Indonesia
NovelToon NovelToon
Keliru Mengenal Sang Kapten

Keliru Mengenal Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Bubur Ayam dan Setelan Pabrik Sang Kapten

Brak!

Pintu ruang UKS terbuka dengan sangat kasar, menghantam dinding pembatas di baliknya.

Amira, Alfian, dan Rio serempak menoleh ke arah sumber suara yang memekakkan telinga itu.

Di ambang pintu, Rara dan Maya berdiri dengan napas ngos-ngosan, wajah mereka memerah penuh peluh.

"AMIRA!" seru Rara histeris, langsung berlari menerjang ke arah ranjang UKS.

"Lo nggak apa-apa, kan?! Nggak geger otak, kan?! Berapa jari gue ini?!" cecar Maya panik sambil mengacungkan tiga jarinya tepat di depan wajah Amira.

Amira sedikit memundurkan kepalanya, meringis melihat tingkah kedua temannya yang super lebay.

"Gue nggak apa-apa, May. Cuma pusing dikit," jawab Amira menenangkan, memegang tangan Maya agar menjauh dari wajahnya.

Rara menoleh ke arah Alfian yang kini kembali berdiri dengan raut wajah super datar.

Rara menelan ludah dengan susah payah, nyalinya seketika ciut melihat aura membeku dari sang kapten.

"K-kak Alfian... makasih ya udah nolongin Amira," cicit Rara gugup, menundukkan kepalanya sedikit.

Alfian hanya membalasnya dengan gumaman pelan yang tak jelas maknanya.

Cowok itu merapikan kerah jersey-nya, membuang muka ke arah lain seolah kehadiran Rara dan Maya merusak pemandangannya.

"Gue balik ke lapangan," ucap Alfian singkat.

Tanpa menunggu balasan dari siapa pun, Alfian langsung melangkah keluar dari ruang UKS.

Rio hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang kembali memakai topeng es batunya itu.

"Tuh anak gengsinya emang setinggi menara sutet, Mir. Dimaklumin aja ya," kekeh Rio mencairkan suasana.

Rio pun ikut pamit menyusul Alfian, meninggalkan Amira bersama kedua temannya yang langsung mengerubungi ranjang layaknya detektif.

"Gila lo, Mir! Lo beneran diangkat ala bridal style tau nggak?!" bisik Maya heboh begitu cowok-cowok itu hilang dari pandangan.

"Satu lapangan jantungan lihat Kak Alfian lari kesetanan sambil gendong lo!" tambah Rara sambil menggoyang-goyangkan bahu Amira pelan.

Amira terdiam, matanya menatap botol teh manis pemberian Rio di atas nakas.

Pipinya mendadak terasa sedikit panas mengingat aroma mint dan detak jantung Alfian yang sempat ia rasakan dari dekat tadi.

"Dia... beneran panik banget ya?" tanya Amira pelan, nyaris seperti berbisik pada dirinya sendiri.

"Bukan panik lagi, Mir! Tampangnya udah kayak orang mau kehilangan nyawa!" tegas Maya meyakinkan.

Amira kembali menggigit bibir bawahnya.

Perasaan ganjil itu datang lagi, mengaduk-aduk perutnya hingga terasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di sana.

Satu jam kemudian, bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.

Guru penjaga UKS menyarankan Amira untuk langsung pulang dan beristirahat agar benjol di pelipisnya cepat kempis.

Rara dan Maya sudah menawarkan diri untuk mengantar, tapi Amira bersikeras ingin memesan ojek online saja agar teman-temannya tidak repot memutar arah.

Dengan langkah pelan dan kepala yang masih berdenyut halus, Amira menyusuri koridor lantai satu menuju gerbang depan.

Kondisi sekolah sudah mulai sepi, hanya tersisa beberapa anak yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.

Amira merogoh saku roknya, mencari ponselnya untuk memesan kendaraan.

"Loh? Kok layarnya retak?" gumam Amira kaget melihat layar ponselnya yang membentuk jaring laba-laba.

Ponsel itu mati total, tidak mau menyala sama sekali tak peduli sekeras apa pun Amira menekan tombol power.

Ia baru teringat kalau ponselnya terlempar saat bola basket itu menghantam kepalanya tadi.

"Sial banget sih hidupku hari ini," keluh Amira meratapi nasibnya di depan pos satpam.

Tanpa ponsel, ia tidak bisa memesan ojol, dan angkutan umum sangat jarang lewat di jalan raya depan sekolah jam segini.

Tin Tin Tin

Klakson nyaring dari sebuah mobil yang baru keluar dari gerbang sekolah membuat Amira berjengit kaget.

Mobil SUV hitam metalik itu berhenti tepat di depannya, menghalangi langkahnya menuju trotoar.

Kaca penumpang di sebelah kiri perlahan turun, menampilkan sosok cowok berkacamata hitam dengan kemeja seragam yang tidak dikancingkan.

"Masuk," perintah Alfian dari dalam, nadanya datar dan tak terbantahkan.

Amira mengerutkan dahi, melipat tangannya di dada.

"Nggak mau. Aku nunggu taksi aja," tolak Amira keras kepala.

Meski dalam hati ia tahu, taksi tidak akan pernah lewat di sini, gengsinya masih terlalu besar untuk menerima tawaran cowok itu.

Alfian menurunkan kacamata hitamnya sedikit, menatap Amira dengan tatapan menantang dari balik lensa.

"Taksi dari mana? Coba pesen pakai HP lo yang mati total itu," sindir Alfian dengan senyum miring mengejek.

Amira tersentak.

"Kok kamu tahu HP-ku rusak?!" tanya Amira curiga.

"Gue lihat pas lo ngelempar tuh barang rongsokan waktu pingsan. Udah, buruan masuk sebelum gue berubah pikiran," ancam Alfian tajam.

Amira menimbang-nimbang sebentar, menatap jalanan yang mulai sepi dengan perasaan dongkol.

Akhirnya, dengan langkah berat dan mulut yang berkomat-kamit merutuki nasib, Amira membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.

Brak!

Pintu ditutup dengan sedikit keras, membuat Alfian mendelik tajam ke arahnya.

"Jangan ngerusak pintu mobil gue," tegur Alfian dingin.

"Maaf, nggak sengaja," ketus Amira membuang muka ke arah jendela.

Mobil pun melaju meninggalkan area sekolah, membelah jalanan sore kota yang mulai padat merayap.

Suasana di dalam kabin kembali hening, persis seperti kejadian tempo hari saat hujan badai.

Namun kali ini, tidak ada suara rintik hujan yang menutupi kecanggungan di antara mereka.

Amira sesekali mengusap pelipis kirinya yang ditempeli plester kompres penurun panas dari UKS.

Setiap kali mobil mengerem mendadak karena macet, kepalanya berdenyut menyakitkan.

"Pak Tarjo, mampir ke bubur ayam depan perempatan lampu merah ya," instruksi Alfian tiba-tiba.

"Siap, Den," sahut Pak Tarjo dari depan.

Amira menoleh ke arah Alfian dengan bingung.

"Ngapain mampir bubur ayam? Aku mau langsung pulang," protes Amira tak terima rutenya dialihkan.

"Gue lapar," jawab Alfian tanpa menoleh, matanya sibuk menatap layar tablet di pangkuannya.

"Ya kalau lapar kamu makan aja sendiri! Turunin aku di depan gang sana!" sungut Amira mulai ngegas.

Alfian meletakkan tablet-nya, lalu menoleh menatap Amira dengan tatapan super tajam.

"Gue baru aja repot-repot angkat lo dari lantai, bawa lo ke UKS, dan ngasih tumpangan gratis," desis Alfian merinci semua kebaikannya.

"Sekarang lo nggak mau nungguin gue makan sebentar aja? Nggak tahu terima kasih banget lo jadi cewek."

Kata-kata pedas itu meluncur mulus bagai peluru kendali.

Amira langsung bungkam, merasa tertohok karena ucapan cowok itu memang benar adanya.

"I-iya, bawel! Makan sana sepuasnya," sungut Amira memalingkan wajahnya yang memerah karena kesal dan malu.

Alfian diam-diam mengukir senyum kemenangan di sudut bibirnya yang tak terlihat oleh Amira.

Lima belas menit kemudian, Pak Tarjo memarkirkan SUV besar itu di depan tenda bubur ayam pinggir jalan yang lumayan ramai.

"Tunggu sini, jangan ke mana-mana," perintah Alfian sebelum membuka pintu mobil.

Amira hanya bergumam malas sebagai jawaban.

Ia memperhatikan punggung lebar Alfian dari balik kaca jendela.

Cowok arogan anak orang kaya itu rupanya tidak canggung sama sekali makan di warung tenda pinggir jalan.

Alfian memesan sesuatu kepada penjual, lalu kembali ke arah mobil hanya dalam waktu beberapa menit dengan menenteng sebuah plastik putih.

Buka pintu mobil, masuk, duduk.

Alfian meletakkan kantong plastik putih yang masih mengepulkan uap panas itu tepat di atas pangkuan Amira.

Amira terlonjak kaget.

"Eh? Ini apa?" tanya Amira melongo, menatap mangkuk styrofoam di dalam plastik.

"Bubur ayam. Makan," jawab Alfian singkat, kembali memasang seatbelt-nya.

"Katanya tadi kamu yang lapar?" Amira mengerutkan keningnya, makin bingung dengan jalan pikiran cowok ini.

"Gue emang lapar. Makanya gue udah makan satu mangkuk di sana tadi," kilah Alfian tanpa berkedip.

"Terus ini?" Amira mengangkat kantong plastik itu setinggi dada.

Alfian menghela napas panjang, menatap Amira dengan raut wajah seolah sedang menghadapi anak TK yang susah diatur.

"Itu buat lo. Muka lo pucat kayak mayat hidup. Kalau lo pingsan lagi di dalam mobil gue, gue nggak mau repot bersihin jok gue dari liur lo," ucap Alfian dengan kata-kata setajam silet.

Meski kalimatnya menyakitkan, ada setitik kehangatan dari semangkuk bubur panas di pangkuan Amira.

Amira menatap wajah cowok itu lekat-lekat.

Setelan pabrik Alfian memang arogan dan menyebalkan, tapi cowok ini diam-diam sangat memperhatikan sekitarnya.

"Bilang aja kamu peduli, gengsi amat," gumam Amira pelan, nyaris tak terdengar.

"Lo bilang apa barusan?" Alfian memicingkan matanya.

"Nggak, bukan apa-apa! Makasih buburnya," sahut Amira cepat, buru-buru membuka mangkuk styrofoam itu sebelum Alfian berubah pikiran.

Aroma kaldu ayam dan bawang goreng langsung menguar, membuat perut Amira yang sejak tadi kosong kini berbunyi nyaring.

Suara perut keroncongan itu terdengar jelas di dalam kabin mobil yang sunyi.

Wajah Amira seketika memerah seperti kepiting rebus.

Alfian yang mendengarnya langsung membuang muka ke arah jendela, menutupi mulutnya dengan sebelah tangan menahan tawa yang hampir meledak.

"Ketawa aja nggak usah ditahan! Nanti kentutnya lewat mulut!" sungut Amira malu setengah mati, mulai menyuapkan bubur ke mulutnya dengan kasar.

Bukannya marah disemprot seperti itu, bahu Alfian justru bergetar pelan.

Tawa renyah yang rendah dan berat akhirnya lolos dari bibir sang kapten kulkas.

"Cewek aneh," gumam Alfian disela tawanya, suaranya terdengar jauh lebih hangat dari biasanya.

Amira tertegun, sendok di tangannya berhenti di udara.

Ia menatap profil samping Alfian yang sedang tertawa lepas.

Tawa itu... lagi-lagi sangat persis dengan memori yang selama ini ia kunci rapat-rapat.

Tapi kali ini, entah kenapa, Amira tidak lagi merasa sedang melihat bayangan Sky di wajah cowok ini.

Ia melihat Alfian. Murni sebagai Alfian Pratama.

Dan sialnya, Amira mulai menyukai tawa itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!