Indonesia
NovelToon NovelToon
Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.

Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.

"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."

"Saya siap."

"Aku ingin kau menghamili istriku."

“….”

Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.

Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08. Sosok Rapuh Dalam Balutan Dendam

Tangannya mengepal erat. "Selama lima tahun kau mengabaikanku, aku diam."

"Kau memperlakukanku seperti orang asing, aku diam."

"Kau tidak pernah sekali pun melihatku sebagai istri, aku tetap bertahan."

Air matanya akhirnya jatuh. "Tapi ini..." Suaranya bergetar. "...kau bahkan ingin menyerahkan tubuhku kepada orang lain."

Reval terdiam dan keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban. Mata Jenara mulai memerah, penuh keputusasaan yang tidak bisa ia katakan begitu saja dihadapan pria dingin dan tak berperasaan yang berstatus suaminya itu.

"Selama bertahun-tahun aku bertahan di sisimu. Menghadapi musuhmu. Menjaga nama keluargamu. Menelan semua penghinaan demi berdiri di sampingmu."

Ia menatap lurus ke arah suaminya. "Dan balasanmu adalah ini?"

Reval berdiri dari kursinya. "Perasaanmu tidak akan mengubah keputusan."

"Aku menolak."

"Kau tidak punya hak menolak."

"Aku tetap tidak akan melakukannya."

Reval melangkah mendekat dengan tatapannya yang tajam. "Sebagai istri Ketua Klan, tugasmu adalah mematuhi perintahku."

Jenara mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku bukan boneka."

"Memang bukan." Reval berhenti tepat di hadapannya. "Kau istriku."

"Lalu perlakukan aku sebagai istrimu. Jika kau memang ingin memiliki keturunan, maka ayo kita tidur bersama layaknya suami istri."

“Tidak bisa! Dan kau tahu jelas alasannya, bukan?” tukas Reval.

Tatapan mereka saling bertabrakan. Tak satu pun mau mengalah. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam. Akhirnya Jenara mengembuskan napas pelan. Tatapan marahnya perlahan berubah menjadi tatapan yang jauh lebih dingin.

"Baik."

Reval mengira ia akhirnya menyerah. Namun kalimat berikutnya membuat udara di ruangan itu mendadak terasa membeku. "Semakin kupikirkan..."

Jenara menatap lurus ke matanya. "...sepertinya bukan Vara yang didiagnosis mandul."

Alis Reval langsung berkerut. "Maksudmu apa?"

Jenara menyunggingkan senyum tipis yang sama sekali tidak mengandung kehangatan. "Mungkin selama ini masalahnya bukan pada Vara."

Ia berhenti sejenak, memastikan setiap katanya menghantam sasaran. "Mungkin... kaulah yang sebenarnya tidak mampu memberi keturunan kepada perempuan mana pun."

Sorot mata Reval berubah seketika. "Jenara—"

"Kalau tidak, mengapa kau begitu yakin harus mencari cara sekeji ini?"

"Jangan asal bicara."

"Aku hanya sekadar menebak dan menyimpulkan saja."

"Diam."

"Atau... jangan-jangan kau sudah tahu jawabannya sejak lama?"

Wajah Reval mulai menegang. "Cukup, Jenara Elendria."

"Makanya kau lebih memilih mengorbankan harga diri istrimu daripada menghadapi kemungkinan bahwa masalahnya ada padamu."

"Jenara!"

Reval hendak membalas. Namun Jenara sudah lebih dulu berbalik. Tanpa memberi kesempatan sedikit pun, ia melangkah keluar dari ruang kerja.

Brak!

Pintu kayu besar itu dibanting begitu keras hingga dinding di sekitarnya bergetar. Keheningan menyelimuti ruangan. Reval tetap berdiri di tempatnya. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal begitu kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol. Beberapa detik kemudian, ia menyapu setumpuk berkas di atas meja hingga berhamburan ke lantai.

"Sialan..."

...****************...

Brak.

Suara pintu yang dibanting masih menggema di sepanjang lorong mansion. Jenara berhenti tepat beberapa langkah dari ruang kerja Reval. Dadanya naik turun dengan napas yang tidak beraturan. Ia berusaha mempertahankan ekspresi datarnya, tetapi begitu tak ada lagi tatapan Reval yang mengawasinya, seluruh benteng yang sedari tadi ia bangun mulai runtuh. Air mata menggenang di pelupuk matanya.

"Jangan..." Bisiknya lirih kepada dirinya sendiri. "Jangan menangis."

Ia mengangkat dagu, memaksa dirinya menelan sesak yang memenuhi dadanya. Namun sia-sia. Setetes air mata akhirnya jatuh, disusul tetes berikutnya yang mengalir pelan membasahi kedua pipinya. Jenara segera menutup mulutnya dengan satu tangan agar isak yang nyaris lolos tidak terdengar.

Selama bertahun-tahun menjadi istri Reval, ia telah belajar menyembunyikan rasa sakit di balik senyum anggun. Ia tahu, di tempat seperti ini, kelemahan adalah sesuatu yang akan dimanfaatkan. Karena itu, ia tidak membiarkan dirinya menangis lebih lama.

Ia tetap berdiri di depan pintu ruang kerja itu, membelakangi siapa pun yang mungkin melintas di lorong. Kepalanya sedikit tertunduk, sementara jemarinya menggenggam erat ujung lengan bajunya.

Perlahan, dengan satu tarikan napas. Lalu satu embusan panjang. Berulang kali ia melakukannya hingga debar jantungnya mulai kembali teratur. Beberapa saat kemudian, tangisnya mereda.

Jenara mengeluarkan sapu tangan putih dari tas kecil yang dibawanya. Dengan gerakan tenang, ia menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya, memastikan tak ada jejak yang tertinggal. Ia kemudian merapikan rambut yang sedikit berantakan. Meluruskan kerah pakaiannya. Mengangkat kembali dagunya. Dalam hitungan detik, perempuan yang tadi nyaris hancur itu lenyap. Yang tersisa hanyalah Jenara, istri Ketua Klan yang selalu dikenal anggun, tenang, dan tak mudah digoyahkan.

Seolah tidak pernah terjadi apa pun. Tanpa menoleh lagi ke arah ruang kerja Reval, ia mulai berjalan menyusuri lorong panjang mansion. Langkahnya mantap, bahkan setiap hentakan sepatunya menggema pelan di atas lantai marmer.

Para pelayan yang berpapasan segera menundukkan kepala memberi hormat. Jenara hanya membalas dengan anggukan tipis. Tak seorang pun menyadari bahwa beberapa menit sebelumnya dunianya nyaris runtuh.

Sesampainya di halaman depan, sebuah mobil telah menunggu. Sopir pribadi segera membukakan pintu belakang. "Ke mansion utama, Nyonya?"

Jenara mengangguk singkat. "Ya."

Sebelum masuk ke dalam mobil, langkah Jenara mendadak terhenti. Tangannya yang sudah menyentuh gagang pintu perlahan terlepas. Ia berbalik, dimana tatapannya mengarah pada bangunan megah yang berdiri angkuh di belakangnya.

Mansion itu, tempat yang selama bertahun-tahun menjadi kediaman Reval Arsenalio, suaminya sekaligus Ketua Klan Black Gold yang disegani. Di sanalah semua keputusan diambil. Di sanalah harga dirinya berkali-kali diinjak. Dan baru saja, di balik dinding ruang kerja itu, Reval kembali merenggut sesuatu yang selama ini Jenara pertahankan mati-matian… martabatnya.

Sorot matanya seketika berubah. Tak ada lagi kesedihan karena yang tersisa hanyalah kemarahan yang membeku menjadi tekad.

“Kalau selama ini aku memilih diam... itu bukan karena aku lemah. Melainkan karena aku masih menganggapmu suamiku.” Jemarinya mengepal di balik lipatan gaunnya.

“Mulai hari ini... semuanya berubah.” Ia mengembuskan napas pelan.

Tatapannya tak bergeser sedikit pun dari mansion itu. “Suatu saat nanti, kau akan merasakan kehinaan yang sama seperti yang kau paksa kutelan selama ini.”

Di dalam hatinya, sebuah janji terpatri. Ia tidak akan lagi hidup hanya untuk memenuhi kehendak Reval. Ia akan menjadi orang yang menghancurkan semua yang selama ini dianggap paling berharga oleh keluarga Arsenalio.

“Revaldo Arsenalio… suatu hari nanti aku pasti akan menghancurkan semua hal yang kau sombongkan ini,” ujarnya lirih. “Bahkan jika diberi kesempatan, aku tidak akan ragu untuk membunuhmu dengan tanganku sendiri.”

Bukan dengan amarah yang membabi buta, melainkan dengan kesabaran. Dengan perhitungan… sedikit demi sedikit sampai fondasi keluarga itu runtuh oleh akibat dari pilihan-pilihan mereka sendiri. Dan jika pada akhirnya takdir mempertemukan dirinya dengan kesempatan untuk menjatuhkan Reval... Jenara tidak yakin masih memiliki alasan untuk menyelamatkan pria itu.

Bersambung….

1
InaraAp 09
Lanjut Thor semakin seru ceritanya
InaraAp 09
bagus dhana
InaraAp 09
hati2 dhana, jangan sampai kebongkat
InaraAp 09
lanjut thor
InaraAp 09
jujur pengin nampol Elena dan anaknya
InaraAp 09
gak bisa bayangkan di posisi jenara
InaraAp 09
benar dhana harus tepati janjimu
InaraAp 09
Jadi dhana pasti serba bingung🤔
Sri Yatun
apa sudah tau ke 4 orang itu tentang penyamaran dhana
Fahmi Ardiansyah
iya mungkin jenara gak ada yang bisa di katakan LG.krn dhanagak mau bekerja sama dgn dirinya.
Fahmi Ardiansyah
semoga Reval gak berbuat curang sama dhana.
Fahmi Ardiansyah
setelah tau markasnya kmu harus menyusun rencana sebaik mungkin dhana.biar Reval hancur sampai akarnya.
InaraAp 09
besok up yang banyak kak
InaraAp 09
pantas saja
InaraAp 09
semakin penasaran
InaraAp 09
semakin seru....
InaraAp 09
🤔
InaraAp 09
berharap beneran padahal
InaraAp 09
semangat lanjut up... seruuu
InaraAp 09
up lagi dong kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!