Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!
Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Lilin dupa beraroma kayu gaharu menyala tenang di atas meja rias giok.
Di atas ranjang kayu cendana yang beralaskan kasur sutra sembilan lapis, Gu Ran duduk bersila dengan mata terpejam santai. Suasana malam di Puncak Pedang Utama begitu hening, hanya diselingi desir angin gunung yang menyapu atap genting paviliun.
Dua hari berlalu sejak peristiwa eksekusi di pelataran aula. Ketundukan penuh dari keluarga Patriark dan kepatuhan cemas Song Ming yang setia mencicipi setiap butir nasi telah mengalirkan energi takdir secara stabil ke dalam cadangan sistemnya.
Gu Ran memusatkan pikirannya, memanggil layar antarmuka abu-abu transparan di depan pandangan batinnya.
[Saldo Poin Penebusan Karma: 1.000 Poin.]
[Inventaris Sistem: 1x Pil Pemurni Meridian Tingkat Satu.]
[Katalog Toko Tingkat 1: Beli Pil Pelebur Tulang Emas (1.000 Poin)?]
“Beli,” gumam Gu Ran pelan dalam benaknya.
Denting lonceng mekanis berbunyi lembut di gendang telinganya.
[Transaksi Berhasil. Pil Pelebur Tulang Emas telah dipindahkan ke telapak tangan pengguna.]
Cahaya keemasan tipis berpendar di telapak tangan kanan Gu Ran. Sebutir pil bulat seukuran biji kelengkeng muncul di sana, memancarkan aroma wangi herbal segar yang seketika membersihkan hidungnya dari bau pengap perban obat.
Di tangan kirinya, pil pemurni meridian berwarna biru langit yang diperoleh dari hadiah sandera pertama juga telah siap.
Sejak lahir, Gu Ran divonis menderita Meridian Sembilan Belitan Cacat. Sembilan jalur energi utama di tubuhnya terputus-putus bagai tali rami lapuk, membuatnya tidak mampu menyerap Qi fana dari udara bebas. Lima tahun menghirup debu belerang di Lembah Tungku kian menimbun jelaga hitam di sela-sela urat nadinya.
Gu Ran memasukkan kedua pil pusaka tersebut ke dalam mulutnya secara bersamaan.
Kedua pil itu seketika meleleh menjadi cairan hangat begitu menyentuh lidah, lalu meluncur deras melewati kerongkongan.
Sensasi panas yang membakar seketika menjalar ke seluruh rongga dadanya.
Cairan obat itu merembes ke jaringan daging dan tulang belikatnya. Di dalam jalur energinya, kotoran jelaga hitam pekat yang mengerak selama bertahun-tahun mulai terkikis paksa, mengalir keluar melalui pori-pori kulitnya berupa butiran keringat gelap berbau asam belerang.
Rasa sakitnya mirip ratusan jarum tembaga panas yang menusuk daging secara serentak.
Namun bagi pemuda yang selama lima tahun terbiasa dicambuk kawat tembaga oleh Mandor Wu, rasa sakit ini terasa sangat remeh. Gu Ran bahkan tidak mengernyitkan alisnya; napasnya tetap teratur dan stabil di atas ranjang sutra.
Serat-serat meridian yang dulu koyak dan rapuh perlahan dialiri benang-benang cairan emas murni. Serat itu saling bertaut, merajut sambungan baru yang memancarkan pendar keemasan purba di balik kulit tipisnya.
Di saat yang sama, jauh di kedalaman tebing belakang sekte.
Song Pojun yang sedang duduk bersila di atas batu pertapaan Gua Larangan tiba-tiba membuka matanya perlahan.
Leluhur tua itu memegang ulu hatinya dengan ekspresi tercengang.
Luka dalam akibat benturan dantian seratus tahun lalu yang biasanya berdenyut ngilu setiap tengah malam, mendadak terasa menghangat. Aliran darah di pembuluh dadanya yang lama tersumbat kini mengalir lancar, menebarkan rasa nyaman yang sangat asing ke seluruh persendian tuanya.
“Aneh…” bisik Song Pojun bingung sambil meraba janggut putihnya. “Mengapa sumbatan meridianku tiba-tiba mengendur? Apakah ini tanda-tanda terobosan alami dari langit?”
Orang tua itu menggelengkan kepala, sama sekali tidak menyadari bahwa kesegaran tubuhnya merupakan efek samping dari pil sistem yang sedang ditelan oleh sandera jiwanya di paviliun seberang jurang.
Sementara itu, di koridor luar kamar Gu Ran.
Song Ming berdiri mematung di samping tiang kayu dengan nampan teh yang sudah kosong di tangannya. Tuan Muda itu melirik ke arah celah pintu geser sutra dengan pupil mata menyipit waspada.
Dari dalam kamar, terdengar desingan angin tipis yang berputar halus.
Dengung apa itu? batin Song Ming cemas. Apakah pemuda berambut putih itu sedang mencoba menyerap Qi? Tapi bukankah meridiannya cacat sejak lahir?
Belum sempat Song Ming menarik napas, sebuah denting merdu terdengar dari dalam kamar.
KLIK! KRAK!
Bunyi retakan itu terdengar renyah dan berirama, bagai serpihan batu giok yang merekah melepaskan intinya.
Di dalam kamar, pusaran hawa murni berputar di sekeliling tubuh Gu Ran, meniup ujung rambut putihnya hingga berkibar lembut. Lapisan pertama dari sembilan belitan meridian cacatnya telah tersambung seutuhnya, diselimuti ukiran corak emas purba yang menolak hukum energi fana.
Sensasi kekuatan baru mengalir deras ke setiap serat ototnya.
Gu Ran membuka kedua matanya perlahan. Iris kelabu gelapnya berkilat dengan pendar keemasan tipis yang misterius, sebelum akhirnya kembali menjadi tatapan malas yang datar.
Tanpa perlu menyerap sebutir pun batu roh fana, raga pemuda itu telah melompat melewati belenggu orang biasa, menerobos langsung ke Tingkat 3 Pemurnian Qi.
Gu Ran merentangkan kedua tangannya, lalu menguap lebar.
“Meridian sudah agak mendingan,” gumam Gu Ran sambil menatap tangannya yang bersih. “Besok siang… saatnya jalan-jalan ke Lembah Tungku.”