"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"
Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.
Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.
Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.
Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?
Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.
Simak kisah mereka disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang kantor
Senin pagi, begitu Rain melangkah masuk ke kantor, sambutan yang dia terima jauh dari kata biasa. Beberapa kepala menoleh, beberapa lainnya berbisik-bisik pelan, dan Sari langsung menyambar begitu Rain baru saja duduk.
"Gimana Bandungnya? Sukses negosiasinya?" tanya Sari, meski nada suaranya menyiratkan dia lebih penasaran soal hal lain.
"Sukses, kontraknya deal," jawab Rain, berusaha fokus ke pertanyaan yang sebenarnya.
"Selain itu?" Sari mengangkat alis, menahan senyum.
"Nggak ada apa-apa lagi, Sari," Rain menjawab tegas, meski pipinya sedikit menghangat mengingat percakapan-percakapan kecil sepanjang perjalanan itu.
Sari cuma mengangguk-angguk dengan senyum penuh arti, jelas nggak sepenuhnya percaya, tapi memilih nggak menekan lebih jauh.
---
Sepanjang pagi, Rain sibuk menyusun laporan hasil negosiasi buat dipresentasikan ke Pak Hadi siang nanti. Di tengah kesibukan itu, Pandu muncul di dekat mejanya, membawa dua cangkir kopi seperti kebiasaan lama.
"Selamat datang kembali," kata Pandu, menyodorkan salah satu cangkir.
"Makasih," Rain menerimanya, tersenyum tulus. "Gimana kabarnya di sini selama aku pergi?"
"Biasa aja," jawab Pandu, meski ada jeda kecil sebelum dia melanjutkan. "Denger-denger negosiasinya sukses banget."
"Iya, untung ada Kenzo yang bantu analisis," jawab Rain, tanpa berpikir panjang.
Pandu diam sesaat, mengaduk kopinya sendiri meski nggak benar-benar meminumnya. "Kalian kelihatan makin akrab, ya, akhir-akhir ini."
Rain menoleh, sedikit terkejut dengan nada suara Pandu yang terdengar berbeda, bukan menghakimi, tapi ada semacam kekhawatiran yang coba disembunyikan.
"Kita cuma kerja bareng," jawab Rain, meski entah kenapa kalimat itu terasa kurang meyakinkan bahkan buat dirinya sendiri.
"Iya, aku tahu," Pandu buru-buru mengangguk. "Cuma... ya, udahlah. Nggak penting."
Dia berjalan pergi lagi, meninggalkan Rain dengan pertanyaan yang menggantung. Belakangan ini, Pandu semakin sering mengucapkan "nggak penting" di setiap percakapan yang sebenarnya penting dan Rain mulai lelah menebak-nebak apa maksud sebenarnya di balik kalimat itu.
---
Siang harinya, presentasi hasil negosiasi berjalan lancar di depan Pak Hadi dan jajaran direksi. Rain dan Kenzo bergantian menjelaskan detail kesepakatan, saling melengkapi tanpa perlu banyak koordinasi lagi seolah mereka udah terbiasa bekerja sebagai satu tim yang solid.
"Kerja bagus, kalian berdua," puji Pak Hadi, tersenyum puas. "Pertahankan kerja sama ini sampai proyek selesai."
Begitu keluar dari ruang rapat, Kenzo berjalan di samping Rain menuju ruangan proyek mereka.
"Pak Hadi kelihatan senang banget," komentar Rain.
"Wajar, kita berhasil hemat budget lumayan besar," jawab Kenzo, singkat seperti biasa.
"Kamu nggak seneng, gitu?" tanya Rain, setengah bercanda.
Kenzo melirik sekilas. "Aku senang. Cuma nggak perlu ditunjukin berlebihan."
Rain tertawa kecil, geleng-geleng kepala. "Kamu ini, selalu aja irit ekspresi."
"Kalau semua orang gampang baca ekspresiku," jawab Kenzo, nada suaranya sedikit lebih pelan dari biasa, "nanti kamu jadi gampang tahu juga soal hal-hal yang belum siap aku ungkapin."
Rain berhenti melangkah sejenak, menatap Kenzo yang terus berjalan tanpa menoleh lagi. Kalimat itu terasa seperti pengakuan terselubung sesuatu yang sengaja disampaikan setengah-setengah, cukup buat bikin Rain penasaran, tapi nggak cukup buat benar-benar jelas.
---
Sore harinya, di meja kerjanya sendiri, Rain menatap layar ponsel, membuka chat lama dengan Pandu, lalu chat yang lebih baru dengan Kenzo. Dua orang, dua cara berbeda buat menunjukkan perhatian satu yang selalu ada tapi selalu ragu, satu lagi yang jarang bicara tapi setiap kalimatnya terasa penuh maksud.
Untuk pertama kalinya, Rain menyadari sesuatu yang selama ini dia hindari untuk diakui:
Dia nggak lagi seyakin dulu soal siapa yang sebenarnya dia harapkan.
se mistery apa dia...
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...