Episode 3

Bab 03

Dimas menutup telepon dengan perasaan tidak enak.

Ia tidak langsung memasukkan ponsel ke saku. Selama beberapa detik, ia menatap layar yang sudah kembali ke daftar panggilan. Nama Naira masih ada di sana, tanpa foto, tanpa kata manis. Dulu ia menyimpan kontak istrinya dengan nama "Rumah".

Entah sejak kapan ia menggantinya menjadi Naira.

"Mas?"

Suara Clara membuat Dimas menoleh.

Perempuan itu duduk di kursi penumpang mobilnya. Rambutnya sedikit berantakan, satu tangan memegang pergelangan kaki yang tidak terlihat luka. Wajahnya pucat, tapi matanya masih jernih.

"Dia marah?" tanya Clara pelan.

Dimas menyalakan mesin. "Tidak."

"Aku jadi tidak enak. Hari ini penting untuk Mbak Naira, kan?"

Dimas menarik napas. "Ayahnya baru pulang. Bisa diatur ulang."

Clara menunduk. "Tapi aku merasa merepotkan."

Kalimat itu seharusnya membuat Dimas lega. Clara tidak pernah meminta dengan kasar. Ia selalu seperti itu, lembut, tahu diri, seolah semua orang yang membantunya melakukannya atas kemauan sendiri.

Naira berbeda akhir-akhir ini.

Naira menatapnya dengan mata yang membuat Dimas merasa seperti terdakwa.

"Kamu yakin tidak perlu ke IGD?" tanya Dimas.

"Aku baik-baik saja. Hanya kaget. Tapi pasien di lantai tiga benar-benar butuh aku. Aku tidak bisa lambat."

"Aku antar."

Clara mengangguk. "Terima kasih, Mas."

Mobil melaju keluar dari parkiran rumah sakit. Dari kaca spion, Dimas sempat melihat sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan. Bentuknya familiar, terlalu mewah untuk parkiran rumah sakit biasa. Beberapa pria berjas berdiri di dekatnya.

Ia tidak memperhatikan lebih jauh.

Pikirannya masih terganggu oleh suara Naira.

Tidak perlu.

Dua kata itu pendek, tapi dinginnya bertahan di telinga.

Sementara itu, Naira masuk ke mobil hitam tanpa menoleh ke rumah keluarga Mahendra.

Seorang pria paruh baya dengan setelan gelap duduk di kursi depan. Namanya Bagas, orang kepercayaan ayahnya sejak Naira kecil. Ia menoleh, matanya memerah sedikit ketika melihat Naira.

"Non Naira."

Sebutan itu sudah lama tidak ia dengar.

"Pak Bagas," jawab Naira.

"Tuan Surya menunggu di rumah lama Menteng."

"Bukan bandara?"

"Beliau sudah mendarat subuh. Tidak ingin mengganggu keputusan Non."

Naira menatap keluar jendela. Pohon-pohon di pinggir jalan bergerak mundur. Jakarta sore itu padat, klakson terdengar di mana-mana, tetapi di dalam mobil, hening terasa sangat rapi.

Ayahnya sudah tiba sejak subuh.

Ayahnya bisa saja datang menjemputnya langsung, menunjukkan kepada Dimas siapa keluarga yang selama ini ia remehkan.

Tapi ayahnya menunggu.

Karena Naira meminta.

"Dia tidak datang?" tanya Bagas hati-hati.

Naira tersenyum tipis. "Dia datang ke tempat lain."

Bagas menunduk. Ia tidak bertanya lagi.

Mobil berbelok ke kawasan Menteng, lalu masuk ke halaman rumah tua berpagar tinggi. Tidak ada papan nama. Tidak ada simbol mencolok. Hanya rumah kolonial yang terawat, halaman luas, dan orang-orang yang berdiri tegak di kiri kanan jalan masuk.

Begitu Naira turun, semua menunduk.

"Selamat datang, Non Naira."

Suara itu serempak, rendah, dan penuh hormat.

Naira berhenti satu detik.

Lima tahun di rumah Mahendra, ia terbiasa dipanggil kalau air minum habis, kalau sambal kurang, kalau Bu Ratna perlu obat maag. Di sini, orang-orang yang bahkan lebih tua darinya menunduk bukan karena takut kepada suaminya, tapi karena tahu siapa dia.

Pintu utama terbuka.

Seorang pria berdiri di ambang pintu.

Rambutnya sudah lebih banyak putih, tapi punggungnya tetap tegak. Wajahnya keras, wajah orang yang terlalu lama memerintah dan terlalu jarang dibiarkan terlihat lemah. Namun saat melihat Naira, semua kekerasan itu retak.

"Naira."

Satu kata.

Kaki Naira seperti kehilangan tenaga.

Ia berjalan cepat. Lalu lebih cepat. Saat berada di depan pria itu, ia tidak sempat menjaga wajahnya lagi.

"Papa."

Surya Atmadja memeluk putrinya.

Pelukan itu tidak lembut. Terlalu kuat, seperti ia takut Naira akan hilang lagi kalau dilepas. Naira menahan napas, lalu tubuhnya perlahan menyerah.

Ia tidak menangis saat Clara menjatuhkan undangannya.

Ia tidak menangis saat Dimas memilih pergi.

Tapi di dada ayahnya, matanya panas.

"Maaf," kata Surya dengan suara serak. "Papa pulang terlambat."

Naira menggeleng. "Papa pulang."

"Siapa yang menyakitimu?"

Pertanyaan itu pelan, tetapi orang-orang di halaman seperti ikut menahan napas.

Naira melepaskan pelukan. Ia menatap ayahnya. "Aku yang akan mengurusnya."

Surya menatapnya lama.

"Kamu masih membelanya?"

"Tidak."

"Lalu kenapa Papa tidak boleh bergerak?"

"Karena kalau Papa yang bergerak, semua orang akan bilang aku menang karena nama Atmadja." Naira mengusap sisa basah di sudut matanya. "Aku ingin mereka tahu aku tidak perlu diselamatkan dari awal. Aku hanya terlalu lama memilih diam."

Surya menutup mata sebentar.

Ketika ia membukanya lagi, tatapannya kembali tajam.

"Baik. Tapi kalau mereka menyentuhmu sekali lagi..."

"Aku tahu."

"Tidak, kamu belum tahu." Surya mencondongkan tubuh sedikit. "Nama Atmadja tidak pernah meninggalkan anaknya dua kali."

Naira terdiam.

Di belakang mereka, Bagas berdiri dengan kepala tertunduk. Ia membawa sebuah map kulit hitam.

"Dokumen yang Non minta sudah siap," katanya.

Naira menerima map itu. Di dalamnya ada salinan sertifikat rumah yang selama ini ditempati keluarga Mahendra, dokumen kepemilikan saham awal Mahendra Health Group, dan perjanjian lisensi paten farmasi yang selama ini menjadi mesin uang perusahaan Dimas.

Semua nama pemilik aslinya mengarah pada satu garis.

Naira Salsabila Atmadja.

Ia menutup map.

"Besok aku pulang ke rumah Mahendra."

Surya langsung mengerutkan kening. "Untuk apa?"

"Mengambil yang tersisa."

"Orang-orang Papa bisa mengambilnya."

"Bukan barang." Naira menatap map di tangannya. "Harga diriku."

Surya tidak menjawab.

Ia mengenal tatapan itu. Tatapan yang dulu dimiliki Sari Anggraini ketika menghadapi komite etik yang berusaha memaksanya menarik laporan. Tatapan perempuan yang sudah memutuskan jalan dan tidak bisa digeser oleh siapa pun.

Di tempat lain, Dimas mengantar Clara sampai ruang dokter.

Clara berjalan normal begitu turun dari mobil, lalu baru sadar Dimas melihat. Ia cepat-cepat sedikit pincang.

Dimas tidak berkomentar.

"Mas, kamu sebaiknya susul Mbak Naira," kata Clara.

"Nanti."

"Aku takut dia salah paham."

Dimas memijat pelipis. Migrainnya mulai naik. Biasanya jam segini Naira sudah menyiapkan obat dan minuman hangat. Hari ini rantang obatnya tertinggal di kantor, undangannya rusak, dan ia pergi entah ke mana.

Untuk pertama kali, rumah terasa tidak otomatis menunggunya.

"Dia akan pulang," kata Dimas, entah kepada Clara atau dirinya sendiri.

Clara menatapnya. "Kamu yakin?"

Dimas terdiam.

Ia ingin menjawab ya.

Naira selalu pulang.

Setelah bertengkar dengan ibunya, setelah dihina Vina, setelah ia lupa ulang tahun pernikahan mereka, setelah ia membatalkan janji berkali-kali, Naira selalu kembali ke dapur, ke kamar, ke sisinya.

Tapi suara Naira tadi berbeda.

Tidak perlu.

Clara menyentuh lengan Dimas pelan. "Mas, maaf. Karena aku, kamu jadi..."

Dimas menarik tangannya perlahan. "Istirahat saja."

Clara menurunkan mata, tampak terluka.

Dimas melihatnya, lalu rasa bersalah yang lama kembali bekerja. Ia berkata lebih lembut, "Aku akan minta Rendi jemput kamu nanti."

"Terima kasih."

Malam itu, Dimas pulang lebih awal dari biasanya.

Ia berharap melihat Naira di ruang makan. Atau di dapur. Atau di kamar, duduk diam sambil menunggunya meminta maaf lebih dulu.

Tapi rumah sunyi.

Bu Ratna sedang menonton televisi di ruang keluarga.

"Naira mana?" tanya Dimas.

Bu Ratna tidak menoleh. "Belum pulang. Paling drama."

Vina yang duduk di karpet tertawa. "Biarin saja, Mas. Nanti juga balik kalau lapar."

Dimas berdiri di tengah ruang keluarga.

Untuk pertama kali, kalimat itu tidak terdengar lucu.

Ia naik ke kamar.

Lemari Naira masih tertutup. Meja riasnya rapi. Di atas bantal, tidak ada pesan.

Tapi di nakas, cincin pernikahan Naira tergeletak.

Dimas mengambilnya.

Dingin.

Sangat dingin.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor Naira masuk.

Besok pukul sepuluh. Aku pulang untuk bicara.

Dimas mengetik cepat.

Kamu di mana?

Pesannya terkirim.

Tidak dibaca.

Dimas menggenggam cincin itu sampai telapak tangannya sakit.

Di rumah lama Menteng, Naira berdiri di depan jendela kamar. Di belakangnya, map dokumen terletak di meja. Cincin Dimas sudah tidak ada di jarinya.

Untuk pertama kali dalam lima tahun, jari manisnya terasa ringan.

Terpopuler

Comments

Tangsah Jagad

Tangsah Jagad

keluarga benalu paling nyesek nemu kyk gini

2026-06-28

0

Sweet Girl

Sweet Girl

Persiapkan mental mu Dimas...

2026-06-17

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!