Episode 5

Bab 05

Naira tidak langsung kembali ke rumah Menteng.

Setelah meninggalkan rumah Mahendra, ia meminta sopir berhenti di dekat jalan menuju pelabuhan lama. Bagas ingin ikut turun, tetapi Naira menolak.

"Saya butuh sendiri sebentar."

"Non, kawasan ini bukan tempat aman."

"Saya tahu."

Justru karena tahu, ia memilih turun.

Angin dari arah laut membawa bau garam, solar, dan besi basah. Di kejauhan, peti kemas tersusun seperti dinding raksasa. Truk-truk besar bergerak perlahan, lampu kuningnya berkedip di bawah langit yang mulai gelap.

Naira berjalan menyusuri jalur kosong di samping gudang tua.

Di tempat seperti ini, dulu ia belajar membaca peta pergerakan orang. Ayahnya punya banyak bisnis legal di pelabuhan, dari logistik sampai keamanan. Tapi sejak kecil Naira juga tahu, pelabuhan menyimpan bagian kota yang tidak pernah muncul di brosur perusahaan.

Ia berhenti di depan pagar besi dengan papan kecil.

AREA TERBATAS

IZIN KHUSUS

Naira hampir tertawa.

Seumur hidupnya ia selalu berada di area terbatas. Keluarga Atmadja membatasinya demi keselamatan. Keluarga Mahendra membatasinya demi kenyamanan mereka. Dunia medis membatasinya dengan skandal ibunya.

Hari ini ia hanya ingin berjalan tanpa diminta pulang, memasak, diam, atau mengalah.

Ponselnya bergetar.

Dimas.

Ia membiarkannya.

Panggilan berhenti, lalu masuk lagi.

Ketiga kalinya, Naira mengangkat.

"Kamu di mana?" suara Dimas tegang.

"Bukan urusanmu."

"Naira, jangan kekanak-kanakan. Mama memang salah bicara, tapi kamu juga tidak bisa mengusir keluarga begitu saja."

Naira menatap laut gelap di ujung jalan. "Jadi ini soal rumah?"

Dimas diam sebentar.

"Aku khawatir padamu."

Kata itu datang terlalu terlambat.

"Khawatir karena aku pergi, atau karena dokumen itu benar?"

"Kamu selalu memutar semua jadi serangan."

"Tidak. Aku hanya berhenti menyusun kalimat agar egomu tidak terluka."

Dimas menarik napas kasar. "Kita masih suami istri."

"Untuk sementara."

"Naira..."

"Aku tutup."

Ia memutus telepon.

Di saat yang sama, bunyi mesin berat terdengar dari arah belakang. Naira menoleh. Sebuah mobil SUV hitam masuk terlalu cepat ke jalur sempit itu. Lampunya menyilaukan. Sopirnya seperti tidak melihat ada orang di depan.

Naira bergerak ke samping.

Kakinya tersandung batu. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, tetapi sebelum jatuh, sebuah tangan menarik lengannya.

Gerakannya cepat, kasar, dan tepat.

Naira menabrak dada seseorang.

Aroma tembakau dingin dan antiseptik tipis menyentuh hidungnya. Ia langsung menegang.

"Kalau mau mati, cari tempat lain."

Suara pria itu rendah.

Naira mengangkat wajah.

Pria di depannya tinggi, wajahnya pucat dengan garis rahang tajam. Matanya gelap, nyaris tanpa hangat. Di belakangnya, beberapa pria berbaju hitam berdiri dengan posisi menyebar. Bukan satpam biasa. Mereka terlalu tenang.

Naira mengenali pria itu dari laporan lama ayahnya.

Raka Wiratama.

Pemilik jaringan pelabuhan, logistik, keamanan swasta, rumah sakit khusus, dan setengah rumor paling gelap di Jakarta. Orang menyebutnya pengusaha. Orang lain menyebutnya kepala keluarga Wiratama. Mereka yang lebih tahu memilih tidak menyebut apa pun.

Naira menarik lengannya.

Raka tidak langsung melepas.

Matanya turun ke pergelangan tangan Naira, lalu ke wajahnya. Ada sesuatu yang berubah di tatapannya, sangat cepat, hampir tidak terlihat.

"Lepaskan," kata Naira.

Salah satu anak buah Raka bergerak.

Raka mengangkat tangan sedikit. Orang itu berhenti.

"Kamu masuk area pribadi."

"Saya berdiri di pinggir jalan."

"Jalan itu milikku."

Naira menatapnya datar. "Selamat. Semoga aspalnya bahagia."

Untuk pertama kali, ekspresi pria itu retak.

Bukan senyum. Lebih seperti ia hampir lupa cara menahan reaksi.

"Kamu tahu dengan siapa bicara?"

"Dengan pria yang hampir menabrak orang lalu menyalahkan korban."

"Mobil itu bukan hampir menabrakmu. Kamu yang berdiri di jalur operasional."

"Papan peringatannya ada di belakang saya."

Raka melirik papan kecil di pagar. Lalu kepada anak buahnya. "Siapa yang pasang papan itu?"

Tidak ada yang menjawab.

Naira menarik lengannya lagi. Kali ini Raka melepas.

Sentuhan itu singkat, tetapi Naira melihat jari pria itu mengejang sedikit. Seolah menyentuhnya membuatnya terganggu, tapi bukan jijik.

"Kamu terluka?" tanya Raka.

"Tidak."

"Kakimu."

Naira baru sadar pergelangan kakinya nyeri. Ia menahan beban tanpa mengubah ekspresi.

"Bukan urusanmu."

Raka menatapnya dari kepala sampai kaki. "Kamu selalu begini?"

"Begini bagaimana?"

"Berdarah, terluka, lalu bilang tidak apa-apa."

Naira membeku.

Kalimat itu terlalu spesifik.

Terlalu dekat dengan masa lalu yang tidak ia ceritakan kepada siapa pun di keluarga Mahendra.

"Kita pernah bertemu?" tanyanya.

Mata Raka menggelap.

"Mungkin."

"Saya tidak suka jawaban tidak jelas."

"Aku juga tidak suka perempuan masuk wilayahku tanpa izin."

"Kalau begitu kita impas."

Di belakang Raka, seorang pria berkacamata yang tampak seperti asisten mendekat. "Pak Raka, rombongan dari kantor otoritas pelabuhan sudah menunggu."

Raka tidak menoleh. "Suruh tunggu."

Asisten itu menatap Naira sekilas, lalu menunduk. "Baik."

Naira tidak ingin berlama-lama. Ia mengambil ponsel, hendak menelepon Bagas, tetapi Raka lebih dulu berkata, "Orangmu menunggu di depan gerbang. Bagas."

Jari Naira berhenti.

"Kamu tahu nama orang saya?"

"Aku tahu banyak hal."

"Itu bukan jawaban yang membuatmu terdengar lebih aman."

Raka melangkah mendekat setengah langkah. Anak buahnya ikut menegang, tetapi Naira tidak mundur.

"Naira Salsabila Atmadja," katanya pelan. "Istri Dimas Mahendra. Atau mungkin sebentar lagi mantan istri."

"Kamu menyelidiki saya."

"Sudah lima tahun."

Udara di sekitar mereka seperti berhenti.

Naira menahan napas. "Kenapa?"

Raka menatapnya lama.

Di matanya ada sesuatu yang tidak cocok dengan wajah dinginnya. Sesuatu seperti marah, lega, dan dendam yang dipendam terlalu lama.

"Karena lima tahun lalu, seorang perempuan menyelamatkan hidupku di pos medis perbatasan. Aku hanya ingat suaranya, tangannya, dan aroma obat di bajunya."

Naira merasa darah di tubuhnya turun.

Pos medis perbatasan.

Lima tahun lalu.

Malam dengan hujan, darah, dan tembakan yang masih sesekali datang dalam mimpi.

"Banyak dokter di sana," kata Naira.

"Tidak ada yang memanggilku bodoh karena menolak dijahit tanpa bius."

Naira terdiam.

Ia ingat.

Pria itu setengah sadar, penuh darah, tapi masih sempat mengancam perawat karena menyentuhnya. Ia menahan pendarahan di perut pria itu sambil berkata, "Kalau mau mati, diam saja. Kalau mau hidup, berhenti bersikap bodoh."

Saat itu wajah pria itu tertutup darah.

Ia tidak tahu itu Raka Wiratama.

Raka melihat perubahan di wajahnya.

"Jadi benar kamu."

Naira menelan ludah. "Kamu salah orang."

"Kamu selalu berbohong seburuk ini?"

"Saya tidak punya urusan denganmu."

"Sekarang punya."

Naira menatapnya tajam. "Jangan mulai."

Raka justru tersenyum tipis, nyaris berbahaya.

"Aku terlambat lima tahun. Kali ini aku tidak berniat terlambat lagi."

Naira tidak sempat menjawab karena Bagas sudah berlari dari arah gerbang.

"Non Naira!"

Raka tidak menahan ketika Naira berbalik pergi. Ia hanya berdiri di tempat, melihat perempuan itu berjalan dengan kaki yang jelas sakit tetapi tetap menolak dibantu.

Asistennya, Hanif, mendekat.

"Pak, harus saya antar dokter?"

Raka menatap punggung Naira sampai ia masuk mobil.

"Dia dokternya."

"Maksud Bapak?"

Raka memasukkan tangan ke saku, menahan gemetar kecil yang muncul setiap kali ingatan tentang darah kembali.

Tadi, ketika ia menarik Naira, tidak ada rasa mual.

Tidak ada dorongan mencuci tangan sampai kulit terkelupas.

Hanya aroma herbal dingin yang sama seperti lima tahun lalu.

"Cari semua tentang perceraiannya," kata Raka. "Dan pastikan keluarga Mahendra tidak menyentuhnya."

Hanif menunduk. "Baik, Pak."

Di dalam mobil, Bagas menatap Naira dari kaca depan.

"Non baik-baik saja?"

Naira memegang pergelangan tangannya yang tadi disentuh Raka.

Tidak ada bekas.

Tapi rasanya seperti masa lalu baru saja menemukan pintu masuk.

"Tidak apa-apa," jawabnya.

Kali ini, ia sendiri tidak yakin.

Di belakang mobil Naira, satu motor mengikuti dari jarak aman.

Bagas melihatnya lewat spion. "Orang Pak Raka."

Naira membuka mata. "Suruh mereka pergi."

"Kalau saya suruh, belum tentu mereka menurut saya, Non."

Naira mengambil ponsel dan mengetik ke nomor yang baru saja mengirim pesan.

Tarik orangmu.

Balasan Raka datang cepat.

Mereka hanya memastikan kamu sampai rumah.

Naira mengetik lagi.

Aku punya orang sendiri.

Kali ini jawabannya lebih lama.

Aku tahu. Orangmu bagus. Tapi aku lebih gelisah daripada mereka.

Naira mematikan layar tanpa membalas. Ia tidak ingin mengakui bahwa kejujuran kasar itu lebih mudah diterima daripada perhatian Dimas yang selalu datang setelah terlambat.

Terpopuler

Comments

Tangsah Jagad

Tangsah Jagad

keren! suka alur ceritanya good thor 👍👍👍👍👍

2026-06-28

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!