Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.
Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.
Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Sandiwara Sang Penguasa dan Semangkuk Bubur Kehidupan
Keheningan yang pekat menguasai ruangan berukuran tiga kali empat meter itu. Hanya suara rintik hujan yang tak kunjung reda di luar jendela yang menjadi latar dari drama kecil di pagi yang dingin tersebut.
Arga Danendra, sang tiran dunia bisnis yang biasanya menentukan nasib ribuan karyawannya hanya dengan satu jentikan jari, kini berbaring tak berdaya di atas kasur tipis. Di hadapannya, Senja Kirana berdiri mematung. Tangan kecil gadis itu masih menutupi mulutnya, menahan isakan yang tanpa sadar lolos dari tenggorokannya.
Air mata Senja menetes, mengalir di pipinya yang pucat, jatuh membasahi lantai semen yang kotor.
Arga menatap lekat-lekat tetesan air mata itu. Di dunia yang ia kenal, air mata wanita adalah senjata mematikan yang digunakan untuk memanipulasi, memeras, atau mencari belas kasihan demi keuntungan materi. Natasha pernah menangis menderu-deru saat meminta dibelikan tas Hermes edisi terbatas, beralasan bahwa teman-teman sosialitanya merendahkannya. Wanita-wanita lain menangis saat Arga memecat mereka karena ketahuan menjual rahasia perusahaan.
Namun air mata Senja berbeda. Kristal bening yang jatuh dari pelupuk mata gadis itu tidak membawa motif apa pun selain murni sebuah empati yang menyakitkan. Gadis itu menangis untuknya. Menangisi penderitaan palsu yang baru saja Arga karang.
"T-Tidak punya siapa-siapa...?" suara Senja bergetar hebat. Ia menurunkan tangannya, menatap Arga dengan pandangan yang membuat dada sang CEO terasa sesak. Pandangan itu seolah menembus topeng keangkuhannya, menggapai sudut paling sepi di dalam jiwa Arga yang selama ini ia kunci rapat-rapat.
Senja tahu betul bagaimana rasanya kehilangan. Ia tahu bagaimana rasanya berdiri di tengah dunia yang luas ini sendirian, tanpa ada satu pun tangan yang terulur untuk menolong, tanpa ada satu pun tempat untuk pulang. Mendengar cerita pria di hadapannya—seorang pria yang dirampok, ditusuk, dan kehilangan ingatannya di kota yang asing—membangkitkan trauma sekaligus insting melindungi di dalam hati kecil Senja.
"Anda pasti sangat ketakutan semalam," bisik Senja parau. Gadis itu perlahan mendekat, lalu kembali berjongkok di samping kasur Arga. Kali ini, tidak ada keraguan atau ketakutan di matanya, yang ada hanyalah kelembutan yang luar biasa.
Arga menelan ludah. Tiba-tiba, sebuah rasa bersalah yang sangat asing dan tidak nyaman menyusup ke dalam hatinya. Kebohongannya terlalu sempurna, dan gadis ini terlalu suci untuk ditipu. Namun, ia tidak bisa mundur sekarang. Jika ia mengatakan yang sebenarnya bahwa ia adalah miliarder yang sedang diburu pembunuh bayaran, gadis ini akan berada dalam bahaya besar.
"Aku... aku hanya ingat sedikit," Arga melanjutkan sandiwaranya, menundukkan pandangan agar Senja tidak melihat kilat perhitungan di matanya. "Kepalaku seperti mau pecah setiap kali aku mencoba mengingat detail kejadiannya. Aku tidak tahu harus pergi ke mana."
"Jangan dipaksakan, Tuan. Jangan dipaksakan," Senja buru-buru menyela, nada suaranya terdengar panik dan menenangkan di saat yang bersamaan. "Dokter di panti asuhan dulu pernah bilang, orang yang mengalami trauma berat atau benturan di kepala memang butuh waktu. Ingatan Anda pasti akan kembali perlahan-lahan. Untuk sekarang, yang paling penting adalah Anda selamat."
Senja mengusap sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu memaksakan sebuah senyum lebar. Senyum yang melengkung indah, begitu tulus dan hangat, seolah mampu mengusir mendung di langit pagi itu.
"Kalau begitu, Tuan bisa tinggal di sini untuk sementara waktu," ucap Senja mantap, tanpa keraguan sedikit pun.
Arga tersentak pelan. Mata elangnya melebar, menatap gadis kecil yang bahkan untuk menghidupi dirinya sendiri tampak sangat kesulitan itu. "Tinggal di sini? Bersamamu?"
"Iya," Senja mengangguk cepat. "Memang tempat ini sangat sempit, jelek, dan kalau hujan deras kadang atapnya bocor. Tapi setidaknya, di sini hangat dan aman dari preman-preman jahat itu. Tuan bisa tinggal di sini sampai luka tusuk Tuan sembuh dan sampai ingatan Tuan kembali."
Otak jenius Arga bekerja. Logika macam apa ini? Ia adalah pria dewasa, bertubuh besar, asing, dan tidak memiliki identitas. Di kota yang kejam ini, membiarkan pria asing masuk ke dalam rumah seorang gadis yang hidup sendirian adalah tindakan bunuh diri.
"Kau tidak takut padaku?" suara Arga memberat, menguji gadis itu. "Aku adalah orang asing. Bagaimana jika aku sebenarnya penjahat? Bagaimana jika aku orang jahat yang sedang menyamar?"
Senja terdiam sejenak. Ia memiringkan kepalanya, menatap wajah Arga dengan saksama. Walaupun wajah pria itu tertutup memar dan terdapat bekas luka goresan, ketampanannya tetap tak bisa disembunyikan. Rahangnya yang tegas, hidungnya yang mancung, dan alisnya yang tebal. Namun, bukan fisik yang Senja nilai.
"Orang jahat tidak akan memiliki tatapan yang begitu kesepian seperti Anda, Tuan," jawab Senja lembut, memberikan pukulan telak tak kasat mata tepat ke ulu hati Arga.
Arga tertegun. Kesepian? Apakah selama ini tatapannya terlihat seperti itu?
"Lagipula," tambah Senja sambil tertawa kecil, memecah ketegangan, "Orang jahat yang mana yang berakhir menangis kedinginan dan nyaris mati kehabisan darah di dekat tempat pembuangan sampah? Kalau Anda penjahat, Anda pasti penjahat yang sangat tidak beruntung."
Arga nyaris mendengus kesal, namun ia menahannya. Di perusahaannya, ia ditakuti bak dewa kematian. Di sini, ia baru saja dikasihani dan dianggap penjahat amatiran oleh gadis berusia awal dua puluhan. Ironi ini sungguh luar biasa.
"Jadi, siapa nama yang Anda ingat? Saya tidak mungkin terus memanggil Anda 'Tuan', kan?" tanya Senja.
"Arga," jawabnya singkat. Ia memutuskan untuk menggunakan nama aslinya. Nama depan yang pasaran dan tidak akan terlalu memancing kecurigaan. Lagipula, tak ada yang akan menyangka bahwa Arga Danendra yang agung bersembunyi di ruko kumuh pinggiran kota.
"Baiklah, Kak Arga," Senja tersenyum cerah, menambahkan panggilan kehormatan 'Kakak' karena jelas terlihat usia pria itu beberapa tahun di atasnya. "Namaku Senja. Mulai hari ini, Kak Arga adalah tamuku. Jangan khawatir soal apa pun, fokus saja pada pemulihan luka Kakak."
Belum sempat Arga membalas ucapan manis itu, suara pengkhianat dari perut Senja kembali berbunyi. Kali ini lebih nyaring dari sebelumnya.
Krucuk... krucuk...
Wajah Senja yang pucat kembali memerah padam layaknya kepiting rebus. Ia menunduk dalam-dalam, mengutuk perutnya yang tidak bisa diajak bekerja sama sedikit pun.
Arga mengernyitkan dahi. Ia menggunakan mata elangnya yang terbiasa menganalisis laporan keuangan untuk menyapu ke seluruh penjuru ruangan. Matanya tertuju pada sebuah kaleng biskuit usang di dekat kompor gas yang terbuka setengah. Di dalamnya, tidak ada biskuit, melainkan hanya ada beberapa butir beras yang bahkan tidak cukup untuk membuat setengah kepal nasi. Tidak ada telur, tidak ada mi instan, tidak ada apa pun.
Gadis ini benar-benar tidak memiliki makanan.
Senja dengan canggung berdiri, merogoh saku celananya yang mulai mengering. Ia mengeluarkan sebuah dompet kain kecil bermotif bunga yang sudah pudar warnanya. Saat ia membukanya, Arga yang memiliki penglihatan tajam bisa melihat isinya. Hanya ada dua lembar uang lima ribu rupiah yang sudah lecek, dan beberapa keping uang logam.
Itu adalah seluruh harta kekayaan yang Senja miliki hari ini.
"Ehm... Kak Arga pasti lapar, kan? Orang sakit harus makan agar obatnya bisa bekerja," ucap Senja dengan nada riang yang terlalu dipaksakan. Ia mengambil uang yang sangat menyedihkan itu dan memasukkannya ke dalam saku. "Tunggu sebentar ya, aku akan pergi keluar membeli sarapan untuk kita berdua. Kakak jangan banyak bergerak, lukanya bisa robek lagi."
Tanpa menunggu jawaban Arga, Senja meraih sebuah payung usang yang ada di dekat pintu. Ia mengabaikan fakta bahwa bajunya masih sedikit lembap dan tubuhnya sendiri masih menggigil kedinginan. Dengan langkah ringan, ia keluar menembus gerimis pagi, meninggalkan Arga sendirian.
Begitu pintu tertutup, ekspresi wajah Arga berubah total. Topeng pria amnesia yang rapuh dan menyedihkan itu lenyap tak berbekas, digantikan oleh aura dingin, kejam, dan penuh perhitungan khas sang CEO Danendra Group.
Ia meringis saat mencoba memperbaiki posisi duduknya. Matanya menatap kaleng beras yang kosong dan memori tentang uang receh di dompet gadis itu berputar di kepalanya.
Sepuluh ribu rupiah.
Arga bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia melihat pecahan uang sekecil itu. Kopi pagi yang biasa ia minum di lounge perusahaannya seharga lima ratus ribu rupiah per cangkir. Sekali makan siang bersama klien, ia bisa menghabiskan puluhan juta. Baginya, uang adalah angka digital yang terus bertambah di rekeningnya. Namun bagi Senja, sepuluh ribu rupiah adalah batas antara bertahan hidup dan kelaparan.
Gadis bodoh, rutuk Arga dalam hati, namun entah mengapa tidak ada nada merendahkan dalam rutukannya. Kau sendiri kelaparan, miskin, dan nyaris tidak bisa hidup, tapi kau menampung pria asing yang terluka. Di dunia mana kau dibesarkan hingga memiliki hati sebodoh ini?
Di belahan kota yang lain, kepanikan tingkat tinggi sedang melanda lantai enam puluh Gedung Danendra Group.
Suasana ruangan itu begitu tegang hingga udara terasa seperti bisa diiris dengan pisau. Raka Narendra, pria yang biasanya selalu santai dengan senyum miring jenakanya, kini berdiri dengan wajah sekeras batu granit. Kemeja marunnya kusut, rambutnya berantakan, dan matanya merah karena tidak tidur semalaman penuh.
Di hadapannya, berdiri Kapten Tim Keamanan Elite Danendra, seorang pria berbadan tegap dengan wajah penuh bekas luka, menunduk dengan tubuh gemetar.
"Katakan sekali lagi, dan kali ini pastikan telingaku tidak salah dengar," desis Raka dengan nada rendah yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan kemarahan.
"K-Kami menemukan mobil Aston Martin milik Tuan Arga di perbatasan distrik selatan, Tuan Raka," lapor kapten itu dengan suara tertahan. "Mobil itu hancur menabrak pembatas jalan. Ada tanda-tanda pengereman paksa dan pengepungan. Dan... kami menemukan banyak darah di kursi kemudi serta di aspal sekitar mobil."
Brak!
Raka menggebrak meja marmer Arga dengan kekuatan penuh hingga retak, membuat sang kapten mundur selangkah.
"Di mana dia sekarang?! Di mana bos kalian?!" raung Raka, kehilangan kendali. Sahabat yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri menghilang bersimbah darah, dan anjing-anjing keamanannya tidak tahu apa-apa.
"K-Kami sudah menyisir radius lima kilometer dari lokasi kejadian, Tuan. Tapi hujan badai semalam menghapus semua jejak dan aroma. Tuan Arga seolah... menghilang ditelan bumi. Kami menemukan beberapa bukti bahwa para penyerangnya adalah komplotan bayaran dari Grup Wijaya."
Mata Raka berkilat penuh amarah yang mematikan. Wijaya. Si tua bangka itu benar-benar mengibarkan bendera perang.
Raka memejamkan mata, menarik napas panjang, mencoba menekan kepanikannya. Jika ia hancur sekarang, kerajaan bisnis yang Arga bangun akan runtuh. Ia adalah tangan kanan sang raja, ia harus berpikir jernih. Arga bukan pria lemah. Arga adalah petarung jalanan sebelum menjadi CEO. Jika tidak ada mayat, berarti Arga masih hidup dan sedang bersembunyi.
"Dengarkan aku baik-baik," suara Raka kembali dingin dan tajam, penuh otoritas. "Kunci rapat-rapat informasi ini. Jangan sampai satu pun media, dewan direksi, apalagi Grup Wijaya tahu bahwa Arga menghilang. Jika berita ini bocor, saham kita akan anjlok dalam hitungan jam dan Wijaya akan mengambil alih."
"B-Baik, Tuan Raka. Apa yang harus kami lakukan?"
"Kirimkan tim intelijen tanpa seragam ke seluruh klinik kecil, puskesmas pinggiran, dan rumah sakit ilegal di distrik selatan. Arga terluka, dia pasti membutuhkan perawatan medis. Tapi jangan membuat keributan. Lakukan secara rahasia. Aku akan mengurus dewan direksi dengan dalih Arga sedang dinas rahasia ke Eropa untuk akuisisi perusahaan."
Kapten keamanan itu memberi hormat dan langsung bergegas keluar ruangan.
Sepeninggal kapten itu, Raka menjatuhkan dirinya ke kursi kebesaran Arga. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Beban berat langsung menghantam pundaknya.
"Kau ada di mana, Bos bodoh..." gumam Raka frustrasi. "Bertahanlah. Kau tidak boleh mati sebelum kutraktir minum atas kesuksesan proyek bulan lalu. Bertahanlah, Ga."
Kembali ke lingkungan kumuh di distrik selatan.
Setengah jam berlalu sejak Senja keluar. Pintu kayu reyot itu berderit pelan, terbuka menampilkan sosok Senja yang masuk sambil menggigil kedinginan. Rambutnya semakin basah karena payung usangnya tidak mampu menahan angin dan gerimis. Namun, tangannya memeluk erat sebuah kantong plastik kresek hitam, melindunginya dari air hujan seolah itu adalah benda paling berharga di dunia.
Senja meletakkan payungnya, lalu bergegas menuju meja kecil. Ia mengeluarkan dua buah mangkuk plastik yang warnanya sudah pudar. Dari dalam plastik hitam, ia mengeluarkan sebungkus bubur ayam murahan yang dibeli dari pedagang gerobak keliling.
Arga memperhatikan dalam diam. Bubur itu sangat encer, nyaris seperti air tajin, dengan taburan sedikit daun bawang layu, beberapa butir kacang kedelai, dan suwiran daging ayam yang saking tipisnya nyaris transparan. Bubur seharga lima ribu rupiah, yang bahkan kucing jalanan di penthouse Arga mungkin akan menolaknya.
Namun, hal yang membuat Arga tertegun bukanlah kualitas bubur itu, melainkan tindakan Senja selanjutnya.
Gadis itu menuangkan seluruh isi bungkus bubur ayam itu ke dalam satu mangkuk besar. Tidak ada yang dibagi dua. Mangkuk yang satu lagi dibiarkan kosong.
Senja mengambil sendok, meniup perlahan uap panas yang menguar dari mangkuk berisi bubur itu, lalu berjalan mendekati Arga dengan senyum hangat andalannya.
"Ini dia, Kak Arga! Bubur ayam paling enak di distrik ini," ucap Senja riang, duduk di lantai samping kasur. "Maaf ya cuma bubur sederhana, perut orang sakit tidak boleh makan makanan yang terlalu keras dulu."
Arga menatap mangkuk penuh itu, lalu menatap mangkuk kosong di atas meja. Pandangannya kembali pada wajah pucat Senja. "Mana bagianmu?"
Senja tersentak pelan, namun dengan cepat ia memasang wajah tanpa dosa. "Ah! Aku? Aku sudah makan, kok!"
"Kapan?" suara Arga terdengar berat, menyelidik.
"B-Barusan! Di gerobak pamannya. Aku beli dua porsi, satu kumakan di sana sambil berteduh, satu lagi kubawa pulang untuk Kak Arga," Senja berbohong dengan sangat buruk. Mata bulatnya berkedip cepat, dan ia terus menghindari kontak mata. Ia tidak berani menatap mata elang pria di hadapannya yang seolah bisa menembus hingga ke dasar jiwanya.
Arga Danendra tidak bodoh. Ia tahu persis isi dompet gadis itu sebelum berangkat tadi. Sepuluh ribu rupiah. Uang receh itu tidak akan cukup untuk membeli dua porsi bubur utuh. Gadis ini berbohong. Ia menghabiskan seluruh sisa uangnya hanya untuk membeli satu porsi makanan untuk seorang pria yang bahkan tidak mengingat identitasnya. Sementara ia sendiri, yang perutnya sudah keroncongan sejak tadi, rela menahan lapar.
Sebuah emosi yang kuat menabrak dada Arga. Rasa marah yang aneh, bercampur dengan rasa ngilu di hatinya. Kenapa? Kenapa gadis ini rela menderita sejauh ini untuk orang lain?
"Makanlah, Kak. Mumpung masih hangat," desak Senja, menyodorkan mangkuk itu lebih dekat, seolah tidak peduli pada tubuhnya sendiri yang mulai lemas karena hipoglikemia.
Arga tidak bergerak menerima mangkuk itu. Wajahnya mengeras, kembali memancarkan dominasi yang tak bisa dibantah. Dengan gerakan perlahan yang menahan sakit di pinggangnya, Arga menyandarkan punggungnya ke dinding yang lembap.
"Aku tidak suka bubur," ucap Arga dingin, matanya menatap tajam Senja.
Senja tampak terkejut. Senyumnya sedikit memudar. "T-Tapi... perut Kakak butuh makanan lunak. Sedikit saja, Kak. Demi kesembuhan Kakak."
"Aku bilang aku tidak mau," tolak Arga lebih tegas, menyilangkan tangannya di dada dengan gestur arogan yang sudah menjadi kebiasaannya. "Bubur itu terlalu banyak. Aku baru sadar dari pingsan, perutku akan mual kalau dipaksa makan sebanyak itu."
"Tapi Kak—"
"Setengah." Arga memotong ucapan Senja dengan nada mutlak seorang CEO yang tidak menerima bantahan dari bawahan. "Aku hanya akan makan jika porsinya dibagi setengah. Aku tidak suka makanan bersisa. Kalau kau tidak mau membaginya ke mangkuk yang satu lagi dan menghabiskannya, lebih baik buang saja bubur itu. Aku tidak akan memakannya."
Mata Senja membelalak lebar. "Dibuang?! T-Tidak boleh! Ini makanan, Kak, di luar sana banyak yang kelaparan!"
"Maka bagilah. Kau makan setengahnya." Arga menatap tepat ke manik mata Senja, tak membiarkan gadis itu mencari alasan lagi.
Senja menggigit bibir bawahnya yang pucat. Perutnya berontak hebat melihat uap panas dari bubur itu, namun ia merasa bersalah jika harus mengambil jatah makan pria sakit ini. Tapi ancaman Arga terdengar sangat serius, dan membuang makanan adalah sebuah dosa besar di kamus hidup Senja.
Dengan langkah ragu dan tertunduk patuh, Senja akhirnya kembali ke meja. Ia menuangkan setengah isi bubur itu ke mangkuk yang kosong. Sangat adil, ia bahkan membagi suwiran ayam yang tipis itu dengan presisi ke dalam dua mangkuk.
Ia kembali menghampiri kasur Arga, menyerahkan satu mangkuk pada pria itu dengan kepala menunduk malu. "I-Ini, Kak..."
Arga menerima mangkuk itu. Ia memperhatikan Senja yang kini duduk bersila di lantai agak jauh darinya, memegang mangkuknya sendiri. Gadis itu menatap makanannya dengan mata berbinar bahagia, lalu mulai menyuapkan sendok pertama ke dalam mulutnya. Ekspresi kenikmatan yang luar biasa terpancar dari wajah kusamnya. Seolah-olah apa yang sedang ia makan saat ini bukanlah bubur lima ribu rupiah, melainkan kaviar Rusia kualitas terbaik.
Melihat pemandangan itu, tanpa disadari, sudut bibir Arga tertarik membentuk lengkungan tipis. Senyum yang sangat jarang, nyaris mustahil, terlihat di wajah sang CEO tiran selama tujuh tahun terakhir.
Arga menyuapkan bubur itu ke mulutnya sendiri. Rasanya... hambar. Kaldu ayamnya encer, dipenuhi MSG murahan, dan tekstur nasinya terlalu lembek. Makanan ini sama sekali tidak masuk standar gizi yang biasa dikurasi oleh koki pribadi di mansion mewahnya.
Namun, saat bubur itu turun melewati kerongkongannya, mengalirkan kehangatan ke seluruh tubuhnya, Arga merasa ini adalah makanan paling nikmat yang pernah ia cicipi seumur hidupnya.
Bukan karena rasanya, melainkan karena keikhlasan dan pengorbanan yang disuapkan bersama makanan itu.
Arga menatap punggung kecil Senja yang sedang asyik makan sambil bersenandung pelan. Di bawah atap bocor, di tengah udara dingin yang membekukan tulang, dan tersembunyi dari para musuh yang memburunya, sang penguasa dunia bisnis yang kejam itu menemukan sebuah oase. Sebuah tempat di mana ia diakui sebagai manusia biasa, tempat di mana tidak ada kebohongan, dan tidak ada tuntutan apa pun selain sekadar bertahan hidup.
Di dalam hatinya, Arga membuat sebuah sumpah dalam diam.
Makanlah dengan tenang, Senja Kirana. Mulai hari ini, aku berjanji padamu. Untuk setiap tetes air mata dan setiap pengorbanan yang kau berikan pada pria tak berguna bernama Arga ini... suatu hari nanti, saat aku kembali naik ke singgasanaku, aku akan meletakkan seluruh isi dunia di bawah kakimu. Tidak akan kubiarkan seorang pun, menyakitimu lagi.
Dan pagi itu, di atas meja yang usang, dengan dua mangkuk bubur yang terbagi sama rata, takdir cinta yang paling mustahil di kota metropolitan ini mulai merajut kisahnya dengan indah, pelan, namun mengikat kuat selamanya.