Indonesia
NovelToon NovelToon
KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sci-Fi / Sistem
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Kemitraan Tanpa Wajah

Sinar jingga senja baru saja menyapu pinggiran kota saat sedan hitam milik Dimas melaju membelah arus lalu lintas yang mulai padat. Di dalam kabin yang hangat, Bayu sedang mendengarkan seloroh Dimas mengenai hasil diskusi draf riset komputasi cloud bersama Melisa sore tadi. Namun, pendar merah darurat mendadak menyala pada layar antarmuka jam tangan titanium di pergelangan tangan kiri Bayu.

"Peringatan darurat tingkat tinggi," panggil Jarvis melalui earphone mikro di telinga Bayu. "Terjadi aksi perampokan bersenjata di Bank Mitra Nasional cabang utama pusat kota. Enam pelaku bersenjata senapan serbu otomatis menyandera empat belas orang nasabah dan staf bank."

Dimas langsung memelankan laju mobilnya, matanya membelalak panik. "Bay! Perampokan bersenjata?! Senapan serbu otomatis?!"

"Jarvis, bagaimana posisi kepolisian saat ini?" tanya Bayu dengan nada suara yang seketika berubah dingin, tenang, dan terukur.

"Tim Penindak Kejahatan Intensitas Tinggi pimpinan Ajun Komisaris Polisi Hendra telah mengepung lokasi," lapor Jarvis mendetail. "Namun, perampok mengancam akan mengeksekusi sandera pertama dalam waktu empat menit jika polisi mencoba merangsek masuk melalui pintu utama."

"Dim, belok ke gang belakang kompleks komersial Sudirman sekarang juga," instruksi Bayu mantap. "Kita tidak boleh membiarkan ada pertumpahan darah di sana."

"Siap, Bay!" seru Dimas seraya membanting kemudi melintasi persimpangan. "Tapi ingat, Bay! Kali ini kepolisian ada di lokasi dalam jumlah besar! Jangan sampai lu berbenturan atau bentrok sama mereka!"

"Aku tidak akan bentrok dengan mereka, Dim," sahut Bayu seraya menekan kenop biometrik jam tangannya dua kali. "Aku justru akan mengajak mereka bekerja sama."

Dalam waktu satu koma dua detik, lapisan nano-cell perak memancar keluar dari jam tangan, membungkus tubuh Bayu menjadi zirah baja matte hitam kelabu bergaris pendar biru yang sangat memukau. Tanpa menunda waktu, Ksatria Baja melesat ke udara, membubung mulus menembus senja menuju atap gedung bank lima lantai tersebut.

Di bawah, di balik deretan mobil barikade kepolisian, AKP Hendra memegang megapon dengan pelipis berkerat keringat dingin. "Seluruh anggota tahan tembakan! Jangan memicu reaksi gegabah dari para pelaku!"

"AKP Hendra, mohon dengarkan suara saya melalui frekuensi radio taktis Anda," sebuah suara berat dan bergema halus mendadak masuk langsung ke dalam headset nirkabel milik Hendra.

Hendra memegang headset-nya terkejut, memandang sekeliling personelnya dengan mata menyipit. "Siapa ini?! Bagaimana kamu bisa membobol frekuensi terenkripsi kepolisian?!"

"Saya ada di atap gedung tepat di atas Anda," jawab Ksatria Baja langsung dari saluran udara. "Saya di sini bukan untuk merusak perimeter kepolisian, Komandan. Saya menawarkan bantuan taktis untuk melumpuhkan para pelaku tanpa membahayakan satu pun nyawa sandera."

Hendra mendongak cepat ke arah atap gedung, melihat siluet zirah baja hitam bergaris biru berdiri tenang di atas kanopi beton. Napas Hendra tertahan sejenak. "Ksatria Baja...?! Kamu... sosok yang sedang dicari Satgas Khusus?"

"Identitas saya tidak penting saat ini, Komandan Hendra," tegas Ksatria Baja dengan nada profesional yang amat mantap. "Enam pelaku di dalam dilengkapi tiga pucuk senapan serbu dan dua granat genggam. Dua menit lagi batas waktu mereka habis."

Hendra mengepalkan tangannya di balik pistol dinasnya, bergulat dengan keraguan. "Kami tidak bisa menyetujui aksi kejahatan atau tindakan vigilante di wilayah hukum resmi ini!"

"Ini bukan tindakan vigilante, ini adalah kemitraan taktis perintis," balas Ksatria Baja tenang namun berwibawa. "Rencana saya, Saya akan meretas kaca langit-langit, menonaktifkan seluruh senjata api pelaku menggunakan gelombang pemicu nano-elektromagnetik dalam waktu nol koma delapan detik. Saat lampu gedung padam, tim SWAT Anda masuk dari pintu barat untuk memborgol mereka."

Hendra terdiam membisu, otaknya berputar cepat. Sebagai komandan berpengalaman, ia tahu penerobosan konvensional akan memicu pertumpahan darah. "Kamu menjamin keselamatan seluruh sandera di dalam?"

"Seratus persen jaminan keselamatan," sahut Ksatria Baja presisi. "Keputusan ada di tangan Anda, Komandan. Empat puluh detik tersisa."

Hendra menghembuskan napas panjang, lalu memberi isyarat tangan tegas kepada komandan tim SWAT di sebelahnya. "Baik! Tim Alpha dan Beta, bersiap di pintu barat! Eksekusi sesuai instruksi Ksatria Baja begitu lampu gedung padam!"

"Diterima, Komandan!" jawab komandan tim SWAT penuh kesiapan.

"Eksekusi dimulai dalam tiga... dua... satu," bisik Jarvis.

Brak!

Kaca skylight atap gedung pecah presisi. Sosok Ksatria Baja meluncur turun bak bayangan hitam, mendarat mulus di tengah aula utama bank. Sebelum para perampok sempat mengarahkan moncong senapan mereka, pendar gelombang kebiruan memancar kuat dari telapak tangan zirah Ksatria Baja.

Bzzzt!

Lampu utama gedung padam seketika. Seluruh mekanisme pelatuk dan pin senapan otomatis milik enam perampok mendadak terkunci dan terlepas dari pegangan mereka, jatuh gemerincing ke atas lantai keramik.

"Senjata kita macet! Senjata kita macet!" teriak pimpinan perampok panik sambil memegangi jemarinya yang mati rasa terkena kejutan mikro-listrik.

"Jangan bergerak," gema suara Ksatria Baja memenuhi ruangan saat medan gravitasi mikro menahan tubuh keenam perampok berlutut di tanah tanpa bisa bergerak sedikit pun.

Brak!

Pintu barat mendadak didobrak. Tim SWAT kepolisian menyerbu masuk dengan lampu senter taktis menyala cerah.

"Polisi! Jangan bergerak! Angkat tangan!" teriak personel SWAT seraya dengan cepat memborgol keenam perampok yang sudah tidak berdaya.

Para sandera menangis lega, saling berpelukan saat tim medis dan kepolisian menuntun mereka keluar dari gedung dengan aman dan selamat.

AKP Hendra melangkah masuk ke dalam aula bank dengan pistol masih di tangan, menatap enam perampok yang berhasil diamankan tanpa ada satu pun tembakan dilepaskan. Ia kemudian menengadah menatap Ksatria Baja yang berdiri tegak lima meter di depannya.

"Semua sandera selamat," kata AKP Hendra dengan nada suara yang dipenuhi kekaguman tersembunyi. "Penyergapan paling bersih yang pernah saya lihat seumur hidup saya."

"Tugas utama kita adalah melindungi masyarakat, Komandan Hendra," sahut Ksatria Baja dengan nada penuh rasa hormat. "Kepolisian memiliki hukum dan wewenang resmi, sementara saya hanya memberikan dukungan teknis saat situasi mendesak."

Hendra melangkah dua tindak mendekat, menatap zirah hitam tersebut secara langsung. "Satgas Khusus masih berburu identitasmu. Mereka menganggapmu sebagai potensi ancaman keamanan nasional."

"Tunjukkan hasil malam ini kepada Satgas Anda, Komandan," jawab Ksatria Baja tenang. "Saya bukan musuh kepolisian. Saya adalah mitra rahasia penegak keadilan."

Hendra menyarungkan pistol dinasnya, mengangguk pelan seraya memberikan hormat militer secara singkat namun sangat tulus. "Kerja sama yang luar biasa, Ksatria Baja."

"Sinyal evakuasi aktif," bisik Jarvis.

"Sampai jumpa lagi, Komandan," ujar Ksatria Baja.

Wusss!

Dalam sekejap kilatan biru, Ksatria Baja melesat vertikal menembus skylight atap dan menghilang ke dalam kegelapan langit malam sebelum kamera media sempat menangkap sosoknya.

Beberapa menit kemudian, Bayu telah kembali berwujud mahasiswa biasa dengan kemeja biru terawat dan kacamata titaniumnya, duduk santai di kursi penumpang depan sedan Dimas.

Dimas tertawa lebar seraya menginjak pedal gas, melarikan mobil menjauhi area bank yang dipenuhi sirine polisi. "Bay! Lu denger sendiri kan tadi?! Komandan polisi sampai memberi hormat sama lu! Lu bener-bener berhasil membangun kemitraan perintis sama kepolisian!"

Bayu membetulkan letak kacamatanya seraya memandangi jam tangan titaniumnya yang berkedip lembut. Senyum puas mengukir di bibirnya.

"Langkah awal yang sangat baik, Dim," tutur Bayu tenang dan berwibawa. "Mulai saat ini kita membuktikan bahwa Ksatria Baja dan kepolisian tidak perlu menjadi musuh. Kita berada di pihak yang sama untuk melindungi rakyat."

"Kemitraan taktis terdaftar dalam basis data Alpha," Jarvis menambahkan dengan nada bangga.

Di bawah cahaya lampu kota yang membiru, perintis kerja sama rahasia itu telah terbentuk dengan indah. Tanpa nama dan tanpa wajah, Bayu Anggara menegaskan posisinya bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai sekutu tertinggi bagi penegak keadilan di negeri ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!