Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.
Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.
Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HABISNYA CINTA SUAMIKU
Malam makin melarut, menyisakan keheningan yang merayap di setiap sudut rumah mewah dua lantai itu. Di lantai atas, dua kamar utama berdiri saling berhadapan terpisahkan oleh koridor luas berlantai marmer yang dingin. Sejak enam tahun lalu mengikat janji suci atas nama wasiat almarhumah kakaknya, Alana dan Gema tidak pernah berbagi ranjang yang sama. Pernikahan tanpa cinta itu sejak awal sudah menyepakati batas dingin tersebut.
Di dalam kamarnya, Gema berdiri di dekat jendela kaca besar, menatap kosong ke arah kegelapan halaman belakang. Sesekali jarinya mengusap dagu yang mulai ditumbuhi bayangan brewok tipis. Pikiran pria itu berkecamuk. Sikap dingin Alana di meja makan tadi terus membayangi benaknya bagaikan duri yang tak kasat mata. Rasa tidak nyaman yang asing terus mengusik dadanya sebuah perasaan aneh saat menyadari bahwa wanita yang selama enam tahun ini selalu mengitari jalurnya, mendadak menarik diri tanpa suara.
Pria itu berbalik, melangkah keluar dari kamarnya. Langkah kakinya membawa tubuh tegap itu menyeberangi koridor, berhenti tepat di depan pintu kamar Alana.
Gema berdehem pelan sebelum memutar kenop pintu dan mendorongnya sedikit.
Di dalam kamar bernuansa krem yang hangat, Alana sedang duduk di depan meja rias. Dia mengenakan piyama katun longgar berwarna lembut dengan rambut panjang terikat rapi. Wajah polosnya tanpa riasan memancarkan kepucatan yang nyata di bawah pendar lampu temaram. Wanita itu sedang mengusapkan sedikit minyak aromaterapi ke leher dan ulu hatinya yang masih terasa agak ngilu.
Mendengar pintu kamarnya terbuka, Alana menatap pantulan Gema melalui cermin meja rias. Wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi berlebih, tidak ada lagi riak panik atau binar bahagia seperti biasanya saat Gema mendatangi kamarnya.
"Saya sudah minta Bi Sastro menyiapkan berkas kantor yang kamu bawa tadi," ucap Gema dengan intonasi datar yang biasa, berdiri kaku di dekat pintu.
"Iya, Mas. Bi Sastro sudah meletakkannya di meja kerja Mas di sebelah," sahut Alana singkat. Suaranya halus, sopan, namun benar-benar hampa dari kehangatan.
Gema melangkah masuk beberapa tindak, memperhatikan gerak-gerik istrinya. Keheningan di antara mereka terasa begitu tebal dan kaku. Biasanya, jika Gema mendatangi kamarnya malam-malam begini, Alana akan langsung berdiri penuh perhatian, menanyakan apakah Gema membutuhkan sesuatu, atau sekadar menawarkan teh chamomile hangat sebelum suaminya beristirahat.
Namun malam ini, Alana bersikap seolah Gema hanyalah tamu asing yang kebetulan lewat.
"Kamu beneran sakit, Alana?" tanya Gema tiba-tiba, suaranya sedikit merendah. Ada nada ingin tahu yang tersembunyi di balik ketegasannya.
Alana menghentikan jemarinya yang sedang mengusap leher. Dia membalikkan badan perlahan, mendongak menatap suaminya. Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi binar pengaguman atau kepatuhan buta di mata Alana. Hanya ada ketenangan yang dingin bagaikan es.
"Saya hanya lelah, Mas," jawab Alana pelan. "Tapi Mas tidak perlu khawatir. Tugas saya di rumah dan urusan Tania tidak akan terbengkalai."
Jawaban itu bukanlah jawaban dari seorang istri kepada suaminya, melainkan jawaban formal seorang pekerja kepada atasan. Gema merasakannya dengan sangat jelas, dan hal itu berhasil menyentil harga dirinya.
"Saya tidak meragukan caramu mengurus rumah dan Tania," ujar Gema dengan rahang sedikit mengetat. "Tapi sikapmu sejak saya pulang... kamu seolah menyalahkan saya atas sesuatu."
Alana mengulas senyum sangat tipis sebuah senyuman yang terasa begitu getir.
"Mana berani saya menyalahkan Mas Gema?" bisik Alana retoris. "Mas benar. Selama ini saya yang terlalu banyak menuntut perhatian yang memang bukan milik saya. Jadi mulai sekarang, saya hanya mencoba tahu diri."
Kalimat itu meluncur begitu mulus dari bibir Alana, tanpa nada amarah, tanpa air mata, dan tanpa kehebohan. Namun dampaknya jauh lebih mematikan daripada caci maki. Gema mematung di tempatnya. Kata "tahu diri" yang diucapkan Alana seolah menampar wajahnya keras-keras, mengingatkannya pada kata-kata tajam yang sering dia lemparkan pada wanita itu selama bertahun-tahun.
Sebelum Gema sempat merespons, pintu kamar yang terbuka sedikit kembali terdorong pelan dari luar.
"Bunda..." suara cempreng Tania terdengar menembus hening.
Bocah kecil itu melangkah masuk sambil memeluk boneka kelincinya. Tania mengenakan piyama merah muda dengan mata yang terkulit mengantuk. Dia mengabaikan sosok Ayahnya yang berdiri di dekat pintu dan langsung berlari kecil menuju ke arah Alana, menyusupkan tubuh mungilnya ke pangkuan sang Bunda.
"Tania mau tidur sama Bunda malam ini... boleh?" cicit Tania mengusap matanya.
Raut wajah Alana seketika berubah seratus delapan puluh derajat. Dingin di wajahnya menguap, digantikan oleh kehangatan dan kelembutan yang luar biasa. Alana merengkuh tubuh Tania, mengecup dahi putrinya berulang kali dengan rasa sayang yang membuncah.
"Boleh dong, Sayang. Ayo, Bunda antar ke kasur," tutur Alana lembut, membelai punggung Tania.
Gema memperhatikan interaksi itu dalam diam. Ada rasa nyeri aneh yang menyelinap di sudut hatinya saat melihat bagaimana Alana memberikan seluruh kehangatannya hanya untuk Tania, sementara untuk dirinya, Alana hanya menyisakan dinding pembatas yang tebal.
Alana menuntun Tania menuju ranjang ukuran king size di tengah ruangan. Tania langsung menaiki kasur dan menarik selimut hingga sebatas dada. Alana ikut naik, berbaring di sisi kasur dan memeluk anak itu erat-erat, memunggungi arah pintu tempat Gema berdiri.
Gema berdiri mematung di dekat ambang pintu beberapa saat. Pria itu menyadari bahwa kehadirannya di kamar itu benar-benar sudah tidak diharapkan lagi. Dulu, Alana yang selalu mengantarkannya sampai ke pintu kamarnya sendiri dengan senyuman. Malam ini, Alana bahkan tidak menoleh lagi saat Gema berbalik melangkah keluar.
Klek.
Suara pintu kamar Alana yang terkatup rapat dari luar menggema di koridor yang sepi.
Gema melangkah kembali ke kamarnya yang luas dan dingin. Pria itu melempar tubuhnya ke atas ranjangnya sendiri, menatap langit-langit kamar yang gelap. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, rasa sepi di kamarnya sendiri terasa begitu menyiksa.
Gema memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba membuang rasa gelisah yang terus menggerogoti dadanya. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanya fase sesaat. Alana hanya sedang merajuk, dan besok pagi wanita itu pasti akan kembali menjadi Alana yang dulu.
Namun di kamar sebelah, dalam keheningan malam yang sunyi, Alana memeluk Tania yang sudah tertidur lelap. Air mata diam-diam meloloskan diri dari sudut matanya, meresap ke dalam bantal. Hatinya memang sakit, tetapi ada rasa lega yang aneh saat dia akhirnya berhenti berharap pada pria di kamar sebelah.
Alana telah memutuskan untuk menyimpan sisa hidupnya hanya demi kebahagiaan putri kecil di dekapannya.
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....