[SEASON 3]
"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)
"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)
"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)
"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)
Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.
Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.
Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Terlambat
"Turunkan aku sekarang juga, Dasar Makhluk Brengsek! Lepaskan aku!"
Josiah sama sekali tidak mengindahkan makian pedas ataupun pukulan bertubi-tubi dari gadis di pelukannya. Tubuh jangkungnya mendadak melesat maju, berlari dengan kecepatan supernatural yang mustahil untuk bisa dicerna oleh akal sehat ras manusia, membelah keheningan dan rimbunnya vegetasi Hutan Luminara.
Embusan angin kencang yang tercipta akibat kecepatan gila itu seketika menerpa wajah Elisa dengan keras, membuatnya kesulitan untuk sekadar meraup oksigen atau membuka mata.
Beruntung, jalur aspal pinggiran hutan siang ini terpantau sangat sepi, sehingga tidak ada satu pun kendaraan manusia atau saksi mata yang melihat aksi gila pelarian supranatural ini.
"Diamlah di tempatmu jika kau tidak ingin aku membungkam bibir bisingmu itu dengan caraku sendiri sekarang juga!" ancam Josiah dengan nada suara rendah yang sarat akan bahaya yang nyata.
Ancaman dingin itu seketika berhasil membuat Elisa bungkam seribu bahasa. Ia bisa merasakan dengan sangat jelas deru napas dingin Josiah yang berembus di sekitar permukaan wajahnya, serta kecepatan pergerakan yang membuat seluruh visual pepohonan di sekitar mereka hanya terlihat menyerupai garis-garis hijau yang buram dan berputar.
Namun, di tengah rasa takut dan guncangan jiwanya yang hebat, satu hal ganjil mendadak merayap di dalam batin Elisa; sebuah pertanyaan membingungkan yang tidak mampu ia jawab dengan logika manusia.
Kenapa... kenapa berada di dalam dekapan erat makhluk predator malam yang berbahaya ini justru mendadak membuat hatinya merasa sangat... aman dan terlindungi?
Selama berada di dalam dekapan erat Josiah, Elisa merasa seluruh dunianya dijungkirbalikkan tanpa ampun.
Sensasi pusing yang berputar hebat dan rasa mual yang menyiksa seketika menghantam dinding lambungnya; ia merasa seolah-olah sedang dipaksa menaiki wahana roller coaster tercepat di dunia tanpa sabuk pengaman fana.
Elisa sempat memiliki dorongan nekat untuk melompat turun dari gendongan itu, namun akal sehatnya segera memperingatkan bahwa tindakan bodoh itu hanya akan membuatnya berakhir menjadi tumpukan tulang yang remuk di atas permukaan tanah.
Hanya dalam hitungan menit yang terasa magis, sepasang kaki panjang Josiah akhirnya menginjakkan kaki dengan kokoh di area halaman belakang panti asuhan lama.
Pemuda itu menurunkan tubuh Elisa ke atas tanah dengan sebuah gerakan halus yang tidak terduga.
Namun, begitu telapak kakinya menyentuh tanah, pertahanan fisik Elisa runtuh. Ia langsung ambruk berlutut, kedua tangannya mencengkeram erat kepalanya yang mendadak berdenyut hebat seakan mau pecah akibat efek samping kecepatan supranatural.
Walau demikian, rasa cemas yang membakar dada mengalahkan rasa sakit fisiknya. Dengan sisa energi terakhir, ia bangkit berdiri dan berlari dengan langkah sempoyongan menuju ke area halaman depan panti.
Ibu Iris! Adik-adik! Tunggu aku! Batinnya menjerit histeris.
Langkah kaki Elisa mendadak terkunci mati. Tubuhnya mematung sempurna di ambang pagar gerbang besi. Panti asuhan tua itu kini sudah tertutup rapat, digembok oleh lilitan rantai besi raksasa yang dingin. Pintu kayu yang biasanya selalu terbuka lebar penuh kehangatan, kini telah menjelma menjadi pembatas mati yang kelam.
Di area halaman depan yang berdebu, dua unit mobil mewah terparkir dengan sangat kontras di samping bangunan panti yang reyot. Salah satunya adalah mobil sedan milik si lintah darat Louis, sementara satunya lagi merupakan sebuah mobil asing bergaya aristokrat yang tampak sangat mahal.
Di sana, Louis tengah berbincang santai penuh tawa dengan sepasang suami istri paruh baya berdandan glamor yang tampak menyerupai tuan tanah dari kalangan elit pusat kota.
Louis memutar kepalanya, menyadari kehadiran Elisa yang berdiri dengan napas terengah-engah. Ia melayangkan tatapan meremehkan, berujar dengan nada suara yang angkuh.
"Baru kembali sekarang? Dari mana saja kau berkeliaran, Gadis Panti?"
Elisa sama sekali tidak memedulikan sindiran tajam pria tua itu. Sepasang matanya bergerak liar, menembus kaca bangunan mencari sosok-sosok yang ia rindukan.
"Di mana Ibu Iris?! Di mana adik-adik panti?!" teriak Elisa panik, mengabaikan tata krama.
Louis tertawa sinis, memutar tongkat peraknya lalu menyulut sebatang cerutu mahal. "Apa kau tidak tahu? Beberapa menit yang lalu mereka semua sudah pergi dari tempat ini. Kau sangat beruntung, Elisa. Mereka baru saja ditolong dan dipindahkan oleh sebuah keluarga kaya yang sangat dermawan dari pusat kota. Jadi kau tidak perlu lagi pusing memikirkan uang sewa rumah ini."
Louis mengambil langkah mendekat, lalu menunjuk ke arah struktur bangunan panti yang keropos menggunakan ujung tongkatnya. "Aku sudah resmi menjual tanah dan bangunan ini. Sepasang bangsawan di belakangku ini yang membelinya, dan yayasan mereka juga yang telah membawa belasan anak-anak itu pergi menggunakan bus khusus."
Seluruh tubuh Elisa bergetar hebat dilingkupi rasa syok yang teramat dalam. Air mata yang sejak pagi ditahannya kini luruh bebas membasahi pipinya yang kotor.
"Apa? Jadi... mereka semua sudah pergi? Tanpa menungguku?"
"Benar. Dan sebaiknya kau juga cepat-cepat pergi dari sini. Susul mereka ke pusat kota jika kau tahu di mana tempatnya," ucap Louis tanpa perasaan fana.
"Karena besok pagi, rumah tua ini akan diratakan dengan tanah dan dibangun kembali menjadi gedung baru."
Pertahanan Elisa runtuh sepenuhnya. Ia jatuh terduduk di atas permukaan aspal jalanan yang panas menyengat. Dadanya terasa sesak luar biasa, seolah-olah ada sepasang tangan tak kasat mata yang meremas jantung manusianya hingga hancur.
Ia merasa gagal total. Ia merasa bersalah karena telah membiarkan keluarga satu-satunya dibawa pergi begitu saja oleh orang-orang asing yang—dalam ketakutan terbesarnya—mungkin saja adalah bagian dari "keluarga mistis" yang ia takuti.
"Ibu Iris..." bisik Elisa lirih di tengah isak tangisnya yang hancur.
Dunia di sekitarnya mendadak terasa begitu sepi dan hampa, hanya menyisakan dirinya sendiri di bawah bayang-bayang panti asuhan yang kini telah kehilangan nyawanya.
Louis lantas berlalu pergi bersama pasangan suami istri kaya tersebut, memacu mobil mewah mereka membelah jalanan, meninggalkan kepulan debu tebal yang menyelimuti tubuh Elisa yang tak berdaya.
Josiah, yang sedari tadi menyaksikan seluruh adegan memilukan itu dari balik bayang-bayang pohon cemara, akhirnya melangkahkan kakinya keluar. Ia bersedekap dada sembari menyandarkan punggung tegapnya pada tiang kayu bangunan panti yang sudah mulai melapuk.
"Dasar cengeng," celetuk Josiah, nada suaranya yang santai seketika memecah keheningan yang mencekam.
"Tidak usah menangis berlebihan sampai menguras air mata seperti itu, Elisa. Keluarga pantimu saat ini dalam kondisi yang sangat baik-baik saja. Kau pikir bibiku yang terhormat itu akan memakan mereka hidup-hidup?"
Josiah terkekeh pelan dengan suara serak yang khas, lalu berjalan mendekat dan mengambil posisi berjongkok tepat di depan wajah Elisa yang sembab. Sepasang mata hitam pekatnya menatap lekat untaian air mata di pipi gadis itu.
"Heh, dengar ya, Singa Kecil. Karena kau sudah terlanjur melangkah terlalu jauh dan mengetahui rahasia eksistensi kami, aku akan memberitahumu satu kebenaran," Josiah merendahkan volume suaranya, memancarkan aura protektif yang samar.
"Bibi Stefany itu tidak sama sepertiku atau kedua kakakku yang haus darah. Beliau bukan bangsa Vampir dan tidak akan memakan manusia mana pun. Beliau adalah keturunan berdarah murni dari ras Elf Hutan. Jadi sekarang, berhentilah meratap tidak jelas. Ayo bangkit, aku akan mengantarmu langsung ke tempat mereka."