Episode 2

Bab 02

Malam itu rumah keluarga Mahendra terasa lebih ramai dari biasanya.

Bu Ratna mengadakan makan malam kecil untuk menyambut Clara. Katanya Clara baru kembali ke Jakarta dan perlu disambut seperti keluarga sendiri. Meja makan penuh, dari sop buntut, ayam panggang, tumis buncis, sampai kue lapis yang biasanya hanya keluar saat ada tamu penting.

Naira duduk di ujung meja.

Tempat itu memang selalu untuknya.

Bukan karena ia dihormati, melainkan karena dari sana ia paling dekat ke dapur. Kalau ada lauk kurang, air habis, atau Bu Ratna tiba-tiba ingin sambal tambahan, Naira bisa berdiri tanpa membuat kursi lain bergeser.

"Clara, kamu tambah lagi," kata Bu Ratna sambil memindahkan potongan ayam terbaik ke piring Clara. "Kamu kurusan. Pasti terlalu sibuk di rumah sakit."

Clara tersenyum sopan. "Terima kasih, Tante."

"Jangan panggil Tante. Panggil Mama saja. Dari dulu kamu sudah Mama anggap anak sendiri."

Sendok di tangan Naira berhenti sesaat.

Dimas melihatnya, tetapi tidak berkata apa-apa.

Di sisi lain meja, adik Dimas, Vina, tertawa kecil. "Memang beda ya, Ma, perempuan yang punya karier. Aura Clara tuh rapi banget. Kalau jalan di rumah sakit pasti semua orang hormat."

Bu Ratna melirik Naira. "Ya, orang berpendidikan memang kelihatan."

Naira mengambil air putih.

Ia sudah mendengar kalimat seperti itu ratusan kali. Biasanya ia diam. Diam terasa lebih mudah daripada menjelaskan kepada orang yang tidak pernah ingin tahu.

Tapi malam ini, diamnya terasa seperti benda asing di tenggorokan.

"Mas Dimas," panggil Bu Ratna. "Besok kamu antar Clara ke rumah sakit, ya? Mobilnya masih di bengkel, kan?"

Clara cepat menggeleng. "Tidak usah, Ma. Aku bisa pesan mobil online."

"Jangan. Anak perempuan pulang-pergi sendiri itu tidak baik. Apalagi dokter muda seperti kamu."

Dimas menatap Clara. "Jam berapa?"

Naira meletakkan gelasnya.

Suara kecil itu cukup membuat Dimas menoleh.

"Besok jam tiga," kata Naira.

Suasana meja makan berubah tipis. Tidak berhenti, hanya melambat.

Dimas mengerutkan kening. "Aku ingat."

"Bagus."

Vina memutar mata. "Apa sih, Kak? Baru juga Mas Dimas ditanya Mama, kamu sudah pasang muka begitu."

Bu Ratna menyeka bibir dengan tisu. "Memangnya besok ada apa?"

Naira menjawab sebelum Dimas sempat bicara. "Papa saya pulang."

Bu Ratna mengangkat alis. "Papa kamu?"

Cara ia mengucapkan dua kata itu membuat Naira tahu apa yang sedang dipikirkan perempuan itu.

Orang tua yang selama ini tidak pernah datang.

Mungkin miskin.

Mungkin merepotkan.

Mungkin pulang karena mendengar menantunya sudah sukses.

Vina bahkan tidak berusaha menyembunyikan senyumnya. "Oh, yang katanya kerja di luar negeri itu? Kerja apa memangnya?"

"Urusan keluarga," jawab Naira.

"Keluarga kita juga perlu tahu," kata Bu Ratna. "Kalau besok dia datang ke sini, jangan sampai membuat malu."

Dimas menurunkan sendoknya. "Ma."

Bu Ratna menatap putranya. "Apa? Mama cuma bilang. Selama lima tahun menikah, besan kita itu tidak pernah datang. Tidak pernah telepon. Tidak pernah kirim apa-apa. Wajar kalau Mama bertanya."

Clara menunduk, seolah tidak ingin ikut campur. Tapi jemarinya terus bergerak pelan di tepi gelas, tanda ia mendengarkan semua.

Naira menatap Bu Ratna. "Papa tidak akan datang ke rumah ini."

"Lho, kenapa?" Vina tertawa. "Malu?"

"Karena tidak perlu."

Bu Ratna meletakkan tisu. "Naira, nada bicaramu akhir-akhir ini makin tidak enak. Jangan mentang-mentang Dimas terlalu sabar."

Naira ingin tertawa.

Dimas terlalu sabar?

Lima tahun ia bangun sebelum subuh, mengurus rumah, menemani Bu Ratna ke dokter, menyiapkan obat Dimas, menjaga agar nama keluarga Mahendra tetap bersih setiap kali ada krisis. Lima tahun ia menelan semua hinaan karena ia dulu percaya rumah tangga harus dijaga.

Dan malam ini, yang sabar tetap Dimas.

"Ma, sudah," kata Dimas akhirnya. "Besok aku antar Naira."

Naira menatapnya.

Kalimat itu sederhana. Tapi dadanya yang sejak siang tertahan sedikit mengendur.

Mungkin masih ada sisa.

Mungkin Dimas masih ingat bahwa ia pernah berjanji.

Bu Ratna mendengus. "Kalau memang harus. Tapi jangan lama-lama. Clara juga ada urusan."

"Tidak apa, Ma," kata Clara lembut. "Aku bisa atur sendiri."

Ucapan itu membuat Bu Ratna semakin sayang padanya. "Lihat. Tidak merepotkan."

Naira kembali makan, walau nasi di piringnya sudah dingin.

Setelah makan, ia mencuci piring di dapur. Pembantu sebenarnya ada, tapi Bu Ratna selalu bilang Naira lebih telaten. Itu cara halus untuk membuatnya tetap di sana, tetap tahu posisinya.

Dimas masuk ketika ia sedang membilas gelas terakhir.

"Naira."

Ia tidak menoleh. "Ya?"

"Soal tadi siang, Clara benar-benar tidak sengaja."

Tangan Naira berhenti.

Air dari keran terus mengalir.

"Itu yang ingin kamu bicarakan?"

Dimas diam sebentar. "Aku tidak mau kamu memperbesar masalah."

Naira mematikan keran, lalu berbalik. "Undangan itu atas namaku."

"Aku tahu."

"Kamu tidak tahu."

Dimas menahan napas. "Apa maksudmu?"

"Kalau kamu tahu, kamu tidak akan memberikannya ke Clara."

"Clara butuh kesempatan. Kamu tidak pernah bilang undangan itu penting."

Naira menatapnya. "Setiap kali aku bilang sesuatu penting, kamu pernah dengar?"

Dimas membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Di dapur yang masih berbau sabun dan kaldu, wajah pria itu tampak lelah. Dulu Naira selalu luluh kalau melihat wajah lelahnya. Ia akan membuatkan teh hangat, memijat kepalanya, dan membiarkan masalah mereka tenggelam sampai besok.

Malam ini ia tidak bergerak.

"Besok jam tiga," katanya.

Dimas mengangguk. "Aku sudah bilang akan datang."

"Jangan terlambat."

Rahang Dimas mengeras. "Aku bukan anak kecil yang harus diingatkan."

"Bagus."

Ia melewati Dimas, tetapi pria itu menahan pergelangan tangannya.

"Kamu berubah."

Naira menatap tangan Dimas di pergelangan tangannya. Sentuhan yang dulu membuatnya merasa aman, sekarang hanya terasa seperti kebiasaan lama yang terlambat dilepas.

"Mungkin aku hanya berhenti menjadi orang yang kamu inginkan."

Dimas melepasnya perlahan.

Malam itu Naira tidur di sisi ranjang yang sama seperti biasa, tetapi jarak di antara mereka terasa lebih luas dari kamar itu sendiri.

Pagi berikutnya, Dimas berangkat lebih awal. Ia berkata ada rapat singkat, lalu akan menjemput Naira pukul dua lewat tiga puluh.

Naira tidak bertanya lebih jauh.

Ia membuka lemari, memilih kebaya sederhana warna biru tua yang dulu disukai ibunya. Di dalam laci paling bawah, ia mengambil foto keluarga yang sudah menguning. Foto itu selalu ia simpan jauh dari mata keluarga Mahendra.

Di foto itu, Dr. Sari Anggraini berdiri dengan jas putih. Di sampingnya, Surya Atmadja memeluk Naira kecil yang belum mengerti kenapa orang dewasa selalu menyimpan rahasia.

Naira menyentuh wajah ibunya di foto.

"Ma, Papa pulang," bisiknya.

Ponselnya bergetar.

Dimas: Rapat agak mundur. Aku tetap usahakan.

Naira membaca pesan itu lama.

Kata "usahakan" terasa dingin.

Ia mengetik balasan, lalu menghapusnya.

Tidak ada gunanya meminta seseorang memilih, kalau sejak awal ia hanya ingin datang saat mudah.

Jam dua lewat lima puluh, Naira sudah berdiri di depan rumah. Sopir keluarga bertanya apakah ia ingin menunggu di dalam mobil. Naira menggeleng.

Jam tiga tepat, Dimas belum datang.

Jam tiga lewat lima belas, ponselnya berdering.

Nama Dimas muncul di layar.

Naira mengangkat.

"Naira, maaf. Aku tidak bisa ke sana sekarang."

Naira menatap jalan di depan rumah.

Di kejauhan, langit Jakarta mendung.

"Kenapa?"

Suara Dimas terdengar terburu-buru. "Clara kecelakaan kecil di parkiran rumah sakit. Dia harus menangani pasien darurat juga. Aku antar dia dulu. Papa kamu bisa menunggu sebentar, kan?"

Di ujung telepon, terdengar suara Clara.

"Mas, cepat ya. Aku takut pasiennya kenapa-kenapa."

Naira menutup mata.

Dadanya tidak lagi sakit.

Aneh.

Yang ada hanya sunyi.

"Naira, kamu dengar?"

"Aku dengar."

"Aku janji setelah ini aku susul."

Naira membuka mata. "Tidak perlu."

"Jangan seperti itu. Ini keadaan darurat."

Naira menatap mobil hitam yang sudah berhenti di ujung jalan. Orang-orang berpakaian rapi turun, menunggu instruksinya. Mereka bukan sopir keluarga Mahendra. Mereka orang-orang ayahnya.

"Iya," kata Naira pelan. "Darurat."

Ia memutus sambungan.

Di layar ponsel yang menghitam, bayangannya tampak tenang.

Kesempatan terakhir itu sudah selesai.

Terpopuler

Comments

Night Watcher

Night Watcher

cek sound...
mudah2an ceritanya sesuai selera.. 🙏

2026-06-26

0

Dewa Nara

Dewa Nara

awal yg bagus Thor

2026-08-14

0

Rusmiyati 13

Rusmiyati 13

lanjutkan

2026-06-06

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!