**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**
**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**
Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*
Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6
Anak yang Membenci
Pada usia sebelas tahun, aku menyembunyikan pisau dapur di balik seragam renang.
Bi Sum sedang memotong buah ketika aku mengambilnya. Tanganku kecil, jadi kupilih pisau paling pendek agar gagangnya tidak terlihat dari bawah handuk.
"Laras, jangan berenang terlalu lama," katanya. "Bos pulang sore ini."
Aku mengangguk patuh.
Selama dua tahun tinggal di Vila Arkana, aku belajar bahwa kepatuhan adalah kamuflase terbaik. Aku makan saat disuruh, belajar sampai nilainya tinggi, dan tersenyum kepada petugas sosial yang datang mengecek keadaanku. Arkana mengira rumah besar, sekolah mahal, dan kamar penuh buku telah membuatku melupakan masa lalu.
Malam itu aku akan membuktikan bahwa dia salah.
Aku menunggu di balik pohon palem dekat kolam. Arkana selalu berjalan melalui teras sepulang dari kantor. Di sana tidak ada kamera yang mengarah langsung ke jalur batu. Jika aku berlari cepat dan menusuk punggungnya, mungkin penjaga baru akan bereaksi setelah semuanya selesai.
Suara mobil masuk melalui gerbang.
Aku menggenggam gagang pisau.
Namun Arkana tidak datang sendirian.
Empat pria mengikutinya ke tepi kolam. Salah satu dari mereka bertubuh besar, mengenakan kalung emas dan kemeja terbuka. Dia berbicara keras tentang wilayah, uang perlindungan, dan sebuah gudang yang dibakar.
"Kau pikir seluruh Jakarta milikmu?" bentaknya.
Arkana melepaskan jam tangan dan menyerahkannya kepada Jagal. "Tidak seluruhnya. Bagian yang kau injak sekarang milikku."
Pria itu mengeluarkan pistol.
Aku menahan napas.
Arkana bergerak begitu cepat hingga mataku terlambat mengikuti. Dia menangkap pergelangan lawan, memutar tangannya, lalu menghantam siku ke bahu. Pistol jatuh ke lantai. Satu tendangan membuat pria besar itu berlutut di tepi kolam.
Tiga anak buahnya meraih senjata, tetapi para penjaga Vila Arkana muncul dari balik pilar. Titik-titik laser merah menempel di dada mereka.
Tidak ada yang berani bergerak.
Arkana menekan wajah pria besar itu ke permukaan air.
"Kau datang ke rumahku dengan senjata," katanya tenang. "Sekarang minta maaf karena mengotori lantai."
Ketika pria itu diangkat, dia terbatuk dan langsung meminta maaf.
Pisau terlepas dari tanganku.
Benda itu jatuh ke rumput dengan bunyi kecil. Arkana menoleh.
Aku segera menutupinya dengan handuk.
Mata kami bertemu dari seberang kolam. Dia melihat seragam renangku, kaki telanjang, dan wajah yang pasti pucat. Lalu dia memandang para pria bersenjata di sekitarnya.
"Bawa mereka keluar," perintahnya. "Anak itu tidak perlu melihat sampah."
Malam itu aku mengembalikan pisau ke dapur. Untuk pertama kalinya aku memahami bahwa mendekatinya tidak sama dengan mampu membunuhnya.
***
Pada ulang tahunku yang kedua belas, Arkana memesan kue cokelat meski dia sendiri tidak suka manis.
Tidak ada pesta besar. Hanya aku, Bi Sum, Jagal, dan empat pengawal yang berpura-pura tidak memperhatikan lilin. Arkana pulang sebelum tengah malam dengan kemeja putih dan sebuah kotak panjang.
Di dalamnya ada metronom kayu.
"Ibu Clara bilang tempo permainanmu selalu berubah saat gugup," katanya.
"Kau bicara dengan Ibu Clara?"
"Aku membayarnya. Tentu aku bicara dengannya."
Aku memeluk kotak itu. Piano adalah satu-satunya hal yang membuat suara di kepalaku mereda. Arkana mengetahuinya tanpa pernah kutunjukkan.
"Buat permohonan," kata Bi Sum sambil menyalakan lilin.
Aku menatap api kecil. Gilang telah pergi tiga tahun. Tidak ada surat yang sampai kepadaku, tetapi aku percaya janjinya.
Permohonan yang keluar justru berbeda.
"Semoga kita tidak pernah berpisah."
Ruangan mendadak sunyi.
Aku sendiri terkejut mendengarnya.
Arkana memandangku lama, lalu mematikan rokok di asbak. "Siapa yang mengajarimu meminta hal seperti itu?"
"Teman sekolah bilang anak perempuan harus berdoa agar selalu bersama ayahnya."
Wajahnya mengeras. "Aku sudah bilang, jangan gunakan panggilan itu untukku. Tidak di rumah, tidak di luar."
"Kenapa?"
"Karena aku Arkana. Itu cukup."
Dia memotong kue dan memberikan bagian dengan stroberi paling banyak kepadaku. Tidak ada penjelasan lain.
Malam itu aku berbaring sambil mendengar metronom bergerak.
Tak. Tak. Tak.
Setiap ketukan terdengar seperti pengingat bahwa aku baru saja berharap tidak pernah berpisah dari musuhku.
Sejak hari itu Ibu Clara datang tiga kali seminggu. Arkana tidak pernah duduk di ruang musik, tetapi dia tahu bagian mana yang belum kukuasai. Jika aku melewatkan makan demi latihan, sepiring potongan mangga dan roti tanpa selai akan muncul di atas piano.
"Bos hafal sekali makanan yang tidak kamu suka," Bi Sum pernah menggodaku.
Aku menutup buku not. "Dia cuma suka mengatur."
"Kalau cuma mengatur, dia tidak perlu meminta koki membuat dua menu setiap hari."
Aku tidak menjawab. Di sekolah, formulir wali murid selalu dikirim melalui pengacara. Arkana tidak pernah datang ke pertemuan orang tua dan tidak mengizinkanku menjelaskan hubungan kami. Namun saat seorang teman mengejekku sebagai anak tanpa keluarga, keesokan harinya kepala sekolah memanggil anak itu dan meminta maaf kepadaku.
Aku tidak pernah bertanya siapa yang menelepon.
***
Pada usia tiga belas tahun, aku mencoba lagi.
Obat tidur tersimpan di lemari obat setelah dokter meresepkannya ketika mimpi burukku kambuh. Aku menghancurkan dua tablet dan mencampurnya ke dalam sup Arkana.
Bi Sum meletakkan mangkuk di hadapannya. Aku duduk di seberang meja, berpura-pura mengerjakan tugas.
Arkana mencicipi satu sendok.
Dia berhenti.
"Bi Sum."
Perempuan itu mendekat dengan cemas. "Kurang garam, Bos?"
"Tidak. Bawa mangkuk ini. Jangan buang isinya sebelum Jagal memeriksanya."
Pensilku patah di antara jari.
Arkana menunggu sampai Bi Sum pergi. "Obat tidur meninggalkan rasa pahit."
Aku menatap buku.
"Kalau ingin membunuhku, jangan gunakan obat yang terdaftar atas namamu."
Darah menghilang dari wajahku. "Aku tidak tahu apa maksudmu."
"Bagus. Berarti kau masih bisa berbohong tanpa menangis."
Dia bangkit dan berjalan ke arahku. Aku menunggu hukuman, tamparan, atau panggilan untuk Jagal.
Arkana justru meletakkan botol air hangat di perutku.
"Bi Sum bilang sejak siang kau kesakitan. Besok tidak perlu sekolah. Ibu Clara juga sudah kubatalkan."
Aku baru mengalami menstruasi untuk ketiga kalinya. Kramnya membuat punggungku berkeringat, tetapi aku menolak mengaku.
"Aku bisa sekolah."
"Kau boleh keras kepala setelah wajahmu tidak sepucat kertas."
Dia mengambil pensil patah, meraut ujungnya dengan pisau kecil, lalu meletakkannya kembali di atas bukuku.
"Tidur."
"Kenapa kau tidak marah?"
Arkana berhenti di ambang pintu. "Karena aku pernah melihat anak yang benar-benar ingin membunuh seseorang. Tatapannya tidak gemetar seperti matamu."
Pintu tertutup.
Aku menekan botol hangat ke perut. Dari lorong terdengar suaranya meminta Bi Sum memasak bubur tanpa merica dan menghubungi dokter jika demamku naik.
Di meja, metronom hadiah ulang tahun masih bergerak.
Tak. Tak. Tak.
Aku seharusnya membenci setiap bentuk perhatiannya.
Namun malam itu, ketakutan terbesarku bukan lagi bahwa Arkana akan mengetahui siapa diriku.
Aku takut, jika dia terus memperlakukanku seperti ini, suatu hari nanti aku tidak akan mampu membencinya lagi.