"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.
Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35
"Keluarga Wijaya pernah menyelamatkan ibumu."
Kalimat itu diucapkan Pak Hendra Wijaya di ruang VIP rumah sakit, dengan punggung bersandar nyaman dan dagu terangkat. Di sampingnya, dua putranya berdiri seperti penjaga warisan. Di ranjang, perempuan tua bernama Ratna Wijaya bernapas dengan bantuan oksigen, kulitnya kelabu, monitor jantungnya berbunyi tidak stabil.
Naira baru saja masuk ketika utang budi dilempar ke wajahnya.
Ia meletakkan tas medis di meja. "Selamat siang juga, Pak."
Hendra mengerutkan dahi. "Saya tidak punya waktu untuk basa-basi. Ibu saya harus dioperasi malam ini. Dokter lain bilang risikonya tinggi. Kami dengar kamu bisa menangani kasus yang orang lain takut sentuh."
"Saya perlu lihat rekam medis."
"Setelah kamu setuju."
Naira menatapnya. "Saya tidak membeli pasien seperti membeli tanah."
Putra sulung Hendra, Arman, maju. "Jaga bicaramu. Papa kami datang baik-baik."
"Tidak. Papa kalian datang membawa cerita lama agar saya merasa bersalah sebelum membaca kondisi pasien."
Hendra tertawa tanpa senyum. "Anak Sari ternyata sombong."
Raka yang berdiri di dekat pintu menoleh pelan.
Naira tidak perlu melihatnya untuk tahu ruangan itu mendadak terasa berbahaya.
"Mas Raka," katanya.
"Aku diam."
"Diam yang benar."
Raka memasukkan tangan ke saku. "Sedang berusaha."
Arman meliriknya, lalu langsung kehilangan keberanian untuk bicara lebih keras.
Dimas juga ada di sana, atas permintaan direktur rumah sakit. Sejak namanya masih tercantum sebagai pemilik jaringan, keluarga Wijaya menghubunginya lebih dulu. Dimas tahu Naira akan marah kalau ia menekan, jadi ia hanya berkata, "Aku sudah minta semua berkas dikirim ke tablet. Kamu bebas menolak."
Naira meliriknya sebentar.
Itu kemajuan kecil dari pria yang dulu selalu mengira keputusannya cukup untuk dua orang.
"Saya tidak menolak pasien," kata Naira. "Saya menolak dipaksa."
Hendra mengetuk sandaran kursi. "Kalau bukan karena keluarga kami, Sari tidak akan lolos dari Aruna Timur dulu."
Naira berhenti membuka tablet.
"Apa maksudnya?"
Hendra tersenyum seperti akhirnya mendapatkan perhatian yang ia mau. "Ibumu datang ke rumah kami malam-malam. Basah kuyup. Membawa berkas. Ayah saya menyembunyikannya dua hari."
"Lalu?"
"Lalu dia pergi. Tidak kembali. Setelah itu keluarga kami ikut terseret. Kontrak yayasan diputus. Nama kami dicoret dari beberapa tender."
"Dan sekarang Anda menagihnya kepada saya?"
"Saya meminta balasan yang pantas."
Naira memandang Ratna Wijaya di ranjang. Perempuan itu tidak ikut bicara. Tubuhnya berjuang sendiri, jauh dari kesombongan anak dan cucunya.
"Pasien ini ibu Anda," kata Naira. "Bukan kuitansi."
Hendra berdiri. "Kalau kamu tidak mau membantu, katakan saja. Biar semua orang tahu anak Sari tidak tahu terima kasih."
Pintu terbuka.
Surya masuk dengan wajah dingin. "Coba katakan itu di depan saya."
Hendra langsung menegang. "Pak Surya."
"Saya dengar nama istri saya dipakai untuk memeras putri saya."
"Memeras? Saya hanya mengingatkan sejarah."
"Sejarah yang Anda simpan dua puluh tahun untuk dipakai saat butuh dokter?"
Hendra terdiam.
Naira menyentuh lengan Surya. "Pa, biar saya."
Surya menatapnya. Ada banyak kalimat di matanya. Jangan biarkan mereka menginjakmu. Jangan merasa wajib. Jangan ulangi lima tahun itu.
Naira mengangguk kecil.
Ia membuka rekam medis.
Kasus Ratna tidak sederhana. Ada penyempitan pembuluh darah besar, komplikasi ginjal, dan riwayat obat eksperimental lama yang tidak tercatat lengkap. Catatan paling mencurigakan adalah kode studi dua puluh tahun lalu: AR-TM-17.
Aruna Timur.
Naira memperbesar halaman.
"Siapa yang memberi obat ini?"
Hendra menjawab terlalu cepat. "Dokter yayasan."
"Nama?"
"Saya tidak ingat."
"Aneh. Anda ingat ibu saya datang basah kuyup dua puluh tahun lalu, tapi lupa nama dokter yang memberi obat pada ibu Anda."
Arman berkata, "Dok, fokus saja operasi."
"Saya fokus. Justru karena obat ini memengaruhi pembekuan darah dan respons pembuluh saat operasi."
Dimas mendekat. "Kode itu sama dengan yang kamu cari?"
Naira tidak menjawab langsung.
Hendra melihat perubahan wajah mereka. "Apa masalahnya?"
"Masalahnya," kata Naira, "ibu Anda pernah menjadi bagian dari studi yang datanya hilang dari arsip resmi."
Ruang VIP membeku.
Hendra menelan ludah. "Ibu saya pasien, bukan bahan percobaan."
"Saya juga berharap begitu."
Untuk pertama kali, kesombongan Hendra retak. Ia menatap Ratna, lalu duduk perlahan.
"Selamatkan dia," katanya. Kali ini suaranya lebih rendah. "Saya tidak tahu apa yang mereka masukkan ke tubuh ibu saya."
Naira menatapnya. "Saya akan operasi karena beliau pasien. Bukan karena Anda menagih jasa."
Hendra mengangguk kaku.
"Dan setelah beliau stabil, Anda akan memberikan semua yang Anda tahu tentang malam ibu saya datang."
"Kalau saya tidak mau?"
Raka akhirnya bicara. "Pak Hendra."
Hanya nama.
Hendra menoleh.
Raka tersenyum tipis. "Jangan pilih kalimat yang membuat anak-anak Anda menyesal ikut datang."
Naira menatap Raka.
Raka langsung menambahkan, "Itu tawaran sopan."
Maya yang baru tiba di pintu menghela napas. "Standar sopan keluarga Wiratama memang perlu audit."
Operasi berlangsung empat jam.
Di ruang operasi, Naira tidak punya ruang untuk marah. Tubuh Ratna rapuh, pembuluhnya seperti menyimpan luka lama dari obat yang pernah diberikan tanpa persetujuan jelas. Dua kali tekanan darah jatuh. Satu kali dokter anestesi menatap Naira dengan mata yang meminta keputusan cepat.
"Clamp sebentar. Jangan lebih dari dua puluh detik."
"Dok, ginjalnya tidak akan tahan."
"Makanya jangan lewat dua puluh."
Tangannya bergerak bersih.
Di luar, Hendra mondar-mandir sampai batiknya kusut. Arman tidak lagi bicara. Dimas duduk di ujung koridor, menatap lampu operasi seperti sedang melihat semua malam ketika Naira pulang diam-diam dengan mata lelah dan ia tidak pernah bertanya.
Raka berdiri dekat jendela.
Surya duduk, tetapi auranya membuat semua orang lain memilih tidak terlalu dekat.
Saat lampu operasi mati, Hendra hampir jatuh berdiri.
Naira keluar dengan masker diturunkan.
"Operasi berhasil. Dua puluh empat jam pertama tetap kritis, tapi sumber perdarahan sudah ditangani."
Hendra menutup wajah.
Arman berbisik, "Terima kasih, Dok."
Naira melepas sarung tangan. "Sekarang bagian Anda."
Hendra mengangkat wajah.
"Malam itu," katanya pelan, "Sari membawa satu koper kecil. Dia bilang kalau dia hilang, koper itu harus diberikan kepada anaknya. Tapi besoknya orang Cakradinata datang bersama seseorang dari yayasan. Ayah saya takut. Koper itu tidak kami serahkan, tapi kami sembunyikan."
Naira menahan napas.
"Di mana?"
Hendra memandang pintu ICU.
"Di rumah lama Wijaya, Cipete. Tapi tiga hari lalu, ada orang mencoba membongkar gudang itu."
Ponsel Raka berbunyi.
Ia melihat pesan dari anak buahnya, lalu menatap Naira.
"Gudang Cipete baru terbakar sepuluh menit lalu."
Hendra memucat.
Naira menggenggam pinggir meja sampai buku jarinya putih.
Seseorang selalu selangkah lebih cepat.
Atau ada seseorang di ruangan ini yang baru saja memberi tahu mereka.
Naira memandang wajah di koridor.
Hendra gemetar. Arman berkeringat, tetapi tatapannya lebih marah daripada bersalah. Dimas tampak hancur.
"Tidak ada yang keluar," kata Naira.
Arman langsung protes. "Kamu menuduh kami?"
Naira menatapnya. "Saya menuduh seseorang tahu lokasi itu cukup cepat untuk bergerak sebelum kita sampai."
Hendra menoleh kepada putranya. "Arman?"
Arman memalingkan wajah. "Aku cuma menghubungi sopir untuk cek rumah."
Maya mengulurkan tangan. "Ponsel."
Arman menyerahkannya setelah Raka melangkah satu kali.
Maya menemukan satu nomor tak bernama.
Hendra menutup mata. "Kamu menelepon siapa?"
Arman terdiam terlalu lama.
Naira sudah tahu jawabannya sebelum ia bicara.
"Orang Cakradinata bilang kalau ada yang tanya koper Sari, kami harus kabari."
Arman menunduk. "Kita hampir bangkrut, Pa!"
"Dia menyelamatkan nenekmu malam ini," kata Hendra.
"Maya, simpan nomor itu. Mas Dimas, amankan CCTV."
Dimas mengangguk.
Raka menatap Naira. "Ada saksi. Mobil boks klinik keliling."
"Aruna Timur?"
"Belum pasti."
Naira melihat pintu ICU.
"Maka kita mulai dari orang hidup. Hendra Wijaya, setelah ibumu stabil, Anda bicara di bawah sumpah."
Hendra mengangguk lemah.
Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi duduk seperti orang yang sedang menagih.
Ia duduk seperti orang yang akhirnya paham bahwa diam juga bisa menjadi utang yang sangat mahal sekali.