Saat Dewa Turun ke Dunia
"Satu jari... cukup untuk memusnahkan satu kota."
Dalam sekejap, Kota Tai berubah menjadi lautan abu. Jutaan nyawa lenyap tanpa perlawanan. Di antara seluruh penduduk, hanya seorang anak kecil berusia tujuh tahun yang selamat—Li Tianxuan.
Sebelum menghilang, sosok dewa memasuki tubuhnya.
Sepuluh tahun kemudian, Li Tianxuan melangkah keluar dari Kota Tai yang telah tersegel oleh Formasi Kuno. Namun dunia di luar seolah tak pernah mengetahui kehancuran kota itu. Demi mengungkap kebenaran, ia menempuh jalan kultivasi yang dipenuhi darah, pengkhianatan, reruntuhan kuno, dan peperangan melawan para jenius dari sekte-sekte terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chen Xuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 — Harimau Api Merah
Hangatnya udara luar menyentuh ujung jari Li Tianxuan.
Perlahan, ia mendorong tubuhnya melewati dinding Formasi Kuno yang telah mengurungnya selama sepuluh tahun.
Tap...
Kakinya akhirnya menginjak tanah di luar Kota Tai.
Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, ia benar-benar menghirup udara yang segar. Angin berembus lembut, membawa aroma pepohonan dan rerumputan liar. Burung-burung berkicau di kejauhan, sementara sinar matahari menyinari hutan dengan hangat.
Li Tianxuan memejamkan mata sejenak.
Namun, saat kembali membukanya, dahinya langsung berkerut.
Pemandangan di hadapannya begitu damai.
Tak ada reruntuhan.
Tak ada lautan darah.
Tak ada abu yang memenuhi langit.
Semuanya tampak normal, seolah tragedi yang menghancurkan Kota Tai sepuluh tahun lalu tidak pernah terjadi.
"Bagaimana mungkin...?"
Li Tianxuan bergumam pelan.
Ia segera menoleh ke belakang.
Dinding Formasi Kuno yang mengelilingi Kota Tai masih berdiri kokoh, memancarkan cahaya redup yang hampir tak terlihat.
Perlahan, ia mengulurkan tangan.
Saat ujung jarinya menyentuh permukaan formasi...
Bzzztt!
Kilatan cahaya menyambar keluar.
Ledakan energi itu menghantam tubuh Li Tianxuan hingga terpental beberapa meter ke belakang.
Brakk!
Tubuhnya berguling di atas tanah sebelum akhirnya berhenti.
Li Tianxuan segera bangkit sambil mengusap darah tipis di sudut bibirnya.
"Kenapa sekarang aku ditolak?"
Tatapannya dipenuhi kebingungan.
Sepuluh tahun lamanya ia terjebak di dalam.
Kini ia berhasil keluar...
Namun formasi itu justru menolak dirinya untuk kembali masuk.
"Formasi macam apa ini...?"
Tatapannya kembali mengarah ke Kota Tai yang tertutup oleh penghalang transparan.
"Akan kupelajari rahasiamu suatu hari nanti."
Dengan tekad yang semakin kuat, Li Tianxuan berbalik meninggalkan kota yang telah menjadi rumah sekaligus penjaranya.
...
Setengah jam kemudian...
Li Tianxuan telah memasuki hutan belantara.
Langkahnya ringan, tetapi penuh kewaspadaan.
Selama sepuluh tahun hidup di Kota Tai, ia bertahan hanya dengan memburu binatang buas. Berkat latihan tanpa henti, kekuatannya telah mencapai Ranah Penempaan Tubuh Tingkat Delapan. Meskipun bakat kultivasinya biasa saja, ia tidak pernah mengeluh.
Baginya...
Tetap hidup adalah kemenangan, dan mencari jawaban atas kehancuran Kota Tai adalah alasan ia terus bernapas.
Li Tianxuan berhenti di bawah pohon besar untuk beristirahat sejenak. Namun, baru beberapa kali menarik napas...
Alisnya langsung berkerut.
"Terlalu sunyi..."
Ia perlahan menggenggam gagang pedangnya. Hutan seperti ini seharusnya dipenuhi suara burung dan serangga.
Namun kini...
Tak terdengar apa pun, keheningan yang berlebihan justru menjadi pertanda bahaya.
Tiba-tiba...
Growl...
Suara geraman rendah terdengar tepat di belakangnya.
Li Tianxuan berbalik secepat kilat.
Seekor harimau raksasa perlahan keluar dari balik pohon. Tingginya hampir dua kali tubuh manusia dewasa. Mata merahnya menatap Li Tianxuan tanpa berkedip, sementara air liur menetes dari taringnya yang panjang.
Itu adalah Harimau Api Merah!
Seekor Harimau Tingkat Pertama yang memiliki kekuatan yang sebanding dengan kultivator Ranah Penempaan Tubuh Tingkat Sembilan.
Tanpa peringatan...
Harimau itu menerjang.
Swish!
Li Tianxuan mengangkat pedangnya untuk menangkis.
Dentang!
Benturan keras membuat lengannya mati rasa.
Meski berhasil menahan sebagian besar kekuatan serangan, ujung cakar harimau tetap menggores pergelangan tangan kirinya.
Sreet!
Darah langsung mengalir deras. Li Tianxuan mundur beberapa langkah.
"Sial..."
Ia segera merobek ujung bajunya dan membalut luka tersebut.
Tatapannya tetap tenang.
"Kalau begitu... mari kita lihat siapa yang lebih dulu mati."
Begitu harimau kembali menerkam, Li Tianxuan justru melesat ke samping.
Ia memanfaatkan kelincahannya untuk terus berpindah posisi, membuat harimau itu beberapa kali menerkam udara kosong.
Akhirnya...
Ia menemukan celah di bawah tubuh lawannya.
"Sekarang!"
Li Tianxuan meluncur rendah sambil mengayunkan pedangnya.
Namun, naluri bertahan hidupnya tiba-tiba berteriak.
Bahaya!
Belum sempat ia bereaksi, seekor Harimau Api Merah lain melompat keluar dari balik semak. Ternyata sejak awal mereka berburu bersama.
Craaasshh!
Sepasang cakar tajam menghantam dada Li Tianxuan. Pakaiannya robek seketika.
Daging dan kulit di dadanya tercabik, meninggalkan luka panjang yang begitu dalam hingga darah menyembur tanpa henti.
Tubuh Li Tianxuan terpental beberapa meter sebelum menghantam batang pohon besar.
Brakk!
Pedangnya terlepas dari genggamannya, penglihatannya mulai kabur. Dua harimau itu perlahan mendekat. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun...
Li Tianxuan benar-benar merasakan aroma kematian. Kelopak matanya semakin berat.
Di tengah kesadarannya yang mulai memudar, ia melihat sesosok pria tua berjubah lusuh berdiri tidak jauh darinya. Pria itu hanya memandang Li Tianxuan dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Tak ada niat menolong, tak ada rasa iba.
Ia hanya tersenyum tipis, lalu berbalik melangkah pergi hingga sosoknya menghilang di balik kabut.
Li Tianxuan tersenyum pahit.
"Jadi... inikah akhirnya?"
"Aku bahkan belum mengetahui kebenaran tentang Kota Tai..."
"Dan semua pertanyaanku..."
"Masih belum memiliki jawaban."
Ketidakrelaan memenuhi hatinya.
Namun kesadarannya perlahan tenggelam ke dalam kegelapan.