Episode 4

Bab 04

Pukul sepuluh kurang lima, Naira tiba di rumah keluarga Mahendra.

Ia tidak datang dengan mobil yang biasa dipakai pembantu untuk belanja. Tidak juga dengan sedan lama yang dulu ia pakai diam-diam ke rumah sakit. Hari itu ia turun dari Alphard hitam dengan kaca gelap, ditemani Bagas dan seorang pengacara perempuan bernama Maya.

Satpam rumah Mahendra sampai lupa membuka gerbang.

"Bu Naira?" katanya gugup.

Naira mengangguk. "Buka."

Satpam cepat-cepat menekan tombol.

Di halaman, mobil Dimas sudah terparkir. Itu berarti ia ada di rumah. Bagus. Naira tidak ingin datang dua kali untuk urusan yang sama.

Begitu masuk, suara Bu Ratna langsung menyambar dari ruang keluarga.

"Akhirnya pulang juga."

Naira melepas sepatu dengan tenang.

Bu Ratna duduk di sofa besar, memakai daster mahal dan kalung emas tipis. Vina ada di sebelahnya, sedang menggulir layar ponsel. Dimas berdiri di dekat jendela, wajahnya tampak kurang tidur.

Ketika melihat Bagas dan Maya masuk di belakang Naira, Bu Ratna mengerutkan kening.

"Ini siapa? Kamu bawa orang luar ke rumah keluarga?"

"Pengacara saya," jawab Naira.

Vina mendengus. "Pengacara? Wah, sekarang gaya sekali."

Dimas melangkah mendekat. Matanya langsung turun ke jari Naira. Cincin itu tidak ada.

Wajahnya berubah.

"Naira, kita bicara berdua."

"Tidak perlu."

"Aku suamimu."

"Sebentar lagi bukan."

Kalimat itu membuat Bu Ratna berdiri. "Apa maksudmu?"

Maya membuka map. "Ibu Naira akan mengajukan gugatan cerai. Hari ini kami menyampaikan pemberitahuan awal dan daftar aset yang perlu diklarifikasi."

"Cerai?" Vina tertawa keras. "Kak Naira, kamu pikir Mas Dimas takut?"

Bu Ratna menunjuk wajah Naira. "Perempuan tidak tahu diri. Lima tahun kamu hidup di rumah ini, makan dari uang anak saya, sekarang mau menggugat cerai?"

Dimas menegang. "Ma, cukup."

"Tidak, Dimas. Mama harus bicara. Perempuan seperti dia kalau tidak diajari akan semakin kurang ajar." Bu Ratna maju dua langkah. "Kamu itu datang ke keluarga ini tanpa apa-apa. Kalau bukan Dimas, kamu sudah jadi siapa?"

Naira menatapnya. "Saya juga sering bertanya begitu."

Bu Ratna terpaku.

"Kalau bukan karena saya, keluarga ini sekarang jadi apa?"

Vina langsung berdiri. "Mulai lagi. Kamu mau mengaku-ngaku berjasa?"

Naira menerima map dari Maya, lalu meletakkannya di meja.

"Rumah ini," katanya pelan, "bukan milik Dimas."

Ruangan hening.

Dimas menutup mata sebentar. "Naira."

"Bukan juga milik keluarga Mahendra."

Bu Ratna tertawa sinis. "Kamu sudah gila? Sertifikat rumah ini atas nama perusahaan keluarga."

Maya mengeluarkan salinan dokumen. "Perusahaan pemegang aset adalah PT Langit Pusaka. Pemilik manfaat akhirnya Ibu Naira Salsabila Atmadja."

Vina merampas kertas itu, membaca setengah halaman, lalu wajahnya berubah.

"Ini palsu."

"Silakan verifikasi ke notaris yang tercantum," kata Maya datar.

Bu Ratna menatap Dimas. "Dimas, bilang sesuatu."

Dimas tidak langsung menjawab.

Ia tahu rumah ini bukan miliknya. Dulu Naira mengatakan rumah itu milik kerabat jauh yang meminjamkan sementara. Ia tidak pernah bertanya lebih jauh karena saat itu ia terlalu malu mengaku tidak mampu membeli rumah layak untuk ibunya.

Lalu tahun-tahun berlalu.

Rumah itu menjadi "rumah Mahendra".

Ia membiarkan ibunya percaya begitu.

Ia membiarkan Naira menjadi pembantu di rumah yang bahkan bukan milik mereka.

"Dimas!" bentak Bu Ratna.

Dimas membuka mata. "Rumah ini memang bukan milikku."

Vina seperti ditampar. "Mas?"

Bu Ratna meraih dada. "Jadi kamu tahu? Kamu biarkan Mama dipermalukan?"

Naira hampir tersenyum.

Bahkan sekarang, yang dipikirkan Bu Ratna tetap rasa malunya sendiri.

"Saya belum selesai," kata Naira.

Maya mengeluarkan dokumen lain. "Lisensi paten formula antiinflamasi neurovaskular yang menjadi dasar produk utama Mahendra Health Group juga berakhir bulan depan. Ibu Naira sebagai pemegang hak tidak akan memperpanjang lisensi."

Dimas menatap Naira tajam. "Kamu tidak bisa begitu."

"Bisa."

"Perusahaan itu mempekerjakan ratusan orang."

"Lima tahun lalu, perusahaan itu hampir mati sebelum lahir." Naira menatap Dimas. "Siapa yang mengenalkan kamu ke investor pertama?"

Dimas diam.

"Siapa yang mengirim formula awal itu lewat surel anonim?"

Wajah Dimas memucat sedikit.

Vina berbisik, "Formula apa?"

"Siapa yang membantu ibumu ketika maag kronisnya membuat dokter menyarankan tindakan? Siapa yang merawat migrainmu sampai kamu bisa tetap berdiri di depan dewan direksi?"

Bu Ratna langsung marah. "Jangan mengungkit-ungkit kebaikan! Itu memang tugas istri."

"Tugas istri bukan diinjak."

Kalimat itu membuat seluruh ruangan berhenti.

Dimas memandang Naira seolah baru melihatnya.

Perempuan di depannya memakai blouse putih sederhana dan celana panjang hitam. Tidak ada perhiasan mencolok. Tidak ada riasan tebal. Tapi punggungnya tegak, suaranya tidak bergetar, dan orang-orang yang ia bawa berdiri seperti tembok di belakangnya.

Di mana perempuan yang selalu menunduk ketika ibunya marah?

"Naira," kata Dimas lebih pelan. "Aku akui aku salah kemarin. Aku seharusnya datang. Tapi jangan ambil keputusan saat emosi."

"Aku mengambil keputusan setelah lima tahun."

"Lima tahun itu tidak semuanya buruk."

"Tidak." Naira mengangguk. "Itu sebabnya aku bertahan selama ini."

Dimas tampak ingin mendekat, tetapi Bagas melangkah setengah inci. Gerakan kecil itu cukup membuat Dimas berhenti.

Bu Ratna melihatnya, lalu meledak. "Berani sekali kamu membawa orang untuk mengancam anak saya! Dasar perempuan tidak tahu asal. Ibumu juga begitu, kan? Katanya dokter hebat, ternyata hilang karena skandal. Jangan-jangan memang lari dengan laki-laki lain!"

Naira diam.

Dimas langsung menoleh. "Ma!"

Terlambat.

Vina yang merasa mendapat dukungan ibunya ikut berkata, "Iya, Kak. Jangan sok suci. Kalau ibumu benar, kenapa namanya hilang dari kampus dan jurnal? Orang baik tidak kabur."

Maya menutup map perlahan.

Bagas mengangkat wajah. Matanya dingin.

Naira justru tersenyum tipis.

"Dimas."

Dimas menatapnya dengan cemas yang terlambat.

"Selama lima tahun, setiap kali ibumu menghina saya, kamu diam. Setiap kali adikmu merendahkan saya, kamu bilang saya harus mengerti. Hari ini mereka menghina ibu saya."

"Naira, aku..."

"Jawab satu kali saja." Naira menatap langsung ke matanya. "Apa kamu juga berpikir Dr. Sari Anggraini perempuan kotor yang kabur karena skandal?"

Dimas membuka mulut.

Tidak ada suara.

Matanya bergerak ke Bu Ratna, lalu ke Vina.

Naira melihat semuanya.

Diamnya.

Takutnya.

Kebiasaannya memilih jalan paling nyaman.

Jawaban itu sudah cukup.

"Baik."

Naira mengambil satu amplop dari Maya dan meletakkannya di meja.

"Gugatan cerai akan masuk minggu ini. Untuk sementara, saya beri waktu tujuh hari agar keluarga Mahendra mengosongkan rumah ini atau mengajukan sewa resmi lewat pengacara saya."

Bu Ratna menjerit, "Kamu mengusir kami?"

"Saya mengambil kembali milik saya."

"Dimas, lakukan sesuatu!"

Dimas melangkah maju. "Naira, jangan seperti ini. Kita bisa bicara."

"Kita sudah bicara lima tahun. Kamu hanya tidak pernah mendengar."

Naira berbalik.

Dimas menyambar pergelangan tangannya, tetapi sebelum menyentuh, Bagas sudah berdiri di antara mereka.

"Tuan Dimas," kata Bagas rendah. "Jangan menyentuh Non Naira tanpa izin."

Dimas menatap pria itu. "Dia istri saya."

Naira menoleh sedikit.

"Itu juga akan selesai."

Ia berjalan keluar tanpa menunggu jawaban.

Di halaman, udara Jakarta panas dan lembap. Namun dada Naira terasa lebih lapang daripada semalam.

Sebelum masuk mobil, ia melihat ponselnya.

Ada pesan dari nomor tidak dikenal.

Kamu akhirnya keluar dari rumah itu.

Naira mengerutkan kening.

Pesan kedua masuk.

Bagus. Aku benci melihat penyelamatku hidup seperti tahanan.

Di sebuah gedung tinggi di kawasan Sudirman, Raka Wiratama berdiri di depan jendela, menatap foto Naira di layar tablet.

Lima tahun ia mencari perempuan itu.

Dan sekarang, perempuan itu baru saja melepaskan cincin dari pria yang salah.

Di rumah Mahendra, Dimas baru sadar ruang keluarga masih berantakan sejak kedatangan Naira. Bu Ratna mengomel di kamar, Vina menelepon teman-temannya untuk mencari pembelaan, sementara Rendi mengirim pesan soal investor yang mulai bertanya tentang isu perceraian.

Dimas berdiri di depan pintu dapur.

Biasanya dari sana terdengar bunyi pisau, air mendidih, atau langkah Naira mengambil obat ibunya. Hari itu tidak ada apa-apa. Hanya piring kotor yang belum dibereskan karena semua orang terbiasa percaya Naira akan melakukannya.

Ponselnya bergetar.

Clara: Mas, aku dengar Kak Naira membawa pengacara. Kamu baik-baik saja?

Dimas menatap pesan itu lama.

Dulu ia akan langsung membalas.

Kali ini, jarinya diam.

Terpopuler

Comments

Rusmiyati 13

Rusmiyati 13

kenapa sih membaca novel pakai iklan dulu tidak... bikin emosi

2026-06-06

2

Priskha

Priskha

aq tadinya ngantuk berat tp setelah baca novel ini ngantukku jd ilang dan pingin baca trs krn penasaran dan senang dg tokoh wanitanya yg tegas

2026-07-31

0

Sweet Girl

Sweet Girl

Waaaah seenaknya mengklaim begitu...
habis ini denger baik baik Bu Ratna...
bisa gila kamu setelah itu.

2026-06-17

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!