Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.
Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Mas Arka? Ada apa di luar?" suara Kinanti terdengar mendekat dari ruang tengah.
Arka bereaksi kilat. Hanya dalam hitungan detik, ia menarik tubuh Lingga yang pingsan ke area kegelapan di balik tumpukan kayu bakar teras belakang. Dengan gerakan cepat, Arka mengusap noda darah di tangannya menggunakan kain lap kotor di dekat tungku.
Begitu Kinanti membuka pintu belakang, Arka sudah berdiri santai seraya merapikan letak tumpukan kayu.
"Nggak apa-apa, Sayang. Cuma kucing warga yang nyenggol tumpukan bambu tua di teras," ujar Arka dengan nada suara tenang dan senyum lembut yang terpancar sempurna.
Kinanti bernapas lega, memeluk lengannya sendiri karena hawa dingin. "Astaga, aku pikir ada apa, Mas. Suaranya kencang banget. Ya udah, yuk masuk, badannya Mas nanti dingin."
"Iya, kamu masuk duluan ya. Mas mau rapihin bambunya sebentar biar nggak jatuh lagi kalau kena angin," sahut Arka seraya mendaratkan ciuman singkat di dahi istrinya.
Setelah memastikan Kinanti kembali ke dalam dan mengunci pintu dari dalam, raut wajah Arka berubah membeku dalam sekejap.
Ia berlutut di balik tumpukan kayu, meraba denyut nadi di leher Lingga. Nya masih ada, tetapi napasnya makin melambat. Arka merobek bagian kaus dalam Lingga untuk membebat pendarahan di perutnya secara darurat.
Sshhhk!
Arka menancapkan jarum akupresur taktis ke titik saraf dada Lingga untuk menghentikan pendarahan internal. Mata Lingga terbuka sedikit, mengerjap menahan rasa sakit yang luar biasa.
"B-Bos... mereka... The Apex Hunters..." bisik Lingga tersengal. "Konsorsium asing... pasang taruhan seratus juta dolar... buat kepala Lu dan... dan Mbak Kinanti..."
Mata Arka menyipit tajam. The Apex Hunters jaringan pemburu bayaran kelas atas internasional yang hanya bergerak jika ada nilai taruhan fantastis pasca-runtuhnya sindikat besar seperti Club Strawberry.
"Berapa orang yang masuk perimeter?" tanya Arka dingin, suaranya sangat rendah.
"Tiga tim... total sembilan orang... mereka pakai pembakar senyap dan night vision..." jawab Lingga lemah.
Ponsel rahasia Lingga yang retak di sakunya bergetar halus. Arka mengambilnya dan melihat indikator pelacak radar milik The White Dragon. Tiga titik merah sudah bergerak mendekati perbatasan kebun pinus hanya berjarak tiga ratus meter dari rumah panggungnya.
"Lingga, tahan rasa sakitmu," bisik Arka tegas. Ia memapah tubuh Lingga secara perlahan dan menyembunyikannya di dalam ruang penyimpanan bawah tanah tersembunyi di bawah lantai teras. "Tetap di sini sampai aku kembali."
Arka menutup pintu rahasia itu dengan rapat. Ia berdiri tegak di tengah derasnya hujan malam, menarik napas dalam-dalam.
Hujan angin menerjang lebat kawasan hutan pinus di samping rumah panggung. Di tengah kegelapan malam, tiga sosok tentara bayaran The Apex Hunters bergerak merayap dengan taktis. Mereka mengenakan kacamata night vision dan menggenggam belati taktis serta pistol berperedam suara.
"Target utama ada di dalam rumah bersama istrinya," bisik pemimpin tim satu melalui radio komunikasi. "Ingat instruksi konsorsium: bawa wanita itu hidup-hidup untuk memancing sang Legenda menyerah!"
"Paham, Aing paham! Geura bereskeun lah!" (Gua paham! Cepat selesaikan lah!) cibir anggota lokal bayaran di sampingnya sambil menyeringai dingin. "G*blog, mantan bos mafia kieu mah geus tumpul sabab kenyang teuing dahar cilok di desa!" (Bego, mantan bos mafia kayak gini sih udah tumpul gara-gara kekenyangan makan cilok di desa!)
Sshhhk!
Tanpa suara, sesosok bayangan hitam meluncur turun dari dahan pohon tinggi tepat di belakang mereka.
Krek!
Sebelum anggota kedua sempat berbalik, Arka sudah memutar leher pria itu 180 derajat. Tubuhnya ambruk tak bernyawa ke tanah basah tanpa sempat mengeluarkan jeritan sedikit pun.
"Naon eta?! Kehed teh!" (Apaan itu?! Sialan!) sang pemimpin tim membelalakkan mata kaget saat menoleh.
Bugh! Trang!
Arka menepis laras pistol musuh dengan sikutnya, membalikkan arah senjata, lalu menghantamkan lutut tegapnya ke dada musuh.
Brak!
Pemimpin tim itu terlempar menabrak batang pohon pinus, memuntahkan darah segar dari mulutnya. "Aing paeh... modar sia..." (Gua mati... mampus lu...) ringisnya terbatuk-batuk.
Dari arah semak-semak, dua pemburu bayaran lainnya melompat menerjang secara bersamaan sambil mengayunkan belati beracun.
"Mati sia, Arka! Bangsat!" (Mati lu, Arka! Bangsat!) teriak salah satu dari mereka penuh amarah seraya melayangkan sabetan mematikan.
Trang! Clack!
Arka mengelak mulus. Dengan gerakan yang luar biasa presisi, ia menangkap kedua pergelangan tangan musuh, memutarnya hingga tulang mereka patah (Krek!), lalu merebut belati mereka di udara.
"Aduh, sia! Leungeun aing rempak, goblog!" (Aduh, lu! Tangan gua patah, bego!) jerit musuh itu kesakitan.
Jleb! Jleb!
Dua goresan kilat mendarat telak di titik saraf paha dan bahu kedua musuh, membuat mereka tersungkur dan melumpuhkan pergerakan mereka seketika.
Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, seluruh tim perintis The Apex Hunters telah dilumpuhkan total di tengah hutan pinus yang dingin.
Arka mencengkeram baju pemimpin tim yang sekarat, menatapnya dengan pandangan membeku yang memancarkan aura kematian mutlak.
"Katakan pada konsorsiummu," bisik Arka, suaranya begitu rendah hingga menyatu dengan deru angin malam. "Siapa pun yang berani melangkah ke desa ini untuk menyentuh istriku... tidak akan pernah kembali dalam keadaan bernapas."
Bugh!
Satu pukulan telak ke rahang membuat pemimpin pemburu bayaran itu pingsan seketika, menghentikan erangan makiannya.
Pukul tiga pagi.
Arka telah selesai merawat luka Lingga dan memindahkannya ke tempat istirahat yang aman di pondok tersembunyi milik The White Dragon di luar desa. Seluruh jejak pertarungan di hutan pinus telah dibersihkan tanpa sisa.
Arka menyelinap kembali ke dalam kamar utama, membersihkan tangannya dengan air hangat, lalu berbaring perlahan di samping Kinanti.
Kinanti yang merasakan kehadiran suaminya langsung bergeser rapat, melingkarkan tangannya di dada bidang Arka dan menyandarkan kepalanya di sana seraya tersenyum manis dalam tidurnya.
"Mas Arka... hangat..." gumam Kinanti pelan khas orang terlelap.