Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa
Bab 01
Naira Salsabila masuk ke gedung Mahendra Health Group dengan rantang stainless di tangan.
Satpam di lobi sudah mengenalnya. Mereka menunduk sopan, tetapi tidak ada yang benar-benar menyapa. Selama lima tahun menjadi istri Dimas Mahendra, Naira lebih sering datang lewat pintu belakang. Kadang membawa makan siang, kadang membawa obat, kadang membawa dokumen yang diminta suaminya tengah malam.
Hari itu ia datang lewat pintu depan.
Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa lebih berat dari biasanya.
"Bu Naira, Pak Dimas ada rapat," kata resepsionis dengan senyum kaku.
"Aku hanya mau menaruh ini," jawab Naira.
Resepsionis melirik rantang di tangan Naira. Bau rempah hangat keluar tipis dari celah tutupnya. Bukan masakan rumah biasa. Di dalamnya ada sup herbal yang ia racik sendiri dari bahan langka yang baru tiba subuh tadi dari Makassar, bahan yang harus disimpan dalam suhu rendah dan direbus dengan takaran sangat hati-hati.
Dimas menderita migrain berat sejak tiga tahun lalu. Dokter spesialis saraf pernah menyarankan tindakan lebih lanjut, tetapi Dimas selalu menolak. Ia tidak suka terlihat lemah.
Jadi Naira yang menanggung sisanya.
Ia membaca ulang hasil pemeriksaan, menyesuaikan obat, mengatur makanan, dan menjaga agar Dimas tetap terlihat sempurna di depan publik.
Di mata keluarga Mahendra, semua itu hanya tugas istri.
Naira naik lift ke lantai dua puluh delapan. Pintu ruang direksi tidak tertutup rapat. Dari celahnya terdengar suara perempuan tertawa pelan.
Tangan Naira berhenti di gagang pintu.
"Mas Dimas, ini serius untukku?"
Suara itu milik Clara Larasati.
Naira mengenal suara itu bahkan sebelum melihat wajahnya. Clara, perempuan yang selalu disebut Bu Ratna sebagai "hampir jadi menantu terbaik". Clara, cinta lama Dimas. Clara, dokter muda yang baru kembali dari program fellowship singkat di Singapura dan sejak itu diperlakukan seolah-olah ia satu-satunya perempuan berpendidikan di Jakarta.
Naira mendorong pintu.
Di dalam, Dimas berdiri di samping meja kerjanya. Kemeja putihnya rapi, jam mahal di pergelangan tangannya berkilat tertimpa lampu. Di hadapannya, Clara memegang sebuah amplop tebal berwarna biru tua.
Naira mengenali logo di amplop itu.
Kongres Bedah dan Genomik Nusantara.
Undangan itu ditujukan untuknya.
"Naira?" Dimas menoleh. Dahinya sedikit berkerut, bukan karena terkejut melihat istrinya, melainkan karena terganggu. "Kamu datang?"
Naira menatap amplop di tangan Clara.
Clara mengikuti arah pandangannya, lalu tersenyum. Manis. Terlalu manis.
"Mbak Naira, maaf ya. Aku tidak tahu Mbak juga ke sini."
"Itu undangan apa?" tanya Naira.
Dimas menarik napas pendek. "Nanti saja dibahas."
"Aku tanya itu undangan apa."
Ruangan mendadak hening.
Di sofa, Rendi, asisten pribadi Dimas, mengangkat wajah dari tablet. Matanya bergerak dari Naira ke Clara, lalu kembali ke Naira dengan ekspresi menahan senyum.
Clara memeluk amplop itu ke dada. "Mas Dimas bilang ini kesempatan bagus untukku. Kongres ini dihadiri banyak dokter senior dan peneliti. Aku sedang butuh jaringan untuk riset residensiku."
"Mas Dimas bilang?" Naira mengulang pelan.
Dimas mengusap pangkal hidung. "Naira, jangan mulai."
"Undangan itu atas namaku."
Clara terdiam sebentar. Hanya sebentar. Setelah itu wajahnya berubah pucat, seolah-olah ia yang tersakiti.
"Mbak, aku benar-benar tidak tahu. Mas Dimas cuma bilang ada undangan yang tidak terpakai."
"Tidak terpakai?"
Dimas akhirnya menatap Naira penuh. "Kamu mau pakai untuk apa?"
Naira merasakan jari-jarinya mengencang pada pegangan rantang.
"Untuk menghadiri kongres."
Rendi tertawa kecil. Ia tidak menutupinya cukup cepat.
Dimas menoleh tajam. "Rendi."
"Maaf, Pak." Rendi menunduk, tetapi sudut bibirnya masih bergerak. "Saya cuma kaget. Bu Naira mau ikut kongres dokter?"
Clara menunduk, suaranya lembut. "Mbak Naira, kalau memang Mbak mau ikut sebagai pendamping Mas Dimas, mungkin bisa daftar umum. Tapi undangan pembicara ini sayang kalau tidak dipakai orang yang memang bekerja di bidangnya."
Kalimat itu halus.
Tapi setiap katanya punya gigi.
Naira menatap perempuan itu. "Kamu tahu isi undangannya?"
Clara ragu. "Tentu. Di sini tertulis akses pembicara untuk sesi pengembangan terapi gen."
"Dan menurutmu itu cocok untukmu?"
Wajah Clara memerah. "Aku dokter, Mbak."
"Aku tidak bertanya kamu dokter atau bukan."
Dimas meletakkan tangan di meja. "Cukup, Naira. Clara sedang membangun kariernya. Kamu tahu dunia medis sekarang keras. Satu kesempatan seperti ini bisa mengubah masa depannya."
Naira hampir tertawa.
Masa depan Clara.
Lalu masa depan ibunya?
Lalu nama Dr. Sari Anggraini yang lima tahun terakhir dikubur di bawah tuduhan manipulasi data?
Lalu penelitian yang Naira kerjakan diam-diam di ruang bawah tanah rumah mereka, setiap malam setelah keluarga Mahendra tidur, setelah ia selesai memasak, mencuci, dan berpura-pura tidak mendengar Bu Ratna menyebutnya istri tidak berguna?
Undangan itu bukan sekadar tiket masuk.
Itu pintu pertama untuk membersihkan nama ibunya.
"Dimas," kata Naira, suaranya rendah. "Aku minta undangan itu."
Dimas menatapnya seperti menatap anak kecil yang meminta mainan mahal. "Kamu tidak akan mengerti acaranya."
Rendi menambahkan, "Maaf, Bu. Kongres itu bukan seminar kesehatan ibu rumah tangga."
Clara menggigit bibir. "Rendi, jangan begitu."
Tapi ia tidak mengembalikan amplop itu.
Naira meletakkan rantang di meja. Tutupnya bergetar kecil saat menyentuh kaca.
"Lima tahun," katanya. "Lima tahun aku diam setiap kali kalian menganggap aku tidak tahu apa-apa."
Dimas mengerutkan kening. "Kamu terlalu sensitif."
"Tidak. Aku terlalu sabar."
Clara bergerak mendekat, membawa amplop itu dengan kedua tangan.
"Mbak, kalau ini memang milik Mbak, aku kembalikan. Aku tidak mau jadi penyebab pertengkaran."
Naira mengulurkan tangan.
Sesaat sebelum jarinya menyentuh amplop, Clara tersandung kaki kursi.
Atau berpura-pura tersandung.
Amplop itu lepas. Jatuh tepat ke dalam rantang yang tutupnya belum Naira pasang kembali. Sup herbal panas membasahi kertas biru tua, meresap cepat ke bagian logo dan nama penerima.
"Aduh!" Clara menutup mulut. "Mbak, maaf. Aku benar-benar tidak sengaja."
Naira menatap undangan yang basah.
Nama di sana mulai luntur.
Dimas hanya berkata, "Sudahlah. Nanti aku minta sekretaris cari undangan lain."
Naira mengangkat wajah.
"Cari undangan lain?"
"Itu hanya kertas."
Hanya kertas.
Naira menatap pria yang pernah ia cintai sampai menolak pulang ke keluarganya sendiri. Pria yang ia rawat saat sakit, ia bantu saat bangkrut, ia lindungi harga dirinya di depan semua orang.
Ternyata di matanya, semua yang berharga bagi Naira selalu bisa disebut hanya.
Hanya kertas.
Hanya masakan.
Hanya istri.
Naira mengambil amplop basah itu dari rantang. Sup menetes ke lantai.
Clara mundur setengah langkah, masih dengan wajah bersalah yang terlalu rapi.
"Mbak Naira, aku..."
"Diam."
Satu kata itu membuat Clara berhenti.
Dimas berdiri tegak. "Jaga bicaramu."
Naira menoleh kepadanya. "Besok sore jam tiga, Papa pulang ke Jakarta."
Dimas terdiam.
"Kamu pernah janji akan menjemputnya denganku," lanjut Naira. "Aku minta kamu datang."
"Naira, sekarang bukan waktunya..."
"Besok jam tiga."
Dimas menatap amplop basah di tangan Naira, lalu wajah Clara yang mulai berkaca-kaca. Setelah beberapa detik, ia mengangguk.
"Baik. Aku datang."
Naira menatapnya lama.
Ia ingin percaya.
Satu kali lagi.
Satu kesempatan terakhir.
Lalu ia membawa undangan yang rusak itu keluar dari ruangan, meninggalkan sup obat di meja Dimas. Tidak ada yang mengejarnya.
Di lift, Naira melihat bayangannya di pintu logam.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang untuk seorang perempuan yang baru saja menyaksikan salah satu pintu masa depannya dilempar ke dalam sup.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari nomor tak dikenal.
Papa sudah mendarat besok. Anak buah menunggu perintahmu, Naira.
Naira menutup mata sebentar.
Lalu ia mengetik satu kalimat.
Jangan muncul dulu. Aku ingin melihat, besok dia memilih siapa.
Di ruang direksi, Dimas menatap rantang yang ditinggalkan Naira. Sup di dalamnya sudah tercampur serpihan kertas biru, tetapi aroma obatnya tetap naik pelan. Migrainnya yang sejak pagi menusuk mulai mereda hanya karena mencium bau itu.
"Mas, aku benar-benar minta maaf," kata Clara.
Dimas tidak langsung menjawab. Ia melihat nama yang luntur di amplop basah.
Dr. Naira Salsabila.
Saat ia hendak mengambil amplop itu, Clara lebih dulu menutupinya dengan tisu.
"Kotor, Mas. Biar aku buang."
Dimas menarik tangannya kembali. Satu kesempatan kecil untuk bertanya lewat begitu saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
sukensri hardiati
ini othor licai kah...?
nama lainkah..?
aku nebak dari simbol MI...
2026-05-31
1
Priskha
baru baca sdh bikin esmosi.... lanjut thor....
2026-07-31
0
Anggraini Raini
kx gk bisa difollow ya authorr
2026-06-24
0