Yue yang masih berlutut tunduk di sisi ruangan, tatapan matanya sempat melirik sejenak pada sosok gadis yang gemetar itu.
Tidak ada rasa iba, tidak ada rasa tertarik. Bagi Zhao Xiao, gadis yang berlutut di sana hanyalah sebuah bidak pasif yang kebetulan disodorkan oleh keluarga Shen untuk melengkapi transaksi ini.
"Berdirilah dan duduk di tempatmu, Yue-er," perintah Jenderal Shen Longwei pada putrinya.
Shen Yue perlahan mengangkat tubuhnya. Wajahnya yang cantik berbalut riasan tebal kini terlihat jelas di bawah paparan cahaya lentera.
Ia kemudian melangkah ragu-ragu menuju meja kecil yang diletakkan agak di belakang posisi ayahnya. Saat melintas, matanya tak sengaja beradu dengan tatapan Zhao Xiao yang sedang menyesap tehnya.
Pandangan mata Zhao Xiao sangat tajam, seolah sanggup menembus sampai ke tulang rusuknya. Pria itu menatapnya tidak seperti menatap calon istri, melainkan bagai menatap sebuah barang belanjaan yang sedang dinilai harganya.
"Yang Mulia," Jiang Xiuwei membuka suara sambil tersenyum ramah, dan mencoba mencairkan suasana. "Putri kami, Shen Yue, selalu mengagumi pencapaian Yang Mulia di istana. Malam ini ia khusus mengenakan gaun ini untuk menyambut kehadiran Anda."
Zhao Xiao meletakkan cangkir porselennya kembali ke meja dengan dentakan halus. Ia bahkan tidak sudi mengalihkan pandangannya kembali pada Shen Yue.
"Aku datang ke sini untuk membahas pergerakan pasukan di perbatasan utara, Jenderal Shen, bukan untuk menilai gaun wanita," potong Zhao Xiao dingin, dan langsung menghentikan omongan Jiang Xiuwei.
Wajah Jiang Xiuwei sempat membeku sejenak sebelum ia memaksa tersenyum kembali dan menunduk pelan, sementara Jenderal Shen Longwei hanya berdeham untuk mengalihkan rasa canggungnya.
Shen Yue yang duduk di belakang hanya bisa meremas gaunnya erat-erat. Rasa malu, takut, dan kesedihan yang sudah lama menumpuk di dalam dadanya kini terasa makin mencekik.
Ia sadar betul, di rumah ini ia hanyalah alat bagi ibu tirinya, dan di luar sana, ia hanyalah transaksi bagi calon suaminya.
Tidak ada seorang pun di dunia ini yang peduli padanya.
Hingga...
Napas Shen Yue mulai terasa berat dan memburu. Dada ringkihnya naik turun dengan tidak teratur, sementara pandangan matanya perlahan-lahan mulai kabur dan membayang...
"Aku kenapa?"
Bersambung...