Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.
Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.
Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Panggilan dari Menara Gading dan Pilihan Sang Raja yang Terluka
Di lantai enam puluh Gedung Danendra Group, udara terasa setebal timah.
Raka Narendra berdiri mematung di depan dinding kaca raksasa ruang kerja sang CEO, menatap ke arah pemandangan kota metropolitan yang tertutup awan mendung abu-abu. Cangkir kopi kelimanya pagi ini telah dingin, tak tersentuh di atas meja marmer. Dasi sutranya sudah dilonggarkan sejak semalam, dan kantung matanya menghitam parah.
Selama hampir satu minggu, Raka telah memutar otak, memanipulasi data, dan berbohong di depan ratusan pasang mata dewan direksi demi menutupi hilangnya Arga Danendra.
Skandal pajak yang ia lemparkan untuk menghantam Wijaya Group memang berhasil membuat musuh bebuyutan mereka itu lumpuh dan disibukkan oleh penyelidikan kejaksaan. Namun, Raka lupa memperhitungkan efek domino dari serangan tersebut. Hancurnya Wijaya Group secara tiba-tiba justru memicu kepanikan di pasar saham. Para investor mulai mempertanyakan keberadaan Arga. Mereka menuntut pernyataan resmi dari sang CEO.
Dewan direksi yang rakus mulai mencium bau kebohongan. Rapat darurat pemegang saham telah dijadwalkan secara paksa lusa nanti. Jika Arga tidak muncul secara fisik untuk memimpin rapat tersebut, para direktur korup itu akan menggunakan klausul 'ketidakmampuan pemimpin' untuk melengserkan Arga dan mengambil alih kendali perusahaan yang dibangun sahabatnya itu dengan darah dan keringat.
Namun, bukan ancaman kudeta dewan direksi yang membuat Raka terlihat seperti orang yang nyaris putus asa pagi ini. Melainkan kehadiran dua orang tamu istimewa yang kini duduk di sofa kulit di dalam ruangan tersebut.
"Raka, Nak..."
Suara lembut namun bergetar itu membuat Raka membalikkan badan dengan canggung. Di atas sofa, duduk sepasang suami istri paruh baya dengan pakaian yang sangat sederhana, jauh dari kesan mewah keluarga miliarder. Mereka adalah Pak Baskoro dan Ibu Rini—kedua orang tua kandung Arga Danendra. Mantan guru sekolah dasar yang hidupnya selalu bersahaja meski anak tunggal mereka menguasai perekonomian kota.
Ibu Rini menatap Raka dengan mata yang bengkak dan merah karena terlalu banyak menangis. Tangan keriputnya meremas sapu tangan bersulam kembang.
"Katakan sejujurnya pada Ibu, Raka," isak Ibu Rini, suaranya parau. "Di mana Arga? Jangan berbohong lagi dengan mengatakan dia sedang dinas ke Eropa Timur. Semalam, perasaan Ibu sangat tidak enak. Kaca bingkai foto Arga di ruang tamu tiba-tiba pecah. Firasat seorang ibu tidak pernah salah, Nak. Anakku sedang dalam bahaya, kan? Dia terluka, kan?"
Mendengar pertanyaan itu, dada Raka terasa seperti dihantam godam baja. Pak Baskoro merangkul bahu istrinya yang bergetar, menatap Raka dengan sorot mata memohon yang sama menyayat hatinya.
Di dunia ini, Arga dan Raka adalah iblis korporat yang tidak takut pada politisi, mafia, atau ancaman pembunuhan. Namun, air mata Ibu Rini adalah kelemahan mutlak mereka berdua. Saat Arga hancur tujuh tahun lalu karena ditinggalkan Natasha, Ibu Rini-lah yang terus memeluk Arga hingga pemuda itu kembali bangkit.
"Bibi... Paman..." Raka menelan ludah, suaranya tercekat. Ia berlutut dengan satu kaki di depan sofa, menggenggam tangan keriput Ibu Rini. Ia tidak sanggup berbohong lagi pada wanita suci ini. "Arga... dia memang sempat terluka beberapa hari yang lalu."
Ibu Rini memekik tertahan, menutup mulutnya. Air mata menderas membasahi wajahnya. "Ya Tuhan... Anakku..."
"Tapi dia selamat, Bi! Dia masih hidup dan sekarang sedang masa pemulihan," Raka buru-buru menyambung, memegang tangan wanita tua itu erat-erat. "Dia bersembunyi di tempat yang aman. Sangat aman. Saya berani bersumpah dengan nyawa saya, Arga sekarang sedang dirawat dengan baik. Hanya saja... dia belum mau pulang."
Pak Baskoro mengerutkan kening, wajah tuanya memancarkan ketegasan yang diwariskan pada putranya. "Kenapa dia tidak mau pulang? Perusahaannya sedang kacau, ibunya sakit memikirkannya. Apa yang membuat anak itu menahan diri di sana, Raka?"
Raka terdiam. Bayangan Arga yang tersenyum tulus menatap seorang gadis pembuat roti melintas di kepalanya. Bagaimana ia bisa menjelaskan pada orang tua ini bahwa putra mereka yang kejam dan tak tersentuh itu, kini rela menukar seluruh kerajaannya demi bisa makan mi instan di dalam gubuk reyot bersama bidadari kecilnya?
"Dia... dia menemukan sesuatu yang berharga di sana, Paman," jawab Raka pelan. "Tapi saya berjanji. Saya akan membawa Arga kembali. Hari ini juga. Bibi dan Paman tolong pulanglah dan beristirahat. Percayakan pada saya."
Setelah dengan susah payah menenangkan kedua orang tua Arga dan meminta supir pribadi mengantar mereka pulang, Raka mengunci pintu ruangannya. Ia berjalan menuju meja kerjanya, mengambil ponsel satelit rahasia, dan menekan panggilan dengan rahang mengeras.
Waktumu bermain rumah-rumahan sudah habis, Bos. Kau harus bangun sekarang.
Di belahan kota yang lain, di dalam rumah kontrakan yang sunyi.
Arga Danendra sedang duduk bersandar di dinding, mengenakan kemeja biru kotak-kotak murah yang dibelikan oleh Senja kemarin. Di pangkuannya, tertidur lelap kepala seorang gadis yang rambut panjangnya tergerai indah.
Hari ini Senja mendapat giliran masuk kerja shift siang. Gadis itu menghabiskan pagi harinya dengan mencucikan pakaian Arga, memasak bubur kaldu, dan kini, karena kelelahan, ia tertidur dengan kepala bersandar di paha pria raksasa itu.
Jari-jari besar Arga bergerak lambat, menyisir helaian rambut Senja dengan kelembutan yang memuja. Matanya menatap wajah damai gadis itu dengan perasaan cinta yang begitu membuncah, nyaris membuatnya gila.
Tiba-tiba, getaran kasar dari ponsel satelit di saku celananya merusak kedamaian itu.
Arga mengerutkan kening. Ia dengan sangat hati-hati mengangkat kepala Senja, menyelipkan bantal empuk di bawahnya, lalu melangkah tanpa suara keluar dari rumah. Ia berdiri di teras depan, di bawah terik matahari pagi, dan mengangkat panggilan itu.
"Apa?" jawab Arga dingin.
"Krisis memburuk, Arga. Dan kali ini, aku tidak bisa lagi menutupinya," suara Raka dari seberang sana terdengar sangat lelah dan serius. Ia bahkan memanggil Arga dengan nama aslinya, bukan panggilan 'Bos' seperti biasa.
Arga menajamkan pendengarannya. "Bukankah Wijaya sudah hancur? Apa masalahnya sekarang?"
"Dewan direksi melakukan kudeta. Mereka menyebar rumor bahwa kau sudah mati di malam badai itu. Saham kita terguncang. Lusa, mereka akan mengadakan rapat pemegang saham luar biasa untuk melengserkanmu dan memecah aset perusahaan. Jika kau tidak hadir secara fisik dan duduk di kursi kepemimpinanmu sebelum besok pagi... tujuh tahun perjuangan berdarah-darah kita akan hancur lebur di tangan para serigala tua itu, Ga."
Rahang Arga mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Namun, ia tidak langsung menjawab. Pikirannya melayang pada Senja yang sedang tertidur di dalam. Bagaimana ia bisa pergi?
"Biarkan saja mereka rapat. Lakukan manuver hukum. Bekukan asetnya," perintah Arga keras kepala. Ia masih berusaha mencari celah.
"Ini bukan hanya soal perusahaan, Bajingan!" Raka tiba-tiba membentak, kesabarannya telah habis. "Pagi ini, Paman Baskoro dan Bibi Rini datang ke ruanganku. Ibumu menangis tersungkur, Arga! Firasatnya mengatakan kau terluka dan dalam bahaya. Jantungnya melemah. Beliau memohon padaku sambil menangis histeris untuk mengembalikan putranya!"
Deg.
Dunia Arga seakan berhenti berputar. Udara di sekelilingnya mendadak terasa hampa.
Ibu. Kata itu adalah titik kelemahan paling absolut di dalam diri Arga Danendra. Saat ia miskin, ibunya rela makan nasi dengan garam agar Arga bisa kuliah. Saat ia hancur ditinggalkan Natasha, ibunya yang memeluknya. Ia membangun kerajaan bisnis bernilai triliunan ini pada awalnya hanya untuk satu tujuan: memastikan ibunya tidak pernah lagi meneteskan air mata kesedihan.
Dan kini, karena keegoisannya bersembunyi demi menikmati kehangatan cinta Senja, ia justru membuat ibunya menangis tersiksa oleh ketakutan.
"Kau dengar aku, Ga?" suara Raka melemah, penuh permohonan. "Aku tahu kau mencintai gadis itu. Aku melihat sendiri bagaimana kau menatapnya semalam. Tapi kau tidak bisa selamanya bersembunyi dari realita. Kau adalah Arga Danendra, bukan pria amnesia tak berdaya. Ibumu membutuhkanmu. Kerajaanmu membutuhkan rajanya. Pulanglah."
Arga mencengkeram ponselnya kuat-kuat. Kepalanya tertunduk dalam. Napasnya terengah-engah seolah ia baru saja berlari mendaki gunung berapi.
"Jam berapa rapat sialan itu dimulai besok?" suara Arga terdengar sangat parau, hampa, bagaikan suara mayat hidup.
"Jam sembilan pagi. Kau harus sudah berada di penthouse malam ini untuk pemeriksaan medis penuh, lukamu harus dipastikan tidak infeksi sebelum kau menghadapi para serigala besok."
"Aku akan kembali malam ini," putus Arga, hatinya hancur berkeping-keping saat mengucapkan kalimat itu.
"Bagus. Aku akan menyiapkan penjemputan diam-diam di ujung distrik selatan jam sembilan malam. Jangan sampai ada yang melihatmu."
Panggilan diputus. Arga berdiri mematung di teras. Sinar matahari pagi yang tadinya terasa hangat, kini terasa membakar kulitnya.
Ia memutar tubuhnya perlahan, melangkah masuk kembali ke dalam kontrakan, dan mengunci pintu. Kakinya terasa seperti terbuat dari timah. Sang penguasa dunia malam itu berjalan tertatih, lalu menjatuhkan dirinya duduk di lantai semen, tepat di samping kasur tempat Senja tertidur.
Arga menatap wajah gadis itu. Gundah gulana yang teramat dahsyat mengamuk, mencabik-cabik kewarasannya.
Aku harus pergi. Aku harus meninggalkanmu, batin Arga, matanya memerah.
Gadis ini baru saja mendapatkan ketenangannya. Baru dua hari yang lalu Arga berjanji di depan wajah gadis ini bahwa ia tidak akan pergi, bahwa lengannya akan selalu menjadi tempat Senja bersembunyi. Dan kini, ia harus menelan ludahnya sendiri. Ia harus menjadi pengecut yang pergi diam-diam di kegelapan malam.
Arga meremas kemeja kotak-kotak biru murahan yang membalut tubuhnya—hadiah dari Senja yang dibeli dengan uang keringat gadis itu. Kemeja ini adalah bukti kemurnian cinta Senja untuk 'Kak Arga' si pria miskin.
Jika ia jujur sekarang dan berkata, 'Senja, aku harus kembali ke perusahaanku, ikutlah denganku', gadis ini pasti akan terkejut setengah mati. Senja akan tahu bahwa seluruh amnesia ini adalah kebohongan. Gadis yang begitu menjunjung tinggi kejujuran ini akan merasa ditipu, dipermainkan simpatinya, dan hatinya akan hancur.
Lebih buruk lagi, jika Senja tahu siapa Arga sebenarnya, gadis itu akan mundur. Senja adalah gadis yang sangat sadar diri akan status sosialnya. Di mata Senja, ia hanyalah anak yatim yang miskin. Jika ia dihadapkan pada kenyataan bahwa pria yang ia cintai adalah miliarder penguasa kota, perbedaan kasta itu akan menciptakan tembok raksasa. Senja akan merasa tidak pantas, dan Arga akan kehilangan cinta murni gadis itu selamanya.
Arga mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu menyandarkan punggungnya ke dinding, menarik napas putus asa.
Aku terjebak, jerit batinnya. Jika aku tinggal, ibuku akan sakit karena mengira aku mati, dan segala kekuasaanku untuk melindungimu dari Wijaya atau rentenir akan hilang. Jika aku tidak punya kekuasaan, aku tidak akan bisa menjagamu, Senja. Tapi jika aku pergi sekarang, aku akan melukai hatimu.
Arga menatap wajah Senja yang sedang tersenyum dalam tidurnya. Tangan kecil gadis itu mencengkeram ujung selimut.
Tiba-tiba, sebuah pemikiran yang sangat pahit namun logis terbentuk di otak jenius Arga. Sebuah rencana yang akan sangat menyakitkan bagi mereka berdua untuk sementara waktu, namun ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan segalanya.
Ia harus pergi malam ini tanpa pamit. Ia harus menghilang seolah-olah ia diculik atau tersesat.
Dengan begitu, Senja tidak akan merasa dikhianati oleh kebohongan amnesianya. Senja hanya akan berpikir bahwa 'Kak Arga'-nya hilang. Ya, gadis itu pasti akan menangis dan mencarinya. Membayangkan air mata Senja membuat hati Arga terasa diiris silet. Tapi itu jauh lebih baik daripada melihat Senja menatapnya dengan rasa jijik karena merasa ditipu oleh seorang miliarder yang mempermainkan kemiskinannya.
Biarkan aku pergi sebagai 'Kak Arga' yang menghilang, batin Arga dengan tekad yang berdarah. Aku akan kembali ke singgasanaku, membereskan para pengkhianat, dan menstabilkan perusahaanku. Setelah semua aman, dan setelah aku memastikan ibuku tenang, aku akan kembali padamu, Senja. Bukan sebagai pria amnesia, melainkan sebagai pria seutuhnya yang akan memenangkan hatimu dari nol lagi.
[Pesan Tersembunyi untuk Pembaca:]
(Dalam hidup, kita sering kali dihadapkan pada persimpangan jalan yang kejam, di mana semua pilihan yang tersedia menuntut pengorbanan yang menyakitkan. Ada kalanya, bertahan di tempat yang membuat kita nyaman adalah sebuah bentuk keegoisan.
Cinta yang sejati tidak selalu tentang terus berada di sisi seseorang setiap detik. Terkadang, bukti cinta terbesar adalah ketika seorang pria berani melangkah keluar dari zona nyamannya, kembali ke medan perang yang penuh luka, dan memikul tanggung jawab yang berat di pundaknya demi mendapatkan kekuatan. Karena tanpa kekuatan dan tanggung jawab yang diselesaikan, ia tidak akan pernah bisa membangun pagar pelindung yang kokoh untuk wanita yang ia cintai. Perpisahan sementara yang dilandasi oleh niat untuk melindungi, jauh lebih mulia daripada kebersamaan rapuh yang dibangun di atas pengabaian tanggung jawab.)
Senja terbangun satu jam kemudian. Ia mengucek matanya, menguap kecil, dan tersenyum melihat Arga yang masih duduk di tempat yang sama, menatapnya dengan pandangan yang tak bisa dibaca.
"Jam berapa ini, Kak? Astaga, aku tidur nyenyak sekali!" Senja buru-buru bangkit. Ia melirik jam dinding. "Wah, aku harus siap-siap berangkat ke kedai sekarang. Shift siangku akan segera mulai!"
Senja berlarian kecil menyetrika seragam cokelatnya, menyiapkan bekal makan siang, dan merapikan rambutnya. Ia sama sekali tidak menyadari badai dahsyat yang sedang menghancurkan hati pria di belakangnya.
"Kak Arga, aku sudah buatkan teh jahe di termos kecil. Kalau Kakak kedinginan nanti sore, minum itu ya," pesan Senja sambil memakai sepatunya di ambang pintu.
Arga bangkit berdiri. Ia melangkah menghampiri Senja. Tubuh raksasanya menjulang menutupi cahaya dari pintu.
Senja mendongak, tersenyum manis. "Kenapa, Kak? Ada yang ingin Kakak pesan untuk makan malam nanti? Gajiku masih sisa sedikit, kita bisa beli—"
Ucapan Senja terputus.
Arga tiba-tiba menarik tubuh mungil itu, mendekapnya dalam sebuah pelukan yang sangat erat, posesif, dan putus asa. Sangat erat hingga Senja nyaris tak bisa bernapas. Wajah Arga terbenam di lekuk leher Senja, menghirup dalam-dalam aroma vanila dari rambut gadis itu, berusaha mematri wangi itu ke dalam sel-sel otaknya agar bisa ia ingat selama ia berada di neraka perusahaan nanti.
"K-Kak Arga?" Senja terkejut, rona merah langsung menjalar di pipinya. "A-Ada apa? Pelukan Kakak erat sekali... seperti orang yang mau pergi jauh saja."
Hati Arga mencelos mendengar tebakan lugu itu.
Arga memejamkan mata, menahan cairan hangat yang mendesak di pelupuk matanya. Ia tidak menjawab. Ia hanya terus memeluk gadis itu selama belasan detik yang terasa bagai keabadian. Ia ingin mengingat setiap lekuk tubuh ini, setiap kehangatan ini, untuk menjadi kekuatannya menghadapi dewan direksi besok.
Perlahan, Arga melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Senja dengan senyum yang sangat dipaksakan, namun matanya memancarkan kesedihan yang tak terlukiskan.
"Tidak ada apa-apa," suara Arga parau. Ia mengangkat tangannya, mengusap pipi Senja dengan ibu jarinya, sebuah sentuhan lembut yang seolah menjadi salam perpisahan tanpa kata. "Aku hanya... ingin berterima kasih. Untuk semuanya, Senja. Kau adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku yang kosong ini."
Mendengar kalimat yang terdengar begitu puitis namun menyayat hati itu, Senja tertegun. Firasat aneh berdesir di dadanya, namun ia menepisnya jauh-jauh. Ia mengira Arga hanya sedang bersikap melankolis karena amnesianya.
"Kakak bicara apa sih, membuatku malu saja," Senja tertawa canggung, memukul pelan dada bidang Arga. "Sudah ah, aku berangkat dulu! Nanti malam tunggu aku pulang ya! Kita makan sama-sama!"
Arga hanya mengangguk pelan. "Hati-hati di jalan, Bidadari."
Senja memutar tubuhnya, melangkah pergi meninggalkan gang dengan langkah riang. Ia sesekali menoleh ke belakang, melambaikan tangan pada Arga yang masih berdiri mematung di ambang pintu.
Arga terus menatap punggung kecil itu hingga benar-benar menghilang di balik belokan jalan raya.
Begitu siluet Senja lenyap, tangan Arga yang terkepal kuat di sisi tubuhnya mulai bergetar. Udara di sekelilingnya mendadak terasa dingin dan mencekik. Ia melangkah mundur, masuk kembali ke dalam rumah yang kini terasa sangat kosong dan hampa, dan menutup pintu jati itu perlahan.
"Maafkan aku, Senja..." bisik Arga pada keheningan ruangan yang sunyi. Suaranya pecah, diiringi setetes air mata yang lolos dari sudut mata sang tiran. Air mata pertama yang ia jatuhkan untuk seorang wanita setelah tujuh tahun lamanya. "Tunggulah aku... Kumohon, jangan membenciku saat kau melihatku pergi."
Malam ini, di bawah bayang-bayang gelap metropolitan, seorang raja yang terluka akan kembali mengenakan mahkota berdarahnya. Ia akan meninggalkan surganya, membiarkan sang bidadari menangis mencarinya, demi sebuah pertempuran besar yang harus ia menangkan agar suatu hari nanti, ia bisa memberikan dunia yang sesungguhnya ke bawah telapak kaki gadis itu.
Waktu terus berdetak menuju pukul sembilan malam. Persiapan perpisahan yang paling menyakitkan telah dimulai.